Pelet Hitam Pembantu episode 21

Chapter 21
“Ahkhkhkh…..”

Terlihat penghulu itu terlempar beberapa meter ke belakang dengan darah muncrat dari mulutnya.

Melihat kondisi itu, langsung saja para petugas medis datang untuk memberikan pertolongan. Namun, dengan sigap penghulu tersebut mencegah dan segera mengambil posisi semedi. Dibiarkannya tubuhnya rehat sebentar tanpa aktifitas apapun. Sengaja dia membuat raganya tenang dan transparan, sehingga mahluk itu tak lagi mengganggunya.

Suasana terlihat tenang. Hanya ada Kong Bitun dan penghulu yang terlihat duduk bersedekap. Mata keduanya terpejam. Tak ada gerakan apapun. Nafas terdengar pelan dan teratur.

Namun berbeda dengan di alam nyata yang tampak tenang, karena jauh di alam sana nyata telah terjadi pertarungan dahsyat. Terlihat dua sosok gaib saling berhadapan. Dari raut mukanya terpapar kebencian yang amat sangat.

“Assalamualaikum…!” ucap Kong Bitun merendah pada mahluk transparan berwarna kuning kecoklatan dengan surai panjang berkibar-kibar.

Terlihat mahluk itu menggereng saja. Enggan membalas sapaan lawannya. Hanya saja dari sorot matanya tetap menebar kebencian. Matanya menatap nanar. Hidungnya kembang kempis dengan sedikit cairan lengket keluar dari sana.

“Bisa kita saling berkenalan?” ucap Kong Bitun lagi seraya menjura dalam. Tak dipedulikannya tatapan mahluk itu yang penuh kebencian.

“Nggak usah basa-basi. Aku minta kau tak ikut campur urusanku.” ujarnya seraya matanya menyala merah. Jemarinya terulur kaku. Kukunya mencuat tajam. Siap merobek apapun yang ada dihadapannya.

“Bukan ikut campur. Tapi dia adalah cucuku. Tak kan ku biarkan kau mengganggunya.” ucap Kong Bitun tenang. Dari bibirnya terukir seulas senyum tipis.

“Kalau begitu, biarkan aku juga puas menghajarmu.” ujar mahluk itu tanpa basa-basi.

Seketika tiba-tiba tubuh itu merangsek maju dengan kuku-kuku tajam yang menyeruak dari balik daging busuknya. Surainya berkibaran laksana ilalang terbawa angin. Terlihat kentut namun berbahaya.

Kong Bitun terkesiap kaget, dan terlompat mundur beberapa jengkal. Ia tahu bahwa lawannya bukan sembarangan. Terasa dari hawa panas dan bau busuk yang dihasilkannya.

Mengetahui lawannya mundur, mahluk berdiri itu kembali menerjang ganas. Kali ini bukan hanya tangannya saja yang maju menyerang, namun juga diiringi kakinya yang menjejak kasar serta ekornya menyabet kian kemari. Hingga dalam satu kesempatan dia berhasil menyudutkan Kong Bitun, dan

“Brett!” satu sabetan berhasil mendarat di pipi lawan.

“Ahkhkhkh!” jerit Kong Bitun seraya memegang luka bakar itu.

Terasa perih dan panas saat tangan berkuku tajam itu berhasil mengenai pipi kirinya hingga terasa perih dan panas layaknya terbakar.

Kong Bitun kembali melompat mundur untuk mengatur jarak. Dipandangnya mahluk buruk rupa itu. Sekujur tubuhnya nyaris tak utuh lagi. Gumpalan-gumpalan daging tampak melorot laksana lilin terbakar. Dan dari setiap luka yang menganga, menguatkan aroma bacin yang luar biasa. Kong Bitun sesaat menutup mulut dan hidungnya menggunakan kain sarung yang dibawanya.

“Kau pergi atau mati?!” ancam mahluk itu, yang sepintas mirip perawakan seorang perempuan, namun dengan tubuh lebih kuat dan lentur. Sementara surai itu melayang-layang indah terbawa angin.

“Maaf beribu maaf. Jika aku boleh bertanya, dengan siapa kali ini aku berhadapan?” ujar Kong Bitun mengulur waktu, sedangkan tangan kanan dan kirinya disatukan dalam sikap sembah.

“Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang pasti lekaslah kau pergi dari sini.” hardik sosok itu galak.

“Maaf tuan yang terhormat. Tapi sepertinya tuan salah tempat. Karena saat ini tuan ada dalam daerahku. Lihatlah!” ucap Kong Bitun seraya melemparkan segenggam serbuk putih, yang seketika berubah menjadi asap-asap tipis dan kuat dengan formasi layaknya jaring.

“Ahkhkhkh…” seru mahluk itu kelojotan dalam jaring asap transparan. Beberapa kali terlihat asap seolah membakar mahluk itu.

“Kurang ajar!” hentak mahluk itu berusaha lepas dari jaring. Tangannya terapung-apung menyeramkan. Tak dipedulikannya lagi sekujur tubuhnya yang terbakar mengeluarkan aroma sangit.

Namun, secara perlahan-lahan tenaganya mulai berkurang. Apalagi ditambah beberapa pukulan telak Kong Bitun yang berhasil mendarat sempurna pada beberapa persendian mahluk itu.

“Huhhhh…huhhhhh…..hhhhhhhhhh”

Terdengar erangan lemah mahluk itu, yang tergeletak lemah di tanah.

“Sekarang, siapa yang kalah?” tanya Kong Bitun tersenyum.

“Hghghghhhrrrrr…..”

Masih saja mahluk itu menggereng. Tubuhnya yang lemah ditegakkan kembali. Namun segera ambruk lagi saat satu pukulan mengenai sendi kakinya, membuat mahluk itu oleng dan kembali jatuh.

“Nah, sekarang bisa kau pergi dari sini?”

“Aku tak Sudi diperintah olehmu!” ujar mahluk itu lagi dengan bengis.

“Ok. Baiklah kalau itu maumu. Akupun tak mau kau berlama-lama disini.” ujar Kong Bitun lagi seraya mengeluarkan sebilah keris dengan batu saphir yang berkilatan tertimpa sinar bulan.

Melihat senjata pusaka itu, tiba-tiba saja mahluk itu jatuh terduduk dan meringkuk. Seketika saja nyalinya hilang entah kemana.

“Ampuuun. Ampuuun!” ujarnya terus dengan menjatuhkan badan.

“Hmmmm…. Rupanya kau tahu juga tentang senjata mustika ini.”

“Nah, sekarang. Kau mau pergi sekarang?!” ucap Kong Bitun menghardik.

“Iya. Baiklah. Aku pergi sekarang.” ucapnya sambil memelas. Dan sesaat kemudian ia mulai berdiri dengan terhuyung-huyung. Namun matanya masih menyembunyikan sesuatu. Dan saat ia akan beraksi, tiba-tiba…

“Splash!” satu hantaman menjadikan tubuh itu kembali mental. Terlihat sesaat mahluk itu kembali terhuyung. Hilang sudah kecongkakan yang tadi diumbarnya.

“Jangan coba-coba membodohiku. Aku tidak sebodoh yang kau kira!” ujar Kong Bitun tetap dengan sikap waspada.

“Kau pergi sekarang, atau biarkan senjata mustika ini yang akan mengantarmu.”

“Baiklah. Baiklah. Aku pergi sekarang.”

Selesai mahluk itu berucap, tiba-tiba saja sosoknya menghilang bersama hembusan angin panas yang menguap ke angkasa.

“Alhamdulillah…” ucap Kong Bitun meraupkan tangan ke wajah.

“Hup, hup, hup!”

Sesaat tampak Kong Bitun menggerakkan kedua tangan dengan formasi tertentu. Dan sesat kemudian ia telah kembali segar.

“Nah, pak Penghulu. Silakan dilanjutkan lagi prosesinya.” ucap Kong Bitun setelah membuka matanya kembali.

“Baiklah. Alhamdulillah. Bapak berhasil mengusir mahluk itu.”

“Uhuk…uhuk…uhuk..!”

“Tapi sepertinya, aku tak sanggup lagi meneruskan ijab ini.”

“Karim!” panggilnya pada asistennya yang masih setia duduk disampingnya.

“Saya Pak!” jawab asistennya itu, seorang lelaki tiga puluhan. Berpeci hitam dengan hiasan benang emas di sisi-sisinya.

“Kau teruskanlah ijab ini. Aku mau beristirahat dulu.” ucap penghulu sesaat sebelum tergeletak pingsan.

“Baiklah. Kali ini biar saya saja yang meneruskan.” ucap Karin seraya maju ke hadapan pengantin.

“Bismillah…”

“Aku nikahkan, dan aku kimpoikan engkau, Andreas Sutawijaya dengan seorang wanita bernama Maryati Binti Sanusi dengan mas kimpoi sebuah cincin emas dua puluh empat karat seberat tiga gram.” ucap Karim lancar seraya menjabat tangan dokter Andri, dan meminta jawaban segera dengan menggenggam erat tangannya.

Namun, belum juga dokter Andri berhasil menjawab ijab itu, sekonyong-konyong muncul gangguan lain.

“Brakkk!” pintu terbuka dengan kasar.

Semua mata memandangnya.

“Tunggu dulu!”

Mereka saling berpandangan. Karena merasa aneh dengan kehadiran tiga orang itu. Sosok-sosok yang bahkan baru kali ini mereka lihat. Yang berdiri dengan pongah seolah menantang mereka semua.

Sesosok wanita setengah tua dengan dandanan cantik dan elegan, rambut digelung rapi. Serta tak lupa tas tangan emas berkilauan yang melengkapi dandanannya layaknya seorang wanita pejabat. Sementara itu, disebelahnya tampak seorang gadis cantik berkerudung anggun warna biru, tersenyum ramah dan malu-malu. Dan disisi lainnya, tampak serta seorang gadis lagi berambut pirang. Tampak seksi dengan setelah dress mini dan sepatu tinggi.

cerbung.net

Pelet Hitam Pembantu

Score 0.0
Status: Completed Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Sekonyong-konyong sebuah tas pakaian besar sarat isi menimpa tubuh mungil wanita berambut sebahu itu. Tak dikancingkannya retsleting dengan benar, hingga sebagian isinya berhamburan keluar."Aduh!"Wanita itu urung menutup wajah dan tubuhnya dari lemparan tas besar, hingga sempat mengenainya dan membuat tubuhnya tampak sesaat limbung, dan kemudian terjatuh duduk dengan lutut menghantam aspal jalanan.Penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset