Warung Sayur Bu Sariyah episode 52

Ke Aceh menemui Pengungsi Rohingya

Disaat kita hanyut dengan permasalahan Perang Palestina vs Israel Cut Mirna yang tinggal di pesisir Aceh melihat kapal berlabuh di pantai mereka berjalan di tepian pantai . Melihat hal tersebut buru-buru Mirna bilang pada orang tuanya tentang keberadaan orang-orang tersebut. Bapak Cut Mirna melaporkan tentang orang-orang yang mirip seperti orang India ke polres , dan polisi berdatangan untuk menginterogasi segerombolan manusia masuk tak ada izin . Pak Marwanto menugaskan Aris untuk meliput kedatangan manusia yang ternyata pengungsi Rohingya. Aris menunggu istrinya pulang dari Puskesmas Genuk.

Dokter Rina yang pulang dari Puskesmas segera masuk ke kantor Aris karena mendapat kabar dari Aris tentang keberangkatanya ke Aceh

Dokter Rina  : ” Waaah…itu tentu pengungsi Rohingya yang nyasar ke Aceh sebagai umat Islam pasti mau menerimanya… ”

Aris                 : ” Iya memang….tapi penduduk Aceh kurang mau menerima kehadirannya….”

Dokter Rina   : ” Terus kak Aris ditugaskan kesana untuk meliput begitu…? Akan berapa lama….disini ada persiapan jelang pemilu lho….”

Aris                  : ” Iya aku tahu…ini amplop penugasanku baca dulu dong kok sudah sewot….” Sambil memeluk istrinya Aris menyodorkan amplop penugasan itu. Rina membukanya perlahan dan agak takut membukanya.

Dokter Rina   : ” Jadi cuma sepuluh hari….kira-kira Wulan bisa ndak mengurusi semua tamu yang datang dan pergi dan kadang berkelompok… ”

Aris                  : ” Dia akan mengerti tugas-tugasnya yang aku pandu di buku ageda kerja…tak usah kuwatir.lagian tersedia telpon..ayuuk makan dulu…” Aris mendengar panggilan bu Sariyah untuk makan siang karena hari sudah sore…..”

Aris                   : ” Inggih….sebentar buk……” .Bu Sariyah memasuki rumahnya lewat pintu belakang . Dan melihat Rina sedang berbicara sama Wulan tentang tugas -tugas Aris .

Sariyah             : ” Ayook makan dulu….sudah ditunggu bapak…” Rina menggandeng tangan Aris untuk makan siang bersama mertuanya.

Rina                  : ” Wulan…nanti kamu nyusul setelah ini , gantian ya…?! ”

Wulan               : ” Inggih dokter…”

Sambil makan pak Bambang membicarakan kepergian Aris ke Aceh untuk meliput pengungsi Rohingya, Rina mendengarkan saja dan menerima semua saran pak Bambang dan bu Sariyah dan nanti akan di bicarakan sesampai di Bringin. Jam empat sore Aris persiapan pulang setelah tamunya balik, Rina bersama bu Sariyah mengobrol bersama pak Bambang juga sambil melihat you tube tentang penyanyi yang menyanyikan tembang lawas kesukaan bu Sariyah tahun tujuh puluhan. Wulan sudah cabut tadi selesai makan siang karena segera kuliah dan sudah diampiri teman kuliahnya.

Aris                   : ” Ayook kita pulang…sayur untuk mama sudah kamu bawa sekalian….”

Rina                  : ” Sudah …ibuk yang membungkuskan pakai tepak …kelihatannya enak sih tapi…itu buat mama di Bringin ”

Sariyah membawakan sayur dan lauk buat besannya penderita gula…dan menurut aturan gizi yang di jaga oleh dokter Rina , mereka segera sampai di Bringin Ngalian yang sudah ditunggu bu Hernawan sambil duduk di kursi rodanya.

Dokter Rina   : ” Selamat sore mama…apa kabarnya….? ” Bu Hernawan  tersenyum dan di dorong masuk dalam rumah.Rina membuka makanan yang sudah di siapkan mertuanya karena mama Hernawan ternyata menunggu makan malamnya karena sejak sore tak mau makan kalau bukan dokter Rina yang mempersiapkan makanannya .

Dokter Hernawan menerima pasien anak yang terserang Leukimia dia amat lemas sekali kulitnya menguning pucat dan hendak melakukan tranfusi darah , sebut saja Hastuti nama gadis kecil itu yang diterima pembantu penulis data pasien yang sebenarnya dia adalah seorang perawat yang membantu mengadministrasikan seluruh data pasien dokter Hernawan ,dia bernama suster Niken atau sering di panggil mbak Niken sajakarena sudahakrap dengan anak-anak tersebut dan mbak Niken yang mengatur seluruh pasiennya . Rina mempertanyakan keadaan Hastuti gadis kecil yang baru terdiaknosis leukimia  jenis kanker darah yang terjadi ketika fungsi sumsum tulang mengalami gangguan sehingga menyebabkan produksi sel darah putih yang tidak normal, terlalu banyak, tidak terkendali, dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Rina         : ” Suster Niken itu mereka semua mau tranfusi…? ”

Niken       : ” Inggih dokter Rina , ini baru sebagian saja besok hari Kamis juga masih ada rombongannya lagi dokter….”

Rina          : ” Owh …banyak juga penderita leukemia di Semarang…?! ”

Niken        : ” Inggih dokter, kata pak Hernawan dokter Niken akan nglajutkan seperti bapak di spesialis anak..? ”

Rina           : ” Itulah sus…yang menjadi pikiranku…apakah mau ambil spesialis anak atau penyakit dalam…aku masih bingung…?! ” suster Niken hanya tersenyum saja karena sulit untuk membantu mengarahkannya dan juga dokter Rina wawasannya luas dan banyak melakukan bakti sosial bersama Semarang Sejahtera.

Dokter Hernawan yang mendengar pembicaraan ini membuat hatinya senang kemungkinan anaknya akan melanjutkan kuliah ambil spesialis anak sepertinya dan itu memang yang diinginkan agar bisa membantu tugasnya menghadapi pasiennya tapi Rina lebih mementingkan ibunya dan ingin menyembuhkan ibunya yang bernama Veronika itu. Jam sembilan malam dokter Hernawan sudah selesai buka praktiknya dan segera makan malam seperti yang dimakan Veronika cuma bedanya dokter Hernawan memakan nasi sedangkan Veronika tidak dan hanya makan sayur hijau serta sup wortel serta biji-bijian yang di bawakan bu Sariyah sesuai permintaan dokter Rina. Badan Veronika semakin kurus karena hanya makan sayuran saja asupannya. Kalau pagi Rina yang membuatkan sarapannya dengan brokoli hangat , Veronika cuma ngemil ketela rebus dan siangnya makan salmon di kukus. dan malamnya makan kentang goreng. Pokoknya harus betul-betul terjaga menu makanan Veroneka begitu arahan dokter Hernawan yang sering berkomunikasi sesama dokter waktu mengajar di kedokteran Undip. Aris menemani dokter Hernawan sambil makan ringan berupa ice ceam bersama mereka.

Dokter Hernawan : ” Makanan mamamu sudah normal dan kulitnya semakin kencang juga sudah mau berjalan walaupun di tuntun gak apa…”

Veronika         : ” Iya nduk…. mama mulai membaik karena kesiapan konsumsi yang baik dan pengetatan diet, mama juga selalu membaca…tak usah menguatirkan penyakit mama , ambilah spesialis anak untuk membantu papamu…”

Rina                 : ”  Kak Hendy ambil spesialis Bedah di Ujungpandang , sedangkan kak Herley masih di Papua dan akan pulang selesai dua tahun lagi disana  , Kak Herley belum menceritakan akan ambil spesiali apa….”

dokter Hernawan : ” Itulah…..pakai dulu dananya kak Herley..sambil engkau menabung mengembalikan uang kak Herley….bagaimana..? ”

Aris                   : ” Benar sayang…nanti aku bantu juga…ini aku sudah ambil S2 lho…..” Aris terpaksa mengatakannya karena agar istrinya termotivasi untuk melanjutkan kuliah sebelum hamil

Rina                  : ” Iya ..benar juga katamu….aku KB Kalender saja bagaimana….? ”  semangat Rina mendengar suaminya sudah ambil S2 dan Ia juga mendapat dukungan dari mamanya.

Aris                    : ” Beriap siaplah…, aku juga akan berangkat ke Aceh seminggu lagi…ini masih menyiapkan bahan untuk memberikan arahan kepada pengungsi Rohingya yang mendaratkan kapalnya ke Aceh..”

dokter Hernawan : ” Waaaah seorang jurnalis harus kebal hukum dan harus jujur kepada bangsa dan agama….cuma mereka ngomong pakai bahasa apa…? tentunya Myanmar Rohingya…”

Aris                  : ” Kepolisian ada kok yang menjadi jubir mereka dan sudah ada pemuda di Rohingya yang mengerti bahasa Indonesia…apalah nanti akan aku fikirkan ”

Mereka semua makan dengan santai sambil menikmati lagu Tetty Kadi kegemaran bu Sariyah yang disetel Aris saat ini menggunakan kaset CD yang mengalun dengan merdunya.

Tibalah saat berangkat ke Aceh ternyata pak Marwanto ikut bersama Aris yang akan memberikan laporan mengenai pengungsi Rohingya pada pemerintah Aceh disana dan Aris membawa bahan sebagai Jurnalis.

Rina              : ” Hati-hati kak…mereka ganas-ganas lhoooo….?!”

Aris               : ” Ganas macam singa gitu…aummm….” Aris mendekap Rina yang akan meninggalkan bandara Ahmadyani . Dokter Rina agak kaget karena auman yang menggodanya. Pak Bambang dan bu Sariyah mengelus kepala anaknya Aris Munandar penuh kasih dan doa.

Bu Sariyah  : ” Semoga kalian sampai disana dengan selamat dan sukses anakku….”  Aris mencium ibuk dan bapaknya serta kembali mencium Rina  yang matanya memerah karena baru kali ini di tinggal Aris cukup lama. Pak Marwanto menyalami pak Bambang dan bu Sariyah penuh hormat dan mereka segera chek inn meninggalkan keluarganya.


Warung Sayur Bu Sariyah

Warung Sayur Bu Sariyah

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2018 Native Language: Indonesia
Sariyah hatinya meradang, anak lelakinya minta uang saku untuk sekolah belum bisa memberi sementara suaminya ngorok gak bangun-bangun , terpaksa ia harus ngutang tetangga sebelah untuk memberi bekal anaknya yang masih kelas SD kelas - 5. Sariyah sudah malas bertengkar setiap harinya.....malas pula membangunkan suami yang cuwek dan gak bisa diharap, dia lari ke bu Marzuki meminta kerjaan apa saja asal dia bisa makan, Bu Marzuki menyuruhnya ke pasar untuk berbelanja dia mencatat belanjaan dan uang pemberian bu Marzuki, ketika ia keluar bu Yusuf minta dibelikan udang satu kilo beserta uangnya,  Mbak Ratna minta dibelikan jamu dan bawang merah. Sariyah langsung ke pasar mencarikan belanjaan mereka disinilah kehebatan Sariyah yang pandai menawar dan bisa memberikan untung dirinya, dari tiga ibu yang menitipkan belanja dia dapat mengantongi keuntungan 5000 rupiah, dia membelikan nasi bungkus untuk suaminya, dan segelas teh hangat. Sariyah langsung menuju Bu Marzuki memberikan pesanannya, juga bu Yusuf dan Mbak Ratna. mereka memberikan uang karena Sariyah mendapatkan barang yang bagus dan sehat. Mereka semua menginginkan Bu Sariyah membelanjakan sayuran dan bahan makannya setiap hari

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset