Wanita Yang Aku Telantarkan episode 9

Chapter 9

Aku bahu membahu bersama Adik-ku untuk mencari sesuap nasi di tengah panas dan kejamnya ibukota ( di dramatisir kalo ini. Wkwkwkwk). Kenyataannya aku tiap hari cuman mondar-mandir Depok – BMKG (kemayoran) ngerjain proyek dgn temen bapak, smbil malamya mngerjakan proyek lain di kamar, sedangkan adik-ku cari duit ktmpat lain ( dia sdikit bnyak tau Jakarta, krn dia memang kuliah di sini )

Tdk terasa sdh 2 th lebih aku berada di Jakarta, bisnis ortu jg sdh membaik, malah bisa di katakan hmpir pulih sperti dulu, bapak menyuruh aku dan adikk-ku pulang kampung, untuk bermusyawarah mengenai kuliah kami tahun depan & hal2 lainnya.
Dan selama itu juga, Ayunda seperti biasa hampir tiap hari masih kirim sms / tlp meski aku cuekin. Karena waktu itu selain sdh gk ada rasa sama Ayunda, aku jg sementara menutup hati untuk wanita lain karena keadaan keluargaku. waktu itu aku memang fokus bantu cari duit semampuku untuk bantu mslh keuangan klrga.

Aku dan Adik-ku sepakat pulang kampung Januari 2011, karena Adik-ku jg sdh trlanjur membuat rencana tahun baruan dgn teman2-nya, aku ngikut saja, toh pulang sekarangpun jg gk ngapa2in di rumah

SKIP…..

Akhir September 2010, tdk seperti biasa, sdh hampir 2 bln tidak ada pesan masuk atau tlp dari Ayunda, jujur saja, itu membuatku sedikit tenang, karena selama ini seringkali sms & tlp dari Ayunda lbh byk kuterima ketika jam kerja, dan itu bnr2 sangat mengganggu, yg membuatku harus menjawab dgn kasar untuk menghentikannya

Suatu malam msh di akhir bulan September 2010 ( aku sdh tdk ada krja’an, dan rencananya aku akan menjelajah ibukota slm menunggu wktu pulang di bulan Januari, jd msh ada waktu skitar 3 bln untuk menikmati ibukota, krn slm ini praktis kerja’anku hanya di dlm ruangan & cm bolak balik depok – kemayoran ), sa’at itu mgkin sekitar jam 10 malam, aku rebahan di kamar sambil baca -baca pesan di HP, termasuk pesan pesan dari Ayunda (pesan di HP hampir semua dari Ayunda ), entah knp tiba ingatanku kembali sa’at pertama bertemu Ayunda, sa’at di ruang sholat itu, sa’at pertama kali kucium bibirnya. Semakin lama wajah ayu dan polos Ayunda semakin melekat dlm pikiranku, tiba2 saja aku bnr2 sngt merindukannya, di tambah muncul rasa penyesalan dan takut kehilangan yg kuat, aku tdk sanggup lagi menahan perasaan, tangisku ku pun meledak ( cengeng ya. wkwkwkwk….)

Aku gk tau brp lama aku menangis, aku sampai tertidur, aku masih ingat terbangun sekitar pukul 2 dinihari, aku ambil air wudhu dan sholat malam, setelahnya aku termenung dlm gelap, mungkin hampir 1 jam aku cuman duduk termenung, menjernihkan pikiran, memejamkan mata tanpa melakukan apa2, kemudian entah apa yang menggerakkanku, reflek aku sambar HP dan menelepon Adikku ( slm di Jakarta, aku tinggal di rumh teman bapak, sdangkan adikku tetep tinggal di tmpat kost wktu dia masih kuliah dulu )

Adik : Iya mas ( kayaknya main PS / nonton bola, rame)
Aku : Belikan tiket pesawat pertama hari ini, aku mau pulang
Adik : ( kaget ) gila km mas, bukannya mas sdh sepakat kl kita pulang januari ?!
Aku : aku bisa gila beneran kalau nunggu sampe januari!! (wkwkwkwk…)
Adik : hahh?! Ok.. ok

SKIP…………

Dari Juanda, naik bis PATAS ke kotaku ( biar cepet ), sepanjang perjalanan aku coba hub Ayunda, sialnya nomor hp Ayunda tdk bisa di hubungi, begitu pula nomor hp Laras, membuat perasaanku tmbah tdk menentu slm di perjalanan, kucoba tlp Ayunda kembali ketika bus sdh masuk batas kabupaten keluargaku, kali ini hatiku bersorak ketika mendengar suara Ayunda di ujung telepon. Tanpa ngasih kesempatan bicara, aku minta dia jemput aku di terminal GG ( terminal bus di daerah Ayunda ).

Turun dari bus, kulihat seorang wanita yg raut wajahnya sdh sangat ku kenal tersenyum ke arahku, masih raut wajah dan senyum yg dulu, senyum dan raut wajah yg kuabaikan slm brtahun2, dadaku mendadak sesak menahan rasa, aku jg bersusah payah menahan air mata yg hendak tumpah, bagiku pantang menangis di depan wanita, kecuali ibuku

Sambil menghampiri Ayunda, kutekan kuat2 rasa itu, memeluknya sebentar, menanyakan kabar, kemudian kukatakan padanya bahwa ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, seperti biasa…..dia cm tersenyum dan mengangguk. Dgn berboncengan, ku arahkan motor Ayunda ke food court, di dalam tdk terlalu ramai, malah bisa di katakan sepi, mungkin ada 2 – 3 meja yg terisi, setelah melihat situasi ruangan sebentar, aku pilih tempat agak pojok, di samping deretan lemari pendingin minuman, tempat paling privat di tempat itu. Stlh memesan serta membayar makanan ringan dan soft drink, aku tinggal Ayunda ke toilet, membasuh muka dan menguatkan hati, menyiapkan mental untuk hal terburuk mengingat perlakuanku pd Ayunda bbrp tahun belakangan.


cerbung.net

Wanita Yang Aku Telantarkan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2017 Native Language: Indonesia
Ini kisahku dengan seorang wanita, seorang wanita yang selama bertahun tahun aku sia2-kan, aku telantarkan, aku buang dan tidak aku anggap. Seorang wanita yang selalu mengulurkan tangannya ketika ku terjatuh, seorang wanita yang selalu memberikan bahunya untuk ku bersandar ketika ku lelah. Seorang wanita yang telah memberiku seorang Jagoan kecil berumur 5 th. Seorang wanita yg kini di dalam rahimnya mengandung benihku yang berumur 3 bulan. Seorang wanita yang ku pilih untuk menemaniku menjalani hitam putihnya dunia.Ayunda Pramudita ...............satu2-nya wanita yg bersemayam dlm jiwaku, satu2-nya wanita yg tercipta dari tulang rusuk-ku, satu2-nya wanita yang diciptakan hanya untuk-ku.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset