Janur Kuning episode 4

KEHIDUPANKU

Sesampainya dirumah kami berdua langsung bersih-bersih sesuai pesan mamak, Mumpung masih pagi waktu itu. Saat aku dan niko mulai membersihkan rumput liar dibelakang rumah, ditengah aku sedang mengumpulkan ranting.

“Nik bau apa ini?” Tanyaku saat mengumpulkan ranting kering.

“Iya bang kayak bau amis darah.” Jawab niko sembari hidungnya melahap bau amis tanpa rasa curiga.

“Tapi dari mana ya, sumbernya bang?” Tanya Niko

“Kayaknya iya nik,” Jawabku meyakinkan

“Iya bang, beneran ini.” Jawab Niko

Aku berdiri mencoba mencari sumber bau ini, berjalan menuju dekat bekas tambak….

“Tapi kok hilang ya baunya nik” kataku dari jauh

“Masak bang.” Jawabnya

“Coba cium kalau gak percaya” Perintahku

“Iya bang sudah ga ada lagi.”Jawabnya

“ayok nik kita cepet selesaikan pekerjaan ini.” Perintahku sambil mengumpulkan ranting kering dengan cepat.

Setelah itu kami membakar dahan, rumput dan ranting dibelakang rumah. Waktu berjalan dengan cepat, malam pun datang. Kami sekeluarga berkumpul diruang tengah. Ayah yang terlihat payah begitupun mamakku, wajah lelah nampak dari kedua orang tuaku. Mereka duduk dikursi Panjang, sedang aku dan Niko duduk dikursi kayu sendiri-sendiri. Suasana malam itu hening sekali hanya suara-suara hewan hutan yang saling berebut suara dikala malam.

“Bang kamu cium bau busuk tidak.” Kata mamakku yang memulai pembicaraan diruang tamu

“Bau busuk apaan mak.” Jawabku

“Iya Bang kamu cium tidak.” Sahut ayah

Malam itu aku langsung menghirup udara diruang tamu dalam – dalam. Pelan – pelan kurasakan dan benar kata ayah sama mamakku tentang bau ini.

“Iya yah mak, benar bau busuk apa ini.?” Tanyaku

“Ih bau busuk sekali.” Timpal Niko

Semakin lama aroma busuk itu semakin terasa menyengat, aku berjalan pelan pelan untuk mencari sumbernya. Tapi anehnya, lama kelamaan bau ini hilang dengan sendirinya.

“Mak Baunya kok udah gak ada ya”.? Kataku masih berdiri mencari sumber bau itu.

“Iya bang, baunya sudah gak ada” Jawab mamak

“mungkin itu bau dari bekas tambak belakang rumah”tegas ayahku.

“sudah..sudah…sudah…, gak usah dicari lagi bang, kita bahas yang lain” perintah ayah

Sehabis aku mencari bau yang aneh ini, kami mengalihkan topik pembicaraan tentang sekolahku dan Niko. Memang untuk urusan pendidikan mamak paling getol dan disiplin.

“Ya udah bang besok pagi kau siap-siap didaftarin sekolah sama ayahmu.” Kata mamak

“Niko kapan mak” Sahut Niko.

“Niko selasa aja ya, gantian sama abang kau” Jawab ayah

Hari senin kemudian aku diantar ayah kesekolah baruku, aku didaftarkan di sebuah sekolah SMA yang jarak dari rumah sekitar satu jam. Suasana baru dan menyenangkan pagi itu, setelah selesai urusan administrasi. Aku langsung masuk kelas dan berkenalan dengan teman-teman baru, disini aku langsung jadi pusat perhatian. Memang fisikku kala itu mendukung. Yang namanya Deno berciri tinggi 172 cm, rambut setengah ikal, berhidung mancung, berkulit kuning keputihan, bebibir merah muda dan bermata belok. [maap hanya deskripsi bukan sombong, ini semua hanya anugerah dari sang pencipta]. Kira kira ilustrasinya seperti ini, tingkat kemiripannya sekitar 98 %.

Hari selasa ayah mendaftarkan adikku sekolah SMP, walau satu arah dari rumah tapi jarak antara sekolahku dan adik sekitar tiga puluh menit.
Hari rabunya kami sudah berangkat sekolah berdua dengan Niko, dengan motor bebek yang sudah siap diteras rumah. Waktu itu kebetulan aku melihat tetangga depan rumah yang memakai bet yang sama denganku. Perlahan kuamati ternyata dia satu sekolah denganku. Sejujurnya selama seminggu dirumah aku tak tahu bahwa tetangga satu-satunya depan rumah, ada anak laki-laki yang seumuran denganku. Akupun sebagai warga baru berjalan mendekat untuk berkenalan. Sedikit basa basi, ternyata namanya Angga satu sekolah denganku. Setelah itu angga menaiki motornya untuk memanasi kendaraannya dipagi itu.
Bruuunnngggg…Brunggggg…Brunggggg (suara motor Angga yang keras itu)

“Payo (bahasa Jambi) berangkat.” (ayo berangkat). Pintanya sambil memainkan tarikan gas motornya.

“Oh iya.” Jawabku dengan berjalan kebali menuju motor depan rumahku.

Akhirnya kami naik motor untuk berangkat sekolah. Tapi aku menggantarkan adikku dulu kesekolahnya dengan Angga, setelah itu aku baru berangkat menuju sekolahku. Setelah sampai disekolah kami kami berjalan dari tempat parkir sekolah untuk segera masuk kelas masing-masing. Ditengah perjalanan…

“Wak ‘ang dah makan?” (kamu sudah makan). Tanya Angga

“Lohh kenapa (karena belum faham bahasa daerah Jambi)?” Jawabku masih bingung akan bahasanya.

“Kamu sudah makan?” Tanyanya Angga lagi

“Oh sudah Ngga.” Jawabku

“Ooh ya sudah, kalau gitu nanti payo pulang sama ambo” (Ooh ya sudah, kalau gitu nanti ayo pulang sama saya). Pintanya Angga kepadaku.

“Ok Ngga” Jawabku singkat agak canggung

Hari itupun selesai sekolah kami pulang bersama dengan Angga sebagai tetangga dan teman baruku disekolah maupun dirumah. Hal yang membuatku aneh saat pulang kulihat rumah Angga ramai oleh orang-orang yang berwajah sangar, aku sendiri sebagai warga baru enggan untuk bertanya sore itu. Selanjutnya sore itu aku diajak Angga kelapangan untuk bermain sepak bola dan sekaligus diperkenalkan sama teman-teman yang lain. Kami bermain sepak bola di lapangan berjarak lumayan jauh, karena harus melewati satu bukit. Tapi agak bisa cepat kalau kami melewati jalan pintas yang ditengah cekungannya. Sehabis bermain bola aku kaget dan takjub karena disebelah lapangan bola sekitar 200 meter ada sungai yang sangat indah, sungai itu sangat jernih sehingga dasar sungai terlihat dengan jelas. Ternyata kebiasaan anak-anak disana sehabis main bola, mereka mandi disungai dan mencari ikan. Anak – anak didaerah ini kalau berenang dan cari ikan memang jago, seperti menangkap ikan dengan tangan kosong di air yang jernih. Kegiatan itu menjadi rutinitas sehabis main sepak bola.

Sebelum magrib aku dan adikku pulang, dan harus sudah dirumah karena peraturan dari keluarga kami sejak kami kecil. Waktu itu kami sehabis magrib ikut mengaji di surau yang lewati sehabis bermain bola tadi. Jadi kegiatanku sehabis magrib berangkat jalan kaki keatas gunung, sampai disurau kira-kira satu jam perjalanan. Sesampainya disana, ternyata yang kelihatannya dari jauh surau itu kecil dan terbuat dari kayu yang lapuk. Setelah kami masuk kedalam tempatnya terlihat kokoh dan terdapat ukiran ornamen dibeberapa ruas tiang penyangga dari daerah ini.

Surau kayu ini penerangannya sangat minim, hanya satu lampu minyak tanah itupun ditaruh didepan meja ustad. Kami diajar mengaji oleh ustad lulusan pesantren yang berasal dari Jawa, Murid yang belajar saat itu juga lumayan banyak sekitar 25 orang.
Ketika jam delapan malam kami pulang jalan kaki, kami melewati tengah lembah dengan jalan setapak tanah yang sangat gelap. Apalagi kalau habis hujan sering kami jatuh terpeleset. Saat diperjalanan suara-suara aneh selain hewan ikut mengiringi kami, padahal jalanan ini akan menjadi langganan kami kedepan. Saat pulang mengaji adikku menggandeng erat tanganku karena rasa takutnya, padahal aku sendiri juga takut waktu itu.

Dengan berjalannya waktu empat bulan kulalui tanpa terasa, Selama itu disekolah baru nilaiku cukup bagus karena selalu menempati posisi dinomor satu dalam satu kelas. Baik ulangan harian maupun ujian tengah semester itupun karena didikan mamakku yang keras dan tegas. Dalam waktu empat bulan aku mempunyai seorang pacar, Namanya Intan. Meski kala itu banyak juga cewek-cewek yang luluh padaku, tapi kuniatkan hatiku dulu ke dia karena sudah mantap kepada Intan. Selain Intan anaknya cantik dia juga adalah anak seorang pengusaha kaya raya didaerahku. Semenjak ia jadi pacarku dia kerap berkunjung kerumahku yang biasa dilembah, dan dia kenal juga sama semua keluargaku dirumah. Biasanya ia bersama sopirnya jika kerumahku dengan beralasan belajar bersamaku. Hal semacam itu kuanggap biasalah namanya kita sama-sama anak muda, dengan semangat 45 yang masih membara. Inilah yang menjadi salah satu pelecut semangat belajar dan hidupku. Waktu itu aku berharap semoga kelak janur kuning bisa melengkung indah dirumahku dan rumahya.

Saat musim panen tiba, hari minggu kami ikut membantu ayah dan mamak dikebun. Pagi itu aku, Intan dan Niko kekebun yang empat bulan lalu dibabat dan ditanami sayuran. Sedang ayah dan mamak sudah berangkat duluan. Setelah itu kami menyusul kedua orang tua kami yang sudah sampai di perkebunan. Setelah menempuh perjalanan dua jam akhirnya kami sampai dan parkir dibawah pondok (gubug). Gubug yang berada ditengah kebun ini biasa untuk kami parkir dan istirahat.

“Tan kamu tunggu dipondok dulu ya.” Pintaku

“Gak mau yank, aku ikut abang saja” Jawabnya

“Ya sudah tapi sebentar saja ya, kasian kamunya” Kataku

“Ya bang.” Jawabnya singkat

Setelah kami membantu memanen sayuran dikebun sebentar, kami bertiga kepondok sebelah karena untuk melihat suasana baru. Sebelumnya kami sudah ijin kepemilik pondok itu kemarin siang. Pondok itu milik tetangga sebelah rumah, pondok yang berlokasi dikebun karet tetangga itu seperti rumah panggung tapi besar dan bagus. Setelah sampai di pondok itu kami mulai menikmati bekal yang kami bawa dari rumah, Saat ditengah acara makan, aku dengar ada suara dibawah pondok panggung.

“Bang siapa yang bicara dibawah.” Kata niko dengan menghentikan makannya

“Gak tau nik.” Jawabku pelan

“Emang suara apaan nik” Tanya Intan

“Kayak ada orang bicara tapi aku gak ngerti bahasanya” Jawab Niko

Setelah itu Niko menghentikan makannya dan memeriksa kebawah pondok, dia turun sembari melihat kekanan dan kekiri mencari sumber suara.

“Aduuuuuhhhhh…” Teriak Niko dibawah.

“Ada apa nik” Tanyaku cepat sambil berjalan cepat menghampirinya kebawah.

“Gak tau bang sakit kali, kayak di cubit mamak.” Jawabnya yang masih diposisinya.

“Mana gak ada siapa-siapa dibawah” Kataku pada Niko

“Ya sudah cepet naik keatas.” Perintahku karena kuatir ada apa-apa dengan Niko.

Akhirnya kami bertiga kembali makan diatas pondok tetangga, kami meneruskan kegiatan kami dan tak menghiraukan suara – suara tak jelas itu lagi. Sekitar beberapa menit kemidian tetanggaku pemilik pondok datang.

“Maap pak kami duluan ke pondoknya, untuk makan sebentar.” Kataku

“Iya gak papa, silahkan” Jawab pak slamet yang bersahaja

“Pak slamet, sudah selesai motong karetnya.” Tanya Niko

“Sudah ini mau istirahat sama mak rinda [sebutan untuk istri pak slamet]”. Jawabnya

Siang itu kami awalnya bertiga dan harus berbagi tempat dipondok karena pemiliknya datang. Dengan datangnya pak slamet dan istrinya suara-suara tidak jelas itu hilang dengan sendirinya. Mereka ini suami istri berasal dari Jawa, dan sudah lama tinggal disini. Aku dan Niko juga jarang ketemu orang ini karena mereka juga hidupnya sering dikebun dari pada dirumah. Setelah mereka datang, pak slamet dan istrinya berdua ikut makan siang waktu itu, disaat kami mau kembali kekebun ayah dan mamak.

“Pak tadi kok dibawah ada suara – suara aneh sama jejak kaki aneh dibawah.” Tanya Niko.

“Oalah itu kalau disini disebut orang bunian” Jawab pak Slamet

“Jadi Hati-hati sama orang bunian, jejaknya jangan diikuti.” Jelas pak Slamet

“Orang bunian itu apa pak.” Tanyaku.

Akhirnya pak slamet membetulkan duduknya dan menghadap ke kami. Setengah kakinya terjuntai dibawah panggung, sedang tangannya mulai membakar rokoknya.

Jadi begini “orang bunian itu semacam hantu, hantu yang tubuhnya pendek-pendek berwujud seperti manusia. Yang membedakan hantu ini adalah telapak kakinya terbalik. Hantu – hantu bunian ini sukanya menyesatkan warga kalau dikebun. Kalau hantu itu tidak suka sama seseorang pasti mereka akan menyerang orang itu dengan cara mencubit seluruh tubuhnya. Jadi kalian harus hati-hati, jangan ikuti jejak telapak kaki sembarangan. Yang jelas hantu orang bunian ini tidak terlihat bang”. Jelas pak slamet

“Trus tadi yang cubit saya dibawah pondok ini siapa pak.” Tanya Niko

“Kemungkinan hantu orang bunian.” Jelas pak slamet sambil membuang kepulan asap rokoknya

“Karena mereka sering terlihat didaerah ini bang, mulai dari jejak sama panampakan wujudnya saat mereka ketahuan warga dikebun.” Jelas
pak slamet.

“Hiiiii ayo bang pulang.” Kata Niko

“Ayo yank.” Pinta Intan yang mulai mendekap ketanganku ketakutan

“Ya sudah pak, saya mau ke tempat ayah sama mamak dulu.” Kataku.

“Ya bang, hati-hati ya! Jangan ikuti jejak kayak dibawah pondok ini” Pinta pak Slamet.

“Ya pak” Jawabku sambil meninggalkan pondok pak Slamet

Siang itu kami ikut kembali memanen sayuran sebentar, setelah itu kami bertiga pulang dengan membawa sayuran yang habis dipanen. Sesampainya dirumah kami duduk-duduk diteras dulu untuk menghilangkan rasa capek.

“Yank kok tanganku biru-biru gini ya?” kata Intan sambil memperlihatkan kedua tangannya kepadaku

Kulihat kedua tangannya, dan wajahnya banyak yang membiru seperti cubitan, aku langsung masuk kedalam rumah untuk mengambilkan air. Karena kukira Intan kena getah tumbuhan atau yang lain.

“Nih basuh dulu pakai air moga cepet ilang warna birunya” Kataku
Setelah membasuh sekujur tangannya dan sebagian wajahnya dengan air yang kubawakan. Selesai itu sopirnya datang kerumah untuk menjemputnya, akhirnya dia langsung pulang. Selepas intan pulang, Aku dan Niko mulai membawa sayuran-sayuran untuk di bagikan keseluruh tetangga dan warga yang berada dilingkunganku sampai habis.

Waktu aku pulang sore hari habis membagikan sayuran, perkumpulan bapak-bapak didepan rumahku semakin ramai. Aku lewat dengan cuek saja karena kami tidak ada yang kenal. Lagian temanku Angga juga tidak ada dalam perkumpulan itu.

Roda waktu terus berputar, dibulan kedelapan kami tinggal disitu. Ekonomi keluarga kami semakin menanjak, hasil dari kebun karet yang kami nikmati memang membawa berkah. Saat itu kami masih bisa mendapatkan keuntungan empat juta per minggu, dengan berjalannya waktu tiap minggu harga karet didaerah kami selalu meningkat. Akan tetapi waktu itu tanggapan masyarakat sekitar sangat berbeda dengan kebiasaan kami.

Pada hari minggu sore saat kami sekeluarga dari kebun, dalam perjalanan tak sengaja samar -samar mendengar perbincangan warga…

“Eh itu keluarga pak Wijaya kebanyakan kerja” mamak x

“Iya tuh, yang dipikir tiap hari dunia melulu” mamak x1

“Bener mak, otaknya cuma kerja sama duit” mamak x

Perbincangan para tetangga ini menyinggung kami, tapi kami ambil sikap diam saja karena masih tergolong baru dilingkungan pelosok ini. Mereka beranggapan bahwa kami terlalu memikirkan harta dan dunia. Padahal kerja keras dan ulet itu sudah jadi budaya keluarga Ayah dari Jawa dan ibuku suku Batak. Setelah melewati mamak-mamak tadi dengan obrolan yang tanpa sungkan, akhirnya dari kejauhan sudah bisa melihat rumah kami. Saat kami berjalan mau masuk halaman rumah, tetangga depan rumah kami sangat ramai tidak seperti biasanya.

“Tambah lagi John” Teriak pria x yang sedang tak memakai baju memegang gelas minuman keras sambil berjoget.

“Oi dari mana kalian? nikmati hidup jangan kerja terus.” Kata pria yang memegang botol miras tersebut sambil memandangi kami berempat yang sedang jalan kaki menuju rumah.

“Sudah Deno cepat masuk rumah.” Perintah ayahku dengan tangannya merangkul pudakku.
Dirumah temanku itu berkumpul para pria sekitar 25 orang, tiga lingkaran masing masing berjudi sisanya sebagian mabuk-mabukkan dengan melantunkan musik khas mereka yag keras. Ternyata kegiatan seperti itu mereka lakukan hampir tiap hari menurut mamak. Aku yang belum satu tahun dilingkunan ini baru sadar ada kegiatan kayak gini, karena biasanya aku dan adikku selepas sekolah langsung main sepak bola dan kesungai.

“Mak sebenarnya mereka siapa kok kumpulnya disini.” Tanyaku yang mulai masuk dihalaman rumah

“Oh yang dirumahnya pak maman itu, biasa orang-orang itu. Anak buah bang maman, gak usah diseriusin.” Jawab mamak tenang

“Angga kan temanmu disekolah dan anaknya pak Maman juga?” Tanya mamakku

“Jadi angga juga ikut mabuk sama judi gitu mak dirumahnya.” Tanyaku lagi.

“Iya bang, jadi kalau abang Deno bergaul sama Angga hati-hati ya. Mamak gak mau abang ikut-ikutan kayak mereka.” Jelas mamakku

“Iya mak.” Jawabku singkat.

Sore itu aku langsung mandi gantian dengan adikku, kemudian aku melanjutkan kegiatan rutin kami disurau selepas maghrib.


Janur Kuning

Janur Kuning

Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2019 Native Language: Indonesia
Kisah ini berawal saat keluarga kami ditawari tanah dari Jambi oleh kenalan ayahku, masih kuingat jelas namanya dia adalah Pak Herman. Orangnya ini berumur 40 tahunan.Orangnya ini berumur 40 tahunan. Saat dia menawari keluarga kami dimedan tentang informasi tanah beserta rumah yang murah di jambi, di informasikan tanah itu seluas 50 Ha, beserta rumahnya. Waktu itu kami ditawari dengan harga 200 juta. Berbekal informasi dari pak herman waktu itu kami sekeluarga berminat untuk pindah ke Jambi karena rumah dan tanahnya tergolong murah saat itu, pada akhirnya ayahku tertarik membeli tanah di Jambi.Penasaran kisahnya? yuk dibaca kelanjutannya!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset