Tulang Rusuk Yang Menggantikan Tulang Punggung episode 4

Pernikahan Damayanti

Damayanti masih terbayang wajah bapaknya….tetesan air matanya begitu sulit mengering …baru saja bapaknya pulang tapi malah tiada untuk selamanya. Seminggu dia tak masuk sekolah dan mengunci dalam kamar. Kakaknya Hendra yang baru pulang kerja menghiburnya,

Hendra   : ” Kalau kakak sudah gajian kamu akan kakak belikan bandu agar lebih cantik dan menarik ”

Yanti        : ” Buat apa cantik kalau tak punya bapak…..”

Hendra : ” Tapi kan masih punya ibuk….ada kak Hendra juga kak Hendri…ayolah sekolah…..” rayu Hendra pada Yanti adiknya tersayang, Bu Prapti mendengarkan Hendra menasihati Damayanti yang akhirnya Yanti mau berganti pakaian dan mau berangkat sekolah dan diantar Hendra.

Tiga bulan berlalu…uang pensiun Walidin berkurang dan hanya menerima pensiunan janda dan anak-anaknya yang masih sekolah…..Prapti membicarakan pada Hendra tentang keadaan ini.

Hendra   : ” La bagaimana ya buk…pendapatan Hendra tak cukup kalau untuk membiayai Yanti dan Hendri….”

Prapti      : ” Ya sudahlah…..Yanti biar istirahat saja dirumah setelah ia lulus sekolah SMP…..itu Si Nilam malahan sudah kerja membantu ibuknya jualan di Pasar Peterongan…dan malah mau menikah dengan penjual sate…”

Hendra  : ” Aku tak ingin adikku memiliki masa depan yang susah….jika Yanti mau menikah ya paling tidak dia memiliki suami yang mendapat pekerjaan yang pasti tiap bulannya…kira-kira ibu punya pandangan siapa…..Hendra mau menikah kalau Yanti sudah menikah…sehingga aku tak memiliki beban dan Hendri bisa bekerja …sedangkan uang pensiun ibu bisa ibu pakai untuk keperluan hidup setiap harinya “Begitu Hendra menjelaskan pada ibunya agar lebih tenang.

Kartono yang selesai apel dan hendak sarapan mennuju kantin prajurit bertemu dengan bu Prapti yang masih menata sarapan dalam ompreng.

Prapti    : ” Mau kemana…pagi-pagi sudah rapi…..”

Kartono  : ” Mau ke Banyubiru buk….latihan tenaga dalam dan adu jotos…..he…he…”

Prapti     : ” Ahhh mosok adu jotos….!! ”

Kartono  : ” Eh ..buk…putri ibuk sudah punya pacar beluuuum….?” Tiba-tiba Kartono mengalihkan pembicaraan .

Prapti      : ” Lah..memangnya kenapa….?”

Kartono  : ” Aku dipaksa menikah kalau tak segera menikah….bahkan mau dijodohkan kalau belum punya calon….”

Prapti      : ” Terus…maksudmu mau melamar Damayanti….? ”

Kartono   : ” Iya buk….tolong buk….bantu aku….ibuk bersedia ndak kalau aku jadi menantu ibu…?”

Prapti     : ” Emmmm…ibu menerimamu…karena kamu baik dan rajin…tapi kamu harus bilang sama kakaknya Yanti dulu…karena dia yang mengurusi kebutuhan Damayanti setelah bapaknya meninggal…bagaimana….? ”

Kartono  : ” Ya pasti dong buuuk….aku bersedia selak di colong Ramelan anak Wonosobo…”

Prapti     : ” Lhoh …. ternyata Damayanti disini buat rebutan ya……?! ”

Kartono  : ” Iya buk…Damayanti posturnya tinggi dan manis sekali….aku tak mau diambil orang dulu…makanya kasihkan saya dulu buk….”

Prapti      : ” Ya….aku tak bicara dulu pada Hendra…apakah dia setuju…..?! ” Kartono berbunga-bunga dan menunggu bu Prapti esok harinya.

Bu Prapti membicarakan maksud keinginan Kartono yang mau melamar Yanti.

Henda    : ” Kartono orang Brebes ya buk…..kalau ibuk sudah mantap tak apa….”

Prapti     : ” Orangnya baik…sopan…dan sayang kelihatannya sama  adikmu…kemarin waktu Yanti membantu ibuk banyak yang menggodanya…..dibicarakan terus…cuma adikmu saja yang masih pemalu…padahal di Wonotingal sini sudah banyak yang nikah teman sebayanya ”

Hendra  : ” Besok Minggu suruh Kartono ke sini buk biar kenalan sama kita dulu…..”

Prapti lega karena anaknya Yanti segera menikah dan mendapatkan prajurit yang bisa menjaga hidupnya dan impian Yanti ingin meminta perlindungan sebagai ganti ayahnya terkabulkan. Damayanti tak tahu Minggu itu ada tamu Kartono bersama keluarganya dari Brebes untuk melamarnya, dia malah keluar bersama-sama tetangganya yang mau belajar naik motor, kakaknya Hendri memanggilnya dan menyuruh mandi karena ada tamu menunggunya. Damayanti menuruti kemaunan kakaknya, dia segera mandi dan memakai pakaian yang sudah disiapkan ibuknya. Sebenarnya Yanti agak heran karena melihat Kartono yang duduk bersama orang tuanya memakai baju batik sepadan dengan celana panjangnya. Yanti menyalami mereka semua.

Prapti   : ” Ini anak saya seperti yang sudah dibicarakan Nak Kartono….” Orang tua Kartono yang bernama Slamet memandang Yanti yang Berpostur tinggi semampai.

Slamet  : ” Waaah ternyata tak salah cerita anakku….” . Yanti malu dan disuruh duduk disamping kakaknya Hendra. Kedua orang tua Kartono mengutarakan sekali lagi pada Damayanti maksud kedatangannya dan Hendra bersama ibunya serta Hendri menerimanya sebagai calon mertua adiknya yang memberikan mas kawin sekalian karena kawatir Damayanti berubah fikiran bahkan diganggu sesama temannya seangkatannya.

Singkatnya tanggal 2 Juni 1987 Yanti menikah dengan Kartono yang dihadiri teman-temannya dan sahabat-sahabat yanti dan para tetangga juga sahabat Hendra dan Hendri meramaikannya.  Kakaknya Hendra dan Hendri memberikan nasihat kepada adik tersayangnya dan Yanti memberikan setelan baju pembelian Kartono karena Yanti melangkahi kudua kakaknya dalam berumah tangga yaitu Hendra dan Hendri. Bu Prapti menghapus air matanya karena bahagia merasa bahagia dengan pernikahan anak perempuannya dan mereka  sebentar lagi akan menempati di mess belakang tempat Rumah Tangga muda.

Prapti   : ” Nduk….sing manut sama suamimu….jangan membantah…dia lelaki yang amat baik untukmu…”. Damayanti tersenyum saja karena Ia bingung baru kali ini menerima perubahan hidup  yang serba cepat.

Yanti    : ” Jadi apakah Yanti akan melakukan apa yang menjadi tugas ibu untuk melayani seperti bapak….?”

Prapti    : ” Iya….itu sudah kewajiban….sementara kamu sama ibuk dulu tinggal dikamar kakakmu Hendra sambil menunggu rumah dinas diperbaiki petugas..”

Malam pertama Yanti bingung tidur dengan Kartono…Kartono yang memandangi Yanti menikmati kecantikan Yanti.

Kartono  : ” Dik…kamu ingin anak berapa nanti…”

Yanti       : ” Aku tak tahu…berapa nanti anakku…tidur yoook mataku ngantuk…”

Kartono  : ” Kenapa tak cium aku dulu diiiik…? ”

Yanti       : ” Ogah..aaahhh…takut….”

Kartono  : ” Kok takut….malu yaaaa…..” Maka Kartono mendekap Yanti yang ketakutan dan menyingkirkan tangannya. Kartono jadi gemes karena menyadari kalau Yanti tak pernah pacaran dan benar-benar gadis yang masih cling tak terjamah tangan laki-laki, maka Kartonopun sabar dan tidur sambil menghadap Damayanti yang menutup muka dengan tangannya. Malam pertamapun terlewatkan dan Yanti ingin tidur bersama ibuknya…tapi takut kalau ibuknya marah…dan masuk lagi ke kamarnya. Kartono yang menunggu Yanti mulai tak sabar …dia memeluk Yanti dan melakukan hubungan suami istri sepuasnya. Sementara Yanti menangis kesakitan.

Kartono  : ‘ Katanya kalau pertama kali kita melakukan hubungan suami istri itu sakit….aku juga…tapi kalau sering melakukan katanya nikmat sekali….” Yanti memukul dada Kartono dan berkata

Yanti        : ” Sakitnya minta ampun…jahat kamu mas….” sambil merintih Yanti menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Prapti      : ” Nduuuk kamu kenapa….?” Damayanti kaget dan menjawab : ” Mau ke kamar mandi buk….Yanti ingin tidur dengan ibuk boleh..?”

Prapti      : ” Sekarang sudah tak boleh tidur dengan ibu …kan kamu sudah bersuami…..” Ibuknya sekali lagi memberi nasihat Damayanti dan sedikit marah.

Prapti      : ” Ibu kan sudah bilang..layani suamimu dengan baik….turuti keinginannya….agar kamu jadi senang…” sambil menyuruh tidur dan memeluk suaminya.  Yanti kegi….dan kembali tidur menemani suaminya. Kartono perutnya kelaparan dan minta dibuatkan makanan, untung saja masih ada sisa makanan sore tadi, dan Yanti memanasinya dan makanlah mereka berdua. Prapti yang mengawasi gerak-gerik anak perempuannya menjadi geli sendiri, begitulah yang dilakukan mereka yang kelaparan diwaktu malam. Selesai makan Kartono dan Yanti kembali tidur..Kartono memeluk Yanti dengan eratnya dan melakukan lagi hubungan yang sangat diimpi-impikan setiap pasangan muda.

Pagi menunjukkan keceriaannya, Kartono akan kembali ke Brebes menemui kedua orang tuanya. Yanti menyiapkan segala keperluannya setelah lima hari tinggal di rumah bu Prapti di Wonotingal.

Yanti     : ” Ibu tak ikut…? ”

Prapti    : ” Tidak…salam saja buat mertuamu dan ini ada sedikit oleh-oleh buat ibu dan bapak Slamet” Mereka naik Bis menuju Brebes , kakaknya Hendra dan Hendri mengantarnya menuju terminal tempat bis ngetem di Rumah Sakit Elisabeth.


Tulang Rusuk Yang Menggantikan Tulang Punggung

Tulang Rusuk Yang Menggantikan Tulang Punggung

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2022 Native Language: Indonesia
Menginginkan kehidupan yang bahagia adalah hak semua orang tapi apalah daya nasib menentukan lain,tahun 2003 Kartono terkena serangan stroke ketika bertugas di Purwokerto yang mengakibatkan Kartono mengalami kelumpuhan. Segala upaya sudah dilakukan Damayanti istri Kartono agar suaminya segera sembuh serta pulih lagi seperti sedia kala , tetapi hasilnya kurang meyakinkan , sampai akhirnya istrinya yang dulu sebagai ibu rumah tangga harus menyingsingkan baju untuk bekerja karena Kartono sudah memiliki tiga orang anak yang membutuhkan pendidikan dan memerlukan biaya hidup lebih banyak. Tahun 2005 Damayanti mencoba  mandiri bekerja dengan menerima pesanan makanan Dua puluh satu tahun sudah berlalu...Kartono masih bersama stroke mendampingi hidupnya yang terasa amat membosankan dan penuh penderitaan. Bagaimanakah kisah perjalanan hidupnya..? kesabaran Bu Kartono serta rintangan apa sajakah yang di dapatnya untuk menegakkan rumah tangga yang harus dipeliharanya sampai saat ini...Mari kita simak bersama liku-liku kehidupan Damayanti istri Kartono dalam mengemban hidupnya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset