Yes, I am D.I.D episode 8

Chapter 8 : Jadikan Aku Heroin Dalam Hidupmu!

“Sialan!”

“Pergi kau brengsek!” ucap dilan.

“Pergi? Pergi kemana?”

“Kamu berilusi? Aku ya kamu dan kamu ya aku” ucap rafa.

“Diam brengsek!”

“Kamu itu yang hanya ilusi!!!!”

“Hanya ada aku! Tidak ada yang lain!!!!!”

“Imajinasiku yang membentuk karakter dirimu dilan”

“Setiap kali aku terbayang karaktermu, imajinasiku semakin bertambah liar”

“Tapi sekarang, aku sadar…”

“Apa maksudmu hah!?” ucap dilan kemudian meninju cermin di depannya.

“Sekarang aku sadar jika aku terus mengalah pada dirimu dan yang lainnya, tujuan hidupku tidak akan pernah terlihat ujungnya”

“Hidupmu kamu bilang!? Jangan bercanda brengsek!”

“Hidupmu ya hidupku! Dan hidupku ya hidupmu!” teriak dilan pada seseorang dihadapannya yang dia lihat sebagai rafa.

“Tidak, ini hidupku” jawab rafa.

“Kalian hanyalah pecahan memori yang kubentuk dan semakin berkembang sesuai dengan apa yang kuimajinasikan”

“Yang aku tahu, kita saat ini hanya sama-sama mempunyai mimpi yang sama”

“Mimpi untuk bisa menguasai tubuh ini sepenuhnya”

“Selama ini aku selalu mengalah padamu, dan semua itu kulakukan karena kakek”

“Tapi sekarang kakek sudah pergi”

“Jangan bawa-bawa pak tua itu brengsek! Kamu gak pantas!!!!!” teriak dilan sambil kembali meninju kaca itu dengan tangannya.

“Tidak, aku lebih pantas dari yang kamu pikirkan dilan”

“Hanya karena kamu yang tidak mau mengakuinya”

“Dan sekarang sikapmu semakin membulatkan tekadku”

“Karenamu kakek meninggal!!!!” kali ini rafa yang berteriak.

“Apa maksudmu!? Karena aku!?” kali ini dilan tidak bisa berkata lebih banyak.

“Seandainya kamu malam itu ada di rumah mungkin kamu masih bisa menyelamatkannya!”

“Mulai sekarang tidurlah dilan, biar aku yang menyelesaikan semua masalah ini”

Ucapan terakhir dari rafa semakin membuat karakter dilan merasa terpuruk. Mungkin karena rafa sadar bahwa saat-saat itulah saat-saat terbaik untuk bisa membuat dilan tertidur selamanya dan mengambil alih peran dilan. Atau mungkin juga karena memang karakter rafa semakin menegaskan kalau dirinyalah yang lebih pantas mengambil alih kendali.

Itulah pertama kalinya kedua karakter kami saling berinteraksi satu sama lain. Apakah itu pertanda baik berupa secercah harapan untuk kesembuhan kami? Atau itu pertanda buruk berupa peringatan bahwa kedalaman D.I.D yang kami alami akan semakin membuat kami kesulitan menemukan karakter asli kami yang seharusnya? Entahlah, lebih baik kalian terus saja ikuti jalan cerita ini.

My imagination creates you
And when I see you, I imagine again
On this path with no end
We’re dreaming the same dream
But why can’t we be together?

Selasa, 28 Maret 2014

“Rafa!!!????”

“Rafaaaaaa kamu dimanaaa!!!????” teriak syafira.

“Faaaaaaaaaa!??? Lu dimana?” panggil joni juga.

“Dia dimana sih!?”

“Jon, kamu yakin tadi rafa bilangnya pulang?” tanya syafira pada joni.

“Iya, tadi waktu gua telpon dia bilangnya gitu”

“Lagian kalau dilan gak pernah bohong ma gua, gak tau kalau rafa ya” jawab joni.

Iya, semenjak keanehan yang terlihat padaku saat ketidak percayaanku ketika kakek meninggal membuat joni sadar. Dan pada akhirnya joni berhasil meyakinkan syafira untuk menceritakan semuanya padanya.

“Gua tau lu pasti tau sesuatu kan?” ucap joni.

“Maksud kamu apa?” tanya syafira.

“Sewaktu dilan bilang kalau dia itu rafa” ucap joni lagi.

Review:

“Kek, bangun kek! Kek jangan becanda kek!” ucapku sambil menggoyangkan tubuh kakek lagi.

“Rafa” bisik syafira yang tiba-tiba menghampiriku.

“Syafira? Kamu disini?” tanyaku kebingungan pada syafira

“Kakekku kenapa syafira?”

“Kakekmu sudah meninggal rafa, dia kena serangan jantung tadi malam” ucap syafira.

“Kakek? Serangan jantung?” tanyaku.

“Gak mungkin, kakek gak punya penyakit jantung”

“Dilan jelas banget keliatan beda dalam waktu bersamaan”

“Gua kenal dilan jauh lebih lama dari lu syafira”

“Dan lu harus tau kalau ini bukan pertama kalinya gua melihat dilan aneh kaya gitu” ucap joni.

Syafira terdiam sejenak sembari memandang joni.

“Aku gak tau apa aku pantas ceritain semuanya”

“Mungkin lebih baik kalau dilan sendiri yang nyeritain semuanya ke kamu jon” ucap syafira.

“Dilan mungkin gak pernah bohong sama gua, tapi gua juga sadar ada satu hal yang dia sembunyiin dari gua”

“Dan gua juga gak bisa maksa buat dia cerita. Jadi sampai sekarang gua cuma bisa nunggu dia mau cerita”

“Tapi gua gak nyangka, dibandingkan cerita ke gua, dia lebih milih cerita ke elu” ucap joni dengan nada kecewa.

“Dilan dari awal gak ada niat buat ceritain itu semua”

“Dan jujur aku juga gak tau sepenuhnya”

“Tapi kalau kupikir kenapa dilan belum cerita padamu aku yakin karena dia tidak ingin terlihat lemah”

“Dan kamu harusnya sadar itu kalau kamu memang benar-benar mengenalnya!” ucap syafira.

Joni terdiam setelah mendengar ucapan-ucapan dari syafira.

“Iya, mungkin lu bener”

“Dilan emang kaya gitu, dia gak mau terlihat lemah sesulit apapun kondisinya dia”

“D.I.D!?” ucap joni kaget.

“Iya, kepribadian ganda” ucap syafira.

“Yang kamu liat dan yang kamu denger kemarin itu nyata”

“Saat itu memang karakter rafa sempat muncul” ucap syafira lagi.

“Sialan si brengsek itu!”

“Sejak kapan lu tau ini fira?” tanya joni.

“Sejak aku diculik waktu itu dan dilan yang pertama kali nemuin aku”

“Terus waktu itu kami berdua akhirnya diculik, pimpinan mereka ternyata tau kalau dilan itu D.I.D” jawab syafira.

“Jadi gitu maksud orang itu bilang kalau sebenernya dia cuma pengen tau sejauh apa D.I.D yang dialami dilan ” ucap joni..

“Iya, dan sebenarnya gak cuma ada rafa”

“Tapi juga ada karakter hasan pada dilan” ucap syafira lagi.

“Apa!? Hasan!? Terus mereka juga udah liat semua!?” tanya joni.

“Iya, malah mereka yang memancing supaya karakter-karakter lain itu muncul” jawab syafira.

“Jadi selain ada rafa juga ada hasan, ada berapa lagi karakter selain mereka berdua?” tanya joni lagi.

“Sejauh yang aku tahu cuma mereka berdua”

“Rafa itu karakter cerdas, supel dan aku pernah komunikasi dengannya”

“Sedangkan hasan yang aku tahu dari dilan karakter yang religius dibandingkan karakter lainnya”

“Cuma itu yang aku tahu” cerita syafira.

“Tapi kenapa mereka tertarik pada dilan jon?” kali ini syafira balik bertanya pada joni.

“Entahlah, cuma dilan yang tau” jawab joni.

“Rafaaaaaaa!?”

“Kamu dimana???” teriak syafira lagi.

“Syafira!”

“Kesini!” ucap joni sambil menunjuk ke arah tangga atas.

Syafira dan joni kemudian menaiki tangga itu, dan tidak terlalu jauh mereka melihat ada pintu yang terbuka. Pintu yang langsung terhubung keluar. Ketika mereka membuka pintu itu, ternyata benar ada rafa disana.

“Raffaaaa!?” teriak syafira.

Saat itu rafa hampir saja terjun dari atap rumahnya. Namun setelah mendengar teriakan dari syafira, untuk sesaat rafa terhenti dari percobaannya untuk bunuh diri.

“Aku sudah gak kuat”

“Aku sudah lelah dengan semuanya”

“Rafa kamu bicara apa!?” ucap syafira.

“Rafa!?” tanyaku.

“Rafa sekarang sudah pergi”

“Rafa tidak punya keinginan lagi untuk hidup sekarang” ucapku.

“Maksud lu apa!?” teriak joni.

“Dilan! Lan lu keluar sekarang! Jangan jadi penakut!” teriak joni lagi.

“Rafa, dilan, hasan sekarang sudah tidak punya keinginan lagi untuk muncul”

“Mereka lebih memilih bersembunyi”

“Kupikir jika mereka bertiga sudah tidak ingin muncul lagi maka ini saat yang tepat untuk mengakhiri semuanya” jawabku.

“Tunggu!” teriak syafira.

“Kenapa kamu ingin mengakhiri semuanya? Di dalam kamu bukan cuma ada kamu tapi ada dilan, rafa, hasan. Mereka belum tentu mau mati sekarang”

“Bukankah kamu terlalu egois namanya jika kamu mengakhiri semuanya semaumu?” ucap syafira mencoba mengalihkan perhatianku.

“Boleh aku tau namamu?” tanya syafira lagi.

“Buat apa?” pertanyaan syafira ternyata berhasil memancing perhatianku.

“Aku udah kenal dengan semuanya, kalau boleh aku juga pengan kenal denganmu”

“Gak minat” ucapku.

“Aku kenal rafa, dia bilang dia pengen jadi dokter! Kamu tau?” tanya syafira yang terus berusaha mengalihkan perhatianku.

“Gak mungkin kan dia bisa jadi dokter kalau kamu mau bunuh diri?” bujuk syafira.

“Gak peduli” ucapku lagi.

“Aaaah percuma fira, hey brengsek lu mau bunuh diri? Sini lawan gua dulu!” ucap joni.

“Gak minat”

“Kenapa kamu segitu pengennya bunuh diri!?” syafira berteriak.

“Kenapa kamu seegois ini!? Kamu masih punya banyak orang yang perduli padamu!”

“Ada joni, teman-teman kamu yang lain, kamu juga masih punya aku!”

“Apa untungnya buatmu jika aku hidup di dunia ini?”

“Keberadaanku tidak ada artinya buat orang lain, apalagi kakek juga sudah meninggal”

“Aku juga sudah muak tiap kali dilan, rafa, hasan masing-masing saling berebut untuk muncul!”

“Jadi lebih baik dan lebih adil jika semua tidak ada lagi di dunia ini!”

“Enggak! Pasti ada cara lain selain bunuh diri!” ucap syafira.

“Aku yakin, kamu hanya harus percaya dan berusaha lagi”

“Aku akan bantu menolong kamu, aku janji”

“Kamu bisa apa?” ucapnya.

“Kamu gak akan pernah tau gimana rasanya mempunyai kepribadian ganda”

“Kalau kamu mau bunuh diri lebih baik jangan disitu” ucap seseorang dibelakang kami.

Disaat perhatian syafira dan joni hanya terfokus pada karakter baru dilan dan berusaha membujuknya agar aku mau mengurungkan niatku untuk bunuh diri. Tiba-tiba dibelakang mereka muncul seorang pria. Pria yang sudah tidak asing lagi untuk syafira dan joni, pria yang dari awal mengincar dilan dan memanfaatkan syafira sebagai umpannya.

“Jatuh dari situ masih belum terlalu tinggi”

“Masih ada kemungkinan kamu bakal koma gak sampai mati”

“Kalau kamu mau, aku bisa bantu nyari tempat yang pas buat kamu bunuh diri”

“Bunuh diri motong urat nadi, nusuk pake pisau itu gak ada apa-apanya”

“Aku bisa bantu kamu loncat dari ketinggian 20000 kaki”

“Tanpa pake parasut sudah pasti kamu bakal mati kan?”

“Atau mati di dasar laut jawa kalau kamu mau”

“Aku juga bisa bantu”

“Mati dengan cara-cara ekstrim seperti itu lebih seru sekarang” ucap pria itu sambil tersenyum

“Kamu mau apa!?” teriak joni.

“Aku gak ada urusan denganmu” ucap pria itu.

“Tapi aku punya!” ucap joni kemudian berlari mencoba memukul pria itu.

“Jon, jangan!” teriak syafira.

“Mau pergi sekarang atau mau kubikin pergi selamanya?” ucap pria itu sambil menodongkan pistolnya pada joni.

“Aku kesini buat ngejemput dia”

“Kali ini karakter baru ya kan?” ucap pria itu.

“Kamu siapa?” tanyaku pada pria itu.

“Kalau mau tau ikutlah denganku” jawab pria itu.

“Jangan!” tahan syafira.

“Dia orang jahat! Dia pernah berusaha melukai dilan”

“Melukai dilan?” tanyaku pada syafira.

“Iya, aku melihat sendiri” jawab syafira.

“Kenapa kamu mau melukai dilan?” sekarang aku bertanya lagi pada pria itu.

“Aku tidak berusaha melukai dilan, aku hanya mencoba mengobservasi kalian”

“Aku bukan tipe orang yang suka melukai orang lain, kalau aku memang gak suka ya tinggal kubunuh”

“Apa susahnya?” ucap pria itu.

“Observasi untuk apa!?” tanya syafira.

“Dengar nona, aku gak ada kewajiban buat memberi tahumu”

“Lagipula tau lebih jauh tidak baik untukmu” jawab pria itu.

“Kamu masih belum bisa membujuknya rei?” ucap seorang wanita yang kali ini baru datang.

“Ah iya maafkan saya bu, sebentar lagi”

“Seharusnya ibu tidak perlu sampai kemari” ucap rei pada wanita itu.

“Gak papa, sudah saatnya aku melihat anakku” ucap wanita itu.

“Anak?” ucap joni bingung.

“Iya, teman kalian itu anakku” ucap wanita itu sambil menunjukku.

“Aku? Anakmu?” tanyaku bingung.

“Iya, kamu adalah anakku. Dan aku adalah ibu kandungmu” ucap wanita itu lagi.

“Jangan bohong, ibuku sudah meninggal!”

“Meninggal? Ah pasti pak tua itu yang bilang padamu ya”

“Jangan percaya padanya anakku, dia berbohong padamu”

“Kamu mau tau yang sebenarnya?”

“Ikutlah denganku anakku” ucap wanita itu.

“Jangan! Jangan percaya padanya, kakekmu gak mungkin bohong padamu!” ucap syafira sambil berusaha memegang tanganku agar aku tidak pergi.

“Bu, cewek itu mau saya apakan?” tanya rei pada wanita itu.

“Jangan rei, jangan. Melukainya hanya akan membuat dilan marah”

“Lebih baik kalau dilan jangan muncul sekarang” jawab wanita itu.

“Apa hubunganmu dengan dilan?” tanyaku.

“Siapa namamu?”

“Syafira” jawab syafira.

“Baiklah syafira, ini pertama kalinya aku tau kalau dilan punya hubungan dengan seseorang”

“Kamu bilang kamu mau membantuku?”

“Kalau gitu coba bantu aku jika suatu saat kita bisa bertemu lagi”

“Saat ini rasa ingin tahuku lebih besar dari rasa ingin bunuh diriku, aku ingin tahu apa benar dia ibuku”

Dan aku kemudian melepaskan pegangan syafira. Dan berjalan mendekati wanita yang mengaku sebagai ibuku itu. Namun kali ini giliran joni yang menahan diriku agar tidak terbujuk hasutan wanita itu.

“Lu gak boleh pergi!”

“Dilan gak akan pernah percaya kata-kata orang lain selain kata-kata kakeknya” ucap joni.

“Sayangnya aku bukan dilan”

“Aku punya hak untuk tau semuanya”

“Keputusan kamu tepat sayang” ucap wanita itu.

“Dilaaaann! Rafaaaaa! Hasaaaaan! Aku mohon muncullah kalian!”

“Syafira”

“Sudah kubilang kalau mereka bertiga sudah tidak ingin muncul lagi”

“Harusnya kamu senang aku ikut mereka, aku jadi menunda rasa ingin bunuh diriku”

“Ah ya, satu lagi”

“Namaku alfurqan

“Sekarang kamu udah kenal kan” ucapku tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan joni dan syafira bersama rei dan wanita itu.

Selasa, 15 Maret 2016

“Syaafiirraaaa”

“Ini tasmu ketinggalan” teriak dea.

“Ah iya aku lupa” ucap syafira yang kemudian mengambil tasnya.

“Kamu sih rajin banget mau-maunya gantiin rio, kan jadi long shift gini” ucap syafira.

“Udah gak papa kok, hehe”

“Gak papa gaka papa gimana, buktinya kamu jadi pucet kaya gini”

“Udah kamu pulang dulu aja, nanti kamu shift malem lagi kan”

“Iyaa” ucap syafira.

“Kalau kamu capek bilang aja nanti aku bantu cari gantinya, kalau gak ada ya gak papa aku juga bisa bantu”

“Udah gak papa, ntar maghrib juga udah seger lagi”

“Ya udah hati-hati pulangnya” ucap dea.

“Iyaaaaa, aku pulang yaaa”

“Aaaaahhhhhh!” teriak syafira ketika dirinya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dari belakang.

“Liat-liat kalau jalan!” teriak pengendara motor yang hampir menabrak syafira tadi.

“Good morning” ucapku tersenyum sambil melepaskan peganganku padanya kemudian melepaskan kacamata hitam yang kupakai.

“Kamu…”

“Dilan?”

“Rafa?” tanya syafira bingung.

“Kamu maunya siapa?”

“Mulai sekarang jadikan aku heroin dalam hidupmu” ucapku tersenyum.


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset