Yes, I am D.I.D episode 13a

Chapter 13a

“Dengar, hidup ini tidak lebih dari sebab dan akibat.” ucap kakek serius

“Iya kek, seperti kakek dilahirkan karena perbuatan ayah kakek ke ibu kakek kan?”

“Memangnya kamu lahir waktu ibu kamu lagi bersin apa!?” ucap kakek sambil memukulkan kembali tongkatnya ke kepalaku.

“Aduuhh!”

“Jika ada orang yang berusaha melukai kita, itu karena kita yang telah terlebih dahulu melakukan sesuatu pada mereka.”

“Apapun yang telah kita perbuat pada mereka baik atau buruk pasti akan ada balasannya kepada kita. Kamu mengerti?” ucap kakek padaku.

“Iya kek, aku mengerti.”

“Yang kuatlah Dilan, apapun yang kamu hadapi. Meski kamu yakin bukan kamu yang memulainya, tetaplah kuat menghadapinya.”

Sejak kapan kalian percaya pada dilan?

Kenapa kalian bisa percaya padanya semudah itu!? Dia itu arogan yang selalu bilang kalau dia adalah satu-satunya karakter yang eksis. Dia tahu benar kalau ada “aku” dan yang “lainnya” dalam tubuh ini tapi dia selalu menghindari kenyataan itu.

Asal kalian tahu saja, tanpa ada aku dia tidak akan mungkin bisa masuk ke universitas ternama dan favorit ini. Setiap nilai rapor kami tanpa ada kehadiranku tidak akan mungkin tidak ada angka merah di dalamnya. Jadi bayangkan saja bagaimana dia bisa lulus sekolah dan masuk universitas ini tanpa kehadiranku?

Karena dilan itu “bodoh”.

“Ha ha ha, dilan pasti akan ngamuk kalau tau dirinya dibilang bodoh sekarang”

“Tapi dilan, kamu mau apa meski kamu marah padaku? Kamu mau memukulku? Ha ha ha, kamu gak akan pernah bisa memukul dirimu sendiri kan!?”

Dilan, jika kamu tidak sanggup bertahan lebih baik kamu mundur dan tidur saja untuk selamanya. Tidak ada yang lebih cocok selain diriku yang menggantikanmu.

Dilan, Dilan, Dilan sekarang tidurlah yang nyenyak…

“Dilan” sapa cewek itu.

“Tadi terima kasih, karena kamu tugas kita kelar dan ya kita bebas dari UTS”

“Ya, sama-sama” ucap dilan sambil tersenyum.

“Soal kemaren maaf ya sudah agak kasar?”

“Kasar?” tanya dilan sedikit agak bingung.

“Ah lupakan” jawab dilan lagi.

“Hhmm, ngomong-ngomong kita belum kenalan”

“Namaku Syafira” ucap cewek itu.

Dilan tersenyum dan menyambut tangan cewek itu.

“Rafa”

“Kamu tau jika aku diberikan satu permintaan yang dapat dikabulkan sama Tuhan, aku bakal minta apa?” tanyaku padanya.

“Apa itu?” syafira bertanya balik.

“Aku ingin bisa menghentikan waktu sesukaku! He he he…” jawabku.

“Kenapa gitu?” tanya syafira kembali.

“Karena aku ingin terus hidup menjadi aku yang seperti ini, menjadi rafa, selama yang aku inginkan…”

“Maksud kamu rafa?”

“Saat ini aku harus rela membagi waktuku dengannya…” ucapku.

“Bentar-bentar, beneran aku gak ngerti deh!?”

“Emang saat ini hamu ngebagi waktu kamu dengan siapa?” tanyaku syafira lagi yang saat ini benar-benar kebingungan.

“Dilan? Kamu gak papa dilan!?” tanya syafira padaku yang masih sesegukan karena masih menangis.

“Shalat malam?” ucap pria itu.

“Dilan? Ah si dilan lagi-lagi keluyuran malam-malam kan!”

“Dilan kamu kenapa?” tanya syafira.

“Dilan? Aku bukan dilan, aku Hasan!”

“Jadi sampai si brengsek yang sok alim itu muncul juga!?” tanyaku kaget.

“Iya, dia bilang namanya hasan” jawab syafira.

“Dia karakter yang jarang muncul, tapi jika dia muncul ini pertanda gak baik” ucapku.

“Pertanda gak baik gimana?” tanya syafira.

“2 kepribadian muncul dalam hari yang sama, ini baru pertama kalinya”

“Tapi kondisinya waktu kamu seakan-akan dipaksa” ucap syafira.

“Entahlah, tapi apapun kondisinya tetap saja ini yang pertama kalinya”

“Apalagi si brengsek yang sok alim itu hampir jarang sekali muncul terkecuali si brengsek yang sok cerdas itu” ucapku.

“Sok cerdas? Rafa maksudmu?” tanya syafira.

“Siapa lagi!”

“Dilan, yang kamu alamin itu benar-benar udah positif D.I.D?”

“Sejauh apa yang kamu tau tentang D.I.D?” tanyaku balik.

“Enggak banyak, tapi cukup tau apa itu tentang D.I.D” jawabnya.

“Kamu udah yakin? Bisa aja itu cuma delusi kamu aja kan?” tanya syafira lagi.

Delusi secara sederhana adalah keyakinan yang benar-benar diyakini seseorang meskipun kenyataan dari keyakinan itu hanya fiktif belaka. Delusi berbeda dengan halusinasi, halusinasi sendiri merupakan persepsi dari seseorang yang dibentuk dari apa yang panca inderanya rasakan. Baik itu visual, pendengaran dan sebagainya.

“Tidak, ini bukan delusi”

“Buktinya aku tidak tahu sama sekali ketika rafa mengajakmu ke toko buku itu” jawabku.

“Dilan, kamu yang kuat ya…” ucap syafira.

“Kenapa sih?” tanyaku sambil melihat yang lain.

“Lan, kakekmu meninggal tadi malam” ucap joni.

“Kakek? Meninggal?” tanyaku agak tidak percaya.

“Jangan bercanda jon, tadi malem pak tua itu minta beliin martabak kok”

“Ivan mana? Ivan kan yang beliin martabaknya” ucapku lagi pada joni.

“Iya, ivan juga yang nemuin kakekmu gak sadar di rumah”

“Jangan becanda kaya gitu jon, gak lucu tau gak!?” ucapku sekarang dengan intonasi yang meninggi.

“Iya dilan, kakekmu sudah meninggal dari tadi malam” ucap dosen waliku.

“Pak agus, pak tua itu kuat pak! Gak mungkin dia bisa meninggal” ucapku lagi.

“Namaku bukan agus dilan” ucap dosen waliku sepelan mungkin.

Kemudian syafira memelukku.

“Kakekmu sudah meninggal dilan, beliau kena serangan jantung” ucap syafira.

“Apa? Serangan jantung?” tanyaku tidak percaya.

“Sejak kapan pak tua itu punya penyakit jantung!?” ucapku lagi.

Kemudian aku berusaha bangkit dari tempat tidur, namun karena kondisiku yang masih lemah aku malah terjatuh dari tempat tidur.

“Dilannn!” teriak syafira.

“Minggir! Aku mau lihat pak tua” ucapku.

“Jon, tolongin gua jon. Anterin gua balik ke rumah”

Joni kemudian menghampiriku.

“Lu mau balik ke rumah? Gua anterin, tapi lu harus janji lu gak usah banyak gerak”

“Lu diam aja di kasur nanti gua anterin lu sampai rumah gua janji” ucap joni sambil berusaha mengangkatku kembali ke kasur.

“Oke” ucapku menurut.

“Jon, mereka semua pada bohong kan?”

“Gak mungkin kan pak tua itu meninggal?”

“Iya lan kami semua bohong, kakek lu sehat di rumah” ucap joni.

“Tadi malam kata ivan dia makan martabak kum-kum sampai habis”

“Tuh kan, terus kenapa pada bilang pak tua udah meninggal!?”

“Brengsek lu pada, dosa tau gak ngebilang aki-aki yang masih sehat udah mati” ucapku sambil memukul joni pelan.

“Lu gak boleh pergi!”

“Dilan gak akan pernah percaya kata-kata orang lain selain kata-kata kakeknya” ucap joni.

“Sayangnya aku bukan dilan”

“Aku punya hak untuk tau semuanya”

“Keputusan kamu tepat sayang” ucap wanita itu.

“Dilaaaann! Rafaaaaa! Hasaaaaan! Aku mohon muncullah kalian!”

“Syafira”

“Sudah kubilang kalau mereka bertiga sudah tidak ingin muncul lagi”

“Harusnya kamu senang aku ikut mereka, aku jadi menunda rasa ingin bunuh diriku”

“Ah ya, satu lagi”

“Namaku alfurqan”

“Sekarang kamu udah kenal kan” ucapku tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan joni dan syafira bersama rei dan wanita itu.

“Good morning” ucapku tersenyum sambil melepaskan peganganku padanya kemudian melepaskan kacamata hitam yang kupakai.

“Kamu…”

“Dilan?”

“Rafa?” tanya syafira bingung.

“Kamu maunya siapa?”

“Mulai sekarang jadikan aku heroin dalam hidupmu” ucapku tersenyum.

“Haaaiiiiiii”

“Mau kenalan denganku?”

“Kuberitahu kalian kalau dari semuanya aku lah yang paling menyenangkan, paling baiikk, paling imuuttt…”

“Kenapa muka kalian seperti itu!?”

“Kalian gak percaya?”

“Masih minta bukti? Kalau aku baca dari catetan ini harusnya kalian sudah cukup jauh mengikuti jalan cerita kisah kami”

“Trus kalian masih minta bukti?”

“Kalian harusnya kembali ke taman kanak-kanak aja kalau seperti itu!”

“Baiklah, karena ini pertemuan pertama kalian denganku…aku akan ngejelasin lagi dari awal”

“Pahami dan ingat baik-baik! Lain kali kita bertemu lagi, aku gak akan mau ngasih tau kalian lagi!”

“Jika kalian aku tanya siapa yang kalian pikirkan pertama kali tentang kami?”

“Alf?” (Alfurqan)

“Hhhmm, aku tau kalian pasti masih penasaran dengan dirinya”

“Diaaa itu, ngeselin! Sumpah ngeselin banget!”

“Maunya sesuka hatinya! Masa orang masih mau hidup dia mau mati!?”

“Kalau mau mati ya mati sendiri aja gak usah ngajak-ngajak!”

“Bego apa dia ya!?”

“Kak hasan”

“Iya? Kenapa dengan kak hasan?”

“Kak hasan itu orangnya kurang supel”

“Tapi aku paling suka dengan dirinya”

“Cuma kak hasan yang gak pernah marahin aku!”

“Kalau dia muncul juga gak macam-macam kaya si alf!”

“Hhhmm, apalagi ya?”

“Didunia ini cuma ada satu tempat favoritnya”

“Kalian tau pasti? Iya bener, mesjid”

“Padahal apa cobanya ramenya disana? Mending kita nonton atau karaoke? Aaahhh, akuu mauuuu!”

“Rafa?”

“Dia? Pintar?”

“Ah kalau dia bener pinter, udah dari lama dia bisa nguasain tubuh ini”

“Aku benci rafa”

“Kenapa dia bersikeras kalau cewek itu gak boleh diapa-apakan!?”

“Kalau aku ketemu cewek itu sudah kujambak-jambak dia!”

“Aaaarrrggh, awas aja ya nanti kalau ketemu!”

“Terakhir….”

“Gak usah lah ya, males aku ngomongin dia”

“Sumpah selain alf, cuma dia yang paling ngeselin!”

“Kasar banget dia orangnya! Sok cool!”

“Tau gak kalian?”

“Dulu watu dia SD, dia pernah dapat angka 5 di rapornya buat pelajaran matematika”

“Terus karena takut sama kakek, dia malsuin tanda tangan kakek!”

“Hahahaha….hahahaha….hahaha”

“Dia bego banget ya!?”

“Tapi lucunya lagi masa gurunya gak protes?”

“Ketauannya malah pas pembagian rapor berikutnya, kakek baru nyadar kalau tanda tangannya dia beda”

“Hahahaha…”

….

“Adduuuhhh!”

“Apa sih!? Kamu yang berisik!”

“Emang aku bohong!?”

“Kan emang kaya gitu!”

“Apa!? Apa!? Kamu mau apa!?”

“Sini aku gak takut sama kamu!”

“Aaaarrrggghh sakiiitttttt ih”

“Aku baru sebentar juga bisa muncul…”

“Aaarrrgghhh dilaaaaaaaan! Aku masih belum…ke bioskop! Aku masih belum…beli baju!”

Jika aku berpikir sama dengan orang lain mungkin jawaban yang paling masuk akal adalah aku diganggu oleh setan. Tapi yang benar saja, aku bukan mereka dan tentu saja aku tidak percaya akan omong kosong itu.

Beberapa orang yang menyadari keanehan pada diriku lebih memilih menjauhiku. Tapi aku tidak perduli, tidak masalah karena aku juga tidak membutuhkan mereka. Yang aku butuhkan adalah jawaban apa yang terjadi padaku.

“Kalau menarik kesimpulan dari apa yang sudah kamu beri tahu, ada kemungkinan kalau kamu mengidap penyakit mental”

“Maksud dokter cucu saya gila!? Dia mungkin cuma berhalusinansi!?” Kali ini kakek berbicara.

“Tidak, bukan gila bukan juga halusinasi. Tapi penyakit mental yang mengarah ke kepribadian ganda”

“Atau Dissociative Identity Disorder” ucap dokter itu.

“Sejauh ini dari apa yang saya tangkap baik dari bapak atau dari dilan sendiri, ada lebih dari satu kepribadian”

“Dalam kasus DID sendiri sangat jarang ada kasus yang hanya terdapat 1 kepribadian yang berbeda. Jadi saya sendiri belum bisa memastikan dengan jelas ada berapa banyak kepribadian yang dilan punya”.

“Tolongg” ucapku dengan tangan penuh darah.

“Tolong adikku, aku mohon…” ucapku sambil menangis.

“Dia gak bangun-bangun padahal udah kutampar, tolong”

Kesini nak, biar aku obati kamu dulu…

“Gak usah aku, aku gak papa. Tolongin adikku dulu aja aku mohon”

Tapi kamu juga terluka nak, kamu lihat kepalamu berdarah? tanganmu juga penuh dengan darah?

“Darah? Iya aku berdarah, tapi pak tapi, aku berdarah tapi masih bisa bangun, sedangkan adikku juga berdarah tapi dia tidak mau bangun-bangun” ucap dilan hampir seperti mau menangis.

Mendengar ucapan dilan, hati orang itu tergetar…

Batinnya menangis…

Bagaimana caranya menyampaikan pada anak itu kalau adiknya sudah tidak bisa diselamatkan lagi…

“Rafaa, bangun rafa”

“Adikmu sudah gak bisa bangun lagi”

“Bohong! Bisa! Bisa! Rafa bangun rafa! Bangun!” ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh rafa yang sudah terbujur kaku.

“Hidupku cuma sekali, rafa juga, tapi kenapa dia lebih duluan pergi?”

“Aku yang egois apa dia yang egois?”

“Kamu benar-benar pengen rafa hidup lagi?”

“Kakek bisa ngehidupin rafa lagi?”

“Kamu tau rasanya gimana ketika kamu bilang sakit banget dan aku gak bisa ngapa-ngapain?”

“Kamu tau gak rasanya!? Brengsek!” teriak dilan.

“Maafin aku dilan…”

“Maaf sudah membuatmu memikul rasa itu sendirian selama ini”

“Maaf katamu?”

“Gampang banget kamu bilang maaf terus habis itu kamu mau pergi gitu?”

“Emang brengsek ya!?”

“Kamu mau aku maafin?”

“Iya”

“Kalau gitu lanjutkan semua ini sebagai penggantiku”

“Maksud kamu apa?”

“Hiduplah menjadi rafa seutuhnya dan lakukan semua yang kamu mau”

“Kamu tau rafa?”

“Jujur saja dari awal aku hanya ingin membentuk karakter rafa pada dirimu”

“Tapi kemunculan karakter syafira dan alfurqan secara tiba-tiba sangat mengejutkanku”

“Kenapa mereka bisa muncul? Apa terjadi error pada saat proses pembentukan karakter dilakukan? Atau karena memang kamu sendiri yang membuat mereka eksis dipikiranmu?”

“Kesalahan yang mungkin saja akan terjadi dan tidak akan bisa dihindari itu ya karena kamu telah cukup lama mengenal syafira dan keluarganya”

“Hanya itu yang bisa aku simpulkan, tapi kamu harus tahu tidak ada niat sedikitpun untuk membuat banyak kepribadian yang muncul padamu”

“Tapi jika kamu bertanya kenapa aku tidak mencoba menghentikannya? Selagi itu masih fase awal pembentukan karakter?”

“Jujur saja kemunculan mereka mengingatkanku dengan mereka, cucu-cucu kandungku”

“Syafira?”

“Syafira kamu kenapa?” ucap teman syafira pada syafira yang baru saja tiba di rumah sakit.

Saat itu syafira menangis, dia menangis semenjak di perjalanan pulang dari braga ke rumah sakit.

“Aku…aku harus gimana?”

“Gimana apanya? Kamu ceritain deh dari awal biar aku ngerti”

“Dia…dia bakal pergi selamanya nel”

“Dia akan ninggalin aku!” ucap syafira.

“Siapa!? Siapa yang ninggalin kamu fira?”

“Rafa nel, rafa!”


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset