Pendekar Cinta dan Dendam episode 43

Chapter 43

Wanita itu lantas mengeluarkan botol kecil dari lemarinya dan memberikannya pada Jenderal Wang Zhu.

“Berikan obat penawar itu padanya. Lebih baik kamu cepat karena bisa saja dia sekarang sudah mati.” Wanita itu tersenyum licik.

“Ini pertama dan terakhir kamu menyentuhnya. Sekali lagi kamu menyakitinya maka aku akan membunuhmu!” Jenderal Wang Zhu mengambil botol itu dan berlari ke kamarnya.

Putri Ling memandanginya dengan senyum kepuasan. “Tenang saja, aku tidak akan menyakitinya. Asalkan kamu sudah mengikuti kemauanku, aku akan biarkan dia hidup,” batinnya.

Li Jia kembali memuntahkan darah hitam. Jenderal Wang Zhu lantas meminumkan penawar itu padanya.

Setelah meminum obar penawar, Li Jia tidak lagi memuntahkan darah hitam. Dia terbaring dengan napas terengah. Wajahnya yang semula pucat, tampak mulai normal.

Jenderal Wang Zhu kini duduk di sampingnya. Ditatapnya Li Jia yang tak berdaya. “Apa ini yang kamu rasakan saat melihatnya meregang nyawa?” ucapnya sambil menggenggam tangan Li Jia.

Lelaki itu mengecup lembut tangan Li Jia dan menggenggamnya erat. Dia membersihkan wajah Li Jia yang penuh darah. Tak sedikit pun dia merasa jijik dengan darah-darah itu. Dia bahkan telah menyiapkan air dari rebusan tanaman obat yang dipakai untuk berendam guna menghilangkan sisa racun dalam tubuh. Air yang sudah dipanaskan itu kemudian dituang ke dalam bak mandi.

Dia lantas mengangkat tubuh Li Jia dan meletakkan di dalam bak mandi. Uap dari ramuan obat itu masih mengepul hingga membuat Li jia terbatuk beberapa kali.

Jenderal Wang Zhu duduk di samping bak mandi dan menghapus peluh di dahi Li Jia. Tangannya membasuh wajah wanita itu dengan air. “Li Jia, kamu dengar aku?”

Li Jia terlihat lemah. Matanya bahkan tak mampu terbuka. Hanya suara igauan yang terdengar memanggil suaminya.

Setelah dirasa cukup, dia mengangkat tubuh Li Jia dari dalam bak dan membawanya ke tempat tidur. Dia memperlakukan Li Jia dengan penuh perhatian. Dia begitu telaten menjaga dan merawatnya, hingga Li Jia tersadar.

Hampir dua hari Li Jia tidak sadarkan diri dan selama dua hari itu pula Jenderal Wang Zhu merawatnya. Saat melihatnya terbangun, lelaki itu tersenyum sembari menggenggam erat tangan Li Jia. “Syukurlah, akhirnya kamu siuman,” ucapnya yang terlihat gembira.

Li Jia memandangi sekitar dan dia sadar itu bukanlah kamarnya. Sontak, dia berusaha bangkit karena mengingat suaminya. “Suamiku! Mana suamiku?” tanya Li Jia panik. Dia belum menyadari kalau suaminya telah meninggal, hingga dia tersadar setelah Jenderal Wang Zhu membawakan sebuah guci kecil yang berisikan abu suaminya.

“Aku sudah menepati janjiku. Ini adalah abu Wang Li yang kamu minta dan sekarang giliranmu untuk menepati janjimu padaku,” ucapnya sambil memberikan guci itu pada Li Jia

Li Jia mengambil guci itu dan memeluknya. “Aku tidak akan lupa janjiku, tapi izinkan aku untuk menabur abu suamiku di suatu tempat. Setelah itu, kamu boleh mengurungku di mana saja, tapi jangan mengurungku di paviliun. Biarkan tempat itu kosong dan jangan biarkan siapa pun menempatinya. Aku akan sangat berterima kasih jika permintaanku ini dikabulkan,” ucap Li Jia.

“Baiklah, tapi aku tidak bisa membawamu sekarang karena kondisimu masih lemah. Aku akan mengantarmu jika kondisimu telah membaik. Maka dari itu, beristirahatlah. Aku telah menyuruh Dayang Lin untuk menjadi pelayan pribadimu. Mulai sekarang, kamu akan menempati kamarku ini dan paviliun akan aku tutup seperti permintaanmu.”

Lelaki itu lantas memeluk Li Jia yang kali ini tidak mengelak. “Tetaplah menurut padaku, maka aku pun akan menurut padamu. Tetaplah menjadi wanitaku, maka aku akan memberikan duniaku untukmu,” bisik lelaki itu.

Li Jia hanya diam. Dia sengaja membiarkan tubuhnya dipeluk karena dia ingin membuat lelaki itu menurut padanya. Dia akan menurut apa pun yang diminta lelaki itu, hingga dia benar-benar bisa menguasainya. Dengan begitu, dia bisa membalaskan dendamnya. Dia ingin melihat lelaki itu hancur di depan matanya.

“Istirahatlah, aku harus pergi karena ada suatu urusan yang harus aku selesaikan. Tunggu aku. Aku akan segera kembali,” ucap Jenderal lelaki itu sambil mengecup dahi Li Jia dan pergi.

Setelah kematian Pangeran Wang Li, takhta menjadi kosong. Tidak ada kandidat yang cocok untuk menduduki posisi raja, terkecuali Jenderal Wang Zhu yang merupakan putra dari kakak raja terdahulu.

Setelah melalui proses seleksi, Jenderal Wang Zhu akhirnya diangkat menjadi raja. Setelah masa berkabung selesai, dia akan dilantik menjadi raja secara resmi.

Jenderal Wang Zhu kembali ke kamar pribadinya dan melihat Li Jia sedang berdiri memandangi bunga-bunga di taman. “Apa kamu menyukai tempat ini?”

“Apa itu penting bagimu? Suka atau tidak itu tidak akan berpengaruh buatmu,” jawab Li jia datar.

“Siapa bilang itu tidak berpengaruh buatku? Melihatmu tersenyum saja membuatku bahagia. Melihatmu menikmati taman ini juga membuatku bahagia. Aku mengubah tempat gersang ini menjadi taman yang indah untukmu. Jadi, bagaimana mungkin itu tidak berpengaruh bagiku?”

Li Jia hanya diam dan tidak peduli dengan ucapannya.

“Sebaiknya kita masuk. Kamu masih harus beristirahat. Ayo, aku akan membawamu ke kamar!”

Jenderal Wang Zhu lantas membopong tubuh Li Jia.

“Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri!” Li Jia berusaha untuk turun, tetapi lelaki itu tetap membawanya.

“Jangan menolak! Bukankah kamu sudah berjanji untuk menuruti semua kemauanku?”

Li Jia terdiam. Dia memalingkan wajahnya karena lelaki itu terus melihat ke arahnya. Bahkan, lelaki itu mengecup dahinya.

Melihat perlakuan Jenderal Wang Zhu padanya membuat Li Jia mengingat suaminya. Betapa suaminya begitu menyayanginya. Dia sering melakukan hal itu padanya. Dirinya sering dimanja dengan perlakuan yang istimewa. Tak sadar, dia menangis. Air matanya jatuh dalam diam, hingga Jenderal Wang Zhu menghapus air matanya.

“Jangan menangis! Aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku tahu kamu mengingatnya, tapi selama bersamaku tidak bisakah kamu melupakannnya?”

“Itu adalah hukuman buatmu dan selamanya kamu akan tersiksa karena itu. Bagaimana bisa kamu memintaku untuk melupakannya sedangkan dia adalah cintaku. Dia adalah suamiku!”

“Baiklah, aku tidak akan memintamu untuk melupakannya. Ingatlah dia, kenanglah dia sesukamu, tapi ingat dia tak lagi bersamamu karena aku yang kini bersamamu,” ucapnya sambil mengecup bibir Li Jia yang hanya berjarak sejengkal darinya.

Li Jia pasrah. Walau terluka, dia berusaha untuk tidak goyah. Tubuhnya mungkin akan dimiliki oleh lelaki itu, tapi cintanya hanya milik suaminya dan itu tidak akan pernah bisa berubah.

Sementara di desa, Pangeran Wang Yi tampak murung. Sejak meninggalkan istana, dia selalu duduk sendirian. Bocah itu begitu merindukan kedua orang tuanya.

“Wang Yi, ada apa?” tanya Liang Yi sambil duduk di depannya.

“Paman, aku merindukan ayah dan ibuku,” jawabnya sedih.

Liang Yi membelai kepalanya. Dia sangat paham dengan perasaan bocah itu yang harus berpisah dengan orang tuanya.

“Ayah dan ibumu baik-baik saja. Mereka ingin kamu belajar. Saat dewasa nanti, kamu pasti bisa menemui mereka. Ada hal yang tidak bisa Paman katakan padamu. Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengerti kenapa kamu harus tinggal bersama Paman. Kamu mengerti, kan apa yang Paman katakan?”

Bocah itu mengangguk. Walau masih muda, tetapi dia cepat tanggap. Walau merindukan kedua orang tuanya, tetapi dia harus menahan rasa rindunya itu.

Di saat Wang Yi sudah mampu menerima kenyataan, di saat itu juga Li Jia sudah mampu menerima jalan takdirnya. Di dalam kamarnya, dia terlihat anggun dengan balutan hanfu berwarna putih. Rambutnya dibiarkan terurai tanpa hiasan apa pun. Wajahnya pun terlihat natural tanpa bedak dan gincu. Walau begitu, kecantikan wajahnya terlihat sempurna.

Sambil memegang guci berisikan abu suaminya, dia meninggalkan kamarnya menuju sebuah kereta. Dia lantas masuk ke kerata yang akan membawanya ke padang bunga.

Angin meniup dengan lembutnya. Guguran bunga putih betebaran seiring guguran bunga sakura berwarna merah muda.

Li Jia berhenti di depan makam Lian. Dia menatap gundukan tanah itu. Rasanya dia ingin menangis, tetapi dia menahannya. “Lian, aku kembali, tapi hanya sendiri. Wang Li telah pergi.” Tiba-tiba saja, angin bertiup kencang hingga debu dan bunga-bunga betebaran.

Li Jia duduk di depan gundukan tanah seraya menangis. “Lian, tenanglah.” Angin tiba-tiba mereda dan berembus pelan.

“Kita pernah berjanji untuk tinggal di tempat ini, tapi kamu harus pergi. Dan sekarang, Wang Li juga telah pergi. Karena itu, izinkan aku menebar abunya di tempat ini. Suatu saat nanti, aku juga akan datang ke sini dan selamanya akan tetap tinggal di sini.” Angin kembali bertiup menerpa wajahnya seakan isyarat kalau permintaannya telah disetujui.

Li Jia tersenyum. Dia lantas mengeluarkan abu suaminya dari dalam guci dan meletakkannya di sampingnya. Perlahan, angin bertiup dan membawa abu-abu itu beterbangan dengan bunga-bunga. Dia kemudian menarikan sebuah tarian yang disukai kedua lelaki itu.

Tariannya begitu indah walau dengan air mata. Bunga-bunga mengiringi tariannya seakan ikut merasakan kesedihannya. Dia terlihat bak seorang dewi. Rambutnya terurai indah dengan semilir angin yang mengibas perlahan. Butiran air bening mengalir di sudut matanya, hingga membuat Jenderal Wang Zhu ingin mendekatinya, tetapi langkahnya tertahan.

Dia menatap takjub dan tak mengedipkan matanya. Baru kali ini, dia begitu terpukau dengan sebuah tarian yang terlihat istimewa. “Kamu sangat cantik. Apakah aku telah mencintai seorang dewi?” batinnya dengan rasa kagum.

Li Jia menghentikan tariannya seiring angin yang berhenti bertiup. Tempat itu terlihat tenang tanpa sedikit pun angin yang berembus. Abu Pangeran Wang Li sudah tersebar. “Suamiku, beristirahatlah dengan tenang,” batin Li Jia. Dia kemudian meninggalkan tempat itu.

“Pengawal, bawa kembali kereta ke istana,” perintah Jenderal Wang Zhu pada pengawalnya.

“Kenapa kamu menyuruh mereka pergi?”

“Tenanglah, aku hanya ingin jalan-jalan berdua denganmu,” jawab Jenderal Wang Zhu sambil menaikannya ke atas punggung kuda. Setelah itu, dia pun naik dan duduk di belakang Li Jia.

“Kita akan kemana?”

“Aku ingin menikmati waktu berdua saja denganmu. Apa kamu keberatan?” bisik Jenderal Wang Zhu dengan kedua tangan yang sudah memeluknya.

“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan pelukanmu itu. Bagaimana jika ada orang yang mengenali kita?”

“Tenanglah, tidak ada yang akan mengenali kita. Aku hanya ingin berdua denganmu. Jadi, biarkan aku menikmati kebersamaan ini. Bisa, kan?”

Li Jia terdiam. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Ingatan masa lalu kembali hadir. Ingatan tentang kenangan indah yang pernah dilaluinya di jalan ini bersama orang yang pernah membuatnya jatuh cinta.

Bersama Lian, dia pernah melewati jalan itu sambil berkuda bersama. Saat itu, dia sangat bahagia karena memiliki seorang kekasih yang mencintai dan menjaganya dengan sepenuh jiwa. Walau akhirnya mereka harus dipisahkan oleh kematian.

Di jalan itu juga, dia pernah lalui bersama Pangeran Wang Li. Mereka berkuda bersama dan berjanji saling setia. Walau akhirnya mereka kembali dipisahkan oleh kematian.

Dan kini, dia kembali melewati jalan itu, tetapi bukan dengan orang dia cinta. Walau lelaki itu teramat sangat mencintainya, tetapi hati dan cintanya hanya untuk suaminya. Walau dia melewati jalan yang sama dan naik kuda bersama, tetapi dengan orang dan kisah yang berbeda. Kisah yang akan membawa pada kematian, entah untuk siapa.

Jenderal Wang Zhu tampak menikmati kebersamaannya bersama Li Jia. Dia tersenyum saat wanita itu tidak menolak ajakannya. “Apa dia sering mengajakmu jalan-jalan seperti ini?”

“Kenapa? Apa kamu pikir dengan melakukan hal ini bisa membuatku jatuh cinta padamu?”

Lelaki itu tertawa saat mendengar pertanyaan Li Jia. “Sudahlah, cukup jawab saja pertanyaanku. Apa dia sering mengajakmu jalan-jalan seperti ini?”

“Aku tidak ingin menjawabnya,” jawab Li Jia tegas.

Lelaki itu kembali tertawa. “Mulai sekarang, aku akan sering-sering mengajakmu jalan-jalan di luar istana. Aku tahu suamimu jarang mengajakmu jalan-jalan di luar. Benar, kan?”

“Itu bukan urusanmu dan terima kasih karena aku tidak ingin jalan-jalan lagi. Bisakah kita kembali?”

“Kenapa? Apa kamu tidak ingin melihat orang-orang di luar sana? Apa kamu tidak bosan tinggal di dalam istana? Kalau kamu mau, aku akan mengajakmu tinggal di luar istana dan hidup bersama. Apa kamu tertarik dengan usulku itu?”

“Sudahlah, jangan bercanda denganku. Apa kamu tidak takut aku akan lari dan meninggalkanmu?”

Mendengar ucapannya, lelaki itu menghentikan kudanya. “Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku. Suka atau tidak, selamanya kamu akan ada di sampingku. Aku akan pastikan, kamu tidak akan pernah bisa meninggalkanku,” bisik lelaki itu dengan tangan yang memeluk Li Jia erat.

“Terserah apa katamu! Kamu bisa memiliki tubuhku, tapi tidak dengan hatiku!” seru Li Jia tanpa rasa takut.

Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya, tetapi tak lama. Entah mengapa, dia tidak mampu marah di depan Li Jia. Kembali dia memeluk wanita itu dan melanjutkan perjalanan.

Di depan salah satu penjual perhiasan, lelaki itu berhenti. Dia memerhatikan sebuah cincin giok berwrna biru laut.

“Berikan tanganmu,” ucapnya sambil menengadahkan tangannya di depan Li Jia.

“Tidak perlu! Aku tidak butuh semua perhiasan itu. Mendiang suamiku sudah memberikanku perhiasan yang cukup banyak. Jadi, aku tidak butuh darimu lagi!” tolak Li Jia yang kembali membuat lelaki itu tersenyum.

“Sudahlah, jangan keras kepala. Berikan saja tanganmu atau kamu ingin melihatku menghancurkan pasar ini?”

Li Jia menatapnya. “Apa dia ingin membuatku mengikuti kemauannya dengan semua ancaman ini?” batinnya sambil melihat sekeliling pasar yang terlihat ramai dengan lalu lalang pembeli dan penjual yang menjajakan aneka macam dagangan.

Dengan terpaksa, Li Jia mengulurkan tangan kirinya. Lelaki itu tersenyum seraya memakaikan cincin giok itu ke jari manisnya.

“Jangan pernah melepaskan cincin itu. Simpanlah perhiasan ini dan pakailah saat kita bersama,” ucapnya sambil memberikan sekantung perhiasan yang dibelinya. Li Jia terpaksa menerimanya.

“Sebaiknya kita kembali. Aku ingin istirahat, aku lelah,” ucap Li Jia.

“Baiklah, kita akan kembali.” Baru saja mereka berbalik arah, pandangan Li Jia tertuju pada beberapa anak yang sedang mengemis.

“Tunggu sebentar! Apa kamu masih punya uang?” tanya Li Jia, hingga membuat Jenderal Wang Zhu menatapnya heran.

“Masih, tapi untuk apa? Apa kamu ingin membeli sesuatu?”

Li Jia mengangguk. Lelaki itu lantas mengeluarkan sekantung uang dari balik jubahnya dan memberikannya pada Li Jia.

“Antar aku ke kedai roti,” pinta Li Jia. Lelaki itu menurutinya. Setibanya di kedai, Li Jia membeli roti dan menghabiskan setengah kantung uang untuk membeli roti-roti itu.

“Aku akan menggantikan uangmu. Sekarang kita ke anak-anak itu,” ucap Li Jia sambil mengembalikan kantung uang pada Jenderal Wang Zhu.

“Habiskan saja uang itu dan belikan roti yang banyak untuk mereka.”

Mereka lantas menuju ke anak-anak pengemis itu. Namun, anak-anak itu tidak ada di sana. Li Jia mencari-cari mereka, hingga dia melihat sekumpulan pengemis yang sedang berkumpul di sebuah tenda.

“Kenapa mereka pergi ke tempat itu?” tanya Jenderal Wang Zhu penasaran.

Li Jia terperanjat saat melihat seseorang yang dikenalnya sedang membagikan makanan pada para pengemis.

“Apa mereka membagikan makanan untuk pengemis dan orang miskin?” tanya Jenderal Wang Zhu sambil menatap ke arah orang-orang itu.

“Aku akan memberikan roti ini kepada mereka. Biar mereka yang akan membagikannya pada anak-anak itu,” ucap Li Jia yang bergegas turun dari atas kuda.

“Biar aku saja, kamu tunggulah di sini.”

“Tidak perlu! Biarkan sekali ini aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Apa kamu juga akan melarangku?”

“Baiklah, pergilah. Aku akan melihatmu dari sini.”

“Terima kasih, aku sangat berterima kasih,” ucap Li Jia sambil menundukan wajahnya di depan lelaki itu.

Sambil memegang bungkusan roti, Li Jia mendekati sosok yang dikenalnya itu. “Tolong, bagikan roti ini pada mereka,” ucapnya di depan lelaki itu sambil menyerahkan bungkusan roti. “Apa putraaku baik-baik saja?”

Lelaki itu menatap Li Jia yang kini menitikkan air mata.

“Jangan katakan apa pun. Cukup anggukan kepalamu. Apa putraku baik-baik saja?”

Melihat lelaki itu menganggukkan kepala, Li Jia menyeka air matanya. Dia bahagia karena putranya baik-baik saja.

“Tolong jaga putraku. Aku akan bertahan hingga dia datang menjemputku,” ucap Li Jia. Dia kemudian pergi.

Lelaki itu adalah Liang Yi. Dia hanya bisa melihat Li Jia pergi. Walau rasa rindu membuncah, tetapi dia hanya bisa memendamnya. Dia tahu kalau wanita yang masih dicintainya itu tengah mengalami penderitaan hidup.

“Li Jia, bertahanlah. Aku akan kembali bersama putramu. Aku masih mencintaimu dan berharap suatu saat nanti bisa bersamamu lagi,” batinnya seiring air mata yang menggantung.

Di istana, Putri Ling tampak gelisah. Sedari tadi, dia menunggu kedatangan Jenderal Wang Zhu. Dia begitu marah saat tahu kalau suaminya telah pergi berdua dengan Li Jia. “Apa yang dia pikirkan? Kenapa dia pergi berdua dengan perempuan itu?” ucapnya kesal.

Tak lama kemudian, dia melihat mereka datang. Lelaki itu berjalan di samping kuda. Sementara Li Jia duduk di atas kuda.

“Suamiku, kalian dari mana saja? Kenapa kalian baru datang?” tanya Putri Ling, tetapi lelaki itu mengacuhkannya.

“Kembalilah ke kamarmu, nanti aku akan ke sana,” jawab Jenderal Wang Zhu pada Putri Ling. Dia kemudian menurunkan Li Jia dari atas kuda tanpa menoleh ke arah wanita itu.

Putri Ling terlihat kesal. Li Jia melirik ke arahnya dan dia bisa melihat kecemburuan di matanya. “Pergilah temani istrimu. Aku akan ke kamar sendirian. Terima kasih karena sudah menemaniku dan membelikanku semua perhiasan ini,” ucap Li Jia yang bermaksud membuat Putri Ling kesal. Benar saja, wajahnya memerah setelah mendengar ucapan Li Jia.

“Aku senang kalau kamu menyukainya. Sebaiknya, aku mengantarmu ke kamar karena aku masih ingin bersamamu,” ucap Jenderal Wang Zhu.

Putri Ling terlihat marah. “Suamiku, tak bisakah kamu menunggu? Dia masih menjadi ratu dan kamu tidak bisa memperlakukannya selayaknya simpananmu. Kenapa kamu tidak datang saja padaku? Aku adalah istrimu,” ucap Putri Ling yang memrotes suaminya karena lebih memedulikan Li Jia yang masih berstatus janda dari mendiang raja.

“Sudahlah, bukankah hal ini sudah kita bahas. Jangan menggangguku selama aku bersamanya. Bisa, kan? Kalau kamu ingin diperhatikan, maka jangan menuntut lebih dariku,” ucap Jenderal Wang Zhu yang membuat wanita itu terdiam.

Li Jia menatap Putri Ling yang cemburu padanya.

“Apakah sekarang kamu jatuh cinta padanya? Baiklah, aku ingin lihat bagaimana jika orang yang kamu cintai direbut darimu. Kalian akan menyesal karena sudah membunuh suamiku. Aku akan membuat kalian mati dengan perasaan kalian. Lihat saja nanti,” batin Li Jia.

“Jenderal Wang Zhu, pergilah bersamanya. Aku akan menunggu di kamar. Jangan sampai dia membuat keributan karena aku tidak suka jika seluruh istana berpikir kalau aku adalah wanita murahan yang mencoba merayumu,” bisik Li Jia yang membuat lelaki itu menatapnya.

“Aku akan membunuh siapa pun yang mengatakan hal itu tentangmu. Li Jia, bagiku kamu wanita istimewa dan jangan pernah mengatakan hal konyol itu lagi.” Tangannya memegang dagu Li Jia dan menatapnya tajam.

Li Jia tersenyum. “Pergilah, berikan apa yang dia inginkan. Setelah itu, datanglah padaku,” ucapnya yang kemudian pergi. Di sudut bibirnya, dia tersenyum sinis melihat tingkah kedua orang yang sangat dibencinya itu.

cerbung.net

Pendekar Cinta dan Dendam

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset