Pendekar Cinta dan Dendam episode 15

Chapter 15

Saat itu, Jenderal Liang Zhou dan dua anak buahnya baru saja pulang dari kantor penyidik. Mereka bertiga akan kembali pulang ke rumah. Namun, dalam perjalanan pulang mereka dihadang oleh beberapa orang. Tak pelak, pertarungan pun terjadi.

Orang-orang yang menyerang mereka rupanya sudah menunggu sedari tadi. Mereka menunggu untuk melakukan pembunuhan pada penyidik baru yang menjadi ancaman bagi mereka.

Jenderal Liang Zhoi dan dua anak buahnya rupanya cukup tangguh untuk di kalahkan. Beberapa orang yang mencoba menyerang rupanya dibuat takluk oleh ketiga orang itu.

Di saat bersamaan, Liang Yi melihat pertarungan itu dan mengenali ayahnya. Pemuda itu kemudian turun tangan untuk membantu ayahnya. “Ayah, apa yang terjadi?” tanya Liang Yi saat berdiri di samping ayahnya itu.

“Mereka mencoba menyerang kami. Sepertinya mereka mengincar ayahmu,” jawab salah satu anak buah Jenderal Liang Zhou.

“Itu benar, Nak. Mereka mengincar Ayah,” ucap Jenderal Liang Zhiu membenarkan apa yang diucapkan anak buahnya itu.

“Tidak bisa dibiarkan!” Liang Yi lantas merangsek maju dan menyerang orang-orang itu. Tak tinggal diam, Jenderal Liang Zhou dan dua anak buahnya turut menyerang.

Senja itu, terdengar suara denting pedang yang saling beradu. Walau hanya berempat, nyatanya mereka mampu membuat para penjahat itu kelabakan. Kegesitan Liang Yi dalam bertarung tidak bisa di anggap remeh. Pemuda itu memiliki kemampuan bertarung yang sangat mumpuni.

Para penjahat itu tidak menyangka kalau orang-orang yang mereka hadapi memiliki kemampuan yang sangat hebat. Karena terdesak, salah seorang dari mereka mencoba untuk melesatkan anak panah pada Jenderal Liang Zhou. Melihat ayahnya menjadi sasaran anak panah, Liang Yi mengambil sebilah pedang yang tergeletak di tanah dan bersiap untuk melesatkannya pada lelaki itu.

Darah segar keluar dari mulut lelaki itu saat pedang yang dilesatkan Liang Yi tepat menancap di dadanya. Anak panah yang sempat dilepaskan oleh lelaki itu tampak melesat tak tentu arah.

Karena terdesak, para penjahat itu akhirnya melarikan diri. Beberapa orang dari mereka tergeletak dengan luka yang menganga. Liang Yi melihat tubuh tak bernyawa itu untuk memeriksa identitas mereka.

“Ayah, apa mungkin mereka adalah bandit-bandit itu?” tanya Liang Yi pada ayahnya.

“Mereka memang bandit-bandit itu, tetapi mereka hanya menjadi korban dari rencana pemimpin mereka,” jelas Jenderal Liang Zhou.

“Maksud Ayah?”

“Mereka ini hanya secuil dari pasukan bandit itu. Mereka dikirim hanya untuk menguji kemampuan kita. Mereka ingin cari tahu tentang kesigapan kita. Jadi, persiapkan dirimu karena mereka tidak akan tinggal diam,” jelas Jenderal Liang Zhou.

Benar saja, jauh di tempat persembunyian mereka, pemimpin dari para bandit tampak naik darah saat anak buahnya kembali dalam keadaan terluka dan mengalami kekalahan telak

“Apa kalian tidak bisa menghabisi mereka?” tanya lelaki itu sambil memukul meja.

“Maaf, Ketua. Sepertinya penyidik yang baru sangat hebat. Mereka sangat sukar untuk dikalahkan.”

Satu tamparan mendarat di pipi lelaki yang melapor itu. Pipinya berdenyut saat ditampar. “Aku tidak peduli! Bagaimanapun caranya, penyidik baru dan seluruh keluarganya harus meninggalkan tempat ini. Bila perlu, kita habisi mereka!” ujarnya geram.

“Baik, Ketua!”

Sejak penyerangan waktu itu, Jenderal Liang Zhou memerintahkan untuk menjaga kediamannya. Dia khawatir jika para bandit itu menyerang kediamannya dan mengancam keselamatan keluarganya.

“Suamiku, berhati-hatilah. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu,” ucap Nyonya Liang yang begitu mengkhawatirkan suaminya.

“Jangan khawatir, Istriku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, ada anak buahku dan juga putra kita. Liang Yi tidak akan membiarkanku terluka.”

“Iya, Ibu. Jangan khawatirkan Ayah. Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi Ayah.” Liang Yi berusaha menenangkan ibunya. Setelah Liang Yi dan Jenderal Liang Zhou menenangkannya, barulah wanita itu merasa tenang. Liang Zia lantas membawa ibunya ke kamar untuk beristirahat.

Melihat kekhawatiran Nyonya Liang, Li Jia tampak merasakan hal yang sama. Dia takut jika hal buruk kembali menimpa keluarga barunya itu. Melihat Li Jia termenung, Liang Yi lantas mendekatinya.

“Kenapa kamu termenung? Li Jia, apa yang sedang kamu pikirkan?” Liang Yi duduk di sampingnya. Li Jia hanya terdiam. “Apa kamu akan terus bersikap seperti ini padaku?” tanya Liang Yi kembali.

Li Jia menatapnya. Liang Yi lantas tersenyum. Lagi-lagi, Li Jia merasa terusik dengan senyuman itu. “Jangan lakukan itu padaku,” ucap Li Jia sambil memalingkan wajahnya.

“Apa aku tidak boleh tersenyum di depanmu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau mengerti dengan perasaanku?” Liang Yi tampak kecewa. Pemuda itu menyimpan kembali gelang giok yang akan diberikan pada Li Jia.

“Liang Yi, buanglah perasaanmu itu. Aku tidak pantas untuk mendapatkan perhatian dan cintamu. Aku tidak ingin kamu terluka sama seperti Lian. Jadi, aku mohon agar jangan pernah mencintaiku.” Li Jia berucap dengan air mata. Gadis itu merasa kalau dirinya tidak pantas untuk dicintai karena dia takut orang-orang yang mencintainya akan berakhir dengan kematian.

“Apa kamu takut nasibku akan sama dengan Lian?” Li Jia tersentak saat Liang Yi mengatakan hal itu. Melihat raut wajah Li Jia, Liang Yi meyakini apa yang dikatakannya itu memang benar. Gadis itu takut kehilangan lagi.

Liang Yi meraih tangan Li Jia dan menggenggamnya erat. “Aku tahu kamu khawatir karena berpikir kalau nasibku akan berakhir sama seperti Lian. Akan tetapi, aku tidak ingin pergi secepat itu darimu. Aku akan menjaga diriku sebaik mungkin agar bisa kembali padamu. Ah, aku tidak ingin pergi meninggalkan dunia ini secepat itu. Bila perlu, aku akan menentang semesta agar aku bisa kembali lagi padamu.”

Liang Yi berusaha meyakinkan Li Jia tentang perasaannya. Dia begitu mencintai gadis itu dan tidak ingin melepaskannya. Namun, hati Li Jia masih tertutup untuknya dan dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta gadis itu.

Liang Yi tak hanya memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni. Pemuda itu juga memiliki ketampanan yang membuat gadis-gadis akan berlutut untuk mendapatkan cintanya. Wajahnya sangat tampan dan serasi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap. Liang Yi adalah pemuda yang sempurna di mata setiap wanita.

Di dalam kamarnya, Li Jia memikirkan apa yang dikatakan Liang Yi padanya. Pemuda itu dengan tegas telah menyatakan perasaannya. “Apa kamu begitu mencintaiku? Liang Yi, apa aku seberharga itu di matamu?” Li Jia duduk termenung dan memikirkan sikap Liang Yi padanya. Tak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat mengkhawatirkan pemuda itu. Apalagi saat dia tahu kalau Liang Yi dan ayahnya telah diserang oleh bandit-bandit itu.

Setiap Liang Yi dan ayahnya pergi ke kantor penyidik, Li Jia terlihat khawatir. Dia takut kalau kepergian mereka untuk yang terakhir kali. Dia takut kalau mereka pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.

Saat Liang Yi dan ayahnya kembali ke rumah, Li Jia selalu memerhatikan mereka karena takut jika mereka terluka. Dia tidak ingin kehilangan mereka sama seperti Lian dan kedua orang tuanya.

Tanpa disadari oleh Li Jia, sikapnya itu telah menarik perhatian Liang Yi. Pemuda itu mengetahui kekhawatirannya, hingga suatu hari Liang Yi ingin membuktikan tentang apa yang dipikirkannya.

Hari itu, Liang Yi belum juga kembali. Jenderal Liang Zhou telah kembali dari kantor penyidik sejak sore hari. Sementara Liang Yi, hingga senja berganti malam, pemuda itu belum menampakkan diri.

Di dalam kamar, Li Jia tampak khawtir. Gadis itu berjalan mondar-mandir karena mengkhawatirkan Liang Yi. Dia takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada pemuda itu.

“Kakak, ada apa? Kenapa Kakak begitu cemas?” tanya Liang Zia. Li Jia hanya menggeleng. “Jangan khawatirkan Kakakku, dia bisa menjaga diri. Sekarang tidurlah,” ucap Liang Zia seakan tidak mengkhawatirkan kakaknya.

“Apa kamu tidak khawatir pada kakakmu?” tanya Li Jia. Liang Zia hanya tersenyum.

“Kakakku bisa menghadapi sepuluh pemuda yang menyerangnya. Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkannya,” ucap Liang Zia yang membuat Li Jia semakin khawatir.

“Sepuluh pemuda itu bukan sedikit. Apa dia pikir nyawanya bisa dibeli di kedai?” Li Jia bergumam kesal. Dia pun keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu. Melihatnya pergi, Liang Zia tersenyum.

Malam makin larut dan Liang Yi belum juga kembali. Li Jia masih menunggu walau matanya sudah tidak mampu untuk menahan rasa kantuk yang mulai mengganggu. Gadis itu lantas duduk. Tiba-tiba, dia mendengar suara kaki kuda yang berhenti di depan pintu. Li Jia lantas bangkit dan mengintip dari jendela dan melihat Liang Yi yang berjalan terhuyung sambil memegang lengannya. Sontak, Li Jia segera membuka pintu dan mendekatinya.

“Liang Yi, kamu kenapa?” tanya Li Jia panik. Pemuda itu hanya menatapnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.

“Liang Yi, lenganmu kenapa?” Li Jia menarik lengan pemuda itu dan melihat noda darah di tangannya. Sontak, Li Jia terkejut.

“Pelankan suaramu. Aku tidak ingin ayah dan ibuku tahu kalau aku terluka,” ucap Liang Yi yang bergegas masuk ke kamarnya. Namun, Li Jia menahannya.

“Kemarilah, aku akan mengobati lukamu itu,” ucap Li Jia sambil membawa Liang Yi ke ruang belakang rumah. Li Jia lantas mengambil obat di dalam lemari dan penggalan kain serta wadah yang berisi air bersih.

Dengan hati-hati, Li Jia merobek jubah Liang Yi yang sudah robek terkena pisau. Dengan kain basah, dia membersihkan luka yang masih mengeluarkan darah. Tangannya tampak gemetar saat mengoles luka dengan obat. Hatinya menahan sakit saat melihat luka yang membuatnya teringat pada Lian.

Li Jia mengobati luka di lengan Liang Yi dengan menahan tangis. Air matanya membendung saat mengoles obat dan menutupinya dengan kain bersih. Liang Yi hanya memerhatikannya dan bisa melihat air mata gadis itu yang sudah membendung.

Liang Yi lantas meraih tangan Li Jia yang masih gemetar. Dia bisa merasakan getaran dan dinginnya tangan gadis itu. Li Jia berusaha melepaskan tangannya, tetapi Liang Yi segera memeluknya. “Maafkan aku karena sudah membuatmu ketakutan dan mengkhawatirkanku. Maafkan aku,” ucap Liang Yi lembut. Li Jia kembali berusaha melepaskan diri, tetapi Liang Yi tidak ingin melepasnya.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa kamu ingin aku mati karena mencemaskanmu?” Li Jia kini menangis di dalam pelukan Liang Yi. Pemuda itu tersenyum karena Li Jia begitu mengkhawatirkannya.

“Kenapa kamu melakukan ini padaku?” Li Jia memukul lengan Liang Yi sambil menangis. Namun, tak lama. Li Jia meremas jubah Liang Yi seakan menahan ketakutannya. Liang Yi lantas meraih tangannya itu dan menggenggamnya.

“Aku tidak akan melakukan ini lagi. Aku tidak akan membuatmu mencemaskanku seperti ini lagi. Aku pasti akan selalu kembali padamu. Li Jia, aku mohon tetaplah seperti ini.” Liang Yi mengeratkan pelukannya dan menggenggam erat tangan Li Jia. Gadis itu masih menangis di pelukannya. Liang Yi mengelus lembut puncak kepala Li Jia dan mencurahkan rasa sayangnya pada gadis itu.

“Kenapa kamu bisa berdarah seperti itu? Kenapa kamu membiarkan mereka melukaimu?” Li Jia melepaskan pelukannya dan menatap Liang Yi tajam. Pemuda itu tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Katanya kamu bisa mengalahkan sepuluh pemuda sekaligus, tetapi kenapa kamu pulang dengan luka seperti ini? Apa semua itu hanya bualan Liang Zia saja?” Li Jia tampak kesal dan ingin beranjak meninggalkan Liang Yi. Namun, pemuda itu meraih tangannya, hingga dia terduduk kembali. Liang Yi lantas menatapnya.

“Aku bisa membunuh mereka sekaligus, apalagi jika mereka mengambil apa yang menjadi milikku. Ah, aku akan melakukan apa pun agar aku tidak kehilangan apa yang menjadi milikku.” Liang Yi mengeluarkan gelang giok yang akan diberikan pada Li Jia. “Mereka ingin mengambil gelang ini dariku dan aku tidak bisa memberikannya. Lebih baik aku mati daripada melihat apa yang sepatutnya menjadi milikku diambil oleh orang lain.”

Li Jia menatapnya kesal. “Hanya karena gelang itu kamu rela dilukai. Liang Yi, apa nyawamu lebih berharga dari gelang itu? Kalau mereka membunuhmu lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa kamu tidak memikirkan ayah dan ibu?”

“Li Jia, tenanglah. Aku tidak akan mati semudah itu. Aku …. ”

“Sudahlah, aku tidak ingin mendengar alasanmu.” Gadis itu lantas bergegas pergi.

“Gelang ini lebih berharga dari nyawaku karena gelang ini adalah milikmu. Aku ingin memberikannya padamu dan aku tidak rela jika mereka mengambilnya dariku.”

Li Jia menghentikan langkahnya. Kembali air matanya jatuh saat mendengar Liang Yi mengatakan itu.

“Bukankah aku sudah berjanji untuk kembali padamu? Li Jia, aku sangat bahagia karena kamu begitu mengkhawatirkanku dan aku tidak ingin membuatmu selalu mencemaskanku. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dan melupakan kesedihanmu. Aku tahu, kamu belum bisa melupakan Lian. Akan tetapi, aku juga tidak bisa melupakanmu. Apa kamu ingin aku juga pergi meninggalkan dunia ini karena dibunuh oleh cintaku sendiri?”

Li Jia masih berdiri dengan isak tangis yang terdengar. Liang Yi lantas berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Li Jia memejamkan matanya saat Liang Yi memeluknya. Dadanya bergemuruh saat embusan napas Liang Yi terdengar di telinganya.

“Li Jia, izinkan aku untuk mencintaimu dan mengobati luka di hatimu. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dan melupakan kesedihanmu. Aku ingin melihatmu tersenyum padaku,” bisik Liang Yi sambil memeluknya erat.

Li Jia menunduk. Air matanya kian membasahi wajahnya. Liang Yi melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh gadis itu. Dengan lembut, Liang Yi menyeka air mata di wajah Li Jia.

“Li Jia, aku mencintaimu,” ucap Liang Yi sambil memakaikan gelang giok di pergelangan tangan Li Jia. Gadis itu membiarkan Liang Yi memakaikan gelang itu padanya. Liang Yi lantas menggenggam tangannya dan mendaratkan satu kecupan di dahinya.

Melihat Li Jia terdiam, Liang Yi tersenyum. Gadis itu telah menerima cintanya. Kembali, Liang Yi memeluknya dan kali ini Li Jia membalas pelukannya.


Pendekar Cinta dan Dendam

Pendekar Cinta dan Dendam

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset