Bersama hujan episode 2

Chapter 2
Begitulah. Kita saling mendukung satu sama lain. Terus terang, aku tertarik padamu saat itu. Entahlah dengamu. Aku tidak mungkin menanyakannya. Walaupun hidup di zaman serba canggih dan modern, tapi untuk yang satu ini aku tetap bersikap konvensional. Akibatnya, aku selalu bertanya-tanya dalam hati tentang perasaanmu. Aku selalu mengira-ngira apa arti semua perlakuanmu itu. Suka kah? Atau hanya bersikap gentle saja? Seandainya aku pria dan dia perempuannya, maka akan mudah bagi bibirku untuk menanyakan apakah dia suka padaku dan mau menjalin hubungan yang lebih dekat denganku. Itu memang tugas pria kan, untuk menanyakan hal macam itu? Eh, salah ya?

…but lovers always come, and lovers always go
And no one’s really sure who’s letting go today…

“Aku sudah tidak sabar bertemu produser itu, Sin!”

“Waah aku tidak sabar melihatmu di televisi, menjadi selebritis!”

“Hahaha. Selebritis? Perutku mual mendengar itu. Ada-ada saja.”

“Tapi semua itu mungkin kan? Dan tinggal selangkah lagi, Mo. Bersiap sajalah.”

“Hahaha. Apa kalau menjadi selebritis nanti namaku jadi berubah ya?

“Maksudmu?”

“Nama Armo terlihat tidak keren, Sin. Kampung sekali kesannya.”

“Hahahaha. Biar kampung kalau nyanyinya bagus, tetap saja jadi keren.”

“Hahaha. Ada-ada saja. Kamu memang temanku yang terbaik, Sinta.”

Oke. Teman. Sebenarnya kata itu cukup menggambarkan perasaanmu padaku bukan? Huh, teman? Tidak rela rasanya aku mendengar kata itu keluar dari mulutmu. Aku ingin lebih! Ah, mulai lagi. Keegoisan seorang Sinta mulai tampak. Dan sifat buruk itu justru muncul pada saat hari-hari terakhir kita bersama, sebelum kamu pergi ke Jakarta dan menemui produser itu. Kemanapun kamu pergi, harus ada aku. Harus. Aku tidak mau membuang kesempatan untuk terus bersama kamu. Aku bertindak seolah-olah tidak ada hari esok. Dan, memang.

Stasiun kereta api, Minggu pagi. Rintik hujan mulai turun. Bulan ini November kedua setelah pertemuan kita pertama kali. Stasiun terlihat ramai entah karena banyaknya orang yang datang ataupun orang-orang yang akan pergi. Beberapa kuli angkut memasang mata kalau-kalau ada yang membutuhkan jasa mereka. Beberapa pedagang asongan masih setia menjaga dagangan mereka. Sementara aku gelisah. Kamu bersikeras tidak mau aku antar. Dan aku bersikeras untuk mengantarmu. Entah kenapa aku merasa sepertinya kamu tidak akan kembali. Lagipula, aku sudah memantapkan hati untuk mengatakan isi hatiku padamu. Melupakan rasa gengsi yang masih bertaut di kepalaku.

“Kenapa, Sin? Hahaha. Sedih ya? Ya ampun Sinta. Bandung-Jakarta itu tidak jauh kan?”

“Bukan itu, Mo.”

“Lantas apa? Pagi-pagi begini wajah cantikmu terlihat muram. Tidak benar itu.”

Aku tersenyum. Kamu memang pintar sekali menggodaku.

“Sebenarnya…seperti apa perasaanmu padaku?” tanyaku akhirnya.


Suasana hening. Aku menunduk dan tidak berani menatap cowok ini. Seketika aku menyesal telah menanyakan hal tersebut. Jangan-jangan dia mengira aku terlalu agresif telah menanyakannya pertanyaan itu.

“Memang kenapa?” tanyamu akhirnya.

“Aku…kamu pasti tau. Aku menyukaimu,” jawabku pelan.


Kembali hening. Tidak ada reaksi apapun dari kamu. Tiba-tiba kereta yang akan membawamu akan segera berangkat. Ah, sialan! Pikirku. Lalu tiba-tiba kamu memegang bahuku.

“Aku harus pergi. Sampai ketemu lagi ya. Nanti aku kabari sesampainya di Jakarta,” ujarmu pelan.

Hah? Itu saja? Lalu bagaimana dengan pertanyaanku?

Kereta api itu akhirnya berlalu dari stasiun. Hujan yang tadinya rintik mulai deras. Tanpa sadar aku menangis. Entah karena malu, sedih, ataupun kecewa. Mengapa dia tidak menjawabnya? Apa susahnya sih? Atau sebenarnya dia hanya menganggapku teman, dan tidak mau menyakitiku sehingga tidak bersedia menjawabnya? Hari itu, aku pulang dengan sejuta tanya.

cerbung.net

Bersama hujan

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Gerimis di malam itu , tidak akan pernah aku lupakan....lantunan lagu November Rain yang kau bawakan saat itu...membuat perasaanku hanyut dalam petikan gitarmu.Tetapi , aku telah salah dalam menilaimu...aku tahu ini bukan salahmu....kebodohanku yg mengira kita dapat bersama....

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset