Yes, I am D.I.D episode 4

Chapter 4 : Kenapa Aku Begitu Dibenci?

Kakek…

Aku sadar sejauh ini kakek lebih lama menghabiskan waktu kakek bersama dilan. Tak usah membayangkannya pun aku juga sangat tahu seberapa lelahnya kakek dibuat olehnya. Meski begitu aku juga tahu persis bagaimana dilan, sekeras apapun dirinya jika itu mengenai kakek, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menjaga, melindungi dan memilih kakek.

Karena itu selama ini aku selalu membuat prasangka ini di benakku, “ah wajar kalau kakek lebih memilih dirinya dibandingkan diriku”…

Tapi begitu juga dengan aku kek, bagi dilan dan bagiku itu sama. Kakek adalah orang yang terpenting bukan cuma buat dilan, tapi juga buatku!

Kakek tau kenapa!? Karena cuma kakek satu-satunya orang di dunia ini yang menerima keberadaan kami…

Tapi apa yang telah aku lakukan kek sampai kakek tidak pernah mau menerimaku!? Kenapa kakek tidak pernah mau menerima kehadiranku seperti dulu!? Apa bagi kakek aku hanya “orang” yang ada untuk menyusahkan dilan dan kakek? Aku tidak pernah berkata kasar pada kakek, aku juga tidak pernah berpikir sedikitpun untuk melakukan hal yang bisa melukai hati kakek.

Tapi kenapa hanya ada dilan di hati kakek, padahal kakek juga tahu kalau aku ada?

Bahkan aku menurut dengan kata-katamu kek, aku mengalah pada dilan! Aku mengalah padanya untuk tidak mengatakan pada dunia ini kalau tubuh ini juga milikku, rafa! Selama ini aku hidup dengan menggunakan identitas dirinya.

Tapi bagaimana denganku kek? Pernahkah kakek memikirkan perasaanku sedikitpun? Aku juga ingin dikenal, dihargai oleh orang lain atas namaku sendiri, rafa!

Nama yang dulu kakek berikan padaku…

Aku sedih kek, aku benar-benar sedih! Di seluruh dunia ini meski dilan pun tidak menyukaiku, aku tidak akan perduli!

Tapi jika kakek juga ikut tidak perduli padaku, lantas siapa lagi yang mau perduli padaku?

Senin, 20 Maret 2014

Masih di hari yang sama…

“Namaku Syafira” ucap cewek itu.

Dilan tersenyum dan menyambut tangan cewek itu.

“Rafa”

“Rafa?” tanya syafira agak bingung.

“Bukannya namamu dilan?”

“Ah itu, dilan RAFA, nama panjangku” ucapku mencoba meyakinkannya.

“Oh dilan rafa ya?”

“Terus panggilan kamu biasanya?” tanya syafira kembali.

Sebelum aku menjawab, aku mendekatinya perlahan, perlahan demi perlahan sambil menatap matanya dan sampai jarak kami menjadi sangat dekat.

“Jika kamu melihat diriku dengan style seperti ini, charming seperti ini, maka itu adalah aku, rafa” ucapku sambil tersenyum padanya.

Dengan sedikit agak kikuk, kemudian dia mencoba menenangkan dirinya.

“Memangnya kenapa aku harus manggil kamu rafa? Dan kenapa jika nanti bukan kamu yang seperti ini, aku harus manggil kamu dilan?”

“Terserah kamu, kamu mau manggil aku apa”

“Aku cuma ngasih tahu padamu jika aku seperti aku yang sekarang, maka aku adalah rafa” jawabku.

Kali ini dia kembali bingung dengan kata-kataku.

“Aku gak ngerti maksud kamu apa dilan?” ucap syafira.

“Sssssttt! Kamu gak perlu ngerti apa-apa!” ucapku sambil menyentuh bibirnya dengan jariku dengan maksud agar dia berhenti bertanya.

“Kamu cuma perlu ngerti kalau aku lebih suka kalau kamu manggil aku rafa” ucapku lagi kembali dengan senyuman tulusku.

“Hhmm, ya baiklah dilan” jawab syafira.

Aku mengerutkan dahiku tanda aku tidak suka mendengarnya.

“Iya, maksudku rafa” ucapnya tersenyum.

Dan aku kembali tersenyum setelah mendengarnya.

“Kamu sibuk rafa?” tanya syafira.

“Hhhmmm, enggak juga” jawabku.

“Kamu suka baca buku?”

“Ah iya suka, kenapa?” jawab syafira.

“Yuk ke toko buku?” ucapku mengajaknya.

“Ah iya boleh”

“Kamu anak baru ya?” tanyaku padanya.

“Oh iya, aku baru pindah minggu lalu dari Kalimantan” jawab syafira.

“Kalimantan? Banjarmasin? Samarinda? Balikpapan? Palangkaraya?” tanyaku lagi.

“Banjarmasin” jawab syafira.

“Oh banjarmasin, sasirangan kan?”

“Wah kamu tau sasirangan?” tanya syafira kaget.

“Sasirangan, soto banjar, ketupat kandangan, pasar terapung, hmmm ya satu lagi martapura?”

“Ha ha ha, kamu tau banyak ya? Punya sodara disana?” tanya syafira.

“Dari 35 provinsi di Indonesia selain Bandung, Jakarta, Jogja, Surabaya, Banjarmasin adalah kota favoritku. Jadi aku tau ada apa aja disana! He he he…” jawabku.

“Wah, terus kamu asli mana?” tanya syafira lagi.

“Asli Indonesia! Yuk ah!?”

“Bentar, naik sepeda kesana?”

“Iya” ucapku.

“Kemaren kamu bawa motor deh, motor kamu kemana?” tanya syafira.

“Naik sepeda lebih sehat. Kenapa? Kamu malu dibonceng naik sepeda?”

“Hmm gak sih, cuma kupikir kamu hari ini itu beda banget” jawab syafira lagi.

“Kalau gitu ayo naik?” ucapku sambil tersenyum.

“Iya..”

Sesampainya di toko buku itu, aku langsung menuju ke tempat dimana buku-buku favoritku berada.

“Kamu suka baca buku komik rafa?”

“Ah iya, aku udah lama gak baca buku ini!” ucapku senang.

“Komik manusia karet itu?” tanya syafira.

“Ha ha ha, iya, one piece!”

“Dulu aku ngoleksi banyak komik ini, tapi semuanya dijualin sama kakek” ucapku.

“Kenapa gitu?” tanya syafira lagi.

“Karena kakek ingin aku sadar kalau aku gak seharusnya keluar…” jawabku tapi masih fokus mencari komik-komik yang ada.

“Gak seharusnya keluar? Maksudnya?” tanya syafira bingung.

Mendengar pertanyaan tersebut aku jadi kaget, hampir saja aku membuka rahasiaku.

“Ah, keluar rumah maksudnya”

“Keluar rumah? Kamu gak boleh keluar rumah sama kakek kamu?” tanya syafira makin bingung.

“Kamu laper gak?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian.

“Hhmm lumayan sih”

“Kamu laper?” tanya syafira.

“Iya, makan yuk!?”

“Ya udah yuk…”

“Kamu tau rafa, kupikir kamu itu orangnya bandel, nakal, terus…”

“Terus?” tanyaku

“Hehe, kupikir kamu biasa-biasa aja gak pinter” jawab syafira.

“Habisnya waktu pertama kali aku liat kamu di kelas, kamu malah tidur!?”

“Terus waktu ngumpul kerja kelompok juga kamu gak sedikitpun ngasih ide. Tapi taunya tadi malah kamu yang ngerjain, presentasiin juga!” ucap syafira lagi.

“Gitu ya?” ucapku santai.

“Iya, kenapa? Kamu marah?” tanya syafira.

“Gak kok, kenapa harus marah? Yang kamu lihat itu emang aku” jawabku.

“Tapi kupikir apa yang orang bilang kalau kamu bandel, kasar gak sepenuhnya bener”

“Meski kejadian kamu sama edy kemaren sempat membuatku berfikir hal yang sama dengan mereka” ucap syafira lagi.

“Hidup itu penuh dengan kejutan syafira, gimana kamu kemarin, gimana kamu hari ini, gimana kamu besok, atau bahkan gimana kamu nanti malem…”

“Gak ada yang bisa nebak kamu bakal gimana. Kamu bisa aja sekarang lagi seneng, tapi gak tau nanti malem kamu masih bisa seneng atau malah nangis kan?” ucapku padanya.

“Iya sih…” jawab syafira.

“Hidup cuma sekali dan sayangnya kita gak bisa milih mau hidup seperti apa” ucapku lagi padanya.

“Kamu kok, tiba-tiba jadi melankolis gini sih?” tanya syafira

“Kamu tau jika aku diberikan satu permintaan yang dapat dikabulkan sama Tuhan, aku bakal minta apa?” tanyaku padanya.

“Apa itu?” syafira bertanya balik.

“Aku ingin bisa menghentikan waktu sesukaku! He he he…” jawabku.

“Kenapa gitu?” tanya syafira kembali.

“Karena aku ingin terus hidup menjadi aku yang seperti ini, menjadi rafa, selama yang aku inginkan…”

“Maksud kamu rafa?”

“Saat ini aku harus rela membagi waktuku dengannya…” ucapku.

“Bentar-bentar, beneran aku gak ngerti deh!?”

“Emang saat ini kamu ngebagi waktu kamu dengan siapa?” tanya syafira lagi yang saat ini benar-benar kebingungan.

Aku diam dan menatap wajahnya yang benar-benar kebingungan dengan ucapanku. Kupikir aku sudah terlalu banyak bicara mengenai diriku padanya.

“Kamu gak usah bingung!” ucapku mencoba mengakhiri kebingungannya.

“Ayo pulang! Aku mau baca komikku!?” rengekku padanya.

“Hhhm, iyaa deh…” ucap syafira mengalah.

“Ah iya, kamu mau pulang kemana?” tanyaku padanya.

“Udah gak usah dipikirin, yang jelas anterin aku balik ke kampus lagi aja” jawabnya.

“Ngambekk yaa?” ucapku padanya.

“Enggak!” jawabnya.

“Wah ngambek ini!?”

“Enggak! Enggak! Udah ayo pulang!?” ucap syafira.

Sesampainya di rumah, aku langsung mengunci sepedaku. Takut hilang, dulu sepeda ontel kakek aja lupa digembok malah hilang. Saat itu kakek berubah menjadi makhluk yang paling mengerikan. Kakek murka dan bersumpah jika kedapetan lagi maling masuk ke rumah ini maka maling itu akan dijadikannya sate.

Tiba di ruang tamu, aku lihat kakek sedang asik melihat berita di TV sambil memakan cemilan kesukaannya. Tahu kremes yang biasa dibelikan bi onah, pembantu kami, di depan komplek.

“Kakek, aku pulang!” ucapku pada kakek.

Tapi kakek hanya diam dan tidak menjawab sapaku.

“Kenapa kamu keluar?” ucap kakek sekarang.

“Keluar? Ya aku tadi ke kampus kek” jawabku.

“Kenapa kamu yang ke kampus bukan dilan!?” kali ini kakek menaikkan nada suaranya.

“Memang aku gak boleh keluar?”

“Cucuku hanya satu, dan dia adalah dilan!” jawab kakek.

“Tapi aku ini dilan kek”

“Jangan bercanda, dilan lebih suka memanggilku dengan pak tua” balas kakek.

“Apa yang sudah kulakukan pada kakek jadi kakek seperti ini padaku?” tanyaku.

“Kamu tidak sadar? Karena kamu banyak hal yang terjadi pada dilan!?”

“Pernahkah kamu berpikir sedikit saja jika kamu menjadi dirinya?” tanya kakek padaku.

Aku diam, aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Mendengar pertanyaannya saja sudah membuat hatiku terluka.

“Kakek membenciku?”

Kali ini tanpa menjawab pertanyaanku, kakek langsung meninggalkanku ke kamarnya. Bagiku saat itu sikap yang diperlihatkan kakek padaku cukup untuk mengisyaratkan kalau kakek memang tidak suka dengan keberadaanku.

Segitu bencinya kah kakek denganku?

Selasa, 21 Maret 2014

“Hoaaaaammm,, ngantukk!” ucapku sambil mengusap mataku sambil berjalan ke meja makan untuk sarapan.

“Kek, aku gak kuliah ya hari ini!? Kepalaku rasanya pusing sekali!” ucapku lagi.

Dan tanpa menunggu lama, kepalaku kena pukul lagi.

“Aduuuhh sakit pak tua! Kenapa sih pagi-pagi udah kasar aja!?” ucapku sambil mengelus-elus kepalaku yang kesakitan.

“Kupikir kamu bukan dilan” jawab kakek.

“Bukan aku?” tanyaku yang langsung kaget.

“Ini hari senin kan?” tanyaku lagi yang langsung melihat kalender di hp ku.

“Selasa…” ucapku lesu.

Kami berdua diam sesaat, seakan-akan rasanya tidak ingin membahasnya lebih lanjut.

“Pak tua, siapa yang kemaren muncul?”

“Buat apa kamu tahu? Kamu tahu pun gak bisa merubah apa-apa kan!?” ucap kakek.

“Aku harus tahu pak tua, ini tubuhku!” ucapku setengah berteriak.

Ting Ting Ting, bel rumah berbunyi.

“Permisi” ucap orang itu.

Kakek kemudian beranjak dari meja makan dan menuju ke pintu depan.

“Siapa ya? Ada yang bisa dibantu?”

“Benar disini rumahnya rafa?”

Suara itu suara cewek, tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Yang membuatku ingin tahu adalah kenapa dia tahu rafa? Mau apa dia mencari rafa? Aku pun kemudian beranjak dari meja makan dan menuju ruangan depan.

“Rafa? Disini cuma ada satu orang cucu saya dan namanya dilan” ucap kakek.

“Dilan? Tapi dia bilang rumah dia di alamat ini” jawab cewek itu.

“Kamu siapa?” tanyaku langsung padanya.

“Ah itu dia rafa!” ucap wanita itu.

“Maaf dia bukan rafa, dia cucu saya yang saya bilang tadi namanya dilan” ucap kakek.

“Enggak, saya yakin kalau dia itu rafa yang kemarin udah bantuin saya!” jawab cewek itu yakin.

“Rafa, nama asli kamu dilan ya?” tanya cewek itu padaku.

“Bantu? Bantuin apa ya?” aku balik bertanya padanya.

“Rafa kamu lupa udah bantuin aku dari anak-anak nakal itu?”

Cewek itu telah pulang beberapa saat yang lalu. Dan sebelum dia pulang dia meninggalkan kami cerita baru yang jujur saja membuatku kesal. Cerita yang menjadi asal mula kenapa aku jadi dihadang para gerombolan orang-orang brengsek itu.

Dia bilang padaku dan kakek kalau minggu lalu rafa membantunya kabur dari anak-anak berandalan yang mengganggunya. Dan itu menjawab pertanyaanku kemana dan apa saja yang aku lakukan di hari itu. Karena jujur saja, sama dengan hari ini, aku lupa dengan apa yang aku lakukan. Seolah-olah aku tidur lelap dan terbangun dengan melewatkan hari itu sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku telah melewatkan satu hari penuh.

Entah bagaimana caranya si brengsek itu melakukannya, bisa-bisanya dia kabur dari berandalan sebanyak itu jika mendengar cerita cewek itu. Asal kalian tahu saja, beda denganku, rafa tidak bisa bela diri sepertiku. Kenapa? Tentu saja saat itu kakek hanya melatih aku sedangkan rafa selalu menolak jika diajari bela diri. Begitulah yang kakek sampaikan padaku.

Ah, tapi tetap saja bagian tidak enaknya selalu datang padaku!

“Jadi gimana dengan jam tangan ini!?” tanyaku ke kakek.

“Ya kamu pake lah! Masa aku yang pakai!?” jawab kakek.

“Tapi ini bukan buatku tapi buat si brengsek itu!” ucapku lagi.

Cewek itu memberikan rafa sebuah kado yang isinya jam tangan sebagai tanda terima kasihnya.

“Aku gak bakal mau memakai sesuatu kepunyaan dirinya!”

“Ya sudah sini buatku aja” kata kakek.

“Katanya gak mau!?” tanyaku ketus.

“Udah sini, mau kupakai buat ke taman jomblo malam minggu nanti!” bilang kakek.

“Tuh kan, udah tua, mesum, pikun, tukang ngintip, ganjen lagi!”

“Berisik kamu anak setan!” jawab kakek kesal sambil memukul kepalaku lagi dengan tongkatnya dan tak lupa mengambil jam tangan itu dari tanganku.


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset