Who ? episode 6

Part 6

Aku masih diam, tanganku sudah mulai meraih Pisau dalam Lipatan jaketku, sementara sudah ku perhitungkan segala kemungkinan disini.

di dalam Lift ini, ada 7 orang, termasuk aku dan Manon, bila aku ingin membunuhnya, tentu aku harus melewati dua pria ini, si kacamata dan si tubuh gempal, namun aku yakin tidak akan semudah itu membunuhnya, dan kemungkinan terburuk adalah, salah satu dari Pria ini akan menghentikanku, lalu apakah ku bunuh saja pria gempal itu. tidak , tidak !! masih terlalu beresiko.

Lalu, apa yang akan kau lakukan Manon, masih mencoba mengoyak tubuhku, aku rasa dia memilki jalan pikiran yang sama padaku. Terlalu beresiko dengan kondisi yang ramai.

Kini mataku tertuju pada nomer Lift yang tertera nomer. ketika tiba-tiba seseorang mulai bergerak menembus kerumunan dalam Lift, aku Cumiik menatap Manon, yang berusaha untuk keluar, dengan nada ramah kepada semua orang.
“maaf- aku harus keluar” katanya lembut.
“** SENSOR **!!” pekikku dalam hati, wanita ini, dia benar-benar luar biasa dalam berakting, ku coba untuk ikut keluar namun aku terlambat saat pintu Lift sudah tertutup, dan Manon menatapku dengan mata cokelatanya dan melambaikan tanganya kepadaku, aku tahu dalam hatinya dia menertawaiku.
Aku terkekeh melihat sikap sintingnya, “kau benar-benar akan mati !!! Sialan!!” umpatku.

Aku berhenti di Lantai 3 perbelanjaan, ku telusuri koridor dimana aku bisa memperhatikanya, dimana Lift selanjutnya bergerak, dan aku masih mengawasi si wanita itu, yang tampil polos dengan seragam SMU nya.

Aku yakin, wanita itu juga sedang mengamatiku, tidak membiarkanku menguasai permainan.
Bila ku pikirkan setiap detail dari sikapnya, aku mulai mengira-ira, dia type apa, kemungkinan ada 2, dia adalah Hypertia, karena bila dia tetap menyembunyikan kehadiranya, dia bisa membunuhku dengan mudah, namun dia justru memperlihatkan dirinya kepadaku, seolah ingin mengatakan, “bunuhlah aku!!”
Namun , dia sangat berbeda dengan lawanku sebelumnya, entah kenapa ada yang membuatnya tampak sangat berbeda,
Apakah mungkin dia Twins, ada beberapa hal yang membuatku memasukkanya dalam daftar dan type Twins, memiliki kepribadian ganda, itu sangat mengesalkan, yang mengangguku adalah, apakah setiap kepribadian memiliki diri yang berbeda , itu lah yang mengangguku, bila setiap kepribadian memilki diri yang berbeda, apakah alam bawah sadarnya itu mengenali sikap membunuh yang ada dalam diri lainya.

Sudahlah, bagiku itu tidaklah penting, hanya saja, aku perlu mengiringnya.
Ku tatap jam dinding Department Store, dimana aku bisa melihat sekarang 1 jam setelah pertemuanku denganya.

Ku hitung setiap rencana yang ku miliki, dan aku melihat arah mana dia membawaku, dia menuju selatan, artinya akan kembali ke Stasiunt itu, apakah ini jebakkan, tidak !! apa yang dia milikki untuk menjebakku.
Jadi, bila aku tidak salah, masih ada 4 Kereta akan tiba, tepatnya sebelum pukul 4 sore, setiap kereta akan tiba dalam waktu 15 menit, baiklah, aku masih bisa menjebakknya.
Ku percepat langkahku sembari tetap mengawasi langkahnya, dan aku menuju ke Lift yang akan membawaku ke Lorong Stasiunt, sekarang aku yakin, aku bisa melepaskan dia untuk sesaat, ku ambil minuman kaleng dan beberapa Koran , kemudian mengikuti arah Kereta yang akan tiba 5 menit lagi.
Aku tersenyum terkekeh, saat berada di kerumunan orang yang sudah menunggu. Ping, suara dari Meja informasi yang mengkonfirmasi kereta tiba mulai terdengar, aku sejenak membuka minuman kalengku, dan kemudian berjalan bersama kerumunan itu.

Aku masih belum melihat kedatanganya, jadi aku duduk sebentar di samping wanita yang membawa seorang anak, suara peringatan bahwa pintu akan di tutup dalam waktu 5 menit segera terdengar, ku jatuhkan Koranku, dan berjalan menuju Pintu, disana, aku bisa melihat gadis itu. sekarang yang harus ku lakukan adalah, mengikuti kerumunan yang barusaja keluar dari Kereta.
Sesekali ku tatap jam di dinding stasiunt karena rencana ini sangat memperhitungkan tiap menit yang terbuang.

Aku bisa melihat gadis itu mengawasi sekeliling, tanpa memberikanku celah untuk merobek perutnya.
“bersabarlah Bobby, tinggal sedikit lagi, dan wanita itu akan berakhir dalam Pisaumu!!:” aku mulai merasakan sensasi menyenangkan ini.
Ku ikuti Lorong, dan ku buang kaleng minumanku, berjalan menuju Lift untuk menuju Pintu timur, disana aku masih mengawasi wanita itu, Manon sekarang pasti mulai merasakan kekhawatiran, dan aku tahu, kemana selanjutnya kau akan berada.
Kini aku melihatnya, seperti dugaanku, kereta ke 2 sudah tiba, dan dia mulai mencari diriku dalam kerumunan itu. sekarang aku jadi ingin tahu, apakah Super Mario yang sudah kau ancam itu akan benar-benar berakhir di tanganmu.
Ku ikuti jalanan setapak, untuk menempatkan diriku di meja Informasi, sekarang dia tidak akan memprediksiku, bahwa aku ada disini. Aku meraih Pisau lain. 2 Pisau di tanganku, sempurna!!
“binggo!!”
Dia menuju tempat yang sudah ku perkirakan, baiklah , Nona, aku akan kesana.

Ku ikuti langkahnya, disana adalah Lorong gelap Stasiunt, dia pasti sudah mulai merasa dirinya yang terpojok jadi dia memutuskan untuk mengiringku agar dia menemukanku, benar-benar Brilliant.
Dia mulai berbelok, dan aku mengangkat Pisauku, menjilatinya layaknya perasaan ini sudah tidak tertahankan lagi, ketika aku berhenti sejenak, memandangnya.

Wanita itu ternyata mengetehui Rencanaku.. aku terkekeh semakin bernafsu memandangnya.. “good Girl”
Dia sekarang, berlindung pada sebuah Payung yang ada di tanganya.

“aku tidak melihat hujan-“ kataku kepadanya, dan dia menyeringai dengan memandang diriku “kau belum melihatnya saja. Sebentar lagi akan turun Hujan!!”
Ku tatap setiap sisi tubuhnya, “benar- dia memang tidak Normal!! Ada sisi yang aneh pada matanya!! Dia memandangku dengan tatapan yang selalu berbeda!!”

“jadi- kau mau mati disini!!” kataku dengan nada naïf, dan saat itu lah, matanya menunjukkan tanda-tanda berbeda lainya.
“dia memang memiliki kepribadian ganda!!” sahutku kemudian, ku gengaam semakin erat Pisauku,
Dan dia mulai tertawa dengan Gila, mengobrak-abrik Rambutnya, menatapku dengan gila, sangat berbeda dengan wanita yang sebelumnya ku lihat, seolah dirinya yang lain kini yang mendominasi, wanita itu menatapku secara beringas, ketika payung itu terbuka, aku bisa menemukan itu adalah senjata yang tajam pada ujung runcing payung itu, terdapat sebuah Besi yang berkilau, menyerupai Pisau yang tipis.

Melihatnya seperti itu, justru membuat jantungku semakin berdegup kencang, kedua kakiku seakan akan mulai ingin menari, wanita ini, benar-benar menarik.
Aku mulai berlari menerjang tubuhnya sebelum dia mulai mengayunkan Payungnya dengan gila ke arahku.
“bagus!!” aku tersayat pada wajahku, namun hanya sebuah sayaan kecil, pengelihatanku mulai tertutup cairan hangat darah di pelipis mataku. Aku masih menyeringai.
Ku bungkukkan tubuhku, menganggam Pisauku semakin erat, ku dengarkan Raungan kereta ke 3, jadi bisa ku simpulkan 15 menit dari sekarang, akan ada Kereta terakhir. baiklah, ini adalah permainan bukan, dia dan aku, kami sama-sama seorang pembunuh, jadi permainan ini akan lebih menarik, bila kami bermain dengan orang ke 3. yah, Malaikat Maut, aku bisa mendengar dia tertawa di antara kami.
Aku menatap latar tempatnya berdiri, bila aku mampu memojokkanya menuju Lorong Rell kereta, maka akan terdengar lebih seru. baiklah, senjata itu benar-benar membatasi pergerakanku.
Apa, sekarang apa yang harus aku lakukan, ketika aku mulai mencoba menerka-nerka apakah si Manon akan menyerangku secara langsung aku mulai menemukan satu jawaban yang mengganjal dalam pikiranku.
Tentu saja, bila aku benar, maka dia memang seorang Type Twins.

Ada perbedaan mencolok dari wanita ini, sebelumnya dia mencoba menusukku di dalam Lift, dan sekarang dia lebih memilih untuk menjaga jarak, meski yang terpojok disini adalah aku. karena senjatanya, maka dia lebih memilih Defense, sedangkan kepribadian yang lainya, lebih memilih serangan.
Kepribadianya memiliki jalan pikiran yang berbeda, baiklah, sekarang aku melawan yang berkepribadian Defense, apa yang harus aku lakukan.
Ketika tiba-tiba, aku memiliki sebuah ide,
Aku tersenyum padanya. dia melihat aku yang berjalan menuju mesin Kaleng minuman, ku masukkan beberapa koin, dan beberapa kaleng Jus ku terima.
Lorong yang kami gunakan untuk duel sangat sepi, karena Lorong ini hanya di gunakan pada malam hari , jadi waktu kami masih ada beberapa jam lagi, sebelum keramaian akan segera memenuhi Lorong stasiunt ini, sedangkan , Kereta akan tiba dari Lorong lainya yang sekarang dalam jam sibuk.
Ku teguk minumanku sementara Manon terus memandangku sinis, dengan ekpresi Sintingnya.
“bersantailah.. kau mau minum?” tawarku kepadanya,
Dan dia hanya mendengus padaku dan mengengam semakin erat Senjata Payungnya, ku jatuhkan kaleng kosong itu, kemudian membuka kaleng lainya, namun aku tidak meminumnya, aku hanya membuang isinya ke lantai itu agar basah, Manon masih memandangku.

Dan sekarang adalah kaleng ke 3 ku, ku buka penutupnya kemudian ku jatuhkan kembali air yang ada di dalamnya , kemudian melemparkanya sekuat tenagaku pada Manon yang berdiri dengan wajah Sintingnya.
“seperti yang ku duga, dia sangat lemah dalam berfikir sebaliknya dia cepat dalam reflek,,”

Sebelum Menon menghindarinya, aku tertuju pada kaleng kosong di depanku, ku tendang sekuat tenaga, kemudian menerjang tubuhnya. Aku tahu ini beresiko.
Kami terhempas satu sama lain, hingga terjatuh pada Lorong Rell Kereta api, aku mulai berdiri, dan mencoba menyingkirkan Payung itu, namun aku salah, dia tertawa semakin keras, saat aku tersadar, di balik bajunya terdapat sebuah Pisau yang dia raih.

“b*ngsat!!” ku cekik Lehernya sebisaku, namun dia mendapatkan kepalaku.
Ku benturkan kepalanya di tembok beton sisi Rell, hingga aku merasakan sesuatu yang cair berwarna merah mulai memenuhi wajahnya, aku tertawa semakin bersemangat ketika menjatuhkanya, aku masih mencoba mencekik Lehernya, namun dia berusaha menendang –nendang Tubuhku.
Aku bisa melihat, Pisauku sudah menghilang entah kemana, sedangkan bila aku mengambil Resiko mengambil Pisau dalam Bajunya, itu bisa menjadi boomerang bagiku.
Namun bila terus seperti ini, aku tidak akan bisa membuat dia merasakan sensasi ketakuanya kepadaku, dan sepertinya ini tidak menarik, baiklah, ini adalah sebuah permainan, dan Malaikat maut akan menjadi jurinya.
Dia memiliki sebuah pisau dalam Lipatan bajunya, sedangkan Payung dengan ujung tajam itu hanya berjarak 1 meter dariku.
Jadi aku akan berjudi dengan Waktu, siapa yang cepat maka dia akan menjadi pemenang, bisa ku katakan, aku ada di dalam tekanan, saat aku melepaskan Cekikkanku ini, dan mencoba meraih Payung itu, dia bisa menikam kepalaku, namun cara ini lebih baik daripada harus mengambil Pisau dalam Bajunya.

Tunggu!! Ada cara lain, namun ini akan menjadi Perjudian dengan taruhan terbesarku.
Aku bisa meraih Payung itu, dan menikamkan padanya, hanya saja –keberuntunganlah yang menjadi penentunya.

Baiklah, ku pikirkan siapa saja yang bermain disini selain kami, Malaikat maut adalah juri agungnya, maka waktu dan keberuntungan adalah perjudianya.

Baiklah!! Aku sudah mengambil kesimpulan, waktu atau keberuntungan.
Saat itu juga, ku lepaskan cekikkanku, dan berlari menuju Payung itu, dan aku merasakan gerakan cepat di tengkukku.
“dia mendapatkanku!!”

Namun aku bergerak sedikit kesamping, sebelum memutar tubuhku saat berhasil meraih Payung Tajam itu, dan ku Ayunkan di Balik lompatanku, saat aku melihat, Ujung Payung yang tajam itu menembus Wajah dari Manon,
“aku menang!!” sahutku,

Ku Cabut Ujung Payung itu, dan melihat wanita itu meronta dengan Lubang tembus di wajahnya, rupanya dia masih hidup, dia berteriak histeris mengumpat diriku dengan kalimat kasarnya. Aku memandangnya, memandang bola matanya menunjukkan ekspresi ketakutan itu. Darah-darah itu. Aku mulia menarik rambutnya menendang wajahnya, mematahkan rahangnya dengan kakiku. aku tertawa terkekeh melihatnya, dan kemudian berjalan menuju Tangga Rell kereta dengan teriakan dari wanita itu.

Ku tatap wanita itu yang mencoba meraba dinding Rell kereta, wajahnya penuh dengan darah, dan aku yakin, sebentar lagi dia akan mati, aku memandang tanganku yang gemetar, Permainan ini semakin menyenangkan.
Aku harus melawan lebih banyak lagi, mungkin aku bisa mendapatkan yang lebih menarik, seperti Twins, Mistec, atau apapun Typenya.
Suara raungan kereta mulai terdengar, sementara wanita itu masih mencoba merangkak, aku mulai membuka payung itu dan menerbangkanya saat Kereta melintas dengan cepat “Wussssshhhh…

“Manon_ game Over!!” aku tertawa, dan berjalan menjauhi Stasiunt, saat hujan benar-benar Turun , dan aku menatap seseorang yang bersandar di samping Tembok pintu keluar Stasiunt.
Aku mengerutkan dahi, saat melihat itu adalah Black _Hair, apa yang dia lakukan” ucapku dalam hati, apakah dia pikir aku akan mati.”
Ketika aku berjalan di hadapanya, dia berbicara kepadaku, “Bobby.. aku memilihmu untuk Survival Game!!”
Ku hentikan sejenak langkahku memandangnya.

Dia tersenyum kepadaku, dan mengatakan sekali lagi, “jadilah Partnerku, Festifal 6 Bulan sekali, akan ada 12 Kontestan, yang bermain. Jadilah Partnerku, dan kita bermain Survival Game dengan yang lainya.”

“Survival Game, apa maksutmu??”
“hanya sebuah Festival bagi pemain yang mendatapkan Golden Ticket. Akan ada 12 pemain, mereka akan ada dalam 1 Permainan.”

Tiba-tiba, aliran daraku kembali menjadi sebuah Gairah, dan mataku seketika bisa membayangkan, darah-darah, akan semakin banyak darah dan Psycho sinting lain.
Ku tatap Black_Hair dan ku katakan, “aku pasti akan menjadi Partnermu!!” dengan seringai di wajahku, aku masih terbayang kematian dari Wanita bernama Manon itu.


Who ?

Who ?

Status: Hiatus Tipe: Author: Dirilis: 2014 Native Language: Indonesia
Adakah yang menganggap Psicho itu sangat keren!! saya hanya akan mengatakan Psycho tidak keren, namun Psycho adalah orang dengan kelainan mental yang memiliki beberapa latar berbeda. di Cerita ini saya memang menggunakan sudut pandang utama, namun yang saya pengen jelaskan adalah--Cerita ini sangat disturbing, bahkan terlalu buruk untuk beberapa orang yang mengaggap Cerita ini real, karena ini hanya Fiksi, ingat hanya Fiksi?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset