Kesetiaan Yang Ternoda episode 1

Naila belum bisa tidur meski hari menjelang subuh, wajah HarLian suaminya mengganggu terus. Dua hari berturut-turut hapenya gak diangkat padahal posisi masuk …ingin ia menelepon Cris sahabat Lian menanyakan keberadaan suaminya tapi Naila mengurungkannya karena tak enak menanyakan masalah rumah tangganya pada Cris yang masih bujangan. Naila dan Lian sudah 25 tahun berumah tangga saat ini Naila berusia 45tahun dan Lian suaminya berumur 50 tahun selisih 5 tahun tak kelihatan perbedaannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perlahan air matanya mengalir suara adzan subuh memaksa Naila berwudhu dan melakukan shollat subuh. Air matanya tumpah ruah Naila mengadu pada Tuhannya memohon agar suaminya selalu dilndungiNya. Naila hendak membaca Alquran tapi hapenya berdering …. dari mana ? Naila tak mengenalnya . Berkali-kali hape berdering …Ia biarkan, Naila baru sadar jangan-jangan itu suaminya..mungkin hapenya hilang dan ganti baru maka Nailapun mengangkatnya, tapi apa yang terjadi..? Naila mendapatkan suara lengkingan ketawa wanita dan mengejeknya…”Dasar wanita bodoh …tolol…tak bisa melayani suami dengan baik…! ha..ha…ha…tolol…” . Naila mematikan hapenya dengan gemetaran. Masih menggunakan mukena Naila mengadu lagi pada Tuhannya ” Ya Allah….cobaan apakah yang Engkau berikan padaku..mengapa hatiku terasa tak enak sekali …tolonglah hambaMu Ya Allah..”. Naila menutup doanya dan memberesi kamar tidur karena anak perempuannya akan segera sekolah. Naila menuju dapur mempersiapkan sarapan dibantu Ratemi yang sudah membuat nasi goreng. ” Selamat pagi ibuk Naila , susu sudah hangat dan bisa segera diminum ” ” Terima kasih mbok Ratemi, Andin sudah bangun ? kok belum diminum susunya” ” Tadi mau minum tapi masih panas susunya terus non Andin tinggal mandi buk ” . Dari dapur terdengar suara sepatu menuruni tangga dan memang Andin dan Bayu adik Andin yang sudah memakai seragam SMA dan SMP menuju ruang makan. ” Nah itu buk, mbak Andin dan mas Bayu mau sarapan ” : kata mbok Ratemi. Bayu meminta ibunya agar membelikan laptop karena sering mengganggu laptop kakaknya. ” Iya,.. nanti nunggu bapak kalau sudah pulang , semoga minggu ini bapak pulang”. ” Bapak kok ‘gak pulang sih buk minggu ini..apa pekerjaan di Brebes belum selesai..? katanya seminggu lagi selesai..kok malah tak pulang…” , tanya Bayu sambil membenarkan seragam SMPnya . ” Ya mungkin ada kendala pekerjaan di proyek…. kita tunggu saja ya nak..” kata Naila menenangkan Bayu. Mereka sarapan dengan tenangnya. Hape Andin bergetar dan dilihatnya tapi tak ada nama pengirim lalu di reject Andin dianggap tak penting.

Naila siap-siap berangkat ke puskesmas setelah anak-anaknya berangkat sekolah , Andin naik motor dan Bayu mengendarai sepeda onthel. Pagi ini amat cemas fikiran Naila, karena suami tercinta belum ada kabarnya….hape yang ia tunggu malah cercaan yang didapatkan, berkali wanita tak dikenalnya menghubungi terus akhirnya Ia matikan hape itu karena Naila tak bisa konsentrasi meracik obat di Puskesmas Sumber Kasih Wonodri Semarang dan meminta Eno asistennya membantu. Jam 12 siang Naila izin untuk melakukan shollat , Ia tumpahkan kesedihannya kepada Tuhannya dengan berurai air mata, Febri teman Naila melihat keadaan Naila jadi iba . ” Naila….kau kenapa…tak biasanya kamu seperti ini ” . Tapi Naila tak menceritakan apa yang terjadi pada dirimya saat ini. “Aku tak apa-apa its okey…” . Jam 15.00 Naila merekapitulasi laporan hariannya serta menutupnya dibantu Eno menghitung uang dan menyerahkan kebagian keuangan . Dokter Siswati kepala Puskesmas memperhatikan keadaan Naila karena merasa aneh saja melihat sikap Naila berbeda melayani pasien, dan memanggilnya untuk menghadap esok hari, dr Siswati heran melihat Naila menjelaskan pasien air matanya bercucuran tetapi tersenyum dan tidak tampak sedih. Apakah yang sedang dipikirkan Naila…? dr Siswati mengamati Naila dengan perasaan heran. Sampai rumah Harlian telepon dan menceritakan kalau hapenya sedang di service dan akan segera pulang, Naila diam saja karena hatinya amat marah sementara perutnya mengganggu karena menahan ke kamar kecil . Harlian bingung istrinya tak mau menjawab perkataannya, Harlian marah dan berkata: ” Naila…kamu kenapa kok diam saja…!!, aku pulang sekarang !! “. Hape dimatikan saat itu juga. Naila hatinya berdetak kencang …. baru kali ini Lian membentaknya di hape dan mematikannya Naila segera ke kamar kecil mata Naila memandang disatu titik pojok ruangan kamar mandi air matanya mengalir deras…tapi suara tangisannya tak terdengar hanya nafasnya terengah-engah dan hidungnya keluar lendir bercampur air mata. Mukanya kelihatan kusut meski habis berwudhu karena segera shollat asar, Naila tak bisa konsentrasi lagi-lagi air matanya mengalir protokol shollat berantakan tak teratur shollatnya kelebihan rokaat tetapi tetap diselesaikan menurut hitungannya.Tiba-tiba kamarnya diketuk mbok Ratemi ;” Buk, ada mas Angga mau minta obat..perutnya sakit katanya gak bisa kentut sudah dua hari”. Naila menghapus air matanya dan menyuruh Angga dan mbok Ratemi menunggu . Naila mencari kotak PPPK pribadi di kamarnya dan menemukan obat tersebut. Dilihat Angga keponakannya berguling-guling menahan sakit, mbok Ratemi mengambilkan minum dan membantu meminumkan obatnya, selama 10 menit Angga tergeletak di kamar mbok Ratemi Angga mengerang..keringat dingin mengalir tapi lama kelamaan Angga tertidur. Angga sebaya dengan Andin dia dititipkan orang tuanya karena broken home. Anggatidur bersama Bayu tapi Ia lebih senang tidur dengan Mbok Ratemi atau sopirnya Lian yang bernama Damar, karena usianya lebih tua dan Dimas pandai mengambil hati dan sudah memiliki seorang anak perempuan kelas 1 SD.

Jam 22.00 suami Naila sampai rumah, mbok Ratemi ikut membantu Damar menurunkan barang juga kopor Harlian. Angga terbangun dan membantu mbok Ratemi yang membuat minuman untuk pak Harlian . Suami Naila langsung masuk kamar dilihatnya Naila masih shollat lalu keluar lagi dan ngobrol sama Dimas . Ketawa Lian suaminya menenangkan hati Naila, dan mengakhiri shollatnya … dilihatnya mbok Ratemi sudah mempersiapkan minuman dan makan malam serta memanaskan burung dara juga kepiting oleh-oleh Harlian untuk anak-anaknya. Harlian segera mandi setelah istrinya memanggilnya , Andin dan Bayu menyerbu makanan kesukaannya lalu kembali keatas melanjutkan belajarnya . Naila menemani suaminya makan tapi ternyata Harlian sudah makan di restoran tadi dan mengambilkan kepiting untuk dimakan istrinya. ” Udah mas jangan banyak-banyak…sudah malam gak baik buat kesehatan”. “Dua minggu aku gak makan di rumah rasanya kangen sama kalian disini”. Naila agak cemberut teringat Harlian membentaknya tadi di hape buru-buru Harlian menjelaskannya dan khawatir Naila menanyakannya. ” Sorry tadi sinyalnya jelek dan putus-putus makanya aku langsung pulang”. ” Iya…..tapi kan gak perlu pakai bentak-bentak segala “: jawab Naila agak ketus. “Iya..maaf …”. Harlian mengambil piiring kotornya hendak menaruh di wastafel, mbok Ratemi memintanya dab berkata : ” Pak sudah pak biar simbok yang mberesin ” Naila melihat gelagat gak enak suaminya ingin mengakhiri makanannya dan Nailapun membersihkan tangan serta kakinya untuk istirahat. Dada Naila berkecamuk antara ingin menanyakan dan tidak tentang telepon gelap yang menerornya., tetapi Harlian belum tidur juga , sayup-sayup terdengar suara Harlian bergurau dengan sopirnya si Dimas.. ” Kapan istirahatnya suamiku…? aku amat kangen dan ingin bermanja dengannya….” Naila berfikiran semrawut penuh penantian, , saking jengkelnya Ia menemui Harlian dan menyuruhnya istirahat. Harlian memeluk istrinya sedangkan Damar tertawa kecil sambil bergurau ” Kangen ya Buk….?.” Naila melotot ke arah Damar dan berkata, ” Kalau sampai ada apa-apa dengan bapak , kamu yang aku salahkan,,karena kamu tak bisa menjaganya!!” . Dimas agak takut dan segera masuk rumah untuk tidur.

Harlian mengantar istrinya kerja , Naila tampak berseri ketika menghadap dr.Siswati Ia tampak tenang, dr Siswatipun tak menunjukkan marah dan semua kecurigaan dr.Siswati sirna bahkan Naila membawakan oleh-oleh telor asin.. Dimas menggantikan Harlian menyetir mobil karena sudah menjadi tugasnya dan mengantar Harlian membelikan Lap top untuk Bayu sesuai pesanan Naila sekalian diaktifasikan.. ” Pak, nanti jadi berangkat ke Pemalang ?” tanya Dimas pada Harlian . ” Iya…tapi kamu diam sajalah mau Jadi atau tidak itu urusab aku”, jawab Harlian sambil bersungut. ” Bapak kok marah sama Dimas ” tanya Dimas lagi ” Iya pasti marahlah, kamu ngomong sama ibu apa semalam ? sehingga ibu marah padaku . Dimas berfikir sejenak lalu berkata lagi ” Sepertinya Dimas gak ngomong apa-apa pak ” , Dimas sulit mengingatnya. ” Dasar mulut ember… coba kau ingat lagi kata-kata sebelum kamu menutup pintu terus tidur , karena ibu mau memecat kamu semalam, tapi aku coba perbaiki dulu dan kamu harus minta maaf padanya sebelum berangkat nanti “

cerbung.net

Kesetiaan Yang Ternoda

Score 0.0
Status: Ongoing Tipe: Author: Dirilis: 2020 Native Language: Indonesia
Naila belum bisa tidur meski hari menjelang subuh, wajah HarLian suaminya mengganggu terus. Dua hari berturut-turut hapenya gak diangkat padahal posisi masuk ...ingin ia menelepon Cris sahabat Lian menanyakan keberadaan suaminya tapi Naila mengurungkannya karena tak enak menanyakan masalah rumah tangganya pada Cris yang masih bujangan. Naila dan Lian sudah 25 tahun berumah tangga saat ini Naila berusia 45tahun dan Lian suaminya berumur 50 tahun selisih 5 tahun tak kelihatan perbedaannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Perlahan air matanya mengalir suara adzan subuh memaksa Naila berwudhu dan melakukan shollat subuh. Air matanya tumpah ruah Naila mengadu pada Tuhannya memohon agar suaminya selalu dilndungiNya. Naila hendak membaca Alquran tapi hapenya berdering .... dari mana ? Naila tak mengenalnya . Berkali-kali hape berdering ...Ia biarkan, Naila baru sadar jangan-jangan itu suaminya..mungkin hapenya hilang dan ganti baru maka Nailapun mengangkatnya, tapi apa yang terjadi..? Naila mendapatkan suara lengkingan ketawa wanita dan mengejeknya..."Dasar wanita bodoh ...tolol...tak bisa melayani suami dengan baik...! ha..ha...ha...tolol..." . Naila mematikan hapenya dengan gemetaran. Masih menggunakan mukena Naila mengadu lagi pada Tuhannya " Ya Allah....cobaan apakah yang Engkau berikan padaku..mengapa hatiku terasa tak enak sekali ...tolonglah hambaMu Ya Allah..". Naila menutup doanya dan memberesi kamar tidur karena anak perempuannya akan segera sekolah. Naila menuju dapur mempersiapkan sarapan dibantu Ratemi yang sudah membuat nasi goreng. " Selamat pagi ibuk Naila , susu sudah hangat dan bisa segera diminum " " Terima kasih mbok Ratemi, Andin sudah bangun ?.......

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opsi

tidak bekerja di mode gelap
Reset