SANTET – Dendam Berakhir Petaka episode 2

Chapter 2

“ bah….!” teriakku kembali diantara tubuh abah yang kini telah benar benar menghilang memasuki rerimbunan semak ilalang, mendapati situasi yang kurang menguntungkan seperti ini, aku memutuskan memilih untuk memasuki rerimbunan semak ilalang daripada aku harus berdiam diri dalam kegelapan malam

“ tang…” tegur abah begitu melihat aku yang telah memasuki rerimbun semak ilalang, nampak terlihat abah tengah memperhatikan keadaan di sekitar rerimbunan semak ilalang

“ tadi itu kamu kenapa sih tang…?”

“ tadi itu bah…atang seperti melihat sesuatu yang menyerupai ular, tapi atang enggak bisa memastikan kalau apa yang atang lihat itu adalah ular….”

“ ahh kamu itu tang…apa yang kamu lihat itu pasti karena pengaruh dari mimpi buruk yang kamu alami itu….” ujar abah sambil menggelengkan kepalanya

“ tapi bah…”

“ ahh pasti kamu mau membantah perkataan abah dengan menghubungkannya pada aroma wangi bunga yang tadi sempat tercium itu kan…”

Dengan tersenyum abah menunjukan jari tangannya ke arah belakang tubuhku, mendapati hal itu, aku segera melihat ke arah belakang dan mendapati sebuah pohon kemuning yang berukuran tidak begitu besar dan tengah berbunga lebat

“ lebih baik mulai sekarang ini, kamu lupakan mimpi buruk kamu itu…karena apa yang kamu impikan itu enggak lebih dari pada bunga tidur semata….”

Selepas dari perkataannya itu, abah menarik tanganku untuk keluar dari rerimbunan semak ilalang lalu kembali meneruskan berjalan menuju ke arah rumah, hingga akhirnya setibanya kami di rumah, seperti apa yang telah abah katakan, ambu dan ita nampaknya telah lama menunggu kami untuk melaksanakan makan malam, karena memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk melaksanakan makan malam bersama

“ kalian ini kemana aja sih, kok pulangnya agak malam seperti ini….?”

Beberapa sendok nasi diletakan oleh ibu pada piring makan yang telah tersedia di meja makan, ita yang sepertinya sudah sedari tadi menahan laparnya, terlihat mulai mengambil beberapa lauk yang tersedia lalu mulai menyantap makan malamnya

“ maaf mbu…tadi itu abah terpaksa rembukan dulu dengan warga kampung, untuk membahas masalah menjaga keamanan di kampung kita ini…” jawab abah berbohong seraya memberikan isyarat agar aku tidak menceritakan kejadian yang baru saja kami alami sewaktu perjalanan pulang ke rumah

“ ohh begitu…memangnya kampung kita ini mulai enggak aman ya bah….?” tanya ambu yang sepertinya menginginkan adanya lanjutan dari perkataan bapak tersebut

“ bukannya enggak aman mbu…semua itu dilakukan hanya untuk berjaga jaga aja….kita kan enggak akan pernah tahu, kapan kejahatan itu akan terjadi….”

Selepas dari perkataannya itu, bapak mulai menyantap makan malamnya, sedangkan di sisi yang lain, ita yang sudah terlebih dahulu menyantap makan malamnya, sepertinya akan mulai menyelesaikan makan malamnya

“ tumben makan kamu sedikit ta…”

“ iya kang, lagi agak kurang bernafsu nih….oh iya kang…apa kang atang udah mendengar tentang sesuatu yang lagi ramai diperbincangkan di kampung tetangga…?”

“ apaan tuh ta…akang enggak tahu…kamu kan tahu sendiri, selepas akang udah enggak sekolah lagi, akang jadi malas untuk keluar rumah…..”

Ambu dan abah yang semula tengah sibuk dalam menyantap makan malamnya terlihat mengarahkan pandangan matanya ke arah aku dan ita

“ di kampung sebelah kedatangan warga baru kang….dan dari apa yang ita dengar, menurut warga setempat, warga baru itu berprofesi sebagai ahli pengobatan alternatif….”

“ ya ampun ta…hanya karena kedatangan warga baru yang berprofesi sebagi ahli pengobatan alternatif, warga kampung sebelah jadi ramai memperbincangkannya…?”

“ ahh akang…bukan itu yang ramai diperbincangkannya….”

“ lantas apa….?”

“ kecantikannya kang….bisa dibilang, warga baru itu kini menjadi primadona di kampung sebelah….” jawab ita seraya mengembangkan senyumnya, mendapati jawaban ita tersebut, aku hanya membalas senyuman ita seraya mereguk air dari dalam gelas sebagai tanda aku telah mengakhiri makan malamku

“ ishh…pasti akang penasaran kan….tenang aja kang, kampung kita ini juga enggak kalah kok dengan kampung sebelah, hanya saja kalau yang di kampung kita ini, enggak ramai diperbincangkan seperti di kampung sebelah….”

“ maksud kamu apa sih ta…memangnya kampung kita ini kedatangan warga baru juga…?”

“ iya kang…kalau ita lihat sih, usia warga baru yang datang di kampung kita ini, mungkin seusia dengan akang, dan mengenai kecantikannya, ita rasa…kecantikannya enggak kalah kok dengan warga baru kampung sebelah, hanya saja yang membedakannya profesinya, warga baru kampung sebelah memiliki profesi sebagai ahli pengobatan alternatif, sedangkan warga baru di kampung kita, berprofesi sebagai penjaga kantin sekaligus menjadi petugas kebersihan di tempat ita bersekolah….”

Selepas dari perkataan ita tersebut, ambu mengarahkan tatapan matanya ke wajah abah

“ ada apa mbu…?” tanya abah yang merasa bingung dalam memaknai maksud dari tatapan ambu

“ apa abah sudah mengetahui semuanya ini….?”

“ untuk warga baru di kampung sebelah itu, abah udah mengetahuinya, wanita itu bernama ibu diswaya, dan menurut kepala kampung di kampung sebelah, ibu diswaya itu memang berencana untuk tinggal dan menetap di kampung sebelah, sedangkan untuk warga baru yang datang di kampung kita ini, abah baru mengetahuinya sekarang ini…”

“ ya ampun bah…masa dengan warga pendatang baru kampung sendiri abah bisa enggak tahu sih…” ujar ambu seraya menggelengkan kepalanya, mendapati perkataan ambu tersebut, aku dan ita hanya bisa saling tersenyum

“ ishh abah…enggak boleh lihat yang cantik cantik nih….”

“ hushh ita..enggak sopan kamu berbicara seperti itu sama abah kamu…” ujar ambu dalam merespon candaan ita

“ iya mbu…ita minta maaf…”

“ lagipula enggak ada yang salah ta, jika abah mengenal ibu diswaya, karena dengan abah mengenal ibu diswaya, yaa…siapa tahu, ibu diswaya itu dapat memberikan bantuan pengobatan alternatif yang mungkin akan bisa menghilangkan penyakit ambu…”

Mendapati perkataanku tersebut, abah dan ambu saling bertukar pandang

“ bagaimana bah…mbu…apakah abah dan ambu setuju dengan usulan atang, untuk mengundang ibu diswaya ke rumah kita ini…?”

“ kalau ambu sih terserah apa kata abah aja tang…” jawab ambu diantara keterdiaman abah

“ bagaimana bah…?”

“ yaa..kita lihat nanti aja tang, walaupun kemungkinannya kecil ibu diswaya bisa mengobati penyakit ambu, tapi memang enggak ada salahnya jika kita mengundang ibu diswaya untuk mengobati ambu, hal ini sekaligus untuk menepis prasangka kamu dan ita yang selama ini mungkin masih menyangka kalau abah ini enggak bersungguh sungguh dalam mengobati ambu…”

“ ahh..itukan prasangka abah aja, dari dulu atang enggak pernah kok mempunyai prasangka seperti itu…”

“ iya nih, abah suka ngaco ngomongnya….” ujar ita menimpali penyangkalanku atas perkataan abah, hingga akhirnya selepas dari pembicaraan ini, ita dan ambu terlihat mulai berjalan meninggalkan meja makan menuju ke arah dapur dengan turut serta membawa piring dan gelas kotor, sedangkan abah, abah masih terdiam di kursinya, sepertinya saat ini abah tengah memikirkan sesuatu

“ tang….”

Sebuah perkataan yang terucap dari mulut abah, memecah keterdiamannya

“ ada apa bah….?”

“ kamu dan ita, sudah semakin beranjak dewasa tang…dan abah pikir, sudah waktunya bagi abah untuk memikirkan pembagian atas harta yang abah miliki….”

Diantara perkataan abah yang kini terhenti, aku hanya bisa terdiam dengan pandangan menatap ke arah wajah abah, nampak terpancar ekspresi keseriusan di wajah abah

“ abah berencana untuk memberikan rumah serta kebun abah yang terletak di kampung sebelah kepada kamu, sedangkan untuk tanah yang kita tempati saat ini, abah berencana menyerahkannya kepada ita, jadi selepas abah dan ambu tua nanti, abah berharap kalian masih mau untuk menjaga abah dan ambu…”

“ duh…abah kok ngomongnya jadi serius seperti ini sih….?”

“ ini sudah menjadi kewajiban abah tang…dan kamu harus sudah mulai tahu dari sekarang, bahwa abah memang berencana untuk membagikannya seperti apa yang telah abah katakan tadi….lalu mengenai kamu sekarang ini, abah ingin kamu mulai merintis usaha di kampung ini, kamu bisa menggunakan warung kosong yang berada di depan rumah kita ini sebagai tempat usaha kamu, karena abah enggak ingin melihat kamu menjalani hari demi hari tanpa aktifitas yang berarti tang….”

“ kalau memang itu keputusan abah, atang mengikuti aja bah….karena atang juga malu untuk menjalani hidup tanpa aktifitas yang berarti seperti ini….”

“ kalau kamu memang setuju dengan usulan abah, mulai besok kamu bersihkan warung kosong itu, dan jika semuanya sudah siap, kamu ikut abah ke kota untuk membeli segala sesuatu yang di perlukan guna menunjang usaha kamu itu…” ujar abah dan berbalas dengan anggukan kepalaku

“ apakah kamu sudah mempunyai gambaran ingin membuka usaha apa tang….?”

“ mengingat lokasi kampung kita ini berada jauh dari kota, atang ingin membuka toko yang berhubungan dengan penyediaan bahan kebutuhan pokok dan juga bensin untuk bahan bakar genset bah…”

Mendapati jawabanku itu, abah menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui akan ide usaha yang akan aku lakukan

Keesokan paginya, seperti apa yang telah abah dan aku rencanakan, aku mulai membersihkan warung kosong yang berada di depan rumah, dan kini ditengah kesibukanku dalam membersihkan warung, terlihat abah pergi meninggalkan rumah di saat ita belum menjalankan aktifitasnya untuk berangkat ke sekolah, mungkin saat ini, abah mempunyai keperluan yang mengharuskan abah untuk meninggalkan rumah di saat hari masih sepagi ini

“ ehemmm….”

“ ehh ta…ngagetin aja kamu…”

“ ahh kasihan kang atang…maaf ya kang kalau ita enggak bisa membantu bersih bersih…” ucap ita yang berbalas dengan berhentinya pergerakan tanganku dalam menyikat lantai warung yang kotor akibat sudah terlalu lama tidak dibersihkan, nampak terlihat ita yang tengah berdiri di depan pintu rumah, lengkap dengan seragam sekolah yang dikenakannya

“ kamu mau berangkat sekolah ta…?”

“ iya atuh kang…masa iya pakai seragam seperti ini, ita mau ke empang….” jawab ita yang berbalas dengan gelak tawaku

“ ehh kang…ita punya ide nih…”

“ ide apa ta…?” tanyaku dengan sedikit menaruh rasa curiga atas ide yang akan ita utarakan

“ kalau memang akang setuju….bagaimana kalau selepas sekolah nanti, ita mengajak ka ningtias ke rumah ini, untuk membantu membereskan warung…sekaligus…”
Ita menghentikan perkataannya, senyumnya terlihat mengembang lembar

“ sekaligus apa ta…?”

“ sekaligus mengenalkannya ke kang atang….”

Mendapati perkataan ita tersebut, sejujurnya saat ini, aku sangat menyetujui ide ita, karena semenjak ita menceritakan tentang kedua sosok wanita pendatang baru yang hadir di kampungku ini dan juga di kampung tetangga, entah mengapa, ada rasa keingintahuan yang tinggi atas kedua sosok wanita itu, selain aku ingin membuktikan atas cerita kecantikan kedua sosok wanita itu, aku juga mempunyai pertanyaan, mengapa kedua sosok wanita itu bisa hadir pada saat yang hampir bersamaan walaupun mereka tinggal di kampung yang berbeda

“ bagaimana kang….?”

“ sebaiknya jangan ta….akang merasa enggak enak kalau harus merepotkan orang yang baru kita kenal…”

“ ahh akang salah….justru dengan kita meminta bantuan kepada ka ningtias, itu akan membantu ka ningtias dalam hal pendapatan….”

“ maksud kamu…akang harus membayar ka ningtias untuk merapihkan warung ini…?”

“ iya kang…kasihan loh ka ningtias….pendapatannya apa sih selain menjaga kantin dan juga membersihkan sekolah, apa kang atang enggak berniat untuk membantunya….”

“ duh ta…tapi apa enggak nantinya akan membuat ka ningtias itu merasa enggak enak, karena kita telah membayarnya dalam membantu merapihkan warung ini….”

“ ah kang…itu sih urusan ka ningtias, mau ka ningtias menerimanya, mau ka ningtias enggak menerimanya, yang penting niat baik kita sudah tersalurkan…”

Selepas dari perkataan ita tersebut, terlihat kehadiran ambu keluar dari dalam rumah

“ loh kok belum jalan ta…?”

“ ini baru mau jalan mbu, kang atang bagaimana….?”

Mendapati pertanyaan ita tersebut, aku hanya menjawabnya dengan menganggukan kepala, dan sepertinya jawabanku itu kini telah membuat ita begitu bergegas untuk berangkat ke sekolah

“ sampai jumpa siang nanti kang…” ujar ita seraya mencium tangan ambu lalu berjalan pergi meninggalkan rumah


cerbung.net

SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2021 Native Language: Indonesia
Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih “ entahlah tang…” “ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset