My Beautiful Angel episode 23

Chapter 23

POV VINA
“Duduklah dulu Uni,” ujar Bang Roel.
“Vina layani, Uni Rika. Dia selalu borong,” titah Bang Roel.

“Kemarin juga Uni habis belanja di sini. Sama adek ini juga yang ngelayani. Tapi kok mahal, Roel? Naik bahannya? Susah Uni jual kalau dari Roel mahal-mahal,” keluhnya. Mati aku mati ….

“Patang Roel indak ado, Ni,” ucap Bang Roel menggunakan bahasa minang.

“Kama Roel pai?” tanya Uni lagi.

“Ado urusan saketek, sabanta lai baralek, tibo yoo, Ni?” Entahlah aku tidak mengerti apa yang mereka katakan.

“Samo sia babini? Bauntuang sangaik urang tu dapek kau, Roel.”

“Roel yang beruntung dapat dia, Ni,” jawab Bang Roel.

“Ini bahasa minang ya? Maaf saya kurang mengerti,” ucapku seramah mungkin. Bang Roel, Rani dan Uni Rika melirik ke arahku sambil mengulas senyum. Sementara Mas Anton terdiam sambil berdiri di belakang Uni Rika yang sedang duduk.

“Kemarin Uni bilang kemahalan? Memang Uni ambil yang mana? Harga masih sama kok tidak ada kenaikan,” ucap Bang Roel. Hatiku semakin berdebar.

“Dek,” panggil Uni Rika padaku.

“Kemarin yang ini kamu kasih harga 100 ribu per potong, kodian 2 juta ya, Dek? Kemarin uni ambil 5 kodi,” tunjuk Uni Rika. Bang Roel mengerenyitkan kening menatapku heran.

“Ada nota-nya, Un?” tanya Bang Roel lagi.

“Tidak dikasih nota, Roel,” jawab Uni Rika. Keduanya menatapku curiga. Aku mati kutu dan bingung mau jawab apa. Sementara Mas Anton, dia diam saja tetapi dak menjawab apapun. Memang yang ini Mas Anton tidak tahu menahu karena saat itu aku hanya jaga berdua dengan Mbak Santi. Sementara Mas Anton masuk rumah sakit. Siapa sangka dia itu kenal baik sama Bang Roel.

“Kalau mahal gitu, lari langganan Uni nanti, Roel,” ujar Uni Rika. Bang Roel langsung memeriksa nota.

“Ini tertulis atasan Laura 5 kodi 8 juta, Ni. Jadi benar harganya 1,6 juta per kodi,” tutur Bang Roel. Aku harus tetap terlihat tenang.

“Kemarin itu mau saya kasih nota, Bang. Tapi Uni udah pergi duluan. Dan iya, aku nggak ada tuh kasih harga 2 juta per kodi. Bohong kali Uni-nya,” ucapku menatapnya sinis.

“Demi Tuhan, karyawan Roel ini memang kasih ke Uni harga 2 juta, Roel. Untuk apa Uni bohong. Uni sudah lama kenal sam Roel.” Orang tua itu tetap mencari pembelaan. Perdebatan panjang diantara kami pun terjadi di toko.

“Bang,” panggil Mas Anton menengahi.

“Iya, Ton,” jawab Bang Roel.

“Uni tidak mungkin bohong, Bang. Karena Vina memang menaikan harga untuk mencari uang tambahan. Menurut Vina, dengan menaikkan harga, dia tidaklah mencuri,” ujar Mas Anton.

“Kamu jangan bohong, Mas! Aku tahu kamu mau cerai sama aku, tapi kamu jangan fitnah gini!” Aku masih coba berkilah.

“Uni tidak mungkin bohong, Bang,” timpal Rani membuatku membulatkan bola mata.

“Iya, Roel. Untuk apa Uni bohong. Salah uni juga nggak minta nota kemarin,” tutur Uni Rika.

“Ya sudah, Roel kembalikan uang uni 2 juta ya? Roel minta maaf atas kesalahan karyawan Roel ini semoga Uni tidak kapok belanja di tempat Roel.”

“Uni nggak kapok, Roel. Hanya saja, takutnya pelanggan kamu pada kabur. Roel kan jual grosir. Pusat grosir, bukan pusat ecer. Kamu pecat saja karyawan seperti itu, Roel. Nggak jujur! Bahaya bisa-bisa pelangganmu pada kabur!” lontar Uni Rika menatapku sinis.

“Roel, kalau gitu Uni pulang dulu. Nanti barangnya Roel siapin saja ya? Uni kirim ke Wa serian-nya. Nanti Uni transfer. Lebih yang 2 juta, disini saja. Nanti tinggal Potong,” Ujar Uni Rika, kemudian berlalu.

Seperginya Uni Rika, aku dan Mas Anton di suruh masuk ke toko. Bang Roel menanyakan kebenarannya padaku. Karena Bang Anton menceritakan semuanya, maka aku tidak dapat lagi untuk berkilah. Sialan memang Mas Anton.

“Saya minta maaf, Bang. Jangan pecat saya,” lirihku menunduk.

“Saya ini jualan pakaian grosir, Vina. Kalau kamu terus melakukan itu, bisa-bisa saya bangkrut,” kesal Bang Roel.

“Saya minta maaf, Bang. Saya sudah berusaha menasehati Vina, tapi dia tidak mau mendengarkannya,” ucap Mas Anton menunduk.

“Maaf, Bang. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” lirihku. Sungguh aku merasa malu luar biasa. Tapi bagaimana lagi, bahkan Mas Anton pun tidak membelaku. Ini membuatku semakin membencinya.

“Vina maaf, tapi saya tidak dapat memperkerjakan kamu lagi di tempat saya. Kamu boleh pulang sekarang,” ucap Bang Roel membuatku merasa kaget. Sesek terasa di dadaku. Sudah dipermalukan, dipecat pula.

“Saya juga dipecat, Bang?” tanya Mas Anton pada Bang Roel.

“Kamu tetap bekerja disini, Ton,” jawab Bang Roel.

“Ini untuk kamu. Sekali lagi saya minta maaf tidak bisa memperkerjakan kamu. Saya butuh karyawan yang jujur,” kata Bang Roel menyerahkan sebuah amplop yang mungkin saja berisi uang. Sebelum pergi, aku lebih dulu melirik sinis pada Mas Anton. Awas saja, pakaian dia akan aku bakar semuanya.

“Mas, ingat! Kamu jangan berani-beraninya pulang ke rumah kontrakan! Barang-barangmu juga akan aku bakar! Kamu tidak boleh mengambil apapun. Secepatnya aku tunggu surat cerai darimu!” tantangku. Kayak punya duit saja untuk mengurus cerai Mas Anton ini. Tidak peduli dengan tatapan Bang Roel dan Rani yang menyimpan tanya, aku pun berlalu tanpa pamit.

“Vina!” panggil Bang Roel. Sejenak aku berhenti dan menoleh ke arahnya.

“Bilang Santi, dia juga tidak perlu kembali lagi untuk bekerja!” Tak kupedulikan ucapannya itu, sekarang rasa kesalku bertambah 100 persen. Kurang ajar memang orang kaya belagu itu! Aku doakan, semoga saja bangkrut!

******

“Nggak kerja?” tanya Mbak Santi yang terlihat semakin bengkak menghampiriku di teras rumah. Tak lama Ibu juga menyusul. Aku diam saja sambil merengut. Seperti inilah wajahku, tidak mampu menyembunyikan kegundahan hati.

“Dipecat, Mbak!” lirihku dengan mata berkaca-kaca. Ibu dan Mbak Santi terlihat kaget. Mungkin saja mereka juga shock.

“Lah … kok bisa?” tanya Mbak Santi.

“Bisa Mbak. Ada langganan yang waktu itu. Dia belanja lagi, ketemu Bang Roel.”

“Terus?”

“Ya ngomong. Disidang aku sama mereka. Mas Anton juga cerita semuanya. Dia membenarkan ucapan Ibu itu. Rani juga percaya sama Ibu itu.”

“Oh iya, Mbak. Mbak juga dipecat. Nggak perlu datang ke toko lagi.”

“Kamu serius?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kenapa Anton nggak bela kamu?” lanjutnya bertanya.

“Mas Anton ngajak pisah, Mbak,” ucapku dengan sesegukkan. Ternyata aku menangisinya. Hatiku sakit lagi patah. Aku takut….

“Maksud kamu apa, Nduk?” tanya Ibu menegaskan.

“Mas Anton … dia nalak aku, Bu,” lirihku.

“Ya wis nggak apa-apa. Cari laki-laki lain. Kamu ini masih muda! Cantik! Pasti masih banyak yang antri jadi suami kamu,” ucap Ibu mencoba meyakinkan. Bukan masalah itu, tapi meski keras, aku juga sangat mencintai Mas Anton.

“Sabar ya Vin,” lirih Mbak Santi.

“Oh iya, Rani jadi nikah sama Bang Roel,” lirihku.

“Toko Bang Roel kasih tanah kuburan aja! Kita minta sama dukun,” cetus Mbak Santi.

“Gila kamu, Mbak! Dosa itu! Ingat masih ada Tuhan maha melihat!”

“Seburuk-buruknya aku, aku nggak mau pergi ke dukun. Apalagi untuk menutup rezeki orang dengan cara seperti itu,” tolakku masih berpikir dengan akal. Aku kelewatan sama Mas Anton saja kadang kalau lagi mikir lurus takut dosa. Bingung juga, sikap mata duitan ini sulit kuhilangkan. Bingung aku, kalau Mas Anton berduit, aku sayang banget, cinta. Tapi kalau seperti kemarin, aku merasa muak dan seolah, dia itu hanya menjadi beban untukku. Tapi sekarang, setelah dia meminta pisah, dadaku terasa sesak dan seakan ada yang mengganjal. Susah sekali menerima kekurangannya. Hanya karena dia masih miskin. Aku itu ingin jadi orang kaya. Ingin jadi Nyonya yang tinggal ongkang-ongkang kaki tapi, kebutuhan tetap terpenuhi. Itu kenapa dulu aku inginkan Mas Anton. Jadi aku tidak mencintai Mas Anton dan pasti akan segera muve on.

*****

Malam tiba, semua barang-barang yang ada di kontrakan sudah aku bawa pindah ke rumah Ibu. Baju Mas Anton dan semua perlengkapan miliknya, kuhanyutkan ke kali yang berada di bawah jembatan. Sekarang aku tengah berada di dalam kamar memikirkannya. Kemana dia malam ini? Itu yang aku lakukan pikirkan. Berusaha membencinya malam ini, tapi justru sebaliknya. Aku ingin Mas Anton kembali. Tidak terasa seharian ini aku bahkan belum makan apapun. Patah hati membuat perutku terasa kenyang.

Kontak Mas Anton masih ada di ponselku. Aku pun menumpahkan kekesalan dan kegundahan dengan pada sebuah status ponsel berharap kalau Mas Anton akan membacanya dan meminta untuk kembali. Beberapa jam aku menunggu balasan, atau berharap dia melihat statusku, tapi tidak sama sekali. Dia tidak melihatnya. Bahkan seharian ini dia tidak ada on. Oh Mas Anton ….

*****

Hari terus berlalu, tapi Mas Anton tidak juga menghubungiku sekedar mengajak balikan atau berbasa-basi. Aku juga tidak ada keberanian untuk menghubunginya. Hari-hariku mulai terasa sepi. Waktuku kuhabiskan dengan menyendiri dan melamunkan tentangnya. Tidak pernah sedikitpun aku berpikir Mas Anton akan terlepas dari genggaman. Aku terlalu yakin akan cintanya yang terlihat begitu sabar lagi tulus. Nyatanya … aku tidak dapat mempertahankan. Mungkin karena sikap kasar lagi egoisku. Darinya aku dapat merasakan arti sebuah kehilangan. Aku rindu Mas Anton… sangat merindukannya. Aku ingin sekali bertemu dan melihatnya. Mungkin jika aku ceritakan pada semua orang alasan Mas Anton menceraikanku, mereka pasti menyalahkanku.

Hari ini, aku dan Mbak Santi akan keluar untuk mencari pekerjaan. Semoga saja dapat. Ingin datang ke toko Bang Roel, tapi tidak ada keberanian. Aku merasa malu dan seperti tidak ada nyali meski hanya sekedar melewati tokonya. Aku ingin melihat Mas Anton, kali saja dia masih ada disana.

“Sudah rapi Vin?” tanya Mbak Santi.

“Sudah, Mbak,” singkatku. Kami pun pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari pekerjaan dengan mengendarai motor peninggalan Mas Galang. Saat Aku dan Mbak Santi tiba di parkiran mall, mata kami tertuju pada laki-laki yang memakai kaos putih serta celana Levis panjang tengah turun dari motor besarnya dengan seorang wanita cantik. Pakaian pria itu sangat rapi, badannya terlihat berisi dan yang pasti terlihat tampan. Dengan penuh perhatian dia membantu perempuan cantik itu melepaskan helemnya. Mbak Santi menoleh ke arahku.

“Vin lo liat ‘kan itu siapa?” tanyanya. Jelas aku melihatnya dengan jelas. Sebab jarak kami hanya sekitar 2 meter.

“Mbak!” lirihku. Mata Mbak Santi terlihat nanar lalu setelah itu dia memandangi bentuk tubuhnya.


My Beautiful Angel

My Beautiful Angel

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kisah seseorang yang menikahi karyawannya tanpa sepengetahuan sang istri pertama, Anton yang baru saja membawa pengantin baru ke rumahnya harus berhadapan istri pertama dengan celotehan tanpa henti dari Rani, yang sejatinya sangat judes dan tidak peka dengan keadaan disekitarnya , tetapi bagaimana pun Anton akan tetap mempertahankan pengantin barunya ,Vina dengan meminilasir masalah sekecil mungkin, tapi sayang karena tiga-tiganya edan mungkin ini akan jadi rintangan yang tidak mudah untuk mereka. Dapatkah Anton menjalani hidup sekaligus mempertahankan keluarganya ? Yuk dibaca kisahnya lebih lanjut...

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset