Yes, I am D.I.D episode 10

Chapter 10 : Kebenaran Yang Tidak Ingin Aku Percayai

“Sudah berapa lama kamu sadar kalau kamu merasa ada yang aneh pada dirimu?”

Beberapa waktu lalu

“Bisa kamu ceritakan lebih detail lagi?”

Hhmm…

Aku bukan tipe orang yang rajin mengerjakan tugas sekolah, ketika di sekolah saat guruku memintaku mengeluarkan buku ku, pekerjaan itu telah kukerjakan bahkan semua soal di buku itu telah kujawab.

Awalnya kupikir buku itu bukan milikku tapi disitu jelas tertulis namaku dan ada gambar muka pak tua yang kugambar sendiri.

“Jadi kamu yakin kalau itu buku kamu?”

Iya, aku yakin itu bukuku

“Mungkin ada seseorang yang mengerjakannya untukmu?”

Aku tidak punya teman di sekolah. Di rumah hanya ada pak tua, dia bahkan tidak suka matematika. Dan itu, tulisan tanganku.

“Hmmm, ada lagi keanehan yang kamu alami?”

Kadang aku merasa ada seseorang yang mengawasiku. Aku berbalik dan mencoba melihat siapa orang itu, tetapi tidak ada seorangpun dibalik pintu itu. Karena penasaran aku mencoba mencarinya di seluruh ruangan, tetapi percuma hanya ada aku di rumah saat itu.

Saat itu kupikir aku hanya berhalusinasi tapi hal-hal aneh lain malah sering kejadian. Tiba-tiba ada barang-barang baru yang ada di kamarku. Entah itu beberapa buah komik atau buku bacaan tentang agama yang semuanya itu belum pernah aku lihat di kamarku atau di dalam rumah ini apalagi aku baca.

“Hmmm, apa yang kamu rasakan pertama kali ketika kamu menyadari ada yang aneh pada dirimu?”

Jika aku berpikir sama dengan orang lain mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah aku diganggu oleh setan. Tapi yang benar saja, aku bukan mereka dan tentu saja aku tidak percaya dengan omong kosong itu.

Beberapa orang yang menyadari keanehan pada diriku lebih memilih menjauhiku. Tapi aku tidak perduli, tidak masalah karena aku juga tidak membutuhkan mereka. Yang aku butuhkan adalah jawaban apa yang terjadi padaku.

“Kalau menarik kesimpulan dari apa yang sudah kamu beri tahu, ada kemungkinan kalau kamu mengidap penyakit mental”

“Maksud dokter cucu saya gila!? Dia mungkin cuma berhalusinansi!?” Kali ini kakek berbicara.

“Tidak, bukan gila bukan juga halusinasi. Tapi penyakit mental yang mengarah ke kepribadian ganda”

“Atau Dissociative Identity Disorder” ucap dokter itu.

“Sejauh ini dari apa yang saya tangkap baik dari bapak atau dari dilan sendiri, ada lebih dari satu kepribadian”

“Dalam kasus DID sendiri sangat jarang ada kasus yang hanya terdapat 1 kepribadian yang berbeda. Jadi saya sendiri belum bisa memastikan dengan jelas ada berapa banyak kepribadian yang dilan punya”.

“Pada umumnya DID ini ada karena si penderita pernah mengalami trauma yang sangat membekas di ingatannya sehingga untuk melindungi diri mereka, mereka mencoba membentuk sebuah image atau karakter yang mampu melindungi ketidak berdayaan mereka”

“Apa dilan pernah mengalami trauma semacam itu?”

15 tahun kemudian.

“Sudah lama sekali ya waktu itu?”

“Iya, waktu itu saya yakin bukan saya yang jadi subjeknya”

“Tapi waktu itu dilan bukan?” tanyaku.

“Iya, waktu itu dilan dan kakekmu”

“Dan sekarang penuh dengan kejutan ya”

“Ah iya, sebelumnya turut berduka cita atas kabar kakekmu”

“Dan sekarang jujur saja aku terkejut apalagi ketika kamu bilang kalau kamu adalah “the host” yang sebenarnya”

“Kasusmu cukup unik jujur saja, hal yang paling logis saat ini adalah saat ini “kamu” yang muncul disini sekarang adalah kepribadian yang berusaha mengambil peran “the host” itu”

“Kenapa? Karena dilan yang paling lama mengambil peran itu?” tanyaku.

“Jika aku bisa membuktikan kalau aku bisa eksis lebih lama dari yang pernah dilan lakukan apakah itu artinya secara logis aku juga bisa dibilang “the host” itu?”

“Banyak hal yang harus kita teliti lebih lanjut jika ingin mendapat sebuah kesimpulan” jawaban dokter.

“Aku tidak tertarik dengan kesimpulan, tapi aku ingin sebuah jawaban”

“Jawaban? Jawaban apa?”

“Tidak usah repot-repot mencari siapa yang “the host” atau siapa yang “alter”. Itu semua tidak penting lagi”

“Yang aku inginkan apa aku bisa menghilangkan kepribadian lain?”

“Dan artinya kamu ingin menjadi seorang rafa secara utuh?” tanya dokter padaku.

“Iya”

“Aku adalah mereka dan mereka juga adalah aku, itulah kenyataannya” ucapku.

“Secara medis DID bukan sesuatu yang bisa disembuhkan”

“Tapi masih bisa diobati dan itu semua tergantung kuatnya keinginan orang itu dalam kasus ini adalah keinginanmu sendiri untuk sembuh”

“Obat dan terapi sangat dibutuhkan tetapi yang lebih penting adalah mengetahui apa yang menjadi penyebab kamu mengalami DID”

“Kamu harus tahu trauma berat apa yang telah kamu alami”

“Semua tidak akan gampang, itu pasti dan itu akan menjadi peperangan buat dirimu karena di perjalanannya bukan tidak mungkin kamu harus bertarung dengan kepribadian kamu yang lain yang juga berusaha menguasai tubuhmu sepenuhnya”

“Hhhm, sejauh ini apa masih ada kepribadian lain yang kamu tahu?”

“Iya, masih ada 2 orang lagi”

“Dokter tahu kenapa dulu kakek memberhentikan pengobatan saya?”

*the host = kepribadian utama
*alter = kepribadian lain

2 tahun sebelumnya…

“Kamu masih belum bisa membujuknya rei?” ucap seorang wanita yang kali ini baru datang.

“Ah iya maafkan saya bu, sebentar lagi”

“Seharusnya ibu tidak perlu sampai kemari” ucap rei pada wanita itu.

“Gak papa, sudah saatnya aku melihat anakku” ucap wanita itu.

“Anak?” ucap joni bingung.

“Iya, teman kalian itu anakku” ucap wanita itu sambil menunjukku.

“Aku? Anakmu?” tanyaku bingung.

“Iya, kamu adalah anakku. Dan aku adalah ibu kandungmu” ucap wanita itu lagi.

“Jangan bohong, ibuku sudah meninggal!”

“Meninggal? Ah pasti pak tua itu yang bilang padamu ya”

“Jangan percaya padanya anakku, dia berbohong padamu”

“Kamu mau tau yang sebenarnya?”

“Ikutlah denganku anakku” ucap wanita itu.

“Jangan! Jangan percaya padanya, kakekmu gak mungkin bohong padamu!” ucap syafira sambil berusaha memegang tanganku agar aku tidak pergi.

“Bu, cewek itu mau saya apakan?” tanya rei pada wanita itu.

“Jangan rei, jangan. Melukainya hanya akan membuat dilan marah”

“Lebih baik kalau dilan jangan muncul sekarang” jawab wanita itu.

“Apa hubunganmu dengan dilan?” tanyaku.

“Siapa namamu?”

“Syafira” jawab syafira.

“Baiklah syafira, ini pertama kalinya aku tau kalau dilan punya hubungan dengan seseorang”

“Kamu bilang kamu mau membantuku?”

“Kalau gitu coba bantu aku jika suatu saat kita bisa bertemu lagi”

“Saat ini rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa ingin bunuh diriku, aku ingin tahu apa benar dia ibuku”

Dan aku kemudian melepaskan pegangan syafira. Dan berjalan mendekati wanita yang mengaku sebagai ibuku itu. Namun kali ini giliran joni yang menahan diriku agar tidak terbujuk hasutan wanita itu.

“Lu gak boleh pergi!”

“Dilan gak akan pernah percaya kata-kata orang lain selain kata-kata kakeknya” ucap joni.

“Sayangnya aku bukan dilan”

“Aku punya hak untuk tau semuanya”

“Keputusan kamu tepat sayang” ucap wanita itu.

“Dilaaaann! Rafaaaaa! Hasaaaaan! Aku mohon muncullah kalian!”

“Syafira”

“Sudah kubilang kalau mereka bertiga sudah tidak ingin muncul lagi”

“Harusnya kamu senang aku ikut mereka, aku jadi menunda rasa ingin bunuh diriku”

“Ah ya, satu lagi”

“Namaku alfurqan

“Sekarang kamu udah kenal kan” ucapku tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan joni dan syafira bersama rei dan wanita itu.

“Kita mau kemana?” tanyaku pada wanita itu.

“Pulang ke rumah sayang”

“Kita akan pulang kerumah” jawab wanita itu.

Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam lebih menggunakan pesawat dengan penerbangan menuju Surabaya. Aku akhirnnya dibawa menuju ke sebuah rumah besar di jalan Nilam. Walau tampak sepi dari luar namun ternyata seisi rumah itu dijaga oleh beberapa orang yang bila dilihat seperti bodyguard.

“Jadi ini rumah kita?”

“Untuk di Indonesia iya, nanti kita akan pindah ke New Zealand”

“New Zealand? Ada apa disana?”

“Tempat ayahmu sekarang” ucap wanita itu.

“Ayah?”

“Ayah masih hidup?”

“Iya dong ayahmu masih hidup, ya udah kita masuk ke dalam dulu yuk”

“Nanti ceritanya kita terusin di dalam aja” bujuk wanita itu yang kemudian masuk terlebih dulu ke dalam rumah.

“Kenapa ayah tidak tinggal disini?”

“Ayahmu sedang dirawat disana”

“Dirawat?”

“Ayah sakit?”

“Iya dia sudah koma untuk waktu yang sangat lama”

“Kamu tahu dulu kamu sangat senang jika sedang berdua dengan ayahmu?” ucap wanita itu.

“Benarkah?”

“Iya benar sayang”

“Kalian menyayangiku?”

“Kamu bicara apa? Tentu saja kami sayang padamu. Orang tua mana yang tidak sayang pada anaknya?”

“Kalau memang kalian sayang padaku terus kenapa kalian meninggalkanku di jalan?”

“Meninggalkanmu di jalan? Jadi itu yang dibilang pak tua itu?”

“Memangnya kakek berbohong?”

“Tentu saja dia berbohong padamu, kami tidak pernah membuangmu”

“Dia malah yang menculik kamu dari kami”

“Menculik?”

“Cerita apa ini?”

“Kalian bikin cerita novel?”

“Kalau kalian mau bikin cerita novel seenggaknya kalian bikin alasan yang lebih masuk akal dibilangnya”

“Maksud kamu ibu berbohong padamu?”

“Ha ha ha, ya jelas saja itu semua bohong”

“Kalian pikir aku tidak tahu?”

“Aku memang bukan rafa yang cerdas atau dilan yang mungkin akan lebih percaya pada kakeknya dibandingkan dengan bualan kalian”

“Tapi aku tahu apa yang mereka tidak tahu”

“Tahu apa yang mereka tidak tahu? Maksud kamu?”

“Masih perlu kujelaskan? Wah kupikir kalian cepat tanggap tapi ternyata kalian bodoh”

“Kalian tahu dengan seperti itu lambat laun kalian akan ketahuan oleh rafa”

“Rafa jauh lebih cerdas dari yang kalian pikirkan”

Melihat dan mendengar omongaku yang seperti itu rei yang sedari tadi berdiri dibelakangku mulai mendekatiku secara perlahan, sehati-hati mungkin agar aku tidak menyadarinya.

“Tunggu rei” ucap wanita itu.

“Apa-apaan nih?” ucapku setelah menengok kebelakang

“Karena gak bisa ngebohongin aku akhirnya kalian malah memilih cara kasar?”

“Ha ha ha, untuk apa kami mau mengasarimu?” Balas wanita itu.

“Sekarang katakan padaku apa yang kamu tahu sayang?”

“Dengar, aku tahu kalau kamu bukan ibu kandungku”

“Aku…bukan ibu kandungmu?”

“Iya” ucapku tersenyum.

“Kenapa kamu bilang begitu?”

“Kenapa? Tentu saja karena aku masih mengingatnya”

“Mengingatnya bagaimana?”

“Semuanya, wajahnya, suaranya, gaya bahasanya termasuk penampilannya”

“Harusnya kalau kamu mau mengaku jadi ibuku, paling tidak kamu harus mengubah dulu wajahmu ya minimal penampilannya lah”

“Wah untung aja mereka punya aku ya, kalau tidak mungkin mereka masih bisa dibohongi”

“Tapi jujur aku sedikit agak kecewa dengan kalian, jauh-jauh aku mengikuti kalian kesini tapi ternyata usaha kalian cuma sampai segini” ucapku sambil meminum teh yang ada di depanku.

“Sejak kapan kamu menyadarinya?”

“Sejak kapan?”

“Iya, sejak kapan kamu tahu kalau aku bukan ibumu?” ucap wanita itu namun sekarang dengan pandangan yang sangat serius padaku.

“Sejak 1 detik yang lalu” ucapku kemudian serius.

“1 detik yang lalu? Maksud kamu?” ucapnya bingung.

“Dari awal aku hanya mencoba memancingmu”

“Aku memang tidak secerdas rafa tapi juga tidak seceroboh dilan, tapi aku punya cara sendiri untuk bisa diyakinkan” ucapku tersenyum pada wanita itu.

“Ha ha ha, jadi maksudmu aku udah kejebak dalam permainanmu?”

“Jangan bercanda? Permainan apa yang ngebosenin seperti ini?”

“Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi aku mau keluar” ucapku kemudian beranjak dari kursi yang kududuki.

“Hmmm tawaranmu soal cara bunuh diri yang ekstrim itu menarik memang, tapi kalau bunuh diri setelah dibantu orang lain itu rasanya kurang pas”

“Aku akan melakukannya sendiri” ucapku pada rei.

“Kenapa kamu segitu inginnya membunuh dirimu?” tanya wanita itu tiba-tiba.

“Apa…urusan…aaarrgghh kenapa ini!?” ucapku sambil memegang kepalaku.

“Tenang rasa sakit itu belum bisa membunuhmu, hanya membuatmu tidak sadarkan diri”

“Tidak kusangka, ternyata bukan berhasil menjebakmu aku malah ketahuan” ucap wanita itu.

“Heeiisss, harusnya kalian kasih racun aja di minuman tadi” ucapku kemudian tidak sadarkan diri lagi setelahnya.

“Bawa dia ke kamar rei dan pastikan kamu mengawasinya”

“Kita belum tahu siapa yang akan muncul setelah dia siuman lagi”

“Baik bu” ucap rei.

“Ibu” ucap rei.

“Kenapa rei?”

“Coba ibu lihat sebentar”

“Kenapa?”

“Kali ini siapa dia rei?”

“Menurut saya dia adalah kepribadian yang religius”

“Sedari tadi saya perhatikan setelah dia siuman dia terus shalat dalam kamar dan terus menangis sambil menyebut nama kakeknya”

“Bagaimana bu? Apa kita harus membuat dia percaya juga?”

“Aku tidak terlalu tertarik padanya rei”

“Kupikir akan sulit mebuatnya percaya seperti kepribadian sebelumnya”

“Terkadang orang yang kita pikir sulit untuk kita taklukkan ternyata lebih mudah pada kenyataannya”

“Lebih baik kita bersiap jika dilan atau rafa muncul”

“Baik bu kalau begitu saya mengerti”

“Saya akan membuatnya pingsan segera”

“Ingat rei jangan pakai cara kekerasan, itu hanya tidak menguntungkan kita”

“Saya mengerti bu, tenang saja saya cuma akan memenuhi kamar itu dengan gas penidur”

“Ya sudah yang penting tetap awasi dia”

“Kok aku tidur di lantai sih?”

“Ah ini pasti ka hasan nih habis shalat terus ketiduran”

“Ibu?”

“Kenapa rei?”

“Ah dia sudah siuman lagi?”

“Iya bu sudah beberapa saat yang lalu”

“Lalu siapa yang muncul sekarang?”

“Sepertinya ibu harus lihat sendiri?”

“Kenapa memang? Ada yang aneh?”

“Sepertinya ini kepribadian baru”

“Kepribadian baru!?”

“Rei apa yang dia lakuin itu?”

“Setau saya tadi setelah dia meminta handuk dia pergi mandi dan saya langsung memanggil ibu”

“Tapi kalau yang ini saya juga baru lihat”

“Ah maafkan saya pak, nyonya, tadi dia memaksa kami memberikan dia kosmetik katanya dia ingin berdandan” ucap salah seorang yang bertugas mengawasiku.

“Awalnya saya menolak tapi lama-lama dia marah dan ini…” ucap orang itu sambil memperlihatkan bekas gigitanku di lengannya.

“Dia menggigitmu?” tanya wanita itu.

“Iya nyonya, saya pikir dia yang sekarang seperti seorang perempuan”

“Perempuan?” ucap wanita itu kaget.

“Namaku alisha” ucapku.

“Alisha?” tanya wanita itu.

“Iya ibuuuu! Aku senang banget akhirnya aku bisa melihat ibuku” ucapku senang sambil memeluknya.

“Ah iya sayang, ibu juga senang akhirnya bisa bertemu denganmu”

“Tunggu bentar, beneran anda ini ibuku?”

“Iya benar nona, beliau ini adalah ibu kandung anda”

“Benarkah? Hhhmm…terus kamu siapa?” kali ini aku bertanya pada rei.

“Dia tangan kanan ibu sayang”

“Tangan kanan ibu? Kaya asisten gitu?”

“Iya bisa dibilang kaya asisten”

Aku kemudian berjalan mendekati rei dan memperhatikannya dari dekat.

“Kamu ganteng juga ya”

“Dan pantat kamu seksi juga” ucapku sambil meremas pantat rei.

“Ahahahaha”

“Ibu aku suka dia, dia jadi asistenku juga ya bu yaaa?” ucapku manja.

“Maaf saya sudah punya tunangan” ucap rei.

“Heiissh gak usah bohong gak ada cincin di jarimu” ucapku sambil mengedipkan mataku pada rei.

Melihat tingkahku rei langsung bereaksi seperti mau muntah.

“Ibu maaf saya permisi ke toilet sebentar” ijin rei.

“Iya iya”

“Ibu, aku mau rok yang warna pink ini ya?”

“Terus sepatu kets yang warna pink itu juga lucuu bu”

“Iya iya sayang”

“He he he asssyiiikkk”

“Ibu, beneran tidak apa-apa begini? Ibu sampai membawanya ke toko seperti ini” ucap rei.

“Gak papa rei, mendapatkan kepercayaannya lebih penting saat ini”

“Lagipula ini toko milikku jadi kamu gak usah khawatir”

“Sampai di rumah cepet-cepet kamu bikin dia pingsan lagi, aku sudah lelah mengikuti semua maunya”

“Baik bu”

“Jadi begitu ya bu? Ternyata perempuan itu berbahaya”

“Bisa-bisanya dia bersikap polos dan pura-pura gak kenal kakek”

“Awas aja nanti kalau ketemu aku jambak dia! Huh!” ucapku.

“Sudah sayang yang penting sekarang kamu sudah tau semuanya”

“Sekarang kita pulang yuk, ibu mau bikin kamu makanan di rumah”

“Makanan? Aaaaahhh maaauuuuu! Ya udah yuk pulang”


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset