Pendekar Cinta dan Dendam episode 29

Chapter 29

Kabar kelahiran pangeran telah menjadi berita hangat seantero negeri. Rakyat yang selama ini sangat menyanjung rajanya begitu bergembira dengan kelahiran sang pangeran yang tentu saja akan menjadi penerus istana ke depannya.

Kebijakan Pangeran Wang Li yang lebih mementingkan rakyat telah membuat rakyat sangat loyal padanya. Itu terbukti dengan diadakannya pesta di sebuah desa yang jauh dari istana.

Liang Yi memerintahkan penduduk desanya untuk menyiapkan makanan. Dia akan mengadakan pembagian makanan di jalanan pasar. Kebiasaan yang sering dilakukan keluarganya sejak dulu.

“Semua makanan sudah siap. Apa sekarang kita sudah bisa membagikannya?” tanya Paman Chow yang sudah berdiri di depannya.

“Iya, Paman. Kita ke pasar sekarang.”

Kebiasaan keluarga Liang Yi yang selalu memberi makan orang miskin sebulan sekali ternyata masih dilakukannya hingga sekarang. Didikkan ayah dan ibunya untuk saling membantu sesama masih dipegang teguh hingga saat ini. Selama dirinya mampu, dia akan berusaha memberi yang terbaik. Karena itulah orang-orang sangat mengagumi dan menghargainya.

“Kakak, aku ikut, ya,” pinta Liang Zia. Akan tetapi, Liang Yi menolak.

“Kamu sedang sakit. Kalau sudah sembuh, Kakak pasti akan mengajakmu.”

Liang Zia mengalah. Sejak kembali dari rumah mertuanya, gadis itu mulai sakit-sakitan. Tubuhnya tampak lemah. Karena itu, Liang Yi sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya itu.

Setibanya di pasar, mereka lantas membagikan makanan pada orang-orang miskin. Kehadiran Liang Yi dengan bantuannya membuat orang-orang yang tidak mampu tersenyum bahagia.

“Paman, aku akan pergi sebentar. Jika semua sudah selesai, Paman kembali saja ke desa.”

Lelaki itu mengangguk. Liang Yi lantas memacu kudanya. Dia akan pergi ke suatu tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya. Tempat di mana dia pernah berjanji untuk membahagiakan wanita yang sangat dicintainya. Janji yang tidak mungkin lagi bisa ditepati karena wanita itu telah bahagia bersama seseorang.

Liang Yi menghentikan laju kudanya di depan sebuah padang bunga yang cukup luas. Semerbak harum serbuk sari tercium dari tempatnya berdiri. Ditatapnya padang bunga itu. Semua masih sama, tak ada yang berubah.

Bunga putih yang tak pernah berhenti berbunga itu tampak indah bak gumpalan awan putih yang mengambang di atas tanah. Bunga sakura berwarna merah muda tak luput memberi kesan yang sangat menyejukkan mata. Bunga berwarna merah muda itu tampak beterbangan mengikuti desiran angin yang berembus perlahan.

“Tempat ini tak pernah berubah, semua masih tetap sama. Aku harap kamu juga di sana selalu bahagia,” ucap Liang Yi yang berjalan perlahan menuju gundukan tanah yang hampir tertutup rumput ilalang yang mulai meninggi.

Di depan gundukan tanah, Liang Yi berdiri. Ditatapnya kembali suasana di tempat itu yang membuatnya kembali teringat akan seorang wanita yang pernah berdiri di sampingnya di saat lalu. Di depan gundukan tanah itu, Liang Yi pernah berjanji untuk membahagiakan wanita itu dan membangun sebuah rumah untuk keluarga mereka nantinya. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan karena wanita itu telah bahagia bersama sahabatnya.

“Maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk menjaga dan membahagiakan Li Jia. Namun, kamu tak perlu khawatir, karena kini wanita yang sama-sama kita cintai itu telah bahagia dengan orang yang tepat. Apalagi saat ini mereka pasti sangat bahagia karena kehadiran seorang putra yang tentu saja melengkapi kebahagiaan mereka.”

Liang Yi duduk di depan gundukan tanah itu dan mencabut rumput ilalang yang mulai meninggi. Semilir angin yang perlahan meniup membuatnya kembali mengingat akan sosok Li Jia yang menari diiringi guguran bunga-bunga yang membuatnya terlihat bak seorang dewi.

Liang Yi tersenyum dengan air mata yang jatuh di sudut matanya. Sekuat apa pun dia berusaha untuk melupakan Li Jia, maka sekuat itu pula rasa cinta yang dirasakan untuk wanita itu. Rasa yang sampai kini masih tersimpan, hingga membuatnya tidak bisa menerima wanita mana pun di dalam hatinya.

Sungguh, cinta yang dia rasakan pada Li Jia akan selamanya tersimpan dan tidak akan pernah terbagi untuk wanita mana pun hingga semesta datang menjemputnya.

Sementara Liang Yi tengah larut dengan kenangan masa lalunya, di istana tampak ramai. Mereka sedang mengadakan pesta penyambutan dan pemberian nama untuk pangeran kecil yang tertidur lelap dalam gendongan Li Jia. Wanita itu tampak cantik dengan balutan jubah permaisuri. Sementara Pangeran Wang Li berdiri di sampingnya dengan rangkulan mesra.

“Suamiku, berikanlah nama untuk putra kita,” ucap Li Jia sambil menatap wajah sang putra.

Pangeran Wang Li membelai lembut wajah bayi mungil dan tersenyum bahagia. “Bagaimana kalau kita memberinya nama Wang Yi. Bukankah, dia sangat mirip denganku?” Pangeran Wang Li tersenyum. Wajahnya terlihat tampan saat senyuman terukir di wajahnya.

“Aku suka dengan nama yang kamu berikan. Semoga saja putra kita kelak akan menjadi raja yang baik dan bijaksana sama sepertimu.”

Pangeran Wang Li mengeratkan rangkulannya. Dia tampak bahagia. Para penari yang diundang ke istana menari dengan gembira. Nyonya Yi Wei membawa penari terbaiknya untuk menyuguhkan tarian yang sempurna.

“Yang Mulia, selamat atas kelahiram pangeran,” ucap Nyonya Yi Wei menunduk di depan Li Jia dan Pangeran Wang Li.

“Nyonya, jangan menunduk seperti itu.” Li Jia mendekatinya dan memeluknya. “Walau sudah menjadi ratu, tetapi di depan Nyonya aku tetaplah Li Jia. Aku sangat berhutang budi pada Nyonya.”

Mendengar hal itu, Nyonya Yi Wei menitikkan air mata. Walau Li Jia telah menjadi seorang ratu, tetapi gadis itu tidak berubah. Sikapnya masih sama seperti dulu, ramah dan selalu rendah diri.

Li Jia menyerahkan putranya pada Nyonya Yi Wei. Wanita itu menerima sang bayi dan menggendongnya. Dia tersenyum karena bayi itu sudah seperti keponakannya sendiri.

Kebersamaan mereka terasa begitu akrab. Nyonya Yi Wei sering diundang ke istana. Bahkan, Rumah Pelangi telah diubahnya menjadi sebuah tempat untuk belajar seni. Sudah tidak ada lagi para lelaki yang datang ke sana. Nyonya Yi Wei telah mendedikasikan dirinya sebagai pengajar seni. Rumah Pelangi telah menjadi tempat bagi para wanita yang ingin menjadi pegiat seni. Entah menari, menyanyi, melukis, atau kegiatan seni lainnya. Karena itu, Li Jia sering mengundangnya ke istana.

Kehidupan Li Jia sebagai seorang ratu tidak mengubah kebiasaannya yang suka menari. Dia sering menari di depan suami dan putranya.

Di taman, Li Jia memperlihatkan keanggunannya di depan sang suami yang tak sekali pun berpaling dari tatapan mesra. Lelaki itu begitu mencintainya dan nggan meninggalkan istrinya itu.

Senyum Pangeran Wang Li terukir saat melihat keanggunan dan kecantikan Li Jia. Perlahan, dia bangkit dan mendekati istrinya itu. Li Jia tersenyum geli saat lelaki itu memeluknya dari belakang dan mencium pipinya mesra.

“Istriku, aku sangat mencintaimu.” Ucapan yang selalu didengar oleh Li Jia. Dia tersenyum seraya membalikkan tubuhnya. Kini, dia menatap seraut wajah yang membuatnya jatuh cinta. Cinta yang tak pernah salah.

“Aku juga mencintaimu,” ucap Li Jia tersenyum. Pangeran Wang Li membelai lembut wajah sang istri dan menautkan lembut bibirnya. Li Jia memejamkan mata dan menikmati kelembutan yang membuatnya tergoda.

Kehidupan Li Jia kini penuh dengan cinta. Pangeran Wang Li begitu memanjakannya dengan perhatian dan kasih sayang. Karena itulah, Pangeran Wang Li dikenal sebagai raja yang sangat setia. Dia tidak pernah tergoda dengan wanita mana pun. Baginya, kehadiran Li Jia di kehidupan dan hatinya sudah lebih dari cukup.

Tak sedikit godaan yang sempat menghampiri. Seorang raja yang identik dengan wanita nyatanya tak berlaku bagi Pangeran Wang Li. Sudah beberapa kali para perdana menteri mengajukan beberapa wanita bangsawan untuk dijadikan sebagai selir, tetapi Pangeran Wang Li selalu menolak.

“Suamiku, kenapa kamu tidak menerima saja tawaran mereka? Aku khawatir penolakanmu akan menjadi masalah kelak,” ucap Li Jia saat mereka sedang duduk bersama di taman sambil menikmati matahari senja.

Pangeran Wang Li menatap Li Jia lekat. Keningnya mengerut karena ucapan istrinya itu. “Apa kamu ingin aku menduakanmu? Apa kamu tidak keberatan kalau aku memiliki wanita lain?”

Li Jia memalingkan wajahnya. Namun, Pangeran Wang Li meraihnya, hingga mereka saling menatap. “Aku tidak akan pernah memiliki wanita lain selain dirimu. Jadi, jangan pernah memintaku untuk memiliki selir. Apa kamu pikir aku akan mengikuti keinginan para perdana menteri itu? Aku adalah raja dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengatur kehidupanku.”

Li Jia terdiam. Dia tahu apa yang dikatakan Pangeran Wang Li adalah suatu kebenaran. Bukan sekali ini saja lelaki itu mengatakan hal yang sama. Sudah berulang kali dia mangatakan kalau dirinya tidak akan pernah memiliki wanita lain di dalam hidupnya.

Li Jia seketika tersenyum. Dengan mesra, dia lantas memeluk lelaki itu. “Maafkan aku, Suamiku. Hanya saja aku tidak ingin melihatmu tersiksa karena selalu dipaksa untuk memiliki selir. Aku hanya …. ”

“Kamu hanya milikmu dan aku hanya milikku. Itu sudah cukup bagiku.”

Pangeran Wang Li memeluk erat tubuh Li Jia. Tak hanya itu, dengan gagahnya dia membopong tubuh sang istri dan membawanya ke dalam paviliun. Li Jia tersenyum saat tubuhnya diletakkan di atas pembaringan. Lelaki yang terlihat gagah dan tampan itu selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. Cinta yang kini tengah mereka rasakan dengan hasrat cinta dan kasih sayang. Cinta yang dilandaskan bukan karena nafsu, melainkan kasih sayang abadi yang terpatri di lubuk hati.

Sementara di desa, Liang Yi tengah duduk ditemani Liang Zia. Mereka menatap langit senja yang begitu memanjakan mata.

“Kakak, apa Kakak belum bisa melupakan Kak Li Jia?” tanya Liang Zia tanpa menoleh ke arah kakaknya itu.

Liang Yi seketika menatapnya. Dia tahu kalau bukan itu yang ingin ditanyakan oleh sang adik. “Lupakan dia! Suamimu itu pantas untuk dilupakan!”

Liang Zia menitikkan air mata. Dia menunduk menyembunyikan air matanya itu. “Kakak, maafkan aku. Aku …. ”

“Kakak tahu kamu sulit untuk melupakannya, tetapi dia tidak pantas untuk mendapatkan kasih sayangmu. Liang Zia, jangan pikirkan dia lagi. Sekarang, kamu pikirkan dirimu sendiri.”

Liang Yi mengepalkan tangannya. Kalau bukan karena Liang Zia, lelaki yang sudah menghancurkan hidup adiknya itu pasti tinggal nama. Mengingat penderitaan yang dialami Liang Zia, Liang Yi semakin geram.

Walau sudah dua bulan berlalu, tatapi Liang Yi tidak melihat keceriaan di wajah sang adik. Gadis itu sering termenung. Apalagi kondisi tubuhnya yang akhir-akhir ini kian memburuk.

“Liang Zia, kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Liang Yi saat melihat wajah adiknya yang pucat.

“Aku baik-baik saja, Kak. Jangan khawatirkan aku,” jawab Liang Zia yang berusaha tersenyum. Gadis itu lantas bergegas masuk ke kamar, tetapi tiba-tiba dia merasa pusing. Untung saja Liang Yi segera meraih tubuhnya dan memapahnya masuk ke kamar. Karena khawatir, Liang Yi memanggil tabib untuk memeriksa kondisi adiknya itu.

“Apa? Adikku saat ini sedang mengandung?” tanya Liang Yi tidak percaya.

“Iya, Tuan. Akan tetapi, kondisi tubuhnya sangat lemah. Karena itu, dia harus banyak beristirahat,” jelas tabib itu.

Setelah tabib pergi, Liang Yi menemui Liang Zia yang masih terbaring lemah. Saat mengetahui dirinya hamil, dia menangis karena bayi yang diharapkan oleh suami dan mertuanya hadir di saat dirinya telah tersakiti dan terluka.

“Kamu dengar sendiri ‘kan apa yang dikatakan tabib? Jadi, Kakak harap kamu menjaga kondisi tubuhmu karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu.”

Liang Zia membalikkan tubuhnya seakan ingin menghindar dari perhatian kakaknya. Dia kini menangis sambil mengelus perutnya yang sudah terisi janin yang kelak menjadi penerus keluarganya.

“Kamu harus kuat. Kakak akan membantumu untuk merawatnya. Ah, Kakak tidak sabar untuk segera menggendongnya.” Liang Yi menitikkan air mata saat mengucapkan hal itu. Dia menangis karena adiknya kini bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.

Liang Zia menjalani kehamilannya dengan ikhlas. Walau dalam kepayahan karena tubuh yang lemah, tidak membuatnya mengenyampingkan kesehatan janinnya.

Hari demi hari, bulan demi bulan dilaluinya dengan menahan sakit dan kepayahan. Di depan Liang Yi, dia bersikap seolah tidak merasakan sakit. Namun, nyatanya dia menyimpan perihal penyakitnya agar sang kakak tidak mengkhawatirkannya.

“Kakak, aku ingin makan buah kesemek,” pinta Li Jia pada Liang Yi.

“Buah kesemek?” tanya Liang Yi bingung karena saat itu buah kesemek belum bisa dipanen. Walau begitu, dia tetap mengangguk dan berjanji untuk membawakan buah kesemek untuk adiknya itu.

Liang Yi kemudian pergi ke desa tetangga untuk mencari buah kesemek, tetapi lagi-lagi buah itu belum dipanen.

“Kemana aku harus mencari buah kesemek yang sudah matang?” batin Liang Yi gusar.

“Tuan, apa Tuan sedang mencari buah kesemek?” tanya seorang pedagang yang sedari tadi memerhatikannya.

“Benar, apa Anda tahu di mana saya bisa menemukan buah kesemek segar yang sudah matang? Saya sudah mencari dari tadi, tetapi yang ada hanya buah kesemek yang masih mentah.”

“Sebaiknya, Tuan pergi ke kota karena yang aku dengar buah kesemek dari Wilayah Timur sudah dipanen dan dijual di kota,” jelas pedagang itu.

Mendengar hal itu, Liang Yi tersenyum. “Terima kasih, Tuan. Sekarang juga saya akan pergi ke kota,” ucap Liang Yi. Lelaki itu kemudian memacu kudanya dan pergi ke kota.

Setibanya di kota, Liang Yi menuju salah satu pasar yang lumayan ramai. Dan melihat buah kesemek yang masih segar banyak dijual di pasar itu.

Suasana yang ramai di pasar itu mengingatkannya pada masa lalu. Pasar itu bukanlah tempat yang asing baginya. Di pasar itulah keluarganya sering membagikan makanan pada orang-orang yang tidak mampu.

Liang Yi terus berjalan hingga tiba di salah satu jalan yang membuat langkahnya terhenti. Sontak, kenangan masa lalu muncul. Dia teringat kembali dengan seorang gadis kecil yang nekat membantunya. Sekilas, lelaki itu tersenyum saat mengingat wajah seorang wanita yang tidak pernah hilang dari ingatannya.

Jalan utama itu terlihat ramai. Orang-orang berlalu lalang sambil menjajakan dagangannya. Belum lagi para pembeli yang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Pasar itu adalah salah satu pasar favorit bagi wanita-wanita kalangan atas karena kualitas barang yang terbaik yang berasal dari luar wilayah mereka.

Liang Yi masih berjalan sambil membawa beberapa kantong buah kesemek yang sudah dibelinya. Hingga tiba-tiba, beberapa orang prajurit datang untuk mengosongkan jalan utama karena iring-iringan kereta istana akan melewati jalan itu.

Liang Yi termundur ke belakang karena dorongan orang-orang yang berdesakkan. Mereka begitu antusias saat tahu kalau kereta dari istana akan melintas di jalan itu.

Sebuah kereta yang terlihat mewah melintas. Tampak seorang wanita cantik sedang memangku seorang anak. Di sampingnya, duduk seorang lelaki gagah nan tampan. Itulah Yang Mulia Raja Wang Li dan Yang Mulia Ratu Li Jia bersama putra mereka.

Melihat raja dan ratu, penduduk serempak menunduk memberi hormat dengan ucapan menyanjung dan mengelu-elukan mereka. Sementara Liang Yi yang sempat terdorong, harus menunduk karena beberapa buah kesemek terjatuh dari dalam kantong yang dipegangnya.

Liang Yi tidak peduli dengan iring-iringan itu. Dia terlihat acuh karena tidak menyadari kalau iring-iringan itu adalah iring-iringan keluarga kerajaan. Hingga saat dia mengangkat kepalanya, pandangannya tertuju pada tatapan mata sebiru lautan. Tatapan mata yang membuatnya bergeming, hingga dia tersadar dan segera memalingkan wajahnya.

Liang Yi kemudian meninggalkan kerumunan orang-orang, hingga membuat pemilik mata biru itu mencari-cari keberadaannya.

cerbung.net

Pendekar Cinta dan Dendam

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset