Yes, I am D.I.D episode 14

Chapter 14 : Let Me Protecting You

“Alf”

“Sudah saatnya kita lakukan langkah berikutnya” ucap seorang pria pada sosok yang selama ini kita kenal sebagai rei.

“Iya ayah”

“Syafira perlu diingatkan kembali” ucap pria itu lagi.

“Ayah tenang saja, aku sudah memikirkan bagaimana membuat dilan harus memilih salah satu dari 2 pilihan berharga yang dia punya”

“Menurutmu itu cukup untuk membuat anak itu hancur?”

“Hancur atau tidak yang jelas cukup untuk mengucilkan dia…bahkan juga syafira”

“Aku lapar” ucap dilan.

“Ya udah aku keluar beli makan” ucap syafira.

“Udah gak usah syafira! Biar kakek sama joni aja”

“Badan kakek sakit semua tidur disitu” ucap kakek.

“Ya udah” jawab syafira.

Kakek kemudian pergi meninggalkan dilan dan syafira berdua.

“Jadi kemarin gimana?” ucap dilan membuka pembicaraan.

“Gak gimana-gimana” jawab syafira.

“Apa aja yang udah kejadian kemarin?” tanya dilan lagi.

“Banyak” jawab syafira datar.

“Apa aja emang?”

“Banyak”

“Kaya gimana?”

“Banyak”

“Ada yang muncul?” tanya dilan lagi, proses kemunculan karakter mengakibatkan time loss pada tubuh asli sehingga dilan sama sekali tidak mengingatnya.

“Banyak”

“Ada siapa aja? Hasan?”

“Banyak” jawab syafira yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

“Kamu kenapa sih banyak-banyak aja jawabnya!?” ucap dilan mulai kesal.

Kali ini tanpa menjawab pertanyaan dilan lagi, syafira menghampiri dilan kemudian memeluknya.

“Jangan terluka lagi. Jangan buat aku merasa bersalah lebih dari ini” ucap syafira menangis sambil memeluk dilan.

“Kamu ngomong apa sih?” tanya dilan.

“Mulai sekarang jalani hidupmu, sebagai dilan!”

“Bermimpilah sesukamu layaknya kamu akan hidup selamanya”

“Kamu lebih berhak menjalani hidupmu karena ini tubuh kamu!”

“Hiduplah layaknya kamu akan mati hari ini juga! Karena dengan begitu kamu akan tau betapa berharganya hidupmu…”

“Apaan sih!” balas dilan sambil berlalu meninggalkanku.

“Kamu menyukaiku kan!?”

“Aku tau semuanya dilan! Aku udah tau semuanya!”

“Terus kamu percaya dengan omong kosong gitu!?”

“Kak hasan, alisha bahkan rafa juga tau kalau kamu sebenarnya menyukaiku…”

Tanpa menjawab pertanyaanku, dilan berlalu meninggalkanku sendirian.

“Dilan?” sapa seseorang itu di telepon.

“Iya? Ini siapa?”

“Dilan tolong gue dilan…” ucap orang itu terbata-bata

“Tolong? Ini siapa? Emang ada apaan?”

“Gue Ivan lan…tolongin gue…” sambungan telepon itu kemudian tiba-tiba terputus.

“Ivan? Van? Van? Haloo?”

Kalian masih ingat dengan Ivan? Ivan adalah anggota kami paling junior. Dia lah yang waktu itu aku suruh membelikan martabak kum-kum untuk kakek di saat serangan balas dendamku ke rei.

Ada apaan sama ini bocah?

Aku mencoba menelepon joni untuk mencari tahu, mungkin saja joni bisa mencari informasi atau bahkan dia sudah mendapat informasi sesuatu terlebih dahulu. Baru saja aku mencoba menghubungi nomor telepon Joni, telepon Ivan masuk terlebih dahulu.

“Lan! Lan! Buruan lo datang sekarang!”

“Iya lo nya dimana!?”

“Gua di…”

Pada akhirnya aku berangkat sendirian, aku tidak ingin membuat Ivan lebih lama menunggu. Bisa saja ada sesuatu yang benar-benar genting dan dia sangat membutuhkan bantuanku secepatnya.

Setelah beberapa puluh menit, aku akhirnya tiba di tempat yang diberitahu oleh Ivan. Sebuah rumah yang tertutup oleh beberapa pohon yang cukup tinggi. Tanpa berlama-lama setelah mematikan motorku, aku langsung bergegas ke dalam rumah itu.

“Van!? Van!? Van!?” teriakku.

Beberapa kali namanya kupanggil tapi tetap belum ada respon apapun baik dari ivan sendiri ataupun apapun yang berada di dalam rumah itu. Sampai ketika ada panggilan telepon masuk, yang ternyata itu dari joni.

“Lan, lo lagi dimana?”

“Gua di rumah Ivan ini”

“Ngapain?”

“Eh lo dapet kabar dari ivan gak?”

“Kabar apaan?”

“Iya tadi Ivan telpon gua, terus dia…” omonganku terhenti seketika saat mataku tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang ada di dalam rumah itu. Aku melihatnya setelah mencoba melihat-lihat isi dalam rumah dari gorden jendela.

“Kabar apaan lan? Lan? Dilan?” panggil joni beberapa kali karena tidak ada respon dariku.

“Van! Van! Van!” aku langsung berubah jadi panik, dan mencoba memanggil nama ivan lebih kencang. Aku khawatir kalau tubuh yang tergolek penuh darah itu adalah Ivan!

“Lan ada apaan lan!? Dilan!?” kali ini jadi joni yang jadi panik setelah mendengar teriakanku.

Braaaaaakkk!

Aku menendang pintu itu beberapa kali dengan kencang sampai akhirnya pintu itu bisa terbuka.

“Lan!? Dilan!????” teriak joni.

Masih kubiarkan joni dengan kebingungannya, setelah berhasil masuk kedalam rumah aku langsung berlari menghampiri tubuh yang tergolek itu.

Siapakah dia? Ivan kah?

“Dion”

Kenapa malah dion yang tergeletak disini!? Dimana ivan!?

“Lan!? Dilan!? Oi brengsekk!?” teriak joni yang kali ini akhirnya terdengar di telingaku.

“Jon, ada yang gak beres disini”

“Gua nemuin dion udah tewas penuh darah”

“Apaa!? Lo dimana sekarang!????”

Tak lama kemudian terdengar mobil polisi yang entah kenapa firasatku mengatakan kalau mereka akan berhenti di rumah ini. Dan beberapa saat kemudian firasatku memang ternyata benar! Mobil polisi itu berhenti di depan rumah ini.

“Kalau lo mau ketemu gua, ketemu di kantor polisi aja” jawabku pada pertanyaan joni.

“Lan? Lo gak papa?” tanya joni padaku yang baru saja keluar dari ruang investigasi.

“Gak papa, gua cuma diminta keterangan doang”

“Gimana ivan?” tanyaku pada joni.

“Gua belom nemu, tapi nanti kalau udah ketemu gua kasih tau lo”

“Gak boleh!” ucap seseorang yang tiba-tiba ada di belakang kami

“Kalau kamu ketemu Ivan, kamu langsung lapor polisi aja jon!” ucapnya tegas.

“Dia kenapa bisa disini?” tanyaku pada joni.

“Tadi dia nanyain lo, lo harus tahu kalau susah ngebohongin dokter yang cukup ahli psikis manusia” jawab joni membela diri.

“Aku tau kamu dilan”

“Tau apa?”

“Tau kalau kamu marah”

“Kalau kamu lagi kesal sekarang”

“Kamu bukan tipe orang yang akan diam diri kalau melihat temenmu kesusahan apalagi sampai seperti ini”

“Kata siapa?” tanyaku pelan

“Matamu”

“Dan detak jantungmu yang sekarang berdetak kencang” ucapnya sambil memegang tepat di depan jantungku.

“Kamu mungkin bisa berbohong dan menutupi emosimu, tapi matamu dan jantungmu gak bisa bohong”

Syafira memegang pipiku pelan dan sangat lembut.

“Kalau kamu perduli padaku, jangan biarkan emosimu ngalahin kamu” ucapnya dengan nada memohon.

Aku harus bagaimana? Dia benar-benar meluluhkan hatiku sekarang. Maafin aku rafa…

“Iya”

Setelah kejadian itu syafira tidak henti-hentinya menggangguku dengan pertanyaan yang sama. Awalnya sih aku merasa agak senang karena baru pertama kalinya ada yang perhatian padaku, tapi lama-lama aku mulai merasa kesal.

“Halo dilan?”

“Ini ivan ya?” tanyaku pada orang yang meneleponku dengan nomor yang tidak aku ketahui.

“Gara-gara lo dion mati lan!”

“Maksudnya apaan nih!?” tanyaku bingung.

“Apapun alasannya, apapun itu pada akhirnya dion mati karena lo dilan!”

“Dan karena itu pada detik ini juga, gua…gua benci sama lo!”

“Lo dimana sekarang!?” tanyaku sedikit emosi sekarang.

Maaf syafira, bukannya aku gak perduli sama kamu. Tapi bagiku masalah ada untuk diselesaikan, dan jika itu menyangkut teman seperjuanganku maka aku harus tau, bukan polisi ataupun pak RT sekalipun.

Aku akhirnya memutuskan untuk mendatangi ivan seorang diri di malam itu juga. Karena dengan begitu ivan mau memberi tahukan keberadaannya. Entah kenapa dia tidak ingin ada yang tahu keberadaannya pada siapapun kecuali aku.

“Van, lo tau kan meskipun lo sembunyi dimanapun, selama lo masih hidup lo bisa kita cari?”

“Iya gua tau”

“Terserah apapun mau lo, yang jelas sekarang gua mau tau siapa yang ngebunuh dion!?”

“Bukan aku, tapi kamu yang menjadi pemicunya dilan” ucap seseorang yang sedari tadi bersembunyi dari balik tiang itu.

“Rei!!!!” ucapku.

“Lama gak jumpa dilan”

“Ya kan?” tanyanya lagi untuk memastikan bahwa dia tidak salah memanggilku dilan.

“Kupikir sekarang kamu sudah lebih tau banyak siapa aku dan apa yang sebenernya terjadi” ucapnya lagi.

“Alfurqan kan?” ucapku.

“Yes, this time you’re exactly right!” balas rei dengan penuh senyuman.

“Bangsaaaatt!” ucapku sembari berlari kencang ke arahnya, aku berniat memukulnya!

Aku gak perduli apa aku sembrono langsung berlalri memukulnya seperti ini, tapi yang jelas aku sudah bersumpah kalau aku bertemu dengannya, dia akan kuhajar! Ayahku dan rafa mati karena dia!

Rei ternyata gak menghindari seranganku, bukannya menghindar atau bahkan menangkisnya, dia lebih memilih menerima semua pukulanku. Dengan pilihannya itu aku malah semakin membabi buta. Aku terus memukulnya sekeras dan sebanyak yang bisa aku lakukan.

“Udah kelar?”

“Cuma segini?” ucapnya lagi.

Kali ini rei/alfurqan langsung mendorongku dengan kakinya, dan dengan cepat memberikan pukulannya padaku tanpa sempat kutangkis ataupun kuhindari.

“Kamu pikir cuma kamu yang ngerasa kehilangan hah!?”

“Sampai akhir pun kamu gak akan merasa kehilangan kan!?”

“Si kakek tua itu lebih memilih menjagamu dibandingkan aku dan adikku!”

“Kamu pikir si aki-aki mau memilih jalan seperti ini hah!?” sekarang giliranku membalas pukulannya. Pada akhirnya kami jual beli pukulan dan sambil meluapkan emosi kami yang terpendam.

“Kamu pikir syafira senang!?”

“Kakak macam apa yang pada akhirnya menggunakan adiknya cuma untuk memenuhi keinginan dia buat balas dendam hah!?”

“Semua gak akan kaya gini kalau ayahmu yang bodoh itu gak ngeoperasi ibuku!”

“Kamu pikir ayahku yang melakukan kesalahan!?”

“Ayahku yang maju kedepan untuk bertanggung jawab karena kesalahan asistennya!”

“Kamu pikir aku gak kehilangan ibu kamu juga hah!?”

“Ibu kamu…ibu kamu…sudah kuanggap layaknya ibuku sendiri” ucapku kali ini yang akhirnya menghentikan pukulanku padanya. Bukannya aku tidak sanggup lagi untuk memukulnya, tapi emosi akan kehilangan sosok ibu syafira itu membuatku luluh untuk meneruskan perkelahian ini.

“Apa? Jadi kamu sekarang mencari kambing hitam atas kesalahan ayahmu sendiri?” ucap rei/alf.

Kali ini rei/alf memukulku kembali, namun kali ini terasa lebih menyakitkan dibandingkan dengan pukulan-pukulannya sebelumnya. Aku pun akhirnya terjatuh lemas.

“Dengar, namaku sekarang adalah rei”

“Dan sampai kapanpun ayahmulah yang membunuh ibuku”

“Kalau kamu gak pengen syafira dan kakek tua itu kenapa-kenapa, sebaiknya kamu jauhin mereka”

“Sampai kapan kamu gak bisa menerima kenyataan hah!?” teriakku.

“Simpan tenagamu dilan, hadiah terakhirku masih menunggumu” ucapnya sambil melihat ke arah ivan.

“Kutinggalkan kalian berdua ya” ucapnya lagi lalu berlalu.

“Reeeeeiiiiiiiiiii!”

“Dilan, lo tau kenapa dion mati?”

“Dion datang ke gua, kalau lo ngomong ke dia, lo butuh orang yang bisa gantiin joni jadi wakil lo di geng kita”

“Lo udah ninggalin kita lama, dan tiba-tiba lo datang lagi dan lo menghasut dion yang masih panasan!”

“Gua…gua salah menilai lo selama ini!”

“Gua gak ada bilang kaya gitu ke dion van!” jawabku sambil mencoba berdiri kembali.

“Lo gak usah bohong ke gua! Kenapa lo harus bikin gua berantem sama dia hah!?”

“Lo tau kan gua sama dia deket banget kaya lo ke joni!?”

“Maksud lo apaan sih!?”

Ivan kali menamparku, dia terlihat sangat emosi.

“Lo gak usah akting anjing!”

“Van!”

“Apa!? Lo gak suka gua bilang anjing!?”

“Lo bilang ke dion kalau gua kandidat terkuat jadi pengganti joni, karena dion keberatan lo bilang ke dia kalau dia bisa gantiin joni kalau dia bisa ngalahin gua!”

“Lo emang anjing lan!” ucap ivan lagi sembari memukulku, sampai aku terjatuh kembali.

“Gua gak ada bilang kaya gitu van, gua berani sumpah”

“Mungkin memang bukan lo yang bilang, tapi kepribadian lo yang lain bilang kaya gitu ke dion!” teriak ivan.

“Maksud lo apa!?”

Mendengar pertanyaanku, ivan kembali beringas memukulku dan menendangku berkali-kali sampai aku benar-benar hampir tidak sadarkan diri.

“Lo gak usah nutup-nutupin semuanya lagi anjing! Gua udah tau kalau lo punya kepribadian ganda!”

“Bajingan, jadi gitu ya rupanya”

“Rei brengsek!” ucapku kemudian tidak sadarkan diri.

“Kamu senang sekarang?” ucap syafira padaku.

“Apanya?”

“Senang berurusan dengan tempat ini?”

Aku cuma diam dan memandangnya.

“Jawab aku dilan!”

“Aku udah ngingetin kamu ya berkali-kali supaya gak kepancing emosi!”

“Aku tau kalau buat kamu…” belum selesai syafira berbicara, aku langsung mengatakan sesuatu padanya.

“Jangan berhenti marah, entah kenapa kamu terlihat cantik meski kamu lagi marah”

“Aku gak tau bakal ngapain kalau kamu lebih lama lagi didepanku sekarang ini” ucapku tersenyum sambil menatap wajahnya.

“Kamu yaa!? Aku serius dilan!!?”

“Maaf, dilan sudah waktunya” ucap salah seorang petugas memanggilku.

“Iya” aku pun beranjak dari kursiku didampingi petugas itu dengan tanganku yang terborgol semenjak aku dibawa ke kantor polisi.

“Kamu percaya kalau aku pelakunya?” tanyaku pada syafira sebelum aku meninggalkan ruangan itu.

“Aku lebih tau kamu dibanding kamu sendiri!” ucapnya tegas dan akupun tak sanggup menahan senyumanku setelah aku membelakanginya.

Terima kasih…

Hari itu adalah hari dimana aku disidang perdana atas dugaan kejahatan sebagai dalang terjadinya pembunuhan temanku dion oleh rekannya sendiri ivan.

Karena hasutanku, dion mencoba melukai ivan meski dengan niat tidak sampai membunuhnya. Namun secara tidak sengaja dion lah yang terbunuh oleh ivan dengan alasan untuk membela dirinya.

“Jadi benar saudara yang menghasut almarhum dion untuk melukai ivan?”

“Tidak, saya tidak melakukannya yang mulia”

“Dari keterangan saudara saksi, saudara rei, diketahui bahwa anda mengidap penyakit D.I.D?”

“Apa betul itu saudara dilan?”

Aku hanya terdiam.

“Oke, anggaplah memang bukan saudara dilan yang menghasut almarhum. Tapi jika benar dia mengidap penyakit D.I.D atau yang lebih familiar kita kenal sebagai kepribadian ganda.”

“Bisa saja, saudara dilan yang benar-benar melakukannya. Diluar kesadaran dia” ucap salah seorang jaksa kepada hakim.

“Disamping itu, saya juga mendapat informasi tambahan bahwa belakangan ini saudara dilan mencoba melakukan pengobatan kepada saudari syafira yang sampai saat ini terdaftar sebagai seorang dokter ahli dibidang psikologi manusia”

“Bisa kita hadirkan saudari syafira sebagai saksi yang mulia?”

“Maaf yang mulia, bolehkah saya bicara?” ucapku tiba-tiba.

“Interupsi ditolak, anda bisa menyampaikan interupsi nanti. Saat ini kita akan menghadirkan saudari syafira sebagai saksi”

“Pasal 28A, setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”

“Pasal 28I ayat 2, setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.”

“Pasal 28J ayat 1, setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.”

“Iya saya tahu pasal-pasal itu, tapi saat ini anda sedang berada di pengadilan dan anda harus mengikuti aturan di persidangan”

“Dan maaf untuk pasal 28I ayat 2 tidak tepat anda sebutkan disini, karena tidak ada perlakuan diskriminatif”

“Yang mulia tahu kalau umur kakek saya lebih tua dibandingkan yang mulia?”

Mendengar pertanyaan tersebut sang hakim terdiam karena bingung dengan kolerasinya antara persoalan yang sedang disidangkan dengan umurnya.

“Kenapa anda membawa umur saya dan umur kakek anda sekarang?”

“Kakek saya selalu bilang kalau kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain terlebih dahulu”

“Ya, saya juga tahu kalimat itu”

“Kalau begitu tolong izinkan saya berbicara, sebentar saja?”

“Saya berjanji tidak akan mengganggu lagi”

“Lagipula saya tidak ingin berbicara dengan anda yang mulia, saya ingin mengucapkan sesuatu saja disini”

Sempat terdiam, namun akhirnya sang hakim mengizinkanku untuk berbicara.

“Interupsi yang mulia!?” ucap jaksa pada hakim tanda tidak setuju.

“Interupsi ditolak untuk mempercepat jalannya persidangan” ucap sang hakim.

“Diantara semua yang hadir disini ada yang diantaranya dokter kan?”

Dilan jangan…

Aku melihat syafira dan menatapnya, aku tahu dia tidak ingin berkata lebih dari ini.

“Maaf syafira…”

“Aku gak perduli apa aku bisa menjadi seperti yang aku mau…”

“Orang-orang mungkin akan bilang, jika kamu gak bisa menjaga dirimu sendiri bagaimana kamu bisa menjaga orang yang kamu sayangi?”

“Tapi bagiku…buat apa aku menjaga harga diriku jika aku gak bisa menjaga orang yang aku sukai”

Syafira, aku menyukaimu…

“Iya, aku memang D.I.D!”


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset