Warung Sayur Bu Sariyah episode 22

Antara Vaksin dan Ekonomi memusingkan

Masyarakat pada bingung karena banyak kasus yang muncul dipermukaan berkenaan kegagalan vaksin dan membawa korban , mereka  menunjukkan  video yang mengunggah korban vaksin di media lewat youtube. Masyarakat memiliki kemauan  untuk vaksin tetapi  semangat mereka jadi kendor karena mendengar dan melihat korban vaksin. Aris sengaja memberikan 10 orang untuk melakukan sosialisasi dan masyarakat harus betul-betul jujur dengan kondisi tubuh mereka, yang memiliki penyakit bawaan seperti tensi tinggi , diabetes ( gula ), serta penyakit dan lain-lain sebaiknya ditunda dulu sampai benar-benar mendapat informasi  yang valid .

Aris melakukan siaran langsung dengan dr. Kurniawati dari RT sebelah di facebook Semarang Sejahtera tentang kriteria yang harus melakukan tindakan vaksin dan larangan mengikuti vaksin karena ada bahayanya bahkan malah memaksakan diri untuk vaksin. Mbak Tatik dan suaminya tak mengikuti vaksin karena dia sadar suami dan dirinya sendiri termasuk hipertensi bahkan ayah dan ibunya dilarang untuk vaksin, mereka yang menyandang penyakit hati,jantung maupun ginjal jangan memaksakan untuk vaksin, tetap lakukan prokes setiap saat menunggu sampai pemerintah menemukan vaksin yang benar-benar cocok dengan kondisi tubuh masing-masing dan jangan terpancing emosi untuk vaksin.

Aris                     : Jadi mereka yang gagal vaksin karena mereka mengikuti arus harus vaksin dan memaksakan diri begitu gih bu…?”

dr. Kurniawati  : ” Sepertinya begitu …karena dokter akan menganamnesi bila ada yang memiliki penyakit bawaan ataupun memiliki riwayat penyakit yang membahayakan tubuhnya, kemungkinan mereka tidak jujur kepada dokter sehingga vaksin menjadi gagal fatal”. Penjelasan dokter perlu sekali untuk anti sipasi serta merelakan dengan sadar menunda vaksin , terkecuali dokter menungguinya atau mengawasinya ataupun memperbolehkan untuk vaksin berdasarkan pemeriksaan yang pasti. Itupun dokter belim mau menanggung jika terjadi sesuatu yang membahayakannya, kecuali mereka benar-benar jujur.

Banyak yang bertanya sekitar vaksin yang di videokan Marlena  dan akhirnya dimasukkan ke You tube Semarang Sejahtera oleh Gozali untuk di sosialisasikan kepada rakyat Indonesia dan masyarakat yang saat ini belum menyaksikan agar mereka bisa bertanya apasaja mengenai vaksin.

Pagi ini mas Pengky mengantar pesanan bu Sariyah seperti biasanya Asih membuatkan rames sambal goreng kentang dan telur ceplok buat sarapan,

Bu Sariyah       : ” Ayok dimakan mas…”. Mas Pengky ngelamun lalu meneteskan air mata dia teringat almarhumah mbak Darna

Bu Sariyah       : ” Yang sabar mas Pengky, relakan mbak Darna…dia sudah bahagia disana bertemu dengan orang tuanya….” Mas Pengky sesenggukan dan Asih memberikan teh manis hangat.

Pengky             : ” Terima kasih bu….mbak Asih….atas bantuannya semua warga di Halmahera ini yang amat perhatian pada kami, maafkan jika Darna ada kesalahan selama ini”

Bu Sariyah      : ” Iya mas…almarhumah ramah orangnya dan gak memiliki salah pada kami semua…” Pak Bambang yang melihat mas Pengky langsung menyapanya.

Pak Bambang : ” Loooo mas Pengky to….sudah mulai masuk kerja hari ini…, Saya turut berduka cita dan ini ada titipan duka cita dari RT diterima gih…” sambil memeluk mas Pengky yang menangis tersedu memandang etalase dan baju muslimah yang tersisa di Sariyah center. Bu Sariyah mengucapkan terima kasih sekali lagi sumbangan dari bosnya mas Pengky sambil membayar pesanannya. Mas Pengky sambil sarapan .

Pengky             : ” Mohon titip etalase dan isinya ya bu…kalau masih ada yang mau beli sesuai harga gak apa bu, etalasenya biar untuk kenangan saya….”.

Bu Sariyah      : ” O iya mas…kemarin ada yang nanyakan soalnya, besok akan saya kabari orangnya”. Mas Pengky pamit kembali mengirimkan orderan yang lainnya dan selipan dengan orang yang akan memborong pakaian hijabnya, tapi langsung di tekel bu Sariyah.

Bu Sariyah     : ” Maaf mbak Ida semua harga sudah ada labelnya, kalau mbak Ida mau kolakan ini nomor teleponnya mas Pengky “. Bu Sariyah memberikan nomor mas Pengky kepada mbak Ida putrinya bu Jamal pedagang dari pasar Regol, waktu bu Sariyah silaturahmi ke bu Jamal bersama pak Bambang.

Ida                   : ” Maaf bu saya hanya mau minta discon saja ”

Bu Sariyah     : ” Iya gak apa, telpon saja, pasalnya mas Pengky baru saja ke sini mengirim orderan saya  tiap kamis”.

Ida                   : ” Iya buk, akan Ida hibungi mas Pengky….terima kasih atas bantuan ibu, dan ini kartu nama saya…”.  Ida memberikan kartu namanya pada bu Sariyah lalu pamit dan melaju dengan Honda Brio Satrianya.

Kematian tidak berkurang malahan bertambah, Aris mendengar lewat berita serta internet, mereka yang sudah di vaksin merasa kesehatannya sudah yakin benar memiliki anti covid-19 sehingga melepaskan protokol kesehatan. ” Ya Alloh … Ya Rosululloh jadi seperti ini pemikiran mereka…sungguh amat gegabah mereka semua….”, Aris menangisi keadaan masyarakat yang amat menyepelekan kesehatan. Orang pintar yang tak sabar menghadapi corona..

Aris sekali lagi memohon pada dr. Kurniawati agar masyarakat menunda aktivitas yang berlebih karena tubuh kita yang sudah di vaksin sedang membuat immunitas dan itu memerlukan waktu jadi tetaplah menuruti prokes jangan sampai melepas masker…karena virus itu tak nampak dan variannya banyak, tolong jangan sepelekan virus apa saja…begitu ucap dr.Kurniawati sambil berlinangan air mata karena kecerobohan masyarakat.

Disisi lain Aris menangis karena mereka tak mendapatkan suplay makanan dari pemerintah secara benar itu juga karena kesalahan masyarakat yang kurang jelas memberikan data warganya. Aris mulai memantau keadaan keuangan pemerintah secara rinci bersama Marlina dan Gozali. Banyak BUMN yang sudah thele-thele karena membantu pemerintah dalam segalanya, saat inipun pemerintah sedang mengalami kritis keuangan.

Kontraktor pada ambruk jungkir balik, mereka yang seharusnya membayar tenaga kerja harus menunda pembayarannya dan para pekerja mencari pekerjaan apasaja demi keluarganya dengan rasa geram serta memelas.

Marlina memvideokan jeritan Asikin yang mencari botol plastik dan dijualnya kepengepul plastik.

Marlina        : ” Dik..kok gak belajar di rumah…. semua teman belajar dirumah…”.

Asikin           : ” Ibu saya sakit mbak….sementara bapak belum mendapat uang dari kerjaan…?”

Marlina        : ” Bapak kerja dimana dik..?”

Asikin           : ” Bapak ikut kerja pak mandor sebagai tenaga kasar…”.

Marlina        : ” Apa kerjaan bapak di pak mandor…?”

Asikin           : ” Sebagai kuli bangunan mbak…..” Marlina diam sambil membantu mencuci plastik-plastik biar bersih. Asikin masih memakai masker tapi maskernya sudah kumal.

Marlina        : ” Sudah berapa lama masker itu kamu pakai..?!”

Asikin           : ” ‘Ndak ingat mbak….yang penting ditutup biar tak bauk…”. Marlina  menghela nafas panjang nelongso melihat Asikin , lalu Marlina mengeluarkan masker dan memfoto Aris memakai masker baru pemberian Marlina .

Marlina         : ” Nah dik, masker lama disa dibuang ditempat sampah dan ini kakak beri sabun untuk mencuci tangan setiap selesai aktivitas ya…?!”

Asikin            : ” Maskernya akan Asikin cuci buat ibuk di rumah biar ibuk kembali sehat”.

Marlina ingin melihat ibuknya Asikin dan diizinkan Asikin masuk.

Asikin            : ” Mak….ada tamu mbak Marlina dari Sariyah Center ” .

Marlina melihat Burham ayahnya Asikin masih tidur tengkurap dan melihat Mak Burham masih memberikan ASI adik Asikin , hati Marlina hampa….dia mengambil video keadaan rumah dan seisinya lalu Asikin bekerja lagi.

Mak Burham membangunkan suaminya yang terbaring lemah , terlihat singkong rebus dimakan si kecil.

Marlina         : ” Bagaimana pak Burham keadaan bapak saat ini ”

Pak Burham  : ” Ya …beginilah keadaannya…hanya Asikin yang mencari nafkah karena saya ikutan sakit “. Lalu Marlina mengambil video Asikin sedang membersihkan botol dan gelas plastik yang sudah menggunung siap di kirim ke pengepul. Pak Burham dan istri menerima bantuan  dari Sariyah Center sebesar 1juta rupiah dan Asikin yang membantu arahan videonya dari hape Marlina. Setelah beres Marlina besok akan mengirim sembako yang dibutuhkan pak Burham.

Marlina kembali ke Sariyah Center melaporkan tugasnya kepada Aris kebetulan ada pak Joko dan mengecek video tersebut, setelah diedit Gozali baru di publish ke facebook Semarang Sejahtera dan di youtube Semarang Sejahtera diteruskan ke Harian IKLIM

Pagi itu pak Bambang dan Gozali bersama Marlina mengantar sembako ke Tawangrejo rumah pak Burham , Asikin amat gembira, laki-laki usia 10 tahun tersebut amat berterima kasih atas bantuan Sariyah Center, Asikin diberi hape untuk belajar secara daring. Air mata Asikin mengalir saat dipeluk pak Joko yang memberikan hape tersebut serta mengaplikasikan kebutuhan sekolahnya. Memakai siaran langsung Asikin berterima kasih kepada semua yang mengidolakan Semarang Sejahtera.


cerbung.net

Warung Sayur Bu Sariyah

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Sariyah hatinya meradang, anak lelakinya minta uang saku untuk sekolah belum bisa memberi sementara suaminya ngorok gak bangun-bangun , terpaksa ia harus ngutang tetangga sebelah untuk memberi bekal anaknya yang masih kelas SD kelas - 5. Sariyah sudah malas bertengkar setiap harinya.....malas pula membangunkan suami yang cuwek dan gak bisa diharap, dia lari ke bu Marzuki meminta kerjaan apa saja asal dia bisa makan, Bu Marzuki menyuruhnya ke pasar untuk berbelanja dia mencatat belanjaan dan uang pemberian bu Marzuki, ketika ia keluar bu Yusuf minta dibelikan udang satu kilo beserta uangnya,  Mbak Ratna minta dibelikan jamu dan bawang merah. Sariyah langsung ke pasar mencarikan belanjaan mereka disinilah kehebatan Sariyah yang pandai menawar dan bisa memberikan untung dirinya, dari tiga ibu yang menitipkan belanja dia dapat mengantongi keuntungan 5000 rupiah, dia membelikan nasi bungkus untuk suaminya, dan segelas teh hangat. Sariyah langsung menuju Bu Marzuki memberikan pesanannya, juga bu Yusuf dan Mbak Ratna. mereka memberikan uang karena Sariyah mendapatkan barang yang bagus dan sehat.Mereka semua menginginkan Bu Sariyah membelanjakan sayuran dan bahan makannya setiap hari

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset