Yes, I am D.I.D episode 9

Chapter 9 : Rafa atau Dilan?

“Haaaiiiiiii”

“Mau kenalan denganku?”

“Kuberitahu kalian kalau dari semuanya aku lah yang paling menyenangkan, paling baiikk, paling imuuttt…”

“Kenapa muka kalian seperti itu!?”

“Kalian gak percaya?”

“Masih minta bukti? Kalau aku baca dari catetan ini harusnya kalian sudah cukup jauh mengikuti jalan cerita kisah kami”

“Trus kalian masih minta bukti?”

“Kalian harusnya kembali ke taman kanak-kanak aja kalau seperti itu!”

“Baiklah, karena ini pertemuan pertama kalian denganku…aku akan ngejelasin lagi dari awal”

“Pahami dan ingat baik-baik! Lain kali kita bertemu lagi, aku gak akan mau ngasih tau kalian lagi!”

“Jika kalian aku tanya siapa yang kalian pikirkan pertama kali tentang kami?”

“Alf?” (Alfurqan)

“Hhhmm, aku tau kalian pasti masih penasaran dengan dirinya”

“Diaaa itu, ngeselin! Sumpah ngeselin banget!”

“Maunya sesuka hatinya! Masa orang masih mau hidup dia mau mati!?”

“Kalau mau mati ya mati sendiri aja gak usah ngajak-ngajak!”

“Bego apa dia ya!?”

“Kak hasan”

“Iya? Kenapa dengan kak hasan?”

“Kak hasan itu orangnya kurang supel”

“Tapi aku paling suka dengan dirinya”

“Cuma kak hasan yang gak pernah marahin aku!”

“Kalau dia muncul juga gak macam-macam kaya si alf!”

“Hhhmm, apalagi ya?”

“Didunia ini cuma ada satu tempat favoritnya”

“Kalian tau pasti? Iya bener, mesjid”

“Padahal apa cobanya ramenya disana? Mending kita nonton atau karaoke? Aaahhh, akuu mauuuu!”

“Rafa?”

“Dia? Pintar?”

“Ah kalau dia bener pinter, udah dari lama dia bisa nguasain tubuh ini”

“Aku benci rafa”

“Kenapa dia bersikeras kalau cewek itu gak boleh diapa-apakan!?”

“Kalau aku ketemu cewek itu sudah kujambak-jambak dia!”

“Aaaarrrggh, awas aja ya nanti kalau ketemu!”

“Terakhir….”

“Gak usah lah ya, males aku ngomongin dia”

“Sumpah selain alf, cuma dia yang paling ngeselin!”

“Kasar banget dia orangnya! Sok cool!”

“Tau gak kalian?”

“Dulu watu dia SD, dia pernah dapat angka 5 di rapornya buat pelajaran matematika”

“Terus karena takut sama kakek, dia malsuin tanda tangan kakek!”

“Hahahaha….hahahaha….hahaha”

“Dia bego banget ya!?”

“Tapi lucunya lagi masa gurunya gak protes?”

“Ketauannya malah pas pembagian rapor berikutnya, kakek baru nyadar kalau tanda tangannya dia beda”

“Hahahaha…”

….

“Adduuuhhh!”

“Apa sih!? Kamu yang berisik!”

“Emang aku bohong!?”

“Kan emang kaya gitu!”

“Apa!? Apa!? Kamu mau apa!?”

“Sini aku gak takut sama kamu!”

“Aaaarrrggghh sakiiitttttt ih”

“Aku baru sebentar juga bisa muncul…”

“Aaarrrgghhh dilaaaaaaaan! Aku masih belum…ke bioskop! Aku masih belum…beli baju!”

….

“Dasar berisik”

“Kamu dari tadi jelek-jelekin orang aja”

“Gak nyadar kalau kamu yang paling ngeselin?”

….

“Apa sih dilan!?”

“Aku gak akan biarin kamu muncul!”

“Kamu terlalu cepat percaya pada wanita itu”

“Kakek gak mungkin ngelakuin itu semua ke kita dilan!”

“Gak mungkin!”

“Apa!? Aku ngomong gitu karena aku terharu pada kakek?”

“Aku akan buktiin kalau kakek bukan orang jahat!”

“Dan ingat dilan!”

“Jangan pernah berani sedikitpun melukainya!”

“Kamu berani melukainya, aku bersumpah akan menghancurkanmu!”

“Gak perduli kalau itu artinya aku juga harus hilang!”

“Kalau aku gak bisa ngelakuinnya, maka apapun caranya bakal kulakuin! Alf pasti akan senang kalau aku mau membantunya kan!?”

Dan waktu pun berlalu sangat cepat. Tidak terasa sudah 2 tahun semenjak rentetan-rentetan peristiwa yang tidak bisa kulupakan itu terjadi. Dalam 2 tahun ini aku berusaha keras agar kepribadian-kepribadian lain tidak muncul lagi.

Kupikir, jika terus seperti ini maka akulah yang akan menjadi heroin dalam cerita ini…

“Syafira, sebentar lagi…”

“Tunggu aku…”

Minggu, 13 Maret 2016

“Rei”

“Sudah kubilang jangan ada yang mengikutiku lagi” ucapku.

“Perintah ibu prioritas” jawab rei di telepon.

“Sayangnya dia bukan ibuku”

“Sayangnya juga kenyataannya memang beliau adalah ibu anda” balas rei lagi.

“Kalian gak akan pernah bisa memaksaku untuk mempercayainya”

“Kami tidak memaksa anda, yang ada hanyalah hati anda yang saat ini terlalu lembek sehingga tidak mau menerima kenyataan”

“Ah sudahlah, aku sedang malas berdebat”

“Gimana? Sudah ada kabar?” tanyaku.

“Maksud anda berita tentang syafira?”

“Iya”

“Sudah, tapi boleh saya bertanya dulu kenapa sekarang anda berniat ingin bertemu dengannya?”

“Kupikir sekarang sudah waktunya”

“Anda yakin?”

“Saat ini anda sudah bisa menguasai diri anda selama 2 tahun, bertemu dengan syafira mungkin saja akan membuat kepribadian lain muncul kembali”

“Iya, aku tahu”

“Syafira sekarang bisa saja menjadi trigger buatku”

”Tapi kemungkinan masih 50:50”

“Jika rencana ini sukses kepribadian lain gak akan muncul lagi”

“Jika gagal maka anda mungkin saja tidak bisa muncul lagi”

“Terlebih lagi jika dilan muncul kembali”

“Berhenti rei! Jangan sebut namanya!”

“Anda takut jika dilan muncul kembali?”

“Aku gak peduli kalau aku akan menghilang”

“Asalkan dia jangan muncul lagi”

“Dan kalau dia muncul, aku menagih janjimu untuk mengamankannya rei”

“Iya, saya mengerti”

“Tapi saya harap anda juga tetap menjaga janji anda” ucap rei.

“Iya, aku tahu”

“Karena itulah selama ini aku selalu membiarkanmu melacakku” jawabku.

“Berikan aku informasi detailnya via email”

“Aku males melihat mukamu”

“Ya, segera saya kirimkan” balas rei.

Selasa, 15 Maret 2016

“Good morning”

“Kamu…???”

“Dilan?”

“Rafa?” tanya syafira.

“Kamu maunya siapa?” ucapku tersenyum.

“Rafa? Kamu rafa kan!?”

“Iya, kamu rafa! Kamu jahat!”

“Kamu kemana aja selama ini!?”

“Aku dan joni nyariin kamu kemana-mana!”

Dan syafira pun menangis sambil memukul-mukul diriku.

“Bukan aku yang memilih pergi”

“Kamu juga melihatnya sendiri kan? Saat itu bukan aku”

“Aku sudah manggil-manggil kamu! Dilan juga!”

“Tapi kalian gak mau muncul!”

“Aku takut rafa, aku takut kalau kamu sama dilan gak akan muncul lagi”

“Aku juga takut kalau alfurqan berbuat macam-macam lagi!”

Aku menyeka air mata di pipinya.

“Ya udah ikut aku yuk bentar” aku kemudian menarik tangannya untuk ikut bersamaku.

“Jadi selama ini kamu kemana aja?”

“Sejak kapan kamu muncul lagi?”

“Terus kenapa waktu kamu muncul kamu gak langsung ngehubungin joni atau aku!?”

“Rafa? Rafa ih ditanya juga malah bengong!” ucap syafira kesal.

“Aku bingung mau jawab yang mana”

“Kamu nanyanya gak berhenti-henti” jawabku sambil tersenyum.

“Rafa apa dilan juga pernah muncul lagi?”

“Rafa?”

“Mulai sekarang gak usah ngomongin dia lagi”

“Kenapa?”

“Selama 2 tahun ini aku sudah berusaha mengendalikan emosiku”

“Dan usahaku cukup berhasil, kepribadian lain hampir jarang muncul”

“Termasuk itu dia”

“Jadi dilan gak pernah muncul lagi setelah kakek kalian meninggal?”

“Sudah kubilang kan kalau aku gak ingin dengar namanya!?”

“Iya, maaf”

“Dia pernah muncul lagi setelah kakek meninggal”

“Dilan pernah muncul lagi? Kapan?”

“Kayanya kamu merindukan dia ya?”

“Ah, enggak gitu…”

“Pertemuanku terakhir dengannya waktu di rumah sakit itu sampai nganterin dia ke rumah”

“Melihat untuk pertama kalinya dilan yang pendiam, emosian seperti biasanya sekarang menangis didepan jenazah kakek masih keinget jelas di pikiranku”

“Kenapa? Kamu marah aku ngomongin dilan?”

“Sudahlah, aku gak ingin ngebahasnya lagi”

“Yang jelas sekarang aku lah yang dominan”

“Dan apapun caranya aku akan berusaha bertahan sampai akhir sampai mereka gak muncul lagi”

“Tapi rafa…”

“Kamu senang melihat kami keluar secara bergantian?”

“Kamu tau rasanya punya kepribadian ganda!?”

“Maaf rafa…”

“Sudahlah”

Kamis, 17 Maret 2016

“Radit, habis makan aku langsung pulang ya?” ucap syafira pada pacarnya.

“Kok langsung pulang sih? Kan kita masih bisa nonton atau kemana gitu?”

“Tapi aku lagi capek radit”

“Capek kenapa?”

“Kita udah lama lho gak jalan bareng lagi”

“Kamu selalu sibuk sama kerjaan kamu”

“Nanti-nanti kan kita masih bisa jalan?”

“Syafira?”

“Iya kenapa?”

“Sebenarnya kamu serius gak sih sama aku?”

Tidak lama kemudian tiba-tiba seseorang dengan motor datang dan berhenti di depan mobil yang ditumpangi syafira dan radit.

“Dilan” ucap syafira.

“Dilan? Dilan siapa?” tanya radit.

Pria yang menaiki motor itu kemudian turun dari motornya, melepaskan helmnya, kemudian berjalan ke arah mobil itu dan membuka pintu penumpang mobil itu.

“Hai syafira” ucapku.

“Dilan?”

“Maaf kamu siapa?” tanya radit.

“Aku?”

“Hhhhmm siapa ya?” ucapku.

“Dilan?” tanya syafira lagi.

“Tuh katanya namaku dilan” ucapku ke radit.

“Kalian mau kemana?” tanyaku sekarang ke syafira.

“Aah, iya aku mau jalan sama radit” jawab syafira.

“Oh jadi namanya radit?”

“Halo radit” ucapku sambil mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.

“Ya, dilan ya? Radit, cowoknya syafira” balas radit.

“Pacar?”

“Kalian pacaran?” tanyaku pada syafira.

“Sejak kapan?” tanyaku pada radit.

“Udah lama, kenapa memang?” jawab radit.

“Jadi kamu selingkuh?” tanyaku ke syafira.

“Selingkuh?” tanya syafira malah bingung.

“Maksud kamu apa?” tanya radit.

“Jadi kamu gak tau juga? Syafira dan aku pacaran juga”

“Wah syafira!? Ternyata kamu ya?”

“Ya udah sekarang kamu pilih aku atau dia!?” tanyaku ke syafira.

“Syafira ini maksudnya apa? Itu bener!?” tanya radit juga ke syafira.

“Radit, bukan gitu! Dilan mau kamu apa sih!?” tanya syafira padaku.

“Mau aku ya simpel, sekarang kamu pilih dia atau aku?”

“Dilan!?” teriak syafira marah.

“Sudahlah syafira, sekarang kita udahin aja”

“Udah terjawab pertanyaanku, pantes aja kamu kayanya gak serius” ucap radit.

“Wah, jadi kamu ngerasa syafira gak serius sama kamu dit?”

“Jangan-jangan syafira kaya gitu cuma ngebikin kamu jadi pelariannya aja?”

“Radit? Kamu ngapain?” ucap seorang cewek yang tiba-tiba datang menghampiri kami.

“Lia? Kamu kok disini?”

“Aku mau ketempat nindy terus liat mobil kamu”

“Cewek ini siapa?” Ucap lia lagi.

“Oh cewek ini syafira”

“Dia pacarnya radit” ucapku.

“Bohong-bohong, dia pacarnya kamu kan?” ucap radit gugup.

“Bentar-bentar jadi cewek ini pacarnya siapa?” tanya lia bingung.

“Kalau dia bukan cewek kamu terus ngapain dia di mobil kamu dit bukannya dia sama cowok itu?” kali ini lia bertanya pada radit.

“Kamu siapa?” kali ini tanya syafira ke lia.

“Aku lia tunangannya radit”

“Nih cincin kami” ucap syafira sambil memperlihatkan cincin di jarinya.

“Radit juga ada kan cincinnya?” ucap lia sambil memegang tangan radit.

“Radit, cincin kamu kemana?” tanya lia lagi setelah tidak menemukan cincin radit.

“Ah itu…”

“Oh jadi kalian udah tunangan?” ucap syafira.

“Ayo dilan kita pergi” ucap syafira padaku.

“Ya udah” balasku.

“Tunggu syafira” ucap radit.

“Radit! Cincin kamu kemana!?”

Tidak mau berlama-lama disitu aku dan syafira pergi meninggalkan pasangan itu berdua.

“Untung aku datang ya”

“Makanya lain kali kalau milih cowok itu hati-hati” ucapku.

“Dilan, berhenti sebentar”

“Kenapa?”

“Udah berhenti aja”

Setelah turun dari motor, syafira kemudian mendekatiku kemudian menamparku!

“Mau kamu apa!?”

“Kenapa kamu pura-pura jadi dilan!? Bukannya kamu bilang kamu gak mau aku membahas dilan!? Tapi kamu sendiri malah menjadi dia di depanku!?” ucap syafira.

“Udah sadar ya ternyata” ucapku.

“Aku cuma mau liat kamu masih bisa bedain aku sama dilan apa gak”

“Dan kalau kamu masih bedain ya syukur”

“Selanjutnya ya aku cuma pengen di pikiranmu kalau image dilan itu ya aku” ucapku

“Kamu tau rafa? Dilan gak mungkin kaya kamu tadi!?”

“Dia gak mungkin repot-repot mau ngerusak hubungan orang lain” jawab syafira.

“Kamu lupa ya?”

“Dilan ya aku, aku ya dilan”

“Hasan juga, alfuran juga”

“Mereka semua ya adalah aku! Mereka hanya kepingan-kepingan karakter yang aku buat sendiri”

“Dan apa salahku kalau aku berusaha terlihat seperti mereka?”

“Ah ya, ngerusak hubungan kalian?”

“Oke, aku akuin aku agak kelewatan di awal”

“Tapi kamu juga sadar kalau akhirnya cowokmu itu, maksudku mantan cowokmu itu sudah tunangan dengan cewek lain?”

“Kamu bisa pulang sendiri kan?”

“Tiba-tiba aku jadi males bonceng orang” ucapku kemudian menyalakan motorku.

Sebelum aku pergi meninggalkan syafira disitu sendirian. Tiba-tiba diseberang jalan aku melihat seseorang yang tidak asing lagi bagiku. Seseorang yang sampai saat ini menjadi perdebatan untukku dan juga dilan pada keberadaannya.

“Kakek?” ucapku.

“Kek? Kakek?” kali ini aku berteriak berharap kakek dapat mendengarku.

“Aaaarrrggghhhh”

“Sialaannn…”

Tiba-tiba aku merasa sangat pusing, rasa sakit yang juga sudah tidak asing lagi kurasakan. Salah satu pertanda yang biasanya akan terjadi jika kepribadian lain akan mencoba muncul menguasai diriku. Meski aku sudah berusaha menahan rasa sakitku saat itu, pada akhirnya aku kalah dan kemudian terjatuh pingsan.

“Rafa!?”

“Rafa!?” Panggil syafira.

“Jangan panggil nama sialan itu” ucapku yang sudah mulai terbangun dari pingsan.


cerbung.net

Yes, I am D.I.D

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
D.I.D atau Dissociative Identity Disorder, kalian pernah mendengarnya? Kalau kalian mengatakan belum pernah maka aku pikir kalian akan langsung mengerti dengan Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda , ya itulah gw.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset