Yes, I am D.I.D episode 7

Chapter 7 : Rapuh

Hatiku masih terasa kosong saat memasuki kamar ini. Pikiran dan hatiku saat ini benar-benar tidak selaras. Disaat pikiranku mencoba untuk berpikir jernih agar bisa memikirkan apa yang harus aku lanjutkan disaat lainnya hatiku menolak untuk memberikan dorongan semangat buatku melakukannya.

Ketika aku nyalakan lampu kamar ini, ada rasa yang sedikit menusuk di hatiku. Jangankan menyalakan lampu kamar ini, memasukinya saja mungkin kemarin aku masih tidak berani. Tempat ini satu-satunya tempat yang tidak mau aku masuki selama aku disini. Namun sekarang rasanya berbeda, kekosongan di ruangan ini seperti menggambarkan kekosongan di dalam hatiku juga.

Sekuat-kuatnya laki-laki, yang melemahkan mereka hanyalah rasa kehilangan.

Jika ada kekosongan yang menghantui hatiku maka tak ada lagi yang ingin kulakukan selain berdiam sambil menunggu setitik cahaya.

 

Jumat, 24 Maret 2014

Rencana serangan balik yang akan aku lakukan malam ini sebentar lagi akan kami lakukan. Aku bersama joni dan puluhan teman-teman setiaku yang lain sudah menunggu di tempat biasanya kami berkumpul.

Tidak ada kata-kata lain yang bisa aku ucapkan pada mereka yang bersedia menemaniku sampai pada titik ini selain kata “terima kasih”.

“Yang masih bimbang mau ikut bisa berhenti disini” ucapku.

Jujur aku menunggu banyak jawaban dari mereka. Ini bukan soal setia kawan atau tidak, tidak pula soal menang atau kalah, tapi soal keselamatan mereka! Yang kami hadapi bukan orang berandalan atau preman biasa. Tapi orang-orang yang sepertinya sudah sangat profesional dalam profesinya.

“Lu ngomong apaan lagi sih lan!? Udah gua bilangin sama anak-anak juga kok”

“Tapi mereka tetep aja pada datang, bukan gua yang maksa kok” ucap joni.

“Iya lan, kita datang karena emang kita sendiri yang pengen ikutan” ucap salah satu dari mereka.

“Kali ini beda…” belum selesai aku bicara tiba-tiba ada telepon masuk.

“Dilan”

“Kenapa pak tua?” tanyaku.

“Kamu dimana?”

“Diluar lah, ada apaan?”

“Beliin kakekmu ini martabak kum-kum dong?”

“Ah suruh yang lain aja, aku ada urusan ini”

“Gak mau, maunya sama kamu” ucap kakek lagi.

“Apaan sih nih aki-aki!? Udah ah” ucapku dan kemudian langsung menutup teleponnya.

“Kenapa lan?” tanya joni.

“Biasa aki-aki”

“Berangkat sekarang yuk!?” ajakku.

“Ya udah ayo” jawab joni.

Dan akhirnya saatnya tiba, akhirnya kami berangkat menuju peperangan. Disini aku tidak mengajarkan kalian untuk bersikap sama sepertiku jika kalian mengalami masalah yang sama. Aku ya aku, kalian ya kalian, banyak cara yang bisa kita lakukan masing-masing untuk menghadapi masalah itu.

Aku yakin kalian bisa lebih bijak dibandingkan diriku untuk mengambil keputusan. Karena aku ya memang seperti ini, sudah terlalu lama dan sudah terbiasa hidup seperti ini. Aku hanya bisa mendoakan kalian agar kalian bisa mempunyai teman-teman seperti teman yang aku punya saat ini.

Teman-teman terbaik dan teman-teman setia yang selalu ada untuk kalian apapun kondisi kalian dan bersedia melakukan apapun untuk kalian apapun resiko dan harganya.

“Lan jadi rencana lu gimana? Gimana kita lewatin itu pagar?” tanya joni. Saat itu kami berada kurang lebih 10 meter dari rumah yang berukuran cukup besar dan berpagar tinggi itu.

“Bukan cuma pagar jon, lu liat ada 2 penjaga di dekat pos situ?” ucapku.

“Terus gimana?” tanya joni lagi.

“Ya gak gimana-gimana” jawabku.

“Maksud elu gak gimana-gimana?”

“Ya tinggal dobrak aja”

“Dobrak!?” tanya joni kaget.

“Iya, kita beruntung rumah ini cuma satu-satunya di daerah ini”

“Rumah yang lain cukup jauh dari sini” ucapku.

“Serius lu?”

“Iya serius, tapi kita bagi 2 setengah grup”

“Rencana apaan pake 2 setengah!?”

“Udah lu diem dulu!”

“Iya iya terus buat apaan? Katanya gak pake rencana?”

“Lan, lu gak berubah lagi kan kaya dulu?” tanya joni lagi.

“Berubah apaan!?” ucapku.

“Ya tumben-tumbennya lu pake rencana kaya gini, mirip banget ma elu yang dulu?”

“Yang kapan?”

“Yang waktu kita berantem sama SMA 30, kita-kita berangkat pake elu doang yang pake sepeda!? Habis itu elu berantemnya kaya banci lagi!?”

“Brengsek sejak kapan gua kaya gitu, udah pokoknya gini…” aku berusaha mengalihkan perhatiannya karena aku yakin waktu itu pasti si rafa yang muncul. Mudah-mudahan malam ini dia gak bikin kekacauan lagi.

“Jon, lu kawal grup bagian belakang matiin sumber listrik”

“Jangan lupa bawa peralatan”

Peralatan yang kumaksud adalah sejenis smoke grenade. Entah darimana pokoknya joni punya jaringan yang bisa nyedian peralatan-peralatan seperti ini.

“Oke” kata joni.

“Sisanya, ikut gua! Kita serang langsung dari depan”

“Terus pagarnya gimana? Lu mau nungguin gua masuk terus gua bukain tu pagar?” tanya joni.

“Udah lu urus aja bagian lu, kalau udah mati semua listriknya gua langsung masuk”

“Langsung dobrak aja pagarnya” ucapku.

“Buset, boleh juga ide lu bray!” ucap joni.

“Terus yang setengah buat apaan”

“Buat beli martabak kum-kum”

“Eh geblek buat pake acara beli makan segala!?”

“Buat aki-aki, tar gua gak bisa masuk rumah”

“Ealah! Ya udah van lu ma dion beli martabak sono!”

“Eh kampret napa gua mesti beli martabak!? Gua juga pengen ikutan ke dalam” ucap ivan.

“Udah lu ikut masuk lain kali oke!?”

“Baaahh!” ucap ivan kesal.

“Eh yang banyakan sekalian buat pesta tar” ucap joni lagi.

“Van, sebelum lu pergi tutup itu jalan masuk kesini terus minta jagain satu orang disitu” ucapku.

“Ya udah”

Hanya berlangsung 5 menit setelah joni masuk kedalam, akhirnya listrik di rumah itu mati total. Dengan tanda-tanda listrik yang mati artinya kami grup kedua harus memulai aksi kami.

Aku kemudian menggas motorku ke arah rumah itu diikuti oleh pasukanku dibelakang. Kami melajukan motor kami bersama-sama ke arah gerbang itu sampai gerbang itu jatuh. Frontal memang tapi cukup bisa membuat perhatian orang-orang di rumah itu menuju ke gerbang depan. Dan yang artinya joni dan pasukannya bisa lebih aman melakukan penyerangan dari belakang.

Bak gayung yang bersambut kedatangan kami yang tidak diundang beserta kegaduhan yang kami buat akhirnya memicu kemarahan mereka. Sehingga tidak ada kata-kata apapun dari mereka untuk menyambut kami, melainkan pukulan tinju mereka yang melayang ke arah kami.

Dan terjadilah peperangan yang akan menjadi awal dari segalanya…

Jika mereka orang-orang profesional maka kami akan mengubah peperangan ini ke dalam pertarungan jalanan yang bahkan sudah sering anak SMA lakukan sekarang ini. Serangan dari depan dan belakang ini cukup berhasil sampai membuat kewalahan. Terlebih dengan adanya smoke grenade yang sudah mulai menutupi penglihatan dan membuat mereka cukup sulit bernafas semakin membuat mereka kewalahan meladeni kami.

Lantas apa untung dari peperangan yang aku rencanakan ini? Cukup untuk membalas perlakuan mereka padaku? Tidak, aku tidak berencana hanya untuk menghajar mereka. Aku berencana mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan, dan untuk itu aku harus mencari pimpinan mereka yang kemarin benar-benar membuatku menderita.

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mencari orang itu, aku akhirnya menemukannya di tengah kerumunan di dalam rumah itu. Dia direpotkan oleh beberapa orang dari pasukan joni. Aku langsung berlari menuju ke arah orang itu, kemudian meluncurkan tendanganku.

Menerima tendanganku yang mendarat sempurna di badannya, pria itu pun terjatuh. Untuk beberapa saat aku membuka masker dan kacamataku agar dia bisa melihat siapa diriku.

“Bangun brengsek, yang nyenengin baru mau mulai” ucapku padanya.

“Bocah sialan” ucapnya.

“Dalam perang gak ada kata licik kan?” ucapku kemudian kembali memasang masker dan kacamataku.

Aku kemudian langsung melancarkan tinjuku ketika dia baru berdiri setelah terjatuh tadi. Dan disini kami akhirnya berduel satu lawan satu. Beberapa kali tinjuku yang mendarat tepat di mukanya masih sanggup ditahannya, malah dia meninjuku balik. Dia kuat, iya dari awal aku sudah sadar ini tidak akan mudah.

Beberapa pukulan kami saling mengenai satu sama lain, namun aku lebih unggul. Ketika tendangaku mengenai kepalanya dia pun jatuh kembali. Dan saat dia terjatuh aku langsung menindihi badannya dan melancarkan pukulan secara membabi buta padanya.

“Siapa kamu!?”

“Apa maumu!?”

“Kenapa kamu tahu aku!?”

Inilah yang dari awal aku inginkan, selain membalas apa yang sudah dia lakukan padaku. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia inginkan padaku. Dan siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tahu betul siapa diriku.

Tapi lagi-lagi semua tidak mudah, bukannya menjawab dia malah tertawa. Melihat dirinya seperti itu aku semakin murka. Aku kembali melancarkan pukulanku kepadanya.

“Kutanya siapa kamu!?”

“Apa maumu!?”

“Bocah, ada orang yang lebih cocok jika kamu mau bertanya seperti itu” ucapnya.

“Apa maksudmu?”

Perhatianku sedikit teralihkan ketika dia berbicara seperti itu. Dengan kesempatan sedikit seperti itu pria itu menendang bagian belakang tubuhku sehingga aku terjatuh kedepan. Dia berhasil menjauhkan dirinya dariku. Sesaat kemudian aku akhirnya sadar efek dari smoke grenade itu telah habis. Aku bisa melihat teman-temanku yang juga saat itu sedang bertarung di sekelilingku.

“Jon, awas!” teriakku pada joni.

Aku melihat ada seseorang yang mencoba menghunuskan sebuah pisau pada joni dari belakang. Melihat itu aku lengsung refleks berlari menghampiri joni, tidak cukup sempat untuk menyerang orang itu aku akhirnya memillih mendorong joni sampai joni terjatuh.

Dan pisau itu menancap tepat di perutku.

“Dilaaaaaan!” teriak joni.

Aku terjatuh, ini pertama kalinya terjadi padaku. Setelah berkali-kali berkelahi dengan siapapun musuhku. Baru kali ini aku merasakan sakitnya sebuah pisau yang terhunus ke tubuhku. Melihat aku yang mulai jatuh tersungkur, joni dan teman-temanku yang lain langsung menghampiriku.

“Lan, lu gak papa lan!?” teriak joni.

“Brengsekkk!” joni langsung mengambil ancang-ancang untuk membalas orang yang telah menusukku itu.

Doooaarr!

Sebuah tembakan dari pistol yang dikeluarkan oleh pria yang merupakan pimpinan kelompok ini. Rupanya dia sudah kembali terjaga dari semua serangan yang dia terima dariku.

“Hentikan” ucap pria itu.

“Hey bocah, aku akui serangan kalian benar-benar merepotkan kami”

“Tapi asal kamu tahu, dari awal kami sudah tahu bahwa kalian akan menyerang kami”

“Jangan bercanda!” ucap joni kemudian mencoba menyerang pria itu.

“Jangan gegabah bocah ingusan” ucap pria itu santai sambil mengarahkan pistolnya pada joni.

“Jon, jangan jon” ucapku sambil menahan sakit.

“Kamu harus tahu juga bocah, sedari awal jika aku serius mau mencelakakanmu maka sedari tadi pistol ini sudah kutembakkan ke kepalamu” ucap pria itu lagi padaku.

“Dengar, urusanku dengan kalian sudah selesai”

“Aku cuma cukup perlu tahu seberapa jauh D.I.D yang kamu hadapi”

“Sekarang aku tidak butuh kamu lagi”

“Ha ha ha, sudah selesai katamu?” ucapku sambil terbatuk-batuk.

“Hey bocah kamu mau nerusin perkelahian ini atau mau membawa temanmu ke rumah sakit?” ucapnya pada joni.

“Kalau mau masih ngelanjutin berantemnya terserah, tapi kuberitahu kali ini kami bakal lebih serius” kemudian secara bersamaan anak buahnya yang lain juga mengeluarkan senjatanya masing-masing.

“Dengar brengsek, aku bukannya gentar untuk bertarung dengan kalian lagi” ucap joni.

“Tapi kondisi temanku saat ini lebih penting daripada kalian”

“Pilihan yang bijaksana” ucap pria itu.

“Hey dilan” ucap pria itu lagi.

“Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, urusan kita sekarang sudah tidak ada lagi”

“Jika kamu masih bersikeras untuk melanjutkannya, silahkan temukan dan datangi aku”

“Berapa kalipun kamu akan aku ladeni, dan dengan cara yang lebih fair”

“Breng…see..kk” ucapku yang sudah mulai kehilangan kesadaran.

“Tungg…guu, uruu…saan ki..ta beel..um see…les..aai” kemudian aku kehilangan kesadaran.

“Dasar bocah sok kuat, pantas saja ketua sangat menyukaimu” ucap pria itu.

Sabtu, 25 Maret 2014

“Jon..” ucapku setelah melihat joni ada disampingku.

“Dimana ini?” ucapku sambil mencoba melihat di sekelilingku.

“Kamu ada di rumah sakit sekarang dilan” ucap seorang wanita disampingku.

“Rumah sakit?” ucapku.

“Syafira?”

“Kenapa kamu ada disini?” ucapku kaget setelah baru sadar ternyata beberapa orang disampingku selain joni.

“Pak agus?” ucapku pada dosen waliku yang ada disampingku juga.

“Dasar, sudah bapak bilang berkali-kali kalau nama bapak bukan agus” ucap dosen waliku.

“Kenapa semuanya ada disini?” tanyaku pada mereka.

“Kamu sudah merasa baikan dilan? Masih ada yang sakit?” tanya syafira.

“Aku gak papa, cuma sedikit…” ucapanku terhenti ketika aku memegang perutku. Aku baru ingat kejadian tadi malam dari penyerangan kami ke tempat kelompok itu sampai aku tertusuk pisau.

“Luka itu cukup dalam, wajar kalau kamu masih merasa sakit” ucap seorang pria berjaket kulit di samping dosen waliku.

“Kenalkan nama saya fajar, kepolisian yang mengurus kasus kriminal” ucapnya lagi.

“Jika kamu sudah merasa baikan, kami minta waktunya sebentar buat tahu kenapa kamu sampai ditusuk pisau seperti itu”

“Jon, anak-anak mana!?” tanpa menjawab pertanyaan polisi tersebut, aku langsung bertanya pada joni tentang kabar anak-anak. Satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah kabar mereka.

“Aman lan, aman” ucap joni.

“Pak fajar, bisa nanti saja untuk keterangannya? Ada yang lebih penting yang dilan harus tahu sekarang” ucap dosen waliku.

“Baiklah” ucap pak fajar menyetujui saran tersebut.

“Kenapa pak?” tanyaku yang mulai penasaran pada dosen waliku.

“Dilan, kamu yang kuat ya…” ucap syafira.

“Kenapa sih?” tanyaku sambil melihat yang lain.

“Lan, kakekmu meninggal tadi malam” ucap joni.

“Kakek? Meninggal?” tanyaku agak tidak percaya.

“Jangan bercanda jon, tadi malem pak tua itu minta beliin martabak kok”

“Ivan mana? Ivan kan yang beliin martabaknya” ucapku lagi pada joni.

“Iya, ivan juga yang nemuin kakekmu gak sadar di rumah”

“Jangan becanda kaya gitu jon, gak lucu tau gak!?” ucapku sekarang dengan intonasi yang meninggi.

“Iya dilan, kakekmu sudah meninggal dari tadi malam” ucap dosen waliku.

“Pak agus, pak tua itu kuat pak! Gak mungkin dia bisa meninggal” ucapku lagi.

“Namaku bukan agus dilan” ucap dosen waliku sepelan mungkin.

Kemudian syafira memelukku.

“Kakekmu sudah meninggal dilan, beliau kena serangan jantung” ucap syafira.

“Apa? Serangan jantung?” tanyaku tidak percaya.

“Sejak kapan pak tua itu punya penyakit jantung!?” ucapku lagi.

Kemudian aku berusaha bangkit dari tempat tidur, namun karena kondisiku yang masih lemah aku malah terjatuh dari tempat tidur.

“Dilannn!” teriak syafira.

“Minggir! Aku mau lihat pak tua” ucapku.

“Jon, tolongin gua jon. Anterin gua balik ke rumah”

Joni kemudian menghampiriku.

“Lu mau balik ke rumah? Gua anterin, tapi lu harus janji lu gak usah banyak gerak”

“Lu diam aja di kasur nanti gua anterin lu sampai rumah gua janji” ucap joni sambil berusaha mengangkatku kembali ke kasur.

“Oke” ucapku menurut.

“Jon, mereka semua pada bohong kan?”

“Gak mungkin kan pak tua itu meninggal?”

“Iya lan kami semua bohong, kakek lu sehat di rumah” ucap joni.

“Tadi malam kata ivan dia makan martabak kum-kum sampai habis”

“Tuh kan, terus kenapa pada bilang pak tua udah meninggal!?”

“Brengsek lu pada, dosa tau gak ngebilang aki-aki yang masih sehat udah mati” ucapku sambil memukul joni pelan.

Aku kemudian dibawa ke rumah menggunakan ambulance dengan kondisi masih terbaring lemah di kasur.

“Jon, gua balik jalan masih bisa kok” ucapku pada joni.

“Udah lu gak usah bawel, nanti luka lu kebuka lagi” balas joni.

“Iya deh” ucapku.

“Martabak kum-kumnya masih ada apa gak ya”


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset