Tomato Strawberry episode 23

Chapter 23 GRAND OPENING

Besok adalah hari di mana opening kafe milik Riza, ia menamai kafenya

“Zeea kafe” itu adalah panggilan kecil Inggrit, Riza menyukai nama itu, dan Sherly menyetujuinya.

Sherly sudah mengatur semua, mengundang beberapa wartawan dari berbagai media, Artis ibu kota, dan Dj artis, serta beberapa hiburan lainnya.

Sherly dan Inggrit sudah mengundang teman-teman kampusnya untuk datang, Vero juga ikut serta membantu menyebar selebaran di kantornya, mereka semua bekerja keras membatu Riza. Mereka berempat duduk di balkon kafe.

“besok adalah hari di mana awal akan menentukan apa yang akan terjadi ke depan, semoga saja semuanya berjalan dengan baik, cheers!” ujar Riza penuh semangat mengangkat minumannya,

“Cheers!!” semua menyaut dengan gembira.

Lalu meminum minuman mereka masing-masing.

“kak, apa kau serius menamai kafe ini dengan nama itu?” tanya Vero penasaran,

“ya tentu saja!” jawab Riza singkat,

“apa kau tidak takut bangkrut? Karena nama itu kurang hoki, ku rasa,” tambah Vero melirik ke arah Inggrit,

“tutup mulutmu beruang!” pekik Inggrit kesal, lalu memukul kepala Vero dengan sendok.

“aku juga berpikir begitu.. Tapi dia memaksa ya jadi.. Mau tak mau!” jawab Riza memasang tampang datar konyol,

“KAKAK!!! IHHH.. “ bentak Inggrit kesal, lalu mengembungkan pipinya, membuang muka.

Semua tertawa kecuali Inggrit, Vero menggodanya akhirnya ia ikut tertawa.

Vero kemudian berpamitan pulang, karena pagi ia harus bekerja, Inggrit ikut bersamanya, karena searah dengan jalan menuju rumah.

Riza kemudian mengajak Sherly ke atap, Sherly tak tahu kalau ada ruangan pribadi khusus ruangan manajer.

Sherly terkagum-kagum melihat ruangannya,

“Taraaaaa.. Ruangan khusus untuk manajerku yang cantik,” kata Riza menunjukkan ruangan pribadi untuk manajernya.

“ini sangat bagus Riza,” pekiknya riang, sambil terus memandangi ruangan kayu mungil berisikan meja kerja kayu, tempat tidur, televisi, teras kecil, dengan pintu kaca besar sliding yang dilengkapi dengan kursi teras sederhana untuk dua orang.

Sherly hanya tersenyum senyum sendiri, matanya berbinar kagum.

“apa.. Apa, aku boleh tinggal di sini? Kapan pun aku mau? Ini bahkan lebih indah dari kamarku” ucapnya memohon seperti anak kecil, menarik-narik kemeja Riza.

“tentu saja ini milikmu sekarang! Setidaknya sampai aku memecatmu,” ejek Riza tersenyum lembut, terlihat pancaran bahagia di wajah Sherly, ia berlari kecil di ruangan itu, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan kamar barunya.

“tapi.. “ ujar Riza serius, Sherly terdiam menoleh,

“tapi apa?” jawab Sherly murung.

“bolehkah kapan-kapan aku tidur berdua denganmu di sini??” canda Riza,

“RIZAAAA!!! Dasar kau mesum!!” teriak Sherly menghajarnya habis-habisan dengan sepatunya, mereka berdua terbawa ke dalam kegembiraan di ruangan mungil itu.

“Jadi wanita itu adalah kekasihnya!” gumam pria misterius yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Riza dan Sherly di luar kafe, “cantik juga, ia membuatku bergairah!” tambahnya,

kemudian menyeringai tajam.

Keadaan rumah Riza agak berantakan, Inggrit langsung membersihkan setibanya di rumah, Vero tidak mampir malam ini karena ia teralu lelah dan segera pulang setelah mengantar Inggrit.

Ketika sedang membersihkan teras ia mencium bau busuk seperti bangkai tikus atau sejenisnya, matanya tertuju pada pot bunga yang berantakan, ia mengendap-endap melihat.

Inggrit Cumiik ketakutan, menutup mulutnya, ia melihat seekor kucing hitam yang di mutilasi dengan sadis, siapa yang melakukan ini? Pikirnya. Inggrit tahu ini jelas di sengaja, pandangannya berkeliling berharap menemukan orang yang melakukan teror ini.

“kucing yang malang,” ucap Inggrit pelan, mau tak mau ia harus membersihkannya, pandangannya terhenti, ia melihat secarik kertas lalu menghampiri, kemudian ia jongkok dan menyipitkan matanya untuk memastikan tulisan yang di tulis dengan noda darah.

“Aku akan menghancurkanmu Riza!”

Pikiran Riza terbagi dua setelah Riza mendengar cerita dari adiknya tentang teror tadi malam.

Ia sebenarnya hanya ingin fokus pada malam pembukaan kafenya, tapi itu sulit untuknya. “siapa yang melakukan ini!?” gumamnya, ia merasa tak mempunyai musuh, jika itu musuh Anton mengapa menuliskan nama Riza bukan Anton, dan jelas-jelas secara dunia Riza sudah mati, tadinya hanya Inggrit satu-satunya orang yang mengetahui semua ini, dan sekarang dua orang, termasuk si peneror ini.

Riza gugup, sebenarnya untuk apa ia gugup, karena malam ini sudah pasti sukses berkat usaha mereka semua. Malam itu di kafe baru milik Riza sangat ramai pengunjung.

“mana Sherly dik? Ko sampai jam segini belum datang!?” tanya Riza, khawatir,

“aku enggak tahu kak, ponselnya pun enggak aktif!”

Ruangan itu sangat gelap gulita hanya sedikit bias cahaya yang masuk ke dalam ruangan melalui celah jendela, sangat kotor dan berdebu, seorang wanita terduduk dengan tangan terikat ke belakang. lemas tak berdaya, dengan darah di pelipisnya, dan debu di sekujur tubuhnya. Ia merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya, ia mencoba membuka matanya perlahan, dan coba menembus kegelapan dengan kedua matanya yang berlumuran darah.

“di.. Di mana aku.” Ucap Sherly dengan suara parau.


Tomato Strawberry

Tomato Strawberry

Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2015 Native Language: Indonesia
Jika aku bukanlah aku apakah kau masih mencintaiku ? sebuah kisah cinta sederhana sepasang kekasih

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset