Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo. episode 22

(Test I) Demit Alas Ireng.

Dengan segera, menggunakan darah yang keluar dari mulutnya sendiri, Lusman segera memanggil dua sosok penjaga gaibnya, yaitu dua genderuwo dari alas Ireng. Membuat keadaan di sana semakin mencekam.

“Lusman, kau memang benar-benar sudah kelewat batas. Kau bahkan menggadaikan dirimu sendiri kepada demit Alas Ireng itu,” kata Wisnu semakin geram dengan tingkah Lusman. “Demi Asma Tuhanku yang Agung, sebelum demit-demit dari alas angker itu mengambil tumbal di desa ini, akan aku habisi kau bersama mereka di sini sekarang juga!”

“Cuih! Wisnu busuk! Kau pikir gampang melakukannya? Jangan harap kau bisa mengalahkanku seperti waktu kita berada di ponpes Miftakhul Huda.” Jawab Lusman lantang penuh percaya diri. “Wahai budak genderuwoku, cepat kalian habisi pemuda sombong itu. Siapapun yang berhasil membunuhnya, maka aku akan menikahkannya dengan perawan desa Lenggor Jati sini.”

Akhirnya kedua genderuwo itu melesat menyerang kak Wisnu dengan kekuatan mereka. Kak Wisnu terus bergerak ke sana ke mari berusaha menghindari serangan kedua genderuwo sakti itu. Sampai akhirnya salah satu pukulan genderuwo itu berhasil mendarat tepat di kaki kak Wisnu sehingga dia ambruk seketika.

Kemudian, kaki salah satu genderuwo itupun menginjak-injak tubuh kak Wisnu yang tengah ambruk sebanyak tiga kali, sampai kak Wisnu mengeluarkan darah yang teramat banyak dari mulut, hidung, perut, membuatnya tak berdaya seketika. Tapi syukurlah ia masih hidup.

Sementara itu, aku dan Mela yang sedang mencari keberadaan Ratih dan kakaknya Ratna merasa kebingungan karena rumah kades desa ini benar-benar besar, hampir seperti villa. Apalagi kami tidak bisa bergerak bebas karena disetiap sudut ruangan ada dua atau tiga jawara yang menjaganya.

Kami menuju ke sebuah ruang yang ada dipojok belakang kediaman kades itu. Di sana kami melihat Ratih sedang didandani dengan pakaian yang teramat cantik dan mempesona, bahkan diriku sedikit tergoda karenanya. Untung saja Mela berada di sisiku yang langsung menyadarkanku dari nafsuku barusan.

Namun ada yang aneh di sini.

Ternyata yang mendandani Ratih adalah dua pasang kuntilanak. Namun bukan kuntilanak yang sembarangan, mereka berdua adalah kuntilanak berwarna hitam pekat yang diketahui kalau kuntilanak ini tingkatannya jauh di atas jenis kuntilanak lain.

“Darling, mereka itu siapa? Aku takut,” ujar Mela ketakutan. Dia menarik-narik tanganku mengajakku untuk meninggalkan tempat itu. “Aku merasa di sini sudah tidak beres. Ayo kita keluar sekarang!”

“Tenanglah, Mela. Kiranya mereka diutus bukan untuk menjaga, namun untuk merias. Jadi, begitu kita masuk, aku yakin kalau mereka berdua akan menghilang,” jawabku yang membuka pintu itu secara perlahan.

Benar dugaanku. Begitu kami berdua masuk ke dalam kamar itu, kedua kuntilanak hitam pun menghilang, membuat hati ini lega.

Kami pun bergegas menyadarkan Ratih dari ilusi yang disebabkan oleh guna-guna Lusman. Dan dengan mudahnya pula ilusi itu dipatahkan. Membuatku sedikit curiga akan sesuatu.

Apakah ilmu kanuragan Lusman hanya sebatas ini?

Tak mau membuang-buang waktu lagi, kami berdua bergegas membopong Ratih yang sedang terlihat linglung itu dan bergegas cabut dari sana.

Belum jauh kami meninggalkan kamar itu, kami sudah dicegat oleh tiga jawara bawahan Lusman. Mereka bertiga sepertinya tidak menyadari kami tadi karena ingin memancing kami di sini.

“Sial! Kita terjebak,” umpatku kesal. “Mereka sebenarnya bukannya tidak menyadari kehadiran kita, namun mereka menunggu kita untuk menyelamatkan Ratih.”

“Eh?” sahut Mela yang sudah ketakutan setengah mati itu.

“Pintar juga kau anak muda! Sayang sekali kau akan kehilangan nyawamu di usia yang semuda itu.” Ujar salah satu dari jawara itu. “Tapi tenang saja. Kami akan membunuhmu tanpa rasa sakit, sehingga kau tak perlu setakut itu!”

Salah satu jawara itu segera mengayunkan parangnya ke arah salah satu dari kita. Lebih tepatnya ke arah Ratih yang masih belum sadarkan diri itu. Aku tak bisa membiarkannya sehingga kulempar Ratih ke dekapan Mela dan parang itu langsung mengenai punggungku.

Dan aku menjerit sekeras mungkin. Dan aku pun tak sadarkan diri untuk beberapa waktu.

Melihatku yang bersimbah penuh dengan darah, membuat Mela terpaku untuk beberapa saat.

“Cih! Dasar pria bodoh!” ucap ketiga jawara itu. “Kalau saja dia membiarkan kita menghabisi Ratih, pastinya dia takkan mati konyol seperti ini,” tambahnya.

Tiba-tiba Mela menjerit keras ditambah linangan air mata yang semakin deras membasahi pipi indahnya. Setiap tetes air mata yang terjatuh ke tanah, membuat aura disekelilingnya gelap dan gelap. Bahkan aura itu sampai menutupi cahaya matahari yang bersinar terang.

Kejadian ini benar-benar dirasakan oleh seluruh penjuru desa Lenggor Jati ini. Mereka semua beranggapan kalau bencana akan datang. Siang itu, mereka segera memasukkan ternak-ternak mereka, pulang cepat, dan segera mengunci rumah tanpa ada siapapun yang berani keluar rumah untuk memastikan apa yang terjadi.

“Aura jahat macam apa ini!?” gumam Lusman menatap langit yang terlihat hitam pekat itu. “Pasti ada seseorang di sini yang mempunyai ilmu kanuragan yang begitu mengerikan, sampai auranya mampu menutupi langit.”

Tak beberapa lama kemudian, kedua genderuwo yang menyiksa kak Wisnu, tiba-tiba pergi ketakutan. Sebelum mereka berhasil lolos, suara jeritan Mela terdengar oleh mereka dan membuat mereka meledak.

Sementara itu di dalam, Mela kembali menembangkan tembang Lingsir Wengi. Namun ada yang aneh dengan tembangnya, dia membalik tembang itu. Jadi seperti ini. Contoh Lingsir Wengi -> Risgnil Ignew, membuat ketiga jawara itu pontang-panting ketakutan.

Sebelum mereka berhasil keluar dari rumah, dari bawah tanah, ada tangan transparan yang menariknya ke bawah. Mereka bertiga memohon ampun dengan sungguh-sungguh, namun Mela tetap tak iba pada mereka. Setiap ditarik, maka rupa jawara itu akan semakin tua dan tua, seperti hawa kehidupannya di serap oleh tangan memedi itu. Sampai sebelum mereka masuk ke dalam tanah, mereka sudah terlihat layaknya manusia berusia 300 tahun.

Setelah mereka bertiga mati, Mela bergegas mendekatiku dan membaca sedikit mantra, dan tiba-tiba luka parah pada punggungku itu lenyap.

“Kau memang orang yang terlalu baik, darling!” ucapnya dan langsung tertidur di sampingku.

Di gudang bawah tanah, banyak bermunculan jeritan memedi yang menanggapi suara jeritan kegelapan itu. Bahkan, Ratna yang gila itu pun langsung menangis ketakutan mendengarnya.

“Ndre, kita harus segera pergi dari sini. Aku takut di sini lama-lama.” Ujar Feby gelisah. “Kalau mereka tidak ada yang mampu menyelamatkan kita, pastinya esok hari kita akan dipancung oleh si kepala desa gila itu!”

Andre terlihat mondar-mandir memikirkan solusi. “Iya aku tahu, Feby! Tapi tolong biarkan aku berpikir sejenak,”

Agung hanya terdiam, sementara Wulan terus memperhatikan kak Ratna yang gila bicara sendiri dan Siti yang terus duduk sembari memejamkan mata itu.

“Sit, kamu kenapa?” tanya Wulan.

Siti pun membuka matanya. Namun ada yang aneh padanya. Sorot matanya terlihat kosong dan hampa. Dia langsung menatap ke arah Wulan yang terlihat sedikit ketakutan itu. Setelah itu dia berdiri dan beranjak menuju pintu gudang tua itu.

Secara respon, Agung pun berkata, “Jangan khawatir, Wulan! Siti saat ini sedang dirasuki oleh arwah leluhurnya. Pastinya dengan begini, kita bisa keluar dari sini!”

Dan dengan mudahnya, Siti berhasil membuka pintu gudang itu. Setelah itu, Siti langsung limbung.

“Siti!” kata Wulan yang mendapati Siti pingsan. Mereka langsung datang menghampirinya. “Siti, kau baik-baik saja, ‘kan?” tanya Wulan gelisah.

“Tenang saja, Wulan! Setelah seharian memanggil leluhurnya, memakan lebih dari separoh energinya. Jadi, setelah tiga puluh menit, dia akan sadar kembali.” Jawab Feby menerangkan.

Tapi mereka tidak punya waktu sampai tiga puluh menit untuk bisa melarikan diri dari gudang tua itu. Di hadapan mereka sudah muncul puluhan kuntilanak yang siap menjadikan mereka santapan yang lezat siang ini.

“Cok! Kuntilanak, cok!” umpat Andre geram.

“Nggak usah barabere. Lari!” sahut Agung yang berlari, diikuti oleh semuanya. Kuntilanak pun mengejar mereka dengan gelak tawa khasnya, membuat mereka semua tambah panik.

Sebenarnya mereka bisa mengatasi para kuntilanak-kuntilanak itu, namun yang ditakutkan adalah jikalau ada penjaga yang berwujud manusia menangkap mereka. Jadi mereka memutuskan untuk kabur. Karena penjaga berwujud manusia itu mempunyai ilmu silat, sedangkan mereka sama sekali tak berpengalaman soal silat.

Sebelum mereka bisa keluar, para kuntilanak itu berhasil mengejar dan membawa Siti yang saat itu masih lemas pergi. Feby bergegas mengejarnya, namun kuntilanak itu langsung hilang di atap tanpa bisa dikejar oleh Feby.

“Tenang, Feb! Tenang!” kata Wulan menenangkan Feby yang gusar. Agung segera menotok leher Feby sampai dia pingsan. “Ayo teman-teman, kita bawa Feby keluar dari sini dulu. Untuk menyelamatkan Siti, bisa kita rembuk setelah kita berkumpul dengan yang lainnya,”

Setelah berhasil keluar dari bawah tanah, kami disambut oleh Cici dan kyai Ghofar bersama beberapa santri yang datang atas panggilan Cici.

“Assalamu’alaikum, adek-adek,” kata kyai Ghofar memberi salam.

“Waalaikum salam, kyai!” jawab mereka ngos-ngosan.

Tiba-tiba Cici menelisik, masih ada tiga orang yang belum diketemukan. “Wulan, di mana Siti dan kak Umam dan Mela?”

Mereka semua terkejut. “Lho, bukankah kak Umam dan Mela seharusnya ikut bersamamu juga kak Wisnu? Kalau Siti … dia, dia diculik oleh kuntilanak yang mengejar kami tadi.”

“Astagfirullah, kita harus segera menyelamatkan dek Siti, adek-adek. Kalau tidak, bisa gawat nantinya.” Kyai Ghofar langsung menyela pembicaraan kami. “Kalian berdua tolong bebaskan dek Ratna yang dikurung di gudang tua sana!” kata kyai itu kepada dua orang santrinya. Mereka pun setuju.

Setelah kedua santri itu pergi, mereka semua segera menuju ke hutan di belakang rumah kades Supratno itu. Kyai Ghofar tahu kalau hutan ini adalah salah satu sarang kuntilanak yang ada di desa ini.

Tanpa menunggu lagi. Kyai Ghofar dan lima santrinya bergegas membentuk posisi segi lima dan Kyai Ghofar sebagai pusatnya. Mereka segera melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an yang tak bisa dimengerti oleh teman-temanku karena saking lirih dan cepatnya.

Tak butuh waktu sepuluh menit, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari arah hutan itu. Bersamaan dengan itu, sebuah pintu dimensional muncul di hadapan mereka.

Dengan segera, para santri pun memasukinya. Namun kyai belum juga masuk. “Ano, apa di sini ada seseorang yang ada hubungan dekat dengan korban?”

Tanpa ragu lagi, Feby pun mengacungkan tangan. “Saya, pak! Saya adalah majikan dari si korban. Mungkin hal itu sudah bisa disebut sebagai pihak yang punya hubungan dekat dengan si korban,”

“Ayo, dek Feby. Ikut saya. Hanya kamu seorang yang nanti bisa menyadarkan dek Siti. Sementara kami akan bertarung melawan kuntilanak alas Ireng itu,” ajak kyai itu buru-buru. Feby mengangguk. “Kalian semua tolong jaga di sini, ya! Kalau kedua orang santri yang tadi menolong dek Ratna sudah kembali, suruh mereka untuk mencari ketiga teman kalian di rumah pak Supratno!”

Kami hanya mengangguk pertanda mengerti. Sambil menyaksikan tubuh mereka lenyap saat melintasi pintu dimensional.

Balik lagi di mana kak Wisnu yang saat itu sudah tersadar dan siap untuk melawan Lusman sekali lagi. Dengan kalahnya kedua genderuwo alas Ireng tadi, kak Wisnu yakin kalau dia akan bisa mengalahkan Lusman kali ini.

“Tak kusangka kau mempunyai seseorang yang menguasai ilmu mengerikan itu, Wisnu!” ujar Lusman yang terlihat sudah terluka. “Tembang pemanggil Wartasuro!”

Wisnu pun bangkit dan berniat untuk menyerang Lusman sekali lagi yang kondisinya sudah begitu memprihatinkan itu. Namun di saat ia menyadari kalau Lusman telah kehilangan pendengaran dan penciumannya karena darah terus mengalir dari telinga dan hidungnya, membuat Wisnu iba.

Dengan berat hati, kak Wisnu membiarkan Lusman pergi dengan satu syarat. “Pergilah, Lusman! Aku tak tega harus bertarung melawanmu dengan kondisimu sekarang ini.” Kata Wisnu sembari memberi kode ke Lusman untuk pergi. “Namun, jangan lagi kau mengganggu siapapun dan di manapun lagi. Karena kehidupan mereka jauh lebih berharga daripada apa yang kau bayangkan, Lusman, temanku!”

Tanpa berkata apapun lagi, Lusman segera pergi dari tempat itu. Seperginya Lusman, kak Wisnu segera masuk ke kediaman si kades itu, berniat untuk mencari Ratih dan menyelamatkan kedua sahabatnya.

Sesampainya di sana, kak Wisnu hanya melihatku dan juga Ratih yang terkapar tak sadarkan diri. Dia pun segera menolong kami berdua, menyadarkan kami berdua dari pingsan kami. Setelah mencobanya, dia pun berhasil.

cerbung.net

Angus Poloso. Legenda Ki Ageng Selo.

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekitar dua abad yang lalu, saat terjadi perebutan kekuasaan antara VOC dan Britania di nusantara, ada sebuah kisah. Kisah seorang Kyai yang mampu menghentikan para demit-demit yang menghantui seluruh Jawa Timur ini. Kuntilanak, Pocong, Genderuwo, demit, jin-jin kafir, dan lain sebagainya. Dia menyegel semua demit itu di sebuah gerbang gaib yang diberi nama Angus Poloso, sebuah gerbang gaib yang memungkinkan para demit kelas atas itu tak bisa keluar dalam waktu lama. Seperti yang kita ketahui, tidak ada yang abadi di dunia ini, ya termasuk gerbang gaib itu. Oleh karena itu, setiap seratus tahun sekali gerbang gaib itu akan terbuka dan menimbulkan teror di Jawa maupun di seluruh negeri ini.Pria yang menyegel para demit-demit itu adalah Kyai Marwan, atau lebih dikenal sebagai Ki Ageng Selo. Gelar Ki Ageng Selo itu di dapatnya setelah berhasil mengalahkan Nyi Imas, seorang yang sakti mandraguna dan pengguna Santet Lemah Ireng, sebuah santet yang menargetkan setiap jiwa di sebuah wilayah tertentu. Beda dengan santet-santet pada umumnya yang hanya menargetkan targetnya dan juga keluarganya serta anak-cucunya, santet ini menyerang siapapun yang berada dalam satu kota/desa dengan si target. Sebelum lanjut, mari kita bahas dulu mengenai Santet Lemah Ireng.Santet Lemah Ireng adalah sebuah santet yang tidak memerlukan bantuan para jin, setan, dan makhluk2 halus pada umumnya, tapi santet ini hanya mengandalkan lemah ireng dan target yang berjalan di atas tanah dalam suatu wilayah, tempat di mana lemah ireng itu diambil, tempat orang yang ditargetkan itu berada. Selama orang-orang masih menginjak tanah, mereka pasti mati. Santet ini seperti gabungan dari Santet Malam Satu Suro, Santet Pring Sedapur, Santet Sewu Dino, dan Santet Janur Ireng. Selain itu, para pemuka agama (Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu) tidak ada yang sanggup ataupun berani mengatasi santet ini.Santet ini tidak bisa diajarkan kepada siapapun, karena yang menguasai ilmu santet ini dia harus menjadi satu dengan Raja Iblis Nusantara. Raja Iblis itu akan masuk ke dalam raganya, dan apabila raganya kuat, maka dia akan memperoleh kekuatan besar, sedangkan jikalau tidak, maka mereka hanya akan mati konyol.Seratus Sebelas tahun setelah penyegelan itu, Angus Poloso yang waktu itu diletakkan (ditanam) di tanah keramat yang berlokasi di Blitar, tanpa sepengetahuan mereka, berdirilah sebuah sekolah SMA. Sebenarnya pihak pengembang sudah berkali-kali diingatkan kalau tanah tempat didirikannya sekolah itu adalah tanah berkah, yang orang2 kita sebut sebagai tanah keramat. Mendengar ucapan dari para warga setempat, pihak pengembangpun menganggap kalau ini semua hanyalah tahayul, dan terus memaksakan pembangunan itu.Dan selama beberapa tahun pembangunan, akhirnya sekolah itu berdiri juga. Berserta SMP dan Universitasnya (1976). Sebenarnya sebelah yayasan pendidikan itu sudah berdiri pondok pesantren yang didirikan oleh Kyai Marwan seratus sepuluh puluh tahun lalu sebagai antisipasi jikalau Angus Poloso itu terbuka.Sekolah megah dan luar biasa, menindih Angus Poloso yang ada di bawahnya. Karena tak bisa terelakkan, waktu itu keturunan Kyai Marwan, yaitu Mbah Wo, Mbah Carik, Cokropati, Mbah Jayos, dan Mbah Ibu, yang usianya sudah mencapai seratus tahunan, memberikan sebuah pager gaib di sekitar sekolah itu untuk mencegah terjadi apa-apa dan mencegah hancurnya segel Angus Poloso di sana. Dan tiga tahun setelahnya, Mbah Cokropati pun meninggal.Cokropati adalah anak Sulung dari Kyai Marwan dan merupakan anak yang paling cerdas dan berpengalaman dari kesemua keturunannya. Sehingga kematiannya menimbulkan lara dan kecemasan, karena sekte Immas takkan pernah berhenti mencoba mengeluarkan Nyi Imas dari segel Angus Poloso.Setelah kematian Kyai Marwan dan Cokropati, perjuangannya diteruskan oleh anak-cucunya. By the way, Kyai Marwan mempunyai tujuh orang anak dan dua belas cucu, sekaligus dua puluh empat cicit. Mereka semua adalah orang-orang hebat, dan kesemua anaknya adalah orang yang berpengaruh di daerahnya.Perjuangan mereka menggantikan Kyai Marwan bisa dirasa mudah dan sulit. Mudahnya karena demit-demit kelas atas yang paling ganas telah disegel oleh Kyai Marwan di dalam Angus Poloso, dan sulitnya adalah demit-demit kelas kecil ini terlalu banyak dan selalu bergerak di bayang2 dan selalu menggunakan cara yang licik, menyerang di balik layar daripada berhadapan langsung dengan keturunan Kyai Marwan.Puluhan tahun kemudian, ketika segel Angus Poloso sudah melemah, ada sebuah petaka yang membuat segel Angus Poloso terbuka. Yaitu Vita, cicit dari Kyai Marwan yang saat itu tanpa ia sadari telah membuka segel itu, sehingga demit-demit yang disegel di dalam Angus Poloso pun keluar dan meneror seluruh penjuru sekolah. Untunglah saat itu, Nyi Imas masih belum bisa keluar. Sementara untuk para demit2 itu, banyak di antara mereka yang tidak bisa keluar dari lingkungan sekolah akibat pagar gaib yang dipasang oleh Kyai Marwan. Meskipun begitu, teror dan kengerian selalu mengancam siapapun yang ada di sekolah itu.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset