Yes, I am D.I.D episode 13

Chapter 13 : Dilemma

“Rafa?” tanya dilan.

“Apa?”

“Kenapa kamu suka kesini?”

“Gak papa sih, tapi rasanya ngeliat orang itu terus ngobrol sama dia aku merasa nyaman”

“Siapa dia?” tanya dilan lagi.

“Dia? Namanya kak Hasan” jawab rafa.

“Hasan?”

“Iya”

“Kamu kenal dia?”

“Kenal kok”

“Aku kenal hampir semua orang disini, kamu aja yang sering cuek”

“Bodo amat, gak ada untungnya ini”

“Hehe, kamu emang gitu kok” ucap rafa sambil tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya dilan.

“Kupikir itu yang ngebedain aku sama kamu”

“Apa!?”

“Kamu lebih tertutup dariku”

“Bodo amat”

“Eh rafa, udah shalat?” ucap kak hasan yang baru mau keluar dari mesjid.

“Iya nih kak, baru mau shalat” jawab rafa.

“Ya udah sana cepet shalat dulu”

“Ah ini ya kembaranmu rafa?” ucapnya ke dilan.

“Iya kak, dia dilan” jawab rafa.

“Salam kenal dilan”

“Iya, salam kenal”

“Lho bukannya tadi dia udah pulang?” tanya dilan ke rafa.

“Siapa?”

“Itu kakakmu” tanya rafa sambil menunjuk ke arah orang itu.

“Oh kak hasan, iya jam segini dia ngajar TPA (Tempat Pembelajaran Alquran) di mesjid ini” jawab rafa.

“Ngajar TPA toh”

“Kamu gak sekalian ikut? Kan kamu adiknya” tanya dilan sambil tertawa.

“Nanti ikut kok, minggu depan”

“Kok mesti nunggu minggu depan”

“Minggu ini aku sibuk”

“Sibuk apaan heh? Gaya mu sibuk-sibuk”

“Rafa apa dilan nih?” tanya kak hasan tiba-tiba mengejutkanku.

“Dilan”

“Tumben kamu kesini, biasanya rafa”

“Rafa mana?”

“Gak tau”

“Kok gak tau? Kan biasanya bareng?”

“Ya kan gak mesti bareng terus”

“Iya sih, terus udah shalat?”

“Belom”

“Lho kok belum?”

“Ya ini baru mau”

“Ya udah shalat dulu sana”

Beberapa saat kemudian…

“Kak hasan?”

“Hmmm iya?”

“Kak hasan ngapain di mesjid terus kerjanya?”

“Ha ha ha, ya gak terus-terusan juga sih. Kebetulan aja mungkin pas dilan kemari pas ada kakak juga” jawab kak hasan.

“Eh, dilan mau ikut TPA juga?”

“Nanti lah”

“Lho kenapa nanti-nanti?”

“Ya gak papa”

“Gak papa atau gak bisa baca?”

“Yaa belum sih”

“Oh jadi belum bisa baca?” tanya kak hasan lagi.

“Belum pengen bisa” jawab dilan.

“Ha ha ha, bisa aja kalau mau jawab ya”

“Ya udah makanya ikutan aja belajar disini kaya rafa”

“Emang rafa sering dateng gitu?” tanya dilan.

“Ya memang kadang gak dateng, tapi paling gak dia ada niat buat belajar pengen bisa”

“Masa kamu kalah sama rafa?”

“Ah dia mah karena ada pengennya”

“Ada pengennya gimana?” tanya kak hasan.

“Iya dia kan biar keliatan bisa aja ke syafira”

“Kok gitu? Perasaan dilan aja mungkin” kata kak hasan.

“Iyaa kok, dia mah gitu. Selalu pengen bisa apa aja biar syafira nanya ke dia terus” jawab dilan.

“Hhhhm jadi gitu ya”

“Iya emang gitu”

“Jadi ceritanya dilan gak suka kalau syafira lebih suka nanya ke rafa?”

“Ya habisnya…”

“Eh enggak gitu!!!” ucap dilan lagi.

“Ketauan kan, wah ini kecil-kecil udah main cemburuan aja”

“Siapa yang cemburu?”

“Ya dilan lah, dilan cemburu sama rafa! Ha ha ha…”

Semenjak saat itu hubunganku dengan kak hasan semakin dekat. Sesuai dengan janjinya, dia mau merahasiakan tiap kali kedatanganku kesana asalkan aku mau belajar alquran padanya. Katanya sih buat demi kebaikanku kelak juga, tapi kupikir karena memang muridnya cuma bertambah sedikit tiap hari.

Terkadang aku banyak menceritakan semua hal yang terjadi padanya, cerita tentang aku yang dimarahi guruku, cerita karena aku kadang berantem dengan temanku dan cerita tentang “kecemburuanku” pada kedekatan rafa dan syafira.

Dengan bercerita banyak hal pada kak hasan, bersama dengannya, aku merasa nyaman. Karena tidak dengan semua orang aku bisa merasa selepas ini untuk bercerita tentang banyak hal, termasuk itu pada ayahku sendiri, nenek apalagi ibu syafira. Jadi secara tidak langsung rasa “nyaman” itu telah terpupuk sedikit demi sedikit di benakku sehingga membuatku menciptakan karakter “Hasan” itu.

Sabtu, 19 Maret 2016

“Rafa mana!?” tanya syafira pada joni yang saat itu berada di tempat kakek.

“Rafa? Dia di dalam sama kakekmu”

“Tapi…” belum selesai joni bicara, syafira langsung masuk kedalam.

“Rafa!”

“Syafira?” ucapku dan kakek secara bersamaan.

“Kenapa kamu disini? Bukannya kamu malam ini ke rumah sakit?” tanya kakek.

“Rafa!” teriak syafira!

“Maksud kamu apa!? Habis ngungkapin perasaan kamu mau pergi ninggalin aku selamanya!? Gitu mau kamu hah!?”

“Kenapa kamu seegois itu!?”

“Kamu udah bikin kacau perasaanku terus kamu mau hilang gitu aja!?”

“Aku gak perduli sama dilan! Dia yang udah milih seperti ini dan itu keputusannya!”

“Tapi aku perduli sama kamu!”

“Aku gak pengen kamu pergi”

“Aku…aku…ingin kamu terus ada”

“Bisa kamu perduli dengan perasaanku?” ucap syafira sambil menangis.

“Iya, aku ngerti” ucapku tersenyum.

“Tuh kan pak tua, kali ini bukan aku yang berhak mutusin, bukan juga si brengsek itu”

“Tapi dia lebih berhak” ucapku sambil memandang syafira.

“Aku gak ingin menyakiti hatinya lagi”

“Izinin aku aja yang pergi pak tua”

“Aku ikhlas” ucapku tersenyum pada kakek.

“Dilan…” ucap syafira.

Aku tersenyum pada syafira.

“Kamu sih buru-buru! Udah aku bilang kan tunggu” ucap joni ke syafira.

“Udah gak papa jon” jawab dilan.

“Pak tua, aku mau keluar sebentar”

“Dilan?” panggil syafira.

“Ya? Kenapa?”

“Minta maaf? Buat apa!? Gak perlu” ucap dilan keluar ruangan dan kemudian diikuti syafira.

“Aku tau aku egois”

“Itu tubuh kamu, kamu yang berhak atas semuanya”

“Tapi, tapi aku memintamu menyerahkannya pada rafa”

“Aku bener-bener gak tau itu kamu”

“Ya, gak papa”

“Kalau kamu mau marah padaku aku ngerti” ucap syafira.

“Marah karena apa? Kamu meminta seperti itu juga karena rafa juga bukan?”

“Walau dia hanya sebuah karakter, tapi perasaan dia padamu itu nyata”

“Setidaknya itulah yang aku lihat dan rasakan sewaktu dia masih hidup”

“Seandainya sekarang dia masih hidup pun dia pasti akan melakukan hal yang sama padamu”

“Percayalah…” ucap dilan.

“Kenapa kamu mau mengorbankan semuanya demi dirinya?”

“Kamu tau sendiri kalau dia…”

“Kalau dia apa? Tidak nyata? Imajiner?”

“Lantas kenapa kamu juga menyukainya!?” dilan menyanggah ucapan syafira.

“Itu…” syafira tidak dapat membalas sanggahan syafira.

“Terlepas dia nyata atau tidak, sudah kubilang kalau itulah perasaan rafa sesungguhnya”

“Aku tau dia syafira, aku sangat tahu dirinya”

“Karena dia adikku”

Karena aku juga menyukaimu, tak masalah kan kamu dengan siapa asal kamu juga bahagia…

“Mulai besok dan seterusnya aku akan berusaha membuat dia benar-benar hidup”

Kamu senang?

“Jika kamu benar-benar menyukainya maka bantulah aku”

“Kata pak tua karakter lain kemungkinan bisa saja akan muncul, kehadiranmu mungkin akan membantu apalagi jika alisha muncul”

“Dilan?”

“Sebentar…” ucap dilan yang tiba-tiba memeluk syafira

“Lihat? Gak ada apa-apa kan?”

“Jika nanti rafa muncul dan memelukmu seperti ini, mungkin kamu bakal ngerasa sesuatu yang berbeda”

“Itu cukup jadi bukti kalau perasaanmu itu bukan buatku, jadi jangan pernah merasa bingung” ucap dilan sambil tersenyum.

Selamat tinggal syafira, semoga kalian bahagia…

“Ah iya, katakan padanya tolong buatkan makam yang bagus buatku”

“Sempatkan waktu buat berolahraga, dia juga perlu belajar bela diri”

“Pak tua, maksudku kakekmu mungkin mau mengajarinya bela diri”

“Dan kamu, syafira…”

“Dia benar-benar menyukaimu, jaga dia untukku” ucap dilan dengan senyuman termanis yang pernah dia berikan untuk syafira

Hey rafa brengsek, berjanjilah padaku untuk selalu menjaganya…

Minggu, 20 Maret 2016

“Dilan dimana?” tanya syafira pada joni.

“Ada di dalam” jawab joni.

“Bentar, dilan atau rafa?” tanya syafira lagi.

“Tadi sih dilan, gak tau kalau sekarang ya”

“Belum ketemu lagi soalnya” jawab joni.

Syafira pun kemudian masuk ke dalam.

“Syafira?”

“Kemarilah, kamu bisa ikut” ucap kakek.

“Kenapa aku harus ikut?”

“Kamu kan sekarang dokter yang menangani masalah seperti ini, ada baiknya kamu harus tahu teknik hipnotis” jawab kakek.

“Iya, aku mau belajar”

“Tapi enggak kalau pasiennya dia” ucap syafira.

“Kenapa memang kalau pasiennya aku?”

“Ya gak mau aja” jawab syafira.

“Kamu takut kalau kamu bakal merasa bersalah padaku lagi?”

“Harusnya kamu senang karena aku mempersilahkan rafa hadir lagi untukmu” ucap dilan.

“Syafira, yang kita lakukan sekarang belum tentu langsung berhasil”

“Memberikan sugesti untuk membentuk pola pikir baru pada seseorang itu tidak mudah, kamu harusnya tahu itu”

“Dan kamu juga tahu kenapa persisnya kakek memanggilmu kemari”

Syafira hanya diam.

“Kamu lah trigger untuk memunculkan rafa sekarang” ucap kakek lagi.

“Rafa saat ini tidak punya motivasi untuk muncul lagi, tapi jika kamu yang mencoba membujuknya maka mungkin saja motivasi dia muncul lagi”

“Tapi kek…” ucap syafira.

“Kenapa? Bukankah kemarin kamu bilang kamu gak pengen dia pergi?” kali ini dilan tiba-tiba memotong pembicaraan.

“Ya udah, aku ikut” syafira menyerah.

“Lihat, dengar apa yang kakekmu lakukan, dan lakukan sebisamu”

“Sampai akhir pun aku selalu baik padamu ya” ucap dilan pada syafira.

“Maksudmu apa?” tanya syafira tidak mengerti.

Proses hipnotis itu telah dilakukan, kemudian dilan membuka matanya…

“Dilan?” tanya kakek.

Dilan hanya diam, kemudian menatap ke sekeliling ruangan.

“Rafa?” tanya syafira.

Kali ini perhatian dilan teralihkan oleh suara syafira.

“Kamu?” ucap dilan.

“Iya, ini aku syafira”

“Iya, kamu syafira!”, “kok kamu disini?”

“Kamu siapa?” tanya syafira.

“Kakek? Kakek kok ada disini juga?” ucap dilan.

“Aku sekarang lagi mimpi ya?”

“Mimpi?” tanya kakek bingung.

“Iya, kan kakek udah meninggal!?”

“Kalau aku liat kakek, aku pasti lagi bermimpi sekarang. Kakek pasti kesepian dan minta di doakan ya?”

“Maafin aku ya kek, aku janji aku bakal doain kakek lebih sering lagi”

“Doain?” tanya syafira.

“Iya”

“Hasan?” tanya kakek.

“Iya kek, aku hasan”

“Jadi begitu ya ceritanya”

“Berarti sekarang juga aku lagi gak bermimpi!?”

“Ya iya, kamu sekarang lagi gak bermimpi”

“San, kakek senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi”

“He he he, aku juga kek”

“Kek, aku keluar bentar ya” ucap syafira.

“Kamu mau kemana?” tanya kakek.

“Kakek bisa kangen-kangenan dulu sama hasan” ucap syafira kemudian dia keluar dari ruangan.

“Kakek mana?” tanya syafira yang entah itu masih hasan atau yang lainnya.

“Dia bilang ada urusan penting”

“Hasan?”

“Dilan?”

“Menurutmu?”

“Hasan?”

“Ah, kamu pasti dilan!? Iya kan!?”

“Aku rafa”

“Rafa?”

“Iya, aku rafa”

“Kamu beneran rafa?”

“Menurutmu aku bohong?”

“Enggak, kamu bukan rafa!”

“Kamu bukan rafa!”

“Kenapa kamu bilang gitu?”

“Kalau kamu rafa, kamu pasti akan langsung memelukku dari tadi”

“Kenapa aku harus memelukmu?”

“Aku gak bilang kamu harus memelukku, tapi kalau kamu bener rafa mungkin kamu akan memelukku jika kamu melihatku sekarang”

“Kenapa?”

“Karena dia mencintaiku”

“Kamu yakin rafa benar-benar mencintaimu?”

“Iya, aku percaya padanya”

“Gitu ya? Lantas kenapa dari awal kamu cuma nanya kalau aku itu hasan atau dilan? Bukan rafa?”

“Itu…itu karena aku ya cuma bingung aja”

“Jadi karena bingung ya? Hmmm…”

“Dari rafa dan dilan, kamu lebih suka siapa?”

“Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu?”

“Kakekmu sudah cerita semuanya padaku”

“Maksud kamu?”

“Iya, kalau pada akhirnya kalian ingin menghidupkan rafa seutuhnya”

Syafira terdiam mendengarnya.

“Pada akhirnya juga dilan tetaplah dilan yang ku kenal”

“Dilan yang kamu kenal?”

“Iya, aku mengenal dilan lebih dari rafa meski pada awalnya rafa lah yang mengenalkanku pada dilan”

“Memihak salah satu dari mereka saja aku gak akan bisa, apalagi kamu yang harus memilih salah satu dari mereka”

“Dengar syafira, aku bukannya lebih memihak dilan”

“Sudah kubilang kan aku gak bisa memihak salah satu dari mereka”

“Aku juga gak ingin mempengaruhi keputusanmu sekarang”

“Tapi rasanya akan adil untuk dilan jika kamu tahu cerita lain tentangnya”

“Cerita lain tentang dilan?”

“Aku benar-benar menyukai mereka syafira! Dilan dan rafa”

“Gimana kamu bisa kenal dilan sama rafa?”

“Aku kenal dilan dari rafa, dan dari merekalah aku mengenalmu”

“Mengenalku?”

“Iya”

Hasan kemudian menceritakan bagaimana dia mengenal dilan pertama kali dan bagaimana dia mengenal dilan (intro awal chapter ini).

“Dilan sangat menyayangi rafa”

“Begitu juga sebaliknya”

“Aku selalu mengamati mereka, mereka sudah kuanggap seperti adik-adikku sendiri” ucap hasan.

Syafira hanya diam mendengar cerita hasan.

“Mereka gak jauh beda dengan kakak-adik pada umumnya, pernah bertengkar”

“Meski begitu pada akhirnya rafa yang selalu mengalah”

“Karena dia tahu dilan bagaimana”

“Begitu juga dengan dilan, dia selalu melindungi rafa dengan caranya sendiri”

“Pernah sewaktu ketika dilan datang ke mesjid dengan kaki yang berdarah-darah”

“Kakinya dilan berdarah-darah?” tanya syafira.

“Iya, aku tanya kenapa”

“Dia bilang habis berantem sama naga”

“Naga?” tanya syafira bingung.

“Iya dia bilangnya naga, setelah aku paksa akhirnya dia baru mengaku kalau dia habis digigit anjing”

“Akhirnya aku marah-marah padanya karena gak langsung bilang yang sebenarnya, dan aku langsung membawanya ke rumah sakit buat jaga-jaga”

“Memangnya kenapa dilan sampai digigit sama anjing?” tanya syafira lagi.

“Ah itu jangan-jangan!?”

“Iya, waktu kamu dan rafa bersepeda berdua dan melewati rumah yang kebetulan anjingnya masih belum jinak” jawab hasan.

“Jadi waktu itu dilan?” tanya syafira kaget.

“Iya, dilan yang mengusir anjing itu sampai akhirnya kakinya digigit”

“Dilan selalu mengikuti kemanapun kalian pergi”

“Kamu tau darimana soal itu?” syafira penasaran ingin tahu.

“Beberapa hari setelah kejadian itu, rafa bilang padaku dia jatuh waktu bersepeda bareng denganmu, dan waktu itu kebetulan ada anjing yang galak disana”

“Tapi katanya anjingnya malah gak ada lagi sewaktu dia jatuh”

“Spontan aku langsung sadar kalau jangan-jangan itu anjing yang sama dengan anjing yang menggigit dilan”

“Tapi melihat aku yang mulai menyadari sesuatu, dilan dari kejauhan meminta padaku untuk tidak cerita apa-apa” cerita hasan sambil tersenyum saat mengingatnya.

Dilan…

“Aku tahu rafa menyukaimu, bahkan sejak dulu dia selalu bilang padaku kalau dia menyukaimu”

“Dia benar-benar menyukaimu, dia senang karena kamu bahkan dia juga ikut menangis karena kamu menangis”

“Tapi syafira, kamu juga harus tahu”

“Kamu juga harus tahu meski dilan tidak pernah bilang apa-apa, aku tahu kalau dia juga menyukaimu”

“Dilan menyukaiku?” tanya syafira kaget.

“Mungkin kamu lupa, kamu dulu juga beberapa kali datang ke mesjid bersama rafa dan juga dilan”

“Tiap kali kamu dan rafa asik ngobrol berdua, tiba-tiba dilan datang lalu iseng apa aja ke kamu sampai kamu kesal sampai nangis”

“Benarkah?”

“Iya, selalu pada akhirnya rafa yang menenangkanmu”

“Rafa…” ucap syafira.

“Tapi kamu juga perlu mengerti, mungkin dengan cara itulah dilan mengekspresikan bentuk perhatiannya padamu”

“Dilan bukannya tidak bisa seperti rafa yang bersikap lembut dan manis saat bersamamu”

“Dilan hanya tidak ingin seperti itu, karena dilan tahu rafa pasti akan lebih memilih mundur jika dilan bersikap sama sepertinya kepadamu” ucap hasan sambil tersenyum yakin pada syafira.

Dilan…


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset