Pelet Hitam Pembantu episode 2

Chapter 2

“Aaaaah….” direnggangkannya tubuhnya yang terasa ngilu dan perih. Terasa sakit melanda setiap jengkal dari tubuhnya.

Ia kaget mendapatinya berada di tempat yang bukan semestinya. Tempat yang terasa aneh dan tak dikenalinya sedikitpun.

Diedarkannya pandang. Sepertinya ini bukan kamarnya. Tak ada gorden warna ungu yang disukainya. Juga tak ada bantal dan selimut warna senada yang selalu menemaninya sehari-hari. Semua yang ada tampak asing. Putih. Serba putih. Apakah dirinya di rumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi dengannya?

Terdengar suara beberapa orang yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Sepertinya penting jika mendengar nada bicaranya.

“Mas Arman? Kaukah itu Mas?” tanya Yati seraya mempertajam penglihatannya. Ia berharap suaminya lah yang saat ini ada ditempat itu.

Tak ada jawaban. Namun suara bercakap-cakap itu tetap ada.

Nyeri hatinya kian terasa saat ingat bahwa tak mungkin Arman suaminya akan menemuinya kini. ia telah bahagia dengan Isma, wanita selingkuhan nya itu. Yang juga adik tirinya.

Dicobanya untuk bangkit. Terasa nyeri di persendian kakinya yang dibalut perban panjang serta digips di tulang keringnya. Apa yang terjadi? Apakah kakinya patah?

Dipaksakannya untuk bangkit walaupun terasa nyeri itu semakin menyiksa. Namun, saat tangan ringkihnya memegang tiang infus untuk membantunya duduk, sekonyong-konyong tanpa bisa ditahan tubuhnya menggelosor ke bawah begitu saja.

“Brukkkk!”

Tubuh Yati jatuh menimpa lemari kecil di samping tempat tidur.

“Aduh!” ujar Yati sembari menahan sakit.

Sepertinya lukanya kembali berdarah. Terasa berdenyut-denyut dan perih.

Mendadak, dari seberang hordeng nampak satu wajah muncul.

“Eh, kamu sudah siuman?” tanya satu wajah itu penasaran.

“Gimana keadaanmu?” lanjutnya kemudian.

Yati terbengong-bengong. Siapa ini? Wajahnya terlalu sempurna untuk ukuran seorang pria nyata. Tampan dan berwibawa. Rambutnya hitam dan tebal, begitupun alisnya. Matanya menyorot tajam. Sementara janggut terbelahnya dihiasi jenggot tipis, membuat penampilannya makin berkharisma.

Yati mengucek-ngucek matanya. Takutnya keadaan membuat penglihatannya ikut terganggu. Tapi tetap saja wajah itu nyata. Bukan sekadar fatamorgana.

“Hei! Hei!” sapa si tampan.

Tak ada sahutan. Seperti terhipnotis saja Yati, yang masih terpaku tanpa bergeming.

Pria tampan itu kembali mengayun-ayunkan jemarinya di depan mata Yati yang memandang takjub. Seolah tak percaya bahwa ada mahluk sesempurna itu di dunia ini.

“Hei! Hei! Kok malah bengong?”

Dijentikannya jarinya didepan Yati, yang sontak tersadar dari lamunannya.

“Ah! Ah, ma-maaf. Ada apa?” tanya Yati tergagap.

Mendapati orang yang diajaknya berbicara kaget, pria tampan itu tertawa hingga tampak gigi geliginya yang putih dan teratur itu menyembul indah.

Yati kembali terpaku sendiri.

Seolah tersihir akan ketampanannnya, bibir Yati terurai senyum simpul. Indah dan lebar. Dan tanpa sadar Yati bergumam,

“Aaaaaahhhh….tampan sekali.”

Merasa diacuhkan, kembali pria itu menegur,

“Hei! Kok malah bengong lagi? Ada apa?”

Yati merasa malu. Wajahnya memerah.

“Oh, maaf. Anda siapa? Apa yang terjadi dengan saya?”

“Oh iya. Kenalkan. Aku Andri. Dokter Andri. Penabrakmu dua hari yang lalu. Waktu itu kamu jalan dalam keadaan melamun, dan saat itu aku melintas. Dan…..thakkk!” ujar dokter Andri seraya memberi isyarat dengan jari tangan kanan yang menabrak jari kiri.

“Kamu ketabrak. Dan,….terkapar pingsan selama dua hari dua malam.”

Yati tergagap. Baru ia ingat akan kejadian dua hari yang lalu. Tampak dia celingukan. Mencari-cari sesuatu.

“Apa yang kamu cari?”

“Tas! Tas! Mana tas saya?” ujarnya mencari-cari.

“Tas? Tas apa? Sejak kejadian kemarin aku tidak melihatmu membawa tas.”

“Ahhhh….” ditepuknya kening.

Bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya? Seluruh pakaiannya ada didalam sana. Masa ia harus beli lagi? Sementara ia sama sekali tak mempunyai uang lagi.

Lalu, Yati bercerita bagaimana Ikhwal kejadian yang sesungguhnya. Sampai akhirnya ia tertabrak mobil dokter muda yang ganteng itu.

Tampak sesaat dokter Andri berpikir keras. Keningnya mengernyit.

“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Yati menggeleng pelan.

“Kemana kamu akan pergi?”

Kembali hanya gelengan sebagai jawabannya.

“Maksudnya,…kamu sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan? Dan tak tahu mau kemana?”

Yati mengangguk.

“Kau punya saudara? Kerabat?”

Yati kembali menggeleng, lalu menunduk. Dia sama sekali tak punya saudara satupun. Selama ini dia hanya hidup sendiri. Ayah ibunya telah meninggal puluhan tahun lalu. Hanya suaminya, Mas Arman yang ia punya selama ini. Dan kini, satu-satunya orang yang ia percaya mencintainya sepenuh hati, telah mencampakkan nya begitu saja. Tak ubahnya seonggok sampah tak berguna.

Dokter Andri tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sungguh…..tak mudah jalan hidupmu.” ujarnya seraya menatap keluar jendela.

“Bagaimana kalau kau kerja padaku saja.” ucapnya kemudian, seraya memalingkan wajahnya pada Yati.

Bagai petir di siang bolong, Yati terlonjak kaget. Tak disangkanya kehidupan akan kembali membaik.

“Sss…saya? Jadi asisten Anda? Jadi dokter? Atau jadi perawat?” tanyanya polos dengan mimik lucu.

“Ya enggaklah. Kamu kerja di rumah saja. Daripada kamu kebingungan cari tempat tinggal dan jadi gelandangan. Iya kan?” ucap dokter itu mencoba melucu. Tampak gigi geliginya yang putih semakin tampak menawan.

“Ah iya. Maaf. Maaf.”

(Dasar bodoh aku ini) gumamnya dalam hati seraya tersipu malu.

“Nanti, kalau memang sudah cukup kuat dan punya tujuan pasti, kamu boleh pergi dan melanjutkan hidupmu lagi.” ujar dokter tampan itu seraya tersenyum manis.

“Bagaimana? Kamu setuju?”

“Baik dok. Baik. Saya berjanji akan bekerja sebaik-baiknya.” ikrar Yati saat itu juga.

“Ya sudah. Kamu istirahat saja dulu. Tunggu dokter jaga yang akan memeriksa kesehatanmu. Aku pergi dulu ya.” ucap dokter Andri berpamitan. Kembali senyumnya terkembang lebar.

“Nanti kalau kata dokter sudah oke, bilang saja. Biar nanti kamu bisa langsung ikut ke rumahku.”

“Ah, senyum itu…senyum itu…..”

Yati merasa bagai di awang-awang. Dia yakin dokter itu adalah candu. Setiap kali senyum itu terpancar, seolah rontok satu kesedihan dalam hatinya. Dan kini, hilang musnah segala kesedihan yang tersisa.

“Bbbb….BB…bbaik dok. Baik!” ucap Yati berbinar-binar. Diam-diam ia bersyukur kemarin sempat tertabrak olehnya. Tertabrak oleh salah satu keajaiban dunia.

“Iya.” ujar dokter Andri sembari tersenyum manis kembali.

Tiba-tiba Yati terjatuh lemas. Dan pingsan.

“Loh, loh, loh. Mbak! Mbak!” ucap dokter Andri dikagetkan ulah pasiennya.

Cukup lama Yati pingsan, hingga akhirnya sebuah semprotan minyak angin membangunkannya.

Dibukanya mata. Berharap dokter tampan itu kembali datang. Namun, bukan hidup namanya jika semua keinginan terpenuhi. Saat dibukanya mata, terpampang di depannya satu sosok suster tambun bermuka masam, suster Sherlina.

“Kkkk….kkkau….?” ucap Yati tertahan.

“Iya. Ini gue. Suster Sherlina. Bukan dokter Andri. Dia sudah pulang. Lo berharap ketemu dokter ganteng itu lagi? Jangan ngimpi!”

Yati masih termangu. Ada apa dengan suster ini? Kenapa sepertinya dia tak menyukainya?

“Ayo cepat habiskan sarapanmu!” ujar suster itu keras seraya tangannya menunjuk piring metal ceper, tempat dimana terdapat sarapan pagi yang tak bisa dikatakan enak. Secuil nasi, telor, dan juga beberapa potong buncis dan wortel yang biasa disebut sayur.

“Ayo cepat habiskan! Lo nggak mau buru-buru sembuh biar bisa ikut pulang ke rumah dokter tampan itu?”


Pelet Hitam Pembantu

Pelet Hitam Pembantu

Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset