Pendekar Cinta dan Dendam episode 49

Chapter 49

Karena tidak terima, pemuda itu lantas menyerang Pangeran Wang Yi. Dia melayangkan pukulan ke arah pemuda itu. Namun, Pangeran Wang Yi dengan mudah mengelak dari serangannya. Bahkan, tangan pemuda itu telah ditekuk ke punggungnya.

“Lepaskan tanganku!” pekik pemuda itu, tetapi Pangeran Wang Yi tidak menggubrisnya.

“Minta maaflah padanya. Setelah itu, aku akan melepaskan tanganmu,” ucap Pangeran Wang Yi.

“Tidak! Aku tidak akan …. ” Pemuda itu menjerit karena tangannya ditekuk dengan kuat. “Baiklah, aku akan meminta maaf padanya. Nona, maafkan aku,” ucap pemuda itu meminta maaf. Pangeran Wang Yi kemudian melepaskan tangannya. Pemuda itu akhirnya pergi sambil memegang lengannya yang rasanya telah remuk.

“Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Pangeran Wang Yi pada Putri Yuri. Gadis itu mengangguk.

“Sebaiknya kamu kembali. Hari sudah mau gelap, nanti kamu bisa dimarahi orang tuamu,” ucap Pangeran Wang Yi padanya. Gadis itu hanya menanggapinya dengan senyum kecut.

“Jangan khawatir. Walau aku mati sekalipun, mereka tidak akan peduli padaku,” ucap Putri Yuri. Dia tampak menyembunyikan kesedihannya.

Pangeran Wang Yi menatapnya. Putri Yuri hanya menanggapi dengan seuntai senyum di bibirnya. “Terima kasih karena sudah menolongku. Ah, sebaiknya aku pergi.”

Putri Yuri lantas meninggalkan tempat itu. Pangeran Wang Yi hanya melihatnya pergi dan menghilang di antara kerumunan orang. Dia pun akhirnya pergi. Namun, saat perjalanan pulang, dia dihadang oleh lima pemuda. Dia menatap kelima pemuda itu dan tatapannya tertuju pada seorang pemuda yang dikenalnya.

“Apa kamu memanggil mereka untuk menghajarku? Sebaiknya kalian pergi dari hadapanku jika tidak ingin terluka,” ucap Pangeran Wang Yi yang tetap melanjutkan perjalanan.

“Dasar sombong! Turun dari kudamu dan lawan kami. Atau jangan-jangan, kamu hanya berani jika di depan wanita,” ucap salah satu pemuda yang mengejek, hingga teman-temannya tertawa.

Pangeran Wang Yi tidak peduli. Dia tidak ingin menanggapi pemuda-pemuda. Namun, mereka tidak membiarkannya pergi begitu saja. Mereka menghadangnya. Terpaksa, dia menghentikan kudanya. Dia lantas turun dan mengikat tali kekang kuda di sebuah pohon.

“Apa yang kalian inginkan dariku? Cepat katakan agar aku bisa pergi dari sini!” ucap Pangeran Wang Yi yang kini berdiri di depan kelima pemuda itu.

Tanpa menjawab, kelima pemuda itu lantas menyerangnya. Pangeran Wang Yi menghindar. Kelima pemuda itu menyerangnya dengan menggunakan sebatang kayu. Walau dengan tangan kosong, tetapi Pangeran Wang Yi mampu menghindar. Kelima pemuda itu dibuat kesal karena serangan mereka tidak sekali pun mengenainya. Mereka menatapnya kesal.

“Sial! Ternyata dia cukup hebat,” batin salah satu pemuda. Namun, dia tidak menyerah. Dia kembali menyerang, hingga terpaksa Pangeran Wang Yi membalas serangannya. Sontak, tubuhnya terpental saat tendangan Pangeran Wang Yi menghantam dadanya. Dia meringis kesakitan sambil memegang dadanya yang berdenyut.

Melihat teman mereka ambruk, keempat pemuda itu tidak menyerah. Mereka semakin gencar menyerang. Kesabaran Pangeran Wang Yi akhirnya habis. Dia lantas meladeni mereka. Satu per satu dari keempat pemuda itu tergelatak di tanah saat Pangeran Wang Yi melumpuhkan mereka hanya dengan sekali serangan.

Kelima pemuda itu ketakutan saat melihat Pangeran Wang Yi mengambil salah satu kayu dan berjalan mendekati mereka. “Maafkan kami. Jangan pukuli kami lagi,” ucap salah satu pemuda memohon. Pangeran Wang Yi hanya tersenyum. Dia lantas mematahkan batang kayu itu hanya dengan satu kali hantaman. Kelima pemuda itu tercengang.

“Sebaiknya kalian pulang. Lain kali, jangan membuat masalah denganku atau dengan orang lain kalau kemampuan bertarung kalian seperti itu. Aku khawatir kalau kalian hanya akan tinggal nama,” ucap Pangeran Wang Yi sambil melepaskan ikatan tali kekang kudanya. Dia lantas pergi meninggalkan kelima pemuda yang berusaha bangkit setelah dikalahkan dengan sekali pukul.

Setibanya di desa, Pangeran Wang Yi sudah ditunggu oleh Liang Yi. Di depan lelaki itu, dirinya dan Liang Yuwen berdiri menghadapnya.

“Ada yang ingin Paman bicarakan dengan kalian berdua. Duduklah.”

Kedua pemuda itu lantas duduk. Liang Yi menatap keduanya bergantian. Melihat mereka, dia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

“Wang Yi, sudah saatnya untukmu masuk ke istana. Akan ada penerimaan pejabat istana dan kalian berdua harus ikut. Kalian harus bisa menjadi pejabat istana karena kaisar sudah membuka penerimaan untuk semua kalangan. Sepertinya, ibumu telah membuat lelaki itu tunduk karena dia telah melakukan semua yang menjadi impian ayahmu. Di tangan lelaki itu, negeri ini menjadi negeri yang aman dan makmur, tapi Paman tidak bisa membiarkannya terus memerintah karena dia telah membunuh ayahmu dan mengambil ibumu dari sisimu. Karena itu, ambil kembali apa yang menjadi milikmu dan lanjutkan impian ayahmu,” ucap Liang Yi dengan air mata yang membendung.

Mengingat sahabat dan wanita yang dicintainya membuat lelaki itu menitikkan air mata. Sudah 18 tahun dia menahan diri dan kini dia tidak akan menahannya lagi. Dia harus bisa membebaskan Li Jia dari tangan Kaisar Wang Zhu. Dia akan kembali.

Semua persiapan telah dilakukan. Pangeran Wang Yi dan Liang Yuwen telah menyiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Pangeran Wang Yi berdiri di atas sebuah jembatan. Dia menatap aliran air jernih yang mengalir. Guguran bunga di atas air menjadi perhatiannya. Guguran bunga berwarna putih itu mengingatkannya pada ibunya. “Ibu, aku akan kembali. Aku merindukanmu, Ibu,” batinnya sedih. Dia masih berdiri, hingga dia terusik saat mendengar suara tangisan yang tak jauh darinya. Suara tangisan seorang wanita.

Pangeran Wang Yi melihat seorang gadis duduk menangis di bawah pohon sakura. Gadis itu menekuk lututnya sambil menopang wajahnya. Dia terisak dengan tangis memilukan.

“Menangislah kalau itu bisa membuatmu melepaskan kesedihanmu,” gumamnya sambil melihat gadis itu. Namun, gadis itu kemudian berdiri. Dia menyeka pipinya yang basah dengan air mata. pandangannya kini tertuju pada aliran sungai. Dia lantas berjalan ke tepian.

“Apa yang dia lakukan? Apa jangan-jangan dia ingin bunuh diri?” batin Pangeran Wang Yi sambil berlari ke arah gadis itu.

Benar saja, gadis itu hampir saja melompat ke sungai andai Pangeran Wang Yi tidak meraih tubuhnya. Dia meronta saat Pangeran Wang Yi menahannya. “Lepaskan aku! Biarkan aku mati agar aku terlepas dari penderitaan ini,” ucap gadis itu sambil berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Pangeran Wang Yi.

“Sadarlah! Apa dengan kematian kamu bisa lepas dari semua penderitaan? Kamu hanya akan membuat orang-orang di dekatmu sedih. Apa kamu tidak memikirkan kedua orang tuamu?”

Gadis itu menangis sambil menatap Pangeran Wang Yi. Pemuda yang belum lama ini dikenalnya. “Bukankah aku sudah bilang kalau aku mati sekalipum tidak ada yang akan menangisiku. Aku hanyalah anak yang tidak diharapkan kedua orang tuaku. Aku …. ” Gadis itu terduduk. Dia menunduk sembari meluapkan tangisnya. Pangeran Wang Yi hanya menatapnya dan membiarkannya menangis.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi sebaiknya kamu menyelesaikannya bukan menghindarinya. Setiap orang pasti memiliki masalah, tapi bunuh diri bukanlah jalan keluar,” ucap Pangeran Wang Yi. Gadis itu menatapanya.

“Tahu apa kamu dengan apa yang aku hadapi. Apa aku salah jika mengharapkan kedua orang tuaku memerhatikanku? Aku putri mereka, tapi mereka tidak menganggapku ada. Aku adalah anak yang tidak diinginkan. Apa kamu tahu bagaimana sakitnya hatiku karena diperlakukan seperti itu?”

“Aku tahu perasaanmu, tapi bersyukurlah karena kamu masih memiliki kedua orang tua. Sementara aku telah kehilangan mereka sejak kecil. Apa kamu pikir aku tidak mengerti dengan apa yang kamu rasakan?”

Gadis itu menatapnya. Dia lantas menyeka air matanya. “Apa kamu merindukan mereka?” tanya gadis itu.

Pangeran Wang Yi mengangguk. “Aku sangat merindukan mereka dan berharap suatu saat nanti bisa bertemu dengan mereka lagi. Karena itu, aku harus hidup dengan baik agar aku bisa bangga saat bertemu mereka kelak.”

Gadis itu adalah Putri Yuri. Dia menatap Pangeran Wang Yi lekat. Dia merasa kini tidak sendiri lagi karena ada orang lain yang mengalami seperti apa yang dia rasakan. Dia lantas bangkit dan berusaha tersenyum. “Terima kasih karena sudah menolongku lagi. Namaku Yuri. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu?”

“Panggil saja aku Lian,” jawab Pangeran Wang Yi, “Sebaiknya kamu pulang dan jangan berpikir untuk melakukan bunuh diri lagi. Pulanglah!” Pangeran Wang Yi bergegas pergi, tetapi Putri Yuri mengikutinya.

“Aku akan pulang kalau kamu mau menemaniku jalan-jalan di tempat ini. Kamu mau, kan?” Putri Yuri merangkul lengan Pangeran Wang Yi. Namun, pemuda itu melepaskan tangannya.

“Apa yang kamu lakukan?”

Gadis itu tersentak. Dia terhenti dan menatap Pangeran Wang Yi dengan tatapan sedih. “Apa kamu juga membenciku? Ya sudah, pergilah! Aku juga tidak akan memaksamu. Lagipula, kalau aku mati itu mungkin lebih baik.”

Putri Yuri kemudian pergi. Mendengar ucapannya, Pangeran Wang Yi dibuat gelisah. Dia takut kalau gadis itu akan kembali melakukan aksi bunuh diri.

“Baiklah, aku akan menemanimu jalan-jalan.”

Seketika, Putri Yuri menghentikan langkahnya. Dia tersenyum, tetapi tak lama karena Pangeran Wang Yi sudah berdiri di depannya.

“Ayo, ikut aku!”

Gadis itu berjalan mengikuti Pangeran Wang Yi. Mereka berjalan menuju pasar. Putri Yuri tersenyum saat melihat aneka dagangan yang membuatnya kalap.

“Lian, apa kamu punya uang?” tanya gadis itu pada Pangeran Wang Yi.

“Memangnya apa yang ingin kamu beli?”

Putri Yuri menunjuk seorang pedagang yang menjajakan aneka manisan. Pangeran Wang Yi menatapnya heran. Dia lantas membeli apa yang diinginkan gadis itu.

“Apa kamu tidak pernah menyantap manisan itu? Apa kamu sangat menyukainya?” tanya Pangeran Wang Yi saat melihat gadis itu begitu menikmati manisan yang membuatnya tersenyum lepas.

“Aku menyukainya. Apa aku boleh meminta yang lainnya?” tanya gadis itu lagi.

Dia lantas menuju ke sebuah kedai yang menjual perhiasan. “Belikan aku ini,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah cincin giok berwarna merah. Pangeran Wang Yi menatapnya heran. “Apa uangmu sudah habis karena aku? Maafkan aku. Kalau begitu, aku tidak akan meminta lagi.” Putri Yuri meletakkan cincin itu kembali dan pergi.

“Baiklah, aku akan membelikannya untukmu,” ucap Pangeran Wang Yi. Gadis itu lantas berbalik dan tersenyum. Dia kembali ke penjual dan mengambil cincin itu. Dia lantas memakainya. Dia tersenyum sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya itu.

“Terima kasih. Aku tidak akan melepaskan cincin ini karena ini adalah cincin pertama yang diberikan seseorang kepadaku. Terima kasih.” Gadis itu menunduk. Dia sengaja menyembunyikan air matanya yang perlahan jatuh.

“Apa dia sebahagia itu hanya karena sebuah cincin? Ah, aku tidak mengerti dengan wanita. Apa hal sepele itu bisa membuatnya bahagia?” batin Pangeran Wang Yi yang heran dengan sikap gadis yang kini tersenyum padanya.

Mereka kembali berjalan dan berhenti di sebuah taman bunga. Putri Yuri begitu menikmati suasana di taman itu. Semerbak harum serbuk sari tercium di indera penciumannya. Dia tersenyum menikmati pemandangan indah yang terpampang di depannya. Dia lantas memetik sekuntum bunga dan meletakkannya di sela rambutnya.

Pangeran Wang Yi hanya menatapnya. Tawa dan senyum gadis itu sejenak membuatnya ikut tersenyum. Setidaknya, kesedihan yang kini dia rasakan perlahan surut. Kehadiran gadis itu mampu membuatnya melupakan kesedihannya untuk sesaat.

Begitu pun dengan Putri Yuri. Saat ini, dia begitu bahagia. Tawa dan senyumnya merekah tanpa kepura-puraan. Dia sangat menikmati kebersamaan dengan seseorang yang baru dikenalnya. Seseorang yang dapat membuatnya melupakan kesedihannya.

“Yuri, sudah saatnya kamu kembali. Aku juga harus pergi. Pulanglah dan jangan berpikir untuk bunuh diri lagi. Mengerti!”

Gadis itu mengangguk. Dia berdiri di depan Pangeran Wang Yi dengan seutas senyum yang terlihat menawan. “Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, tapi apa kita masih bisa bertemu lagi?” tanya gadis itu.

“Apa kamu tidak takut padaku?”

Putri Yuri menggeleng. “Aku tidak takut padamu, karena aku tahu kamu pemuda yang baik. Aku bersyukur karena Dewa telah mempertemukan kita. Kamu adalah orang pertama yang dekat denganku dan itu sangat menyenangkan. Aku berharap kita akan bertemu lagi. Apa kamu keberatan?”

“Sudahlah, aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Kalau benar apa yang kamu katakan, Dewa pasti akan mempertemukan kita lagi. Sekarang, pulanglah!”

Putri Yuri tersenyum seraya mengangguk. Dia lantas pergi sambil melambaikan tangannya. Dia melepaskan senyuman yang membuat Pangeran Wang Yi ikut tersenyum. Namun, senyum gadis itu memudar saat dirinya baru saja tiba di istana.

Tak sengaja, dia melihat kebersamaan Kaisar Wang Zhu dengan seorang gadis yang seusia dengannya. Gadis itu begitu dimanja dan mendapatkan perhatian yang lebih. Tak terasa, air matanya jatuh saat melihat pemandangan itu. Dia lantas berlari ke kamarnya dan tak sengaja bertemu dengan ibunya.

“Dari mana kamu?” tanya Ratu Ling.

Gadis itu tidak menjawab. Dia memilih diam dan meninggalkan ibunya. Namun, wanita itu tidak membiarkannya pergi. Dia menarik tangan putrinya itu dan menamparnya.

“Apa kamu tidak menghargai aku sebagai ibumu? Apa kamu harus sekurang ajar itu pada ibumu sendiri?”

Putri Yuri menyentuh pipinya yang ditampar. Air matanya jatuh saat mendapatkan tamparan dari ibunya sendiri.

“Kenapa Ibu memperlakukanku seperti ini? Aku anakmu, tapi kenapa aku diperlakukan seperti sampah? Apa salahku hingga kalian begitu membenciku? Apa benar aku adalah anak kalian?”

Putri Yuri menangis. Dia lantas masuk ke kamarnya dan tidak memedulikan ibunya. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya andai bayangan seorang pemuda tidak melintas dipikirannya. Pemuda yang memintamya untuk tetap melanjutkan hidup walau hidup yang dijalaninya penuh derita.

“Aku akan bertahan. Namun, apa aku akan mampu menjalani kehidupan yang sulit ini?”


Pendekar Cinta dan Dendam

Pendekar Cinta dan Dendam

Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Kepulan asap hitam tampak mengepul di atas sebuah bukit. Bukit yang ditinggali beberapa kepala keluarga itu tampak diselimuti kepulan asap dengan kobaran api yang mulai membakar satu per satu rumah penduduk yang terbuat dari bambu. Warga desa tampak berlarian untuk berlindung, tapi rupanya penyebab dari kekacauan itu enggan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu."Cepat bunuh mereka! Jangan biarkan satu pun yang lolos!" perintah salah satu lelaki. Lelaki yang menutupi setengah wajahnya itu menatap beringas siapa pun yang ada di depannya. Tanpa belas kasih, dia membantai setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli anak-anak ataupun orang dewasa, dengan tega dia membantai tanpa ampun.penasaran dengan kelanjutannya? yuk segera simak cerita dibawah ini

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset