Yes, I am D.I.D episode 11

Chapter 11 : Dua Cerita, Dua Cinta Dan Satu Hati

“Dilannnnnn!?”

“Dillaaaaaaannnnnn????” teriak anak itu.

“Kenapa sayang teriak-teriak?” sahut seorang wanita paruh baya.

“Dilan dimana bunda?”

“Bunda liat dilan?” tanya anak itu lagi.

“Enggak, bunda gak liat dilan” ucap wanita itu sambil melirik tempat dilan bersembunyi. Sebenarnya wanita itu tahu dilan sedang bersembunyi namun dia sengaja tidak mengatakannya pada anak itu.

“Dilan kemana ya bunda?”

“Kenapa memang? Kalian marahan?”

“Enggak kok bunda”

“Beneraaaann” ucap anak itu sambil membentuk jarinya agar tampak menjadi angka 2 atau tanda kalau dirinya tidak berbohong.

“Iyaa iyaa bunda percaya”

“Ya udah kalau gitu nanti bunda bantu kamu nyari dilan ya? Tapi kamu harus makan siang dulu”

“Bunda mau bantuin aku nyari dilan?”

“Beneran ya bunda?”

“Iya sayang bunda janji, tapi kamu harus makan dulu”

“Iya deh”

“Bunda, kok cuma disiapin segitu? Bunda udah makan memang?”

“Enggak, bunda udah makan sayang”

“Hhhhmmmm, ayam gorengnya tinggal 1 lho kalau gak mau nanti bunda kasih ke…” ucap wanita itu sengaja menyaringkan suaranya agar aku mau keluar dari tempat persembunyianku.

“Tapi itu ayamnya masih ada …”

“Ssssttt” tegur wanita itu pelan.

“Aku lapar” ucapku setelah memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku.

“Nah itu dilan!”

“Dilan ih kamu sembunyi ya ternyata!?”

Aku cuek dan lebih memilih untuk duduk di meja makan.

“Kamu gak ngajakin dia makan?” tanya wanita itu.

“Nanti kalau dia laper juga dia makan”

“Hmmm, dilan?”

“Ya?” jawabku sambil mengunyah makananku.

“Hhhhm gak papa, ya udah sana makan dulu” ucap wanita itu kemudian pergi meninggalkanku dengan syafira disitu.

Kenapa? Kalian terkejut? Atau malah bingung? Ah aku tidak perduli. Kenangan itu muncul di kepalaku. Kenangan yang menjadi alasan untuk eksistensiku, aku tidak tahu apakah si brengsek itu juga mendapat kenangan yang sama seperti ini. Semoga tidak, dia tidak perlu tahu siapa syafira sebenarnya.

Tapi kalaupun dia juga sudah tahu siapa syafira sebenarnya apa mungkin dia sudah menyiapkan sesuatu?

Kamis, 17 Maret 2016

“Dilannn, sakit…”

“Lepasin aku!” teriak syafira.

“Aaaarrggghh sialaaan, brengsek ini terus-terusan ganggu!” ucap dilan pada dirinya sendiri.

“Syafira?” ucapku kemudian melepaskan cengkeramanku pada syafira.

“Apa yang udah terjadi?”

“Rafa? Kamu rafa?”

“Tadi siapa yang muncul?” tanyaku pada syafira.

“Tadi yang muncul …”

“Ah kakek, tadi aku lihat kakek”

“Kakek masih hidup syafira”

“Kakek? Kamu lihat kakekmu? Dimana?”

“Kamu gak papa kan rafa? Kakekmu sudah meninggal rafa”

“Jadi yang kamu lihat tadi itu gak mungkin …”

“Enggak! Aku yakin tadi aku lihat kakek”

“Tadi itu beneran kakek!” kemudian aku mengeluarkan hp ku sementara itu tidak lama kemudian joni muncul.

“Syafira? Rafa?” sapa joni.

Sewaktu aku sempat tidak sadarkan diri, syafira memutuskan untuk menghubungi joni dan memintanya untuk mendatangi kami.

“Halo? Kenapa fira?” tanya joni.

“Jon, kamu dimana?”

“Di luar bareng anak-anak”

“Kamu sibuk?” tanya syafira.

“Gak, kenapa?” jawab joni.

“Kamu sekarang kesini jon”

“Aku lagi sama rafa”

“Rafa?” tanya joni.

“Dia udah muncul?”

“Dari kapan?”

“Udah pokoknya kamu datang dulu aja kesini”

“Ya udah, aku kesana”

“Cepet ya, nanti aku kirimin kamu posisi kami”

“Oke!”

“Rei”

“Ya?”

“Kamu dimana sekarang?”

“Kamu tau tadi dilan muncul?”

“Iya tadi saya sempat melihat anda mengalami sedikit masalah”

“Sudah kubilang kan rei, jika dilan muncul kamu harus lakuin sesuatu!?”

“Kamu tau tadi dia mencoba menyakiti syafira!?”

“Dilan nyakitin kamu fira?” tanya joni yang mendengar percakapanku dengan rei via telepon.

“Ntar aku ceritain” jawab fira.

“Kalau kamu gak bisa melakukannya kalau gitu gak usah repot-repot untuk mengawasiku!” ucapku pada rei.

“Maafkan saya, anda harus tahu ketika anda shock melihat kakek anda, saya akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak kakek anda”

“Kakek? Jadi itu benar-benar kakek?”

“Iya, kemungkinan besar memang seperti itu”

“Terus kamu berhasil ngikutin kakek?”

“Tidak, sayang sekali saya kehilangan jejak mereka”

“Sepertinya mereka sadar kalau diikuti”

“Anda masih membutuhkan saya? Saya bisa kesana sekarang”

“Gak usah, fokus cari jejak kakek aja”

“Rei”

“Kamu bakal bilang ke ibu kalau tadi kamu melihat kakek?”

“Tentu saja, beliau harus tahu”

“Ya udah”

Bruak!

“Joni!!!” teriak syafira yang kaget karena tiba-tiba joni menamparku.

“Pertama, itu buat lu yang udah nyakitin syafira tadi”

Bruak!

“Dan itu buat lu yang udah gak tau terima kasih dicariin selama 2 tahun tapi cuma gua yang elu gak kasih kabar waktu elu balik!” ucap joni lagi.

“Sampai sekarang gak ada yang berubah dari kamu ya?”

“Bisanya cuma main kasar” ucapku tersenyum sinis.

“Apa lu bilang hah!?” ucap joni lagi sambil ancang-ancang hendak memukulku lagi.

“Udah jon!”

“Aku gak manggil kamu kesini buat kalian bisa berantem!”

“Dan kamu rafa!? Kamu belum bilang ke joni kalau kamu udah balik!?” tanya syafira padaku.

“Bilang ke dia?”

“Ngapain?” jawabku.

“Brengsek ya!” teriak joni.

Plak! Kali ini syafira yang menampar mukaku.

“Ngapain kamu bilang? Dia yang mati-matian nyariin kamu selagi kamu kabur!”

“Udah jon kita pergi aja, percuma ngomong sama dia”

“Ya udah” jawab joni

“Syafira tunggu!” ucapku sambil memegang tangannya.

“Co-consciousness…” ucap syafira.

“Ko kon apaan?” tanya joni.

“Co-consciousness!” ucapku lagi pada joni.

“Iyeeee” jawab joni kesal.

“Kejadiannya kapan rafa?”

“Cuma sekali atau udah sering?” tanya syafira.

“Bentar-bentar, bisa jelasin gak tadi itu ko kon apaan?”

“Co-consciousness!” ucapku dan syafira bersamaan.

“Iye iye dah itu namanya” balas joni kesal.

“Kondisi dimana si penderita DID berbagi kesadaran dengan kepribadian lainnya dalam waktu yang bersamaan” ucap syafira.

“Sederhananya pada saat itu rafa melihat, merasakan bahkan saling berbicara dengan kepribadian lainnya seolah-olah itu nyata”

“Terus itu tandanya apa?” tanya joni.

“Pertanda baik atau buruk?”

“Aku belum bisa bilang itu pertanda baik atau buruk”

“Yang jelas dalam hal ini dilan jelas berusaha mencoba untuk muncul dan menguasai tubuh rafa sepenuhnya”

“Co-consciousness bisa aja mempengaruhi bahkan mengontrol si pemilik tubuh saat itu”

“Tapi terkadang co-consciousness juga bisa membantu menyembuhkan kepribadian lain”

“Bentar, apa sewaktu itu, ah gini aja deh apa sampai sekarang kamu pernah mendapat kepingan-kepingan kenangan dari karakter lain?”

“Kalau kamu pernah mendapat kenangan dari karakter lain maka kemungkinan kalian akan bisa sharing memory sewaktu kalian mengalami time loss, dan itu bisa aja perlahan jadi treatment yang bagus buat kamu rafa” ucap syafira senang.

*time loss = periode waktu dimana alter (kepribadian lain) menguasai tubuh si host

“Kamu cukup tahu ya tentang DID?” ucapku pada syafira.

“Ya iyalah, semenjak elu pergi syafira berhenti dari tempat kalian kuliah bareng”

“Gua pikir karena dia pengen move on, eh tau-taunya malah ngambil kuliah kedokteran” ucap joni.

“Jon ih apaan sih!” teriak syafira.

“Kenapa kamu ngelakuin itu?” tanyaku.

“Kenapa?” tanya syafira balik padaku.

“Iya kenapa?” tanyaku lagi.

“Ya karena dia suka ma lu lah bego” tiba-tiba joni ikutan.

“Jangan salah” jawab syafira.

“Hah? Apanya?”

“Mungkin kamu gak tau karena saat itu bukan kamu”

“Tapi saat alfurqan lebih memilih mempercayai wanita yang mengaku jadi ibu kamu dan ninggalin aku sama joni”

“Dia bilang padaku kalau lain kali waktu aku bisa bertemu dengannya kembali, dia ingin aku menolongnya”

“Menolong alfurqan?”

“Ah iya gua ingat dia pernah ngomong gitu” ucap joni.

“Apa hubunganmu dengan dilan?” tanyaku.

“Siapa namamu?”

“Syafira” jawab syafira.

“Baiklah syafira, ini pertama kalinya aku tau kalau dilan punya hubungan dengan seseorang”

“Kamu bilang kamu mau membantuku?”

“Kalau gitu coba bantu aku jika suatu saat kita bisa bertemu lagi”

“Saat ini rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa ingin bunuh diriku, aku ingin tahu apa benar dia ibuku”

“Jadi karena itu kamu sampai memilih mendalami tentang DID?”

“Iya, kenapa memang?”

“Gak suka? Aku cuma tertarik”

“Dan kata-kata alfurqan kemarin itu jujur masih terngiang-ngiang di kepalaku”

“Kamu menyukaiku?” tanyaku pada syafira.

“Ap..a? Apaa?” syafira tiba-tiba menjadi gugup.

“Aku suka sama kamu?”

“Ya gak mungkin lah, kamu kok jadi GR gitu sih?”

“Lagian kan aku juga udah bilang alfurqan yang minta gitu, bukan kamu”

“Jadi kamu sukanya sama alfurqan itu?” tanya joni bingung.

“Jon, udah deh kamu dari tadi bikin ribet aja”

“Apaan sih, gua nanya kok malah dibilang bikin ribet!?”

“Salah gua apa coba?” tanya joni tidak peka.

“Kalau aku yang minta tolong kayak gitu padamu, kamu masih mau berbuat sampai sejauh ini juga?” kali ini rafa bertanya pada syafira.

“Ituuu…ituuu…ya mungkin aja kan kita teman?”

“Teman?” tanyaku lagi.

“Iya kita kan teman? Iya kan jon?” tanya syafira pada joni, berharap joni mau mendukungnya.

“Gak ah, temen gua dilan bukan dia”

“Iiiihh joni!”

“Yang dia bilang bener kok, selama ini dia dekat sama dilan bukan denganku”

“Gak masalah kalau kamu gak suka padaku, tapi jangan berharap kalau dilan bakal balik”

“Aku ya dia, gitu juga sebaliknya, dia ya aku” ucapku.

“Kenapa gua harus percaya sama elu?”

“Bisa aja bener kan apa yang dokter lu bilang kalau lu yang sekarang ini cuma pengen nyingkirin karakter lain supaya lu lah yang bisa menjadi “the host” nya!?” ucap joni.

“Kenapa juga aku harus minta kamu percaya?”

“Dari awal aku gak ngasih tau kamu aku balik juga karena gak pengen kamu hadir atau muncul lagi”

“Apalagi sampai bela-belain ngusahain biar kamu percaya padaku”

“Gak, gak sama sekali” balasku tidak mau kalah.

“Ya udah kalau gitu gua pulang aja”

“Gak ada gunanya juga gua kan disini” ucap joni.

“Terserah” ucapku.

“Rafa! Joni!”

“Kalian kenapa sih! Udah kubilang udah udah udah tapi masih aja!”

“Syafira, bukannya gua gak mau ngehargain elu juga”

“Siapapun dia saat ini yang jelas sekarang dia udah jauh berubah”

“Dia gak pantas buat kita khawatirin lagi, toh dia sekarang juga udah punya temen baru”

“Dan elu juga tau sendiri siapa temen barunya itu!?”

“Dia yang pernah nyulik elu syafira! Lu masih gak mau ngerti hah!?” teriak joni kesal.

“Tapi dia gak nyakitin aku jon waktu itu…”

“Apapun kondisinya waktu itu dan apapun alasannya yang jelas cara yang mereka lakuin itu salah syafira!”

“Kalau elu ada di waktu dilan nyelamatin gua waktu si brengsek itu mencoba menusuk gua, apa elu bakal masih bisa bilang si brengsek itu masih bisa dimaafin!?”

“Heh brengsek! Denger ya, karena gua ingat dilan sekarang ini gua nahan diri buat gak nampar lu!” ucap joni padaku.

“Gua pergi!”

“Karena dilan aku memilih mencoba percaya rei” ucapku sebelum joni pergi terlalu jauh.

“Karena dilan aku memilih menghabiskan waktu 2 tahunku hanya untuk belajar menguasai diriku, terapi dan konseling ke dokter secara rutin”

“Karena dilan lu bilang?” ucap joni yang terpancing omonganku.

“Kenapa lu bawa-bawa dilan!?”

“Bukannya lu bilang selama 2 tahun ini elu udah berusaha mati-matian buat ngehilangin dilan!?”

“Kenapa lu jadi nyalahin dilan yang dia sendiri juga hampir gak muncul selama itu!?” ucap joni sambil mendorongku ke pojokan.

“Karena syafira cucu kandung kakek”

Mendengar hal itu syafira dan joni menjadi terkejut.

“Apa lu bilang!? Syafira cucu kandung kakek lu!?”

“Tadi elu bawa-bawa dilan, sekarang elu bawa-bawa syafira”

“Maksud lu apa sih? Atau si brengsek itu ngecuci otak lu hah?” ucap joni

“Jon, biarin rafa nyelesein ceritanya dulu” pinta syafira.

Aku kemudian menceritakan semua yang aku tahu pada syafira dan joni tanpa ada sesuatu yang kulebih-lebihkan apalagi kukurangi.

“Ha ha ha, kaya cerita novel aja ya?” ucap joni yang masih sulit untuk percaya.

“Aku gak maksa kalian buat percaya”

“Yang jelas aku udah nyeritain semua”

“Ha ha ha, syafira lu gak mungkin percaya mentah-mentah kan?”

“Gak mungkin banget coba …”

“Rafa, jadi kakekmu itu sebenarnya kakek kandungku?”

“Ayah kandungku bunuh diri karena ibuku meninggal?” tanya syafira yang sudah tidak bisa menahan emosinya.

“Iya …”

“Syafira lu bener-bener percaya sama omongannya?” tanya joni.

“Apa buktinya kalau yang mereka bilang itu benar rafa?” tanya syafira tanpa merespon pertanyaan joni.

“Iya apa buktinya!?”

Aku kemudian memperlihatkan potongan artikel di koran yang isinya tentang kakekku, artikel yang diperlihatkan rei padaku, dan juga sebuah foto yang di dalamnya ada syafira kecil bersama kedua orang tuanya.

“Itu fotomu waktu kecil bersama orang tuamu kan?” ucapku.

“Darima kamu dapetin ini?” tanya syafira.

“Selama 2 tahun ini aku gak cuma berusaha mikirin gimana caranya biar aku bisa mengontrol diriku tapi aku juga menyelidiki semua tentangmu dan tentang keluargamu”

“Kamu boleh gak percaya, wajar kalau kamu sulit menerimanya secara tiba-tiba”

“Karena itulah aku butuh rei”

“Untuk membantuku mencari informasi dia sangat bisa diandalkan”

“Dan yang terpenting ketika dilan berhasil muncul apalagi ketika itu kamu sedang bersamanya, rei kupikir sanggup menahan dilan”

“Tapi buktinya tadi gak ada si brengsek itu sampai aku datang!?” sangkal joni.

“Rei lebih memilih mengejar kakek karena dia juga melihatnya” balasku.

“Syafira…syafira!? Lu gak papa!?” teriakku dan joni bersamaan.

Syafira tiba-tiba tak sadarkan diri…


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset