Yogyakarta episode 1

Prologue

Jln. Malioboro

Hening menyusuri jalan malioboro yang masih ramai meski sudah menunjukkan tengah malam. Di kiri kanan jalan itu di penuhi oleh dua generasi yang asik menikmati romantisme malam kota Yogyakarta. Mereka duduk lesehan sambil menikmati makanan ataupun minuman yang murah meriah nan menggugah selera, sambil Diiringi lagu – lagu romantis dari para pengamen jalanan. Tak berlebihan memang jika kota ini di favouritekan oleh para traveller untuk di kunjungi, ataupun para pelajar untuk menimba ilmu di kota yang mempunyai julukan kota gudeg itu. Hening sejenak berdiri terpaku di satu sudut jalan itu, melintas serpihan kenangan-kenangan masa lalunya dikota yang tidak pernah berhasil dia lupakan itu. Hening menyimpan senyum kecutnya di ujung bibir, sambil kembali melangkah menyusuri jalan menuju hotelnya, angin malam lembut menyentuh wajah pucatnya, hening terus melangkah sambil merapatkan jaketnya.

Sesampainya di kamar hening merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Hening masih tak bisa membuang bayangan wajah itu dari ingatannya. Hening memejamkan matanya, ia berusaha menghindari ingatannya itu tetapi sia-sia. Hening bangkit menuju meja rias yang ada di ruangan itu, hening meraih ponselnya, dia membuka phonebook, sesaat hening menatap lekat sebuah nama dalam ponselnya itu, hening menekan “call” untuk memastikan apakah nomor itu masih aktif, ternyata nomor itu masih aktif.

“Hallo…”

suara di ujung telpon itu masih sangat familiar untuk hening, tangan hening gemetar yang membuat ponsel itu jatuh.

“Oh, bodohnya saya ya Allah!”.

Gerutu hening meraih ponselnya sambil mematikan panggilanya. Hening duduk sambil menatap diri dalam cermin dihadapannya. Beberapa saat hening menutup wajahnya dengan tangan.

“Ya Allah kenapa saya ini, ya allah… ah mandi mandi…!!!”.

Ujar hening sambil meletakkan ponselnya lalu dia melangkah ke kamar mandi.

Setelah mandi dan sholat hening keluar dari kamarnya menuju lobby hotel untuk bersantai. Hening memilih duduk disudut ruangan yang diset redup itu, suara penyanyi jazz sedikit berat tapi cozy. Tiba-tiba ponsel hening berdering betapa terkejutnya hening ” mas Bima calling”, hening benar-benar gugup dibuatnya, hening menekan accept,

” Hallo Hallo. ..siapa ini ya?”.

Suara pria di ujung telepon itu yang membuat hening tak tahu harus menjawab apa.

” Iya Hallo,”…. suara hening bergetar.

Bima: “Ai hallo ai!!”.

Suara di ujung telpon itu masih mengenali suara hening.

Hening: “I iya saya,”.
Ujar hening tergagap.

Bima: “Pie kabar mu ai? Sehat po, ndi to ai wes Bali nang Indonesia po? “.

suara pria itu begitu antusiasnya.

Hening: “Iya mas sudah,”.

Bima: “sak iki nang ndi?”.

Hening: “nang yogya mas,”.

Bima: “Hah ko ya Ra ngabarin loh, tinggal ndi, tak parani yo?”.

Hening: “ndak usah mas,”.

Bima: “Loh ngopo aku pengen ketemu ai loh?”.

Hening: “ndak apa-apa mas. Mas boleh saya bertemu ibuk besok?”.

Bima: “iyo oleh, jam piro tak jemput yo?”.

Hening: “ndak usah mas biar saya naik taksi saja, kirim kan alamat rumah saja,”.

Bima: “Oke tak kirim yo,”.

“Terimakasih mas”.

Hening mengakhiri pembicaraannya, dan menutup teleponnya.
Setelah menghabiskan minumnya hening segera bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat agar esok bisa bangun lebih pagi.

Pagi…

Semburat warna langit pagi Yogyakarta hari itu begitu cerah. Setelah selesai menghabiskan breakfastnya hening segera meninggalkan ruangan itu untuk kembali kekamarnya. Hari itu dengan dibalut hijab pink lembut hening meninggalkan hotelnya menuju rumah sakit sarjito untuk meeting, saat menuju Pintu keluar hening sejenak mampir ke meja receptionist untuk menanyakan dimana florist shop, setelah diberi alamat oleh mbak receptionist hening segera berlalu.

Tepat pukul 13:40 hening selesai meeting segera meluncur menggunakan taksi menuju kotagede, hati hening sangat gugup antara takut dan rindu.

“Pak mampir ke jalan ini dulu ya,”.
Ujar hening sambil menunjukan kartu nama florist shop yang di berikan oleh receptionist tadi. Setelah mengerti sopir taksi itupun menuju jalan yang di dimaksud hening.

“Mbak mau bunga untuk pacar, suami atau ?”.
Sapa penjaga Toko itu ramah pada hening.

“Saya butuh bucket bunga untuk ibu saya,”.
Ujar hening pada mbak penjaga itu lalu wanita itu menunjukan contoh – contoh bucket bunga pada hening, dan hening memilih bucket bunga carnations warna pink.

“Eh ini sewarna sama baju yang mbak pakai ya?”.
Ucap wanita itu sambil meraih bunga yang hening tunjuk.

“Oh iya ya,”.
ujar hening Tersenyum.

“Wah senenge ibune njenengan mbak yo?”.
ujar wanita itu lagi.

“Hmmm aamiin mudah-mudahan ya mbak,”.
Hening sambil menyerahkan uang pembayaran.

“Okay thank you ya mbak,”.ujar hening sambil meninggalkan Toko itu sambil memeluk bucket bunga carnations memasuki taksi yang sudah menunggunya.

Hening: “Ayo pak kita lanjutkan lagi,”.

Sopir taksi: “Bungane ayu mbak, buat pacarnya to ?”.

Hening: “Mboten pak, niki buat ibuk,”.

Sopir taksi: “ohh, tak kirain,”.
Ujar pria kurus itu sambil tersenyum, sambil melajukan taksinya.

Selama perjalanan hening hanya berdoa semoga ibuk tidak berubah.

“Mbak kita sudah sampai ini,”.
ujar sopir taksi itu tepat di halaman rumah mungil yang tidak berubah itu. Tampak seorang wanita paruh baya sedang melayani pembeli di warung kecilnya itu, “ibuk” bisik hening pelan ada perasaan ragu dalam hati hening saat akan turun dari taksi, tapi hening menepis perasaan ragu itu.

“Eh iya pak, niki,”
Hening menyerahkan lembar uang pada sopir itu, kemudian hening keluar dari taksi dengan perasaan yang tak karuan. untuk sejenak hening tertegun ketika didepan pintu pagar itu.

“Assalamualaikum ibuk,”.
Sapa hening dan wanita setengah baya itu menatap hening tajam dan bingung..

Ibu: “iki sopo yo?”.
Wanita itu hampir tak mengenali perubahan dalam busana hening.

Hening: “saya airine bu teman mas bima,”.
ujar hening sambil menyerahkan bucket bunga.

Ibu: “Eh oalah ibuk inget yang dulu tomboy itu loh ya?”.
ujar wanita itu tersenyum sambil memeluk hening.

Hening: “injih buk”.
Hening tersenyum malu.

Ibu: “Ayo masuk nak, Le iki loh ono koncomu le,”.
(Ibu memanggil putranya itu dan muncul mas bima dan seorang wanita).
“Le iki loh sing bingen tomboy loh sak iki kemayu ayu, niki nggowoke ibuk kembang loh,”.
ibuk memamerkan bucket bunga pada mas bima dan istrinya.

Nawang: “Heii mbak airine,”.

Sapa wanita mungil disamping mas bima, entah hati hening berdesir pedih ketika menjabat tangan wanita itu.

Hening: “Heii iya,”.

Mas bima tersenyum melihat hening gugup saat matanya beradu pandang dengan pria yang dia ingin dia lupakan itu. Cepat hening memalingkan wajahnya ketika sadar istri mas bima memperhatikan mereka berdua.

Bima: “ai apa kabar,”.
suara mas bima bergetar.

Hening: “Alhamdulillah saya baik mas,”.

Ibu: “ibuk buatkan kopi gih nduk, Le tuku kipo gih sudah buka pastine”.

Ujar ibuk lagi pada mas bima, hening sangat terharu wanita itu masih ingat jajanan kesukaanya itu.

Hening: “ibuk terimakasih sudah tidak usah repot bu,”.

Ibu: “Ga apa sudah lama nak tidak kesini pastinya rindu ya?”.
ujar wanita itu lagi, lalu sejurus kemudian mas bima mengeluarkan sepeda yang dulu mereka gunakan berdua menuju kepasar kota gede itu. Hening memandang pria itu dan mas bima pun tersenyum.

Bima: “ayo ai mau ikut beli ?”.

Hening terkejut mendengar itu dan seketika hening menatap istri mas bima yang mulai memerah itu.

Hening: “Oh ndak usah biar mas aja,”.

Bima: “Yo wes”.
lalu mas bima meninggalkan mereka.

Hening: “Buk sibuk tidak, saya ingin ajak ibuk keluar mau ya?”.
ujar hening pada ibu.

Ibu: “mau kemana nak?, ibuk sudah tua ga bisa jalan-jalan jauh lagi”.
ujar wanita itu sambil menyentuh bahu hening lembut.

Hening: “saya hanya ingin mengajak ibuk ke suatu tempat aja bu,”.

Ibu: “berdua saja?” Ujar ibuk.

Hening: “Iya kita berdua saja,”.

Ibu: “Baiklah ibuk ganti baju dulu ya”. tampa di duga wanita itu menyetujui ajakan hening dan hening sangat senang.

Hening: “matur nuwun sanget buk”.
ujar hening gembira.

lalu wanita itu meninggalkan hening dan istri mas bima berdua yang nampak canggung itu.

Nawang: “Mbak sedang liburan ya?”.

Hening: “Tidak saya sedang ada tugas disini mbak”.

Nawang: “Mbak saya minta maaf,”.

Hening: “Heii sorry for what ?”.

Nawang: “Saya dan mas bima,”.
(wanita itu berkaca-kaca).

Hening: “Sudahlah, tidak ada yang perlu di Maafkan, saya juga sudah melupakan itu,”.
(ada rasa pedih dalam hatinya).

Hening: “Mbak masih sayang sama mas bima? “.

Hening: “Mbak ngomong apa, sudahlah saya sudah memiliki kehidupan baru mbak,”.

Nawang: “Mas bima masih menyimpan tentang mbak, dia masih sayang sama mbak,”. ucap wanita itu lagi.

Hening: “Sudahlah dia sudah jadi suami mbak kenapa masih ragu? Saya dan mas sekarang hanya sebatas teman mbak jangan di ambil hati,”. hibur hening.

Nawang: “Tapi mbak…..” …..belum selesai wanita itu bicara, muncul mas bima dengan bungkusan kue kiponya.

Dengan antusiasnya hening menyantap jajanan romantis itu.. #(sebenarnya bukan jajananya yang romantis tetapi pas pergi mau belinya dulu yang romantis).

Tak lama ibuk muncul dengan dandanan sederhana nan anggun.

Bima: “La ibuk mau kemana to?”

Tanya mas bima melihat ibunya berdandan rapih.

Hening: “Saya ingin mengajak ibuk keluar mas” ujar hening.

Bima: “Kemana? “.

Hening: “Urusan perempuanlah”.
ujar hening lagi sambil tersenyum yang di iya kan oleh ibu.

Bima: “yo wes hati-hati ae”.

Tak berapa lama taksi yang hening pesan telah sampai di depan rumah itu.

Hening: “Okay mari buk, kami permisi dulu” ujar hening sambil menggandeng wanita baya itu,mas bima dan istrinya hanya saling pandang.

Hening: “Pak kita ke gallery mall ya” pinta hening pada sopir taksi.

Pak sopir: “injih mbak”.

sahut sopir taksi itu dan taksi itupun melaju kearah mall terbesar di kota Yogyakarta itu…


cerbung.net

Yogyakarta

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2016 Native Language: Indonesia
Perkenalkan nama dia hening, Hening adalah wanita indonesia yang menetap di negara tetangga. Dan beberapa waktu lalu dia pulang untuk berlibur di negara tercintanya. Temu kangen dengan sahabat - sahabatnya termasuk mantan calon mertuanya. Selamat datang di kisah klasik tentang cinta di atas kata "Perbedaan".

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset